Hubby, Is A Biker Insyaf!

Hubby, Is A Biker Insyaf!
ditinggal tidur


"Abimanyu! Kenapa kamu malah bengong di situ? Ayo cepat, kita cari restoran, mal sebentar lagi akan tutup. Kita cari resto di luar saja!” Pak Sis mengagetkan Abimanyu yang sedang focus memperhatikan Airin dan pria itu.


“Owh, iya Pak. Saya segera menyusul.” tukas Abimanyu.


Dia kembali melempar pandang kearah Airin, namun ternyata, baik Airin maupun pria itu, sudah tidak ada di sana.


Dia mengambil ponsel di saku celana, kemudian menekan nomor telpon Airin.


"Assalamualaikum, halo Mi, lagi di mana?”


[Aku masih di mal Bandung, Bi. Ini menuju parkiran, baru mau pulang. Abi sudah selesai?]


“Belum Mi, ini baru mau makan. Tadi, rekan bisnis Pak Sis meminta untuk melihat-lihat ke showroom dulu, baru beres. Sekarang kita mau makan malam.”


[Loh, ini sudah lewat jam Sembilan Bi, masa baru mau makan malam?]


“Iya Mi.”


[Ya sudah, jangan malam-malam ya pulangnya!]


Telpon diakhiri. Abimanyu tak kuasa untuk bertanya pada Airin, perihal yang baru saja dilihat oleh matanya.


[Apa mungkin, pria itu adalah Bimo? Mungkinkah, Umi janjian bertemu dengan dia? Ah, sudahlah. Umi tidak mungkin melakukan hal itu. Aku tidak boleh menaruh prasangka apapun pada Umi. Kami baru saja berbaikan, masa iya aku harus membuat dia kesal lagi. Mungkin, dia juga akan menceitakan nanti.] batin Abimanyu.


Dia kembali meneruskan kegiatannya bersama Pak Sis dan juga koleganya itu. Walau, ya, Abimanyu masih terganggu dengan kejadian yang baru saja dia lihat.


***


Abimanyu diantar oleh Pak Anto—supir pribadi Pak Sis, sampai ke depan rumah, setelah rangkaian acara malam ini berakhir. Dia memasuki rumah, membuka pintu dengan kunci serep yang ia bawa.


Suasana sepi, menyelimuti rumah itu. Wajar, karena saat itu sudah pukul dua belas lewat. Airin tentu sudah tidur dari tadi.


Abimanyu berjalan, menaiki tangga, melangkah menuju kamar tidurnya. Perlahan, dia buka pintu, lalu menyalakan lampu yang telah dimatikan sebelumnya.


Kamar itu, kini sudah terang benderang. Mata Abimanyu, dengan jelas bisa menangkap apa saja yang ada di sana.


Sebuah pemandangan indah, nampak di mata Abimanyu. Seseorang yang tengah berbaring di atas tempat tidur, membuat dia ingin mendekapnya seketika. Tubuh yang hanya dibalut kain tipis, tanpa terbalut selimut, membuat sebuah lengkungan di bibir tipisnya merekah sempurna.


Abimanyu merangkak di atas tempat tidur, menghampiri tubuh yang menggoda dengan lekuk yang terpampang nyata.


Baju tidur yang dikenakan Airin, tak dapat membungkus semua anggota tubuhnya, sehingga membuat Abimanyu mendaratkan sebuah kecupan di pundak Airin dengan lembut. Seketika, Airin berbalik. Wajah mereka kini berhadap-hadapan, membuat Abimanyu meneguk salivanya kasar. Mata Airin yang terpejam, mengerjap perlahan.


“Maaf Mi, abi membangunkan Umi. Abi mandi dulu ya!” Abimanyu bergegas menuju kamar mandi. Membasuh tubuhnya yang lengket karena peluh.


“Seger Mi, walau pakek air dingin, tapi badan Abi jadi kembali fresh!” ucap Abimanyu yang hanya mengenakan celana pendek, dan bertelanjang dada itu.


Dia menggosok rambutnya, kemudian melempar handuk yang sudah basah ke dalam keranjang cucian.


Tak mau mengulur waktu lebih lama lagi, kembali dia menaiki ranjang. Mengelus-elus tangan Airin, lalu mengecupnya.


“Mi, abi sudah siap ….”


“Zzzzzzzzz ….”


“Mi?”


“Zzzzzzzzz ….”


Airin berbalik, tanpa mengeluarkan sepatah katapun sebagai respon. Hanya dengkuran yang terdengar dari mulutnya.


Kini, Abimanyu terduduk di atas tempat tidur, sambil memandangi punggung sang istri.


“Mi, Umi tidur lagi?”


“Zzzzzzz ….”


Sepertinya, Airin memang sudah kembali tertidur. Abimanyu mendengus kasar. Namun, dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Hasratnya yang sudah memuncak, harus segera tersalurkan.


Kembali dia menciumi lengan Airin, bahunya, pipinya, sampai ke bibir kecil Airin tak luput dari jarahannya. Namun apa daya, sepertinya, Airin sudah berdamai dalam mimpi indah yang teramat dalam.


Dengkurannya semakin nyaring menggaung, membuat Abimanyu seketika menghentikan kegiatannya.


“Mi ….”


“ZZZZZZZzz ….”


Lagi-lagi, hanya dengkuran yang menjadi jawaban. Abimanyu pasrah. Dipungutnya selimut yang sudah tercecer di lantai. Di balutkannya ke tubuh sang istri. Lalu ikut merebahkan diri, dan memejamkan mata dengan terpaksa.


***


[Allohu akbar , Allo—hu akbar ….]


Suara azan menggema. Pertanda, waktu subuh sudah masuk.


Airin menggeliat. Perlahan, matanya mengerjap. Dia melihat ke samping, tak ada Abimanyu di sana.


[Apa Abi gak pulang semalam? Atau ….] gumam Airin, kemudian beranjak menuju dapur.


Nampak Abimanyu sedang menyeruput minuman dalam mug, seperti biasa. Airin tersenyum. Dia berjalan mendekati suaminya.


“Abi pulang jam berapa semalam?”


“Owh … pantas Umi tidak tahu. Pasti Umi sudah tertidur.”


“Iya, Umi tidur lelap sekali, bahkan, tak menyadari kepulangan Abi!”


Abimanyu membulatkan bibirnya.


“Ya sudah, siap-siap yuk untuk salat!” ucap Airin, sambil berlalu menuju kamar tidurnya lagi.


Dalam hitungan detik, isi dalam mug, sudah tandas tak bersisa. Abimanyu bergegas menuju kamar, berwudu, kemudian mengimami salat istrinya yang sudah siap dengan mengenakan mukena.


“Assalamualaikum warohmatulohi wabarokatuh … assalamualaikum warohmatulohi wabarokatuh ….”


Airin meraih tangan Abimanyu, lalu meninggalkan kecupan di punggung tangannya itu. Abimanyu hanya tersenyum, memandangi wajah cantik pujaan hatinya.


“Abi kenapa? Kok liatin Umi kayak gitu?”


“Umi cantik.”


“Apaan sih! Udah dari lahir kali! Abi ini aneh!”


Airin beranjak berdiri, membereskan mukena dan sajadah yang baru saja dikenakan. Namun, Abimanyu menarik tangannya, membuat tubuhnya limbung dan jatuh tepat di atas tubuh Abimanyu.


Mereka saling tatap untuk sekian lamanya, sampai bibir Abimanyu hampir saja mengecup bibir ranum Airin. Namun, secepat angin, tangan Airin membekapnya.


“Sudah sana, Abi mau jogging kan? Umi mau mandi, terus siapain sarapan! Jangan macem-macem ya!” ancam Airin. Dia merapikan mukena, lalu berjalan menuju lemari untuk menyimpannya. Tanpa ia sadari, Abimanyu malah mengekor.


“Abi mau apa?” cegat Airin.


“Abi mau ikut mandi.” Jawabnya sok polos.


Seketika, Airin membulatkan matanya. Membuat Abimanyu ciut nyali.


Dengan lemas, dia berjalan menuju pintu, keluar kamar, lalu turun ke bawah, bersiap-siap untuk olah raga pagi.


***


Sebelum mandi, Airin merapikan dulu tempat tidur dan mengganti sprei dengan yang baru. Kalau tidak diganti setiap hari, Abimanyu bisa protes nanti saat tidur. Dia tidak akan tidur dengan nyaman kalau masih menggunakan sprei yang kemarin. Gatal-gatal katanya.


Setelah semua rapi, Airin baru bergegas untuk mandi.


Pukul enam pagi. Airin sudah bersiap di dapur. Dia tidak sabar untuk menyajikan sarapan lezat untuk Abimanyu.


Tangan yang mulai terampil—walau baru sekali mengikuti kelas memasak, mengiris-iris bawang merah dan putih. Sebelum, sepasang tangan melingkar di pinggangnya yang sudah terikat aprone.


Hampir saja, pisau yang ia gunakan untuk mengiris bawang, melayang ke wajah seseorang yang kini mendekapnya dari belakang.


“Ih, Abi!”


“Kenapa sih Mi, meluk aja masa gak boleh!” sungut Abimanyu seraya melepaskan pelukannya.


“Udah sana mandi, bau asem tahu!”


“Iya ….”


Airin dengan pede, membuatkan Abimanyu nasi goreng untuk sarapan, dan sesuai intruksi dari chef Agus kemarin, ia membubuhi garam dan bumbu di akhir memasak. Lalu mematikan kompor setelahnya.


Dia icip, namun, masakannya masih saja asin. Bahkan, ada gerenjil-gerenjil garam yang ia rasakan di makanannya.


Airin beralih pada buku resep yang ia beli semalam. Dia mencari-cari resep nasi goreng yang ada di buku itu.


“Lagi ngapain Mi? udah jadi sarapannya?” Ucapan Abimanyu membuat Airin terkesiap.


Airin, menyembunyikan buku resep di balik badannya.


“Em … hari ini, Abi sarapan roti saja ya.” Airin tersenyum kaku.


“Loh, memangnya nasi gorengnya kenapa?” tanya Abimanyu, walau dia sudah bisa menebak jawabannya.


“Nasi gorengnya masih asin Bi. Bahkan ada gerenjil-gerenjil garam saat Umi icip, tadi,” ujar Airin lirih.


“Coba semalam Umi bangun, dan gak tidur lagi, pasti rasanya tak akan seasin itu!” gumam Abimanyu setengah berbisik.


“Apa bi?”


“Eh, gak apa-apa Mi. sini, coba Abi lihat,” elak Abimanyu.


Abimanyu berjalan menuju nasi goreng yang masih tak bergeming dari penggorengan. Dia icip, lalu menyalakan kompor kembali.


Entah apa yang ia lakukan, namun, seperti chef andal, Abimanyu mulai beratraksi di depan Airin. menggoyang-goyangkan wajan, melempar-lempar nasi goreng yang kata Airin masih Asin itu berkali-kali ke udara. Lalu mengaduk-aduknya kembali.


“Nah, jadi! Ambilin piring Mi!” perintahnya.


Airin mengambil sebuah piring. Nasi goreng yang baru saja mendapat sentuhan tangan Abimanyu, kini sudah tersaji di atas piring.


Abimanyu mengambil dua buah sendok, lalu mengajak Airin untuk menyantapnya bersama.


Airin mencobanya, mengunyah dengan perlahan, dan … matanya membulat.