Hubby, Is A Biker Insyaf!

Hubby, Is A Biker Insyaf!
Kisah Suci


Apaan sih Bimo, kenapa tiba-tiba chat kayak gitu? Airin hanya mendelik ke kanan dan kiri, kemudian bergegas menemui sahabatnya yang sudah menunggu dari tadi.


Masih bersama mini cooper kuning kesayangannya, Airin melaju menembus jalanan. Beberapa kali hape yang diletakkan di atas dashboard menyala dan berdering, namun tak diindahkan oleh Airin.


“Mau apa sih dia nelponin terus?” gerutu Airin jengkel.


Airin menghentikan si Kuning di depan sebuah rumah, lalu menelepon mpunya agar membukakan pagar besi yang menghadangnya.


“Ci, aku sudah di depan nih. Keluar ya, bukain pintu gerbang,” pinta Airin pada seseorang.


Setelah mendapat jawaban, ia pun menutup telponnya. Matanya kini tertuju pada seorang gadis berkerudung kuning yang keluar dari dalam rumah. Gadis cantik berkulit putih, namun dengan sepasang mata yang membengkak.


Pintu gerbang dibuka. Airin memarkirkan si Kuning di car port rumah tersebut.


“Rin …. “Gadis itu langsung menghamburkan diri memeluk Airin yang baru keluar dari mobil.


Dengan kelopak mata yang membengkak, biji mata yang memerah, dan isak tangis yang mulai pecah. Mungkin kembali pecah. Gadis itu memeluk Airin semakin erat. Dadanya naik turun, menandakan ada sesak yang mengganjal di sana.


“Kenapa Ci? Kita ngobrol di dalam saja yuk?” ajak Airin saat melihat kondisi sahabatnya yang terlihat sangat buruk.


Mereka masuk ke kamar Suci, menutup rapat daun pintu, dan mengambil posisi saling berhadapan di atas tempar tidur dari sahabat Airin yang berprofesi sebagai tenaga pengajar itu.


“Jadi kenapa?”


Suci mulai menceritakan apa yang menimpanya hari minggu kemarin.


“Saat itu ….”


Flash back. POV Suci


Aku sudah bersiap mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Jogja. Tak banyak pakaian yang kubawa. Hanya satu stel baju ganti saja. Kemungkinan, aku akan menginap semalam di sana.


Tak lupa, sebuah kotak berbentuk memanjang yang sudah kusiapkan untuk hadiah Mas Hendra, aku masukan ke dalam tas.


“Yang ini tak boleh ketinggalan. Mas Hendra pasti senang mendapatkannya.” Sebuah senyum tersungging di bibirku.


Tak sabar rasanya untuk melihat ekspresi wajah tampannya saat menerima hadiah dariku. sudah lama kami tidak bertemu. Terakhir, sekitar delapan bulan yang lalu, itupun saat iedul fitri tahun kemarin.


Dengan semangat yang berapi-api, aku bergegas menuju bandara. Dadaku seakan berdebar dengan kencang. Walau hanya butuh waktu kurang lebih satu jam penerbangan untuk bisa sampai ke tempat tujuan dari kota kelahiranku, Bandung, namun rasa rindu membuat kesabaranku menipis. Ingin segera sampai saat itu juga, kalau bisa.


Kupakai baju terbaikku. Menyemprotkan parfum terwangi yang kupunya, wanginya tentu yang Mas Hendra sukai. Aroma bunga perpaduan sitrus.


***


Satu jam lebih, akhirnya aku sampai di kota yang telah menaungi kekasihku dua tahun terakhir. Walau kami harus terpisah jarak dan waktu, namun cintaku pada Mas Hendra tak pernah menyusut sedikitpun.


Dengan sebuah taksi, aku diantar menuju sebuah rumah kos yang menjadi tempat tinggalnya saat ini. Rumah berlantai dua itu, terlihat asri dengan banyak sekali tanaman dan pohon di halamannya. Sejuk dipandang mata.


“Pantas saja Mas Hendra betah,” ucapku setengah berbisik.


Aku mulai masuk ke dalam rumah. Agak aneh sih, apalagi ini rumah kos khusus untuk laki-laki. Tapi, kalau aku telepon Mas Hendra, gak akan terlalu surprize nantinya.


Dengan sebuah kue berukuran kecil yang kubeli di dekat bandara, aku nekat masuk ke sana. Ada seorang penjaga rumah yang menghampiriku. Seorang pria tua.


“Ana sing bisa nulungi, Nduk? Sing kepengin ketemu?” tanyanya.


Jujur aku tidak mengerti, tapi ada kata ‘nulungi’, aku pikir berarti bantuan. Dengan sebuah senyum, kucoba menjawab pertanyaannya.


“Maaf, Pak. Saya mau bertemu dengan Mas Hendra. Apa dia kos di sini? Namanya, Mahendra dari Bandung.”


“Oh ya, ayok mlebu.”


Pria tua itu menyuruhku untuk masuk saja. Dia banyak pekerjaan katanya, mungkin, seperti itulah tebakkanku.


Masuk ke dalam, suasana terlihat cukup sepi. Padahal ini ‘kan hari minggu. Aku planga-plongo, mencari seseorang yang bisa kutanyai. Namun, entah mereka masih pada tidur, atau mungkin jalan-jalan pagi ke CFD. Ini masih pukul sepuluh pagi, terlihat pada jam dinding yang ada di ruangan tersebut.


Alhamdulillah. Akhirnya ada juga orang yang bisa kutanyai disini.


“Maaf, Mas. Kenal sama Mas Hendra. Mahendra maksud saya. Dari bandung. Katanya, dia ngekos di sini?” tanyaku tanpa basa-basi.


Dia memindai diriku dari ujung hijab sampai ujung kaki. Entahlah. Tapi yang kulihat, dia bukan mata keranjang.


“Owh, Mahendra. Langsung Mbaknya naik. Dari tangga, belok kiri, kamar paling pojok.”


Tanpa menunggu tanggapan atau sekedar ucapan terima kasih dariku, pemuda itu lalu melengos keluar.


Kuikuti arahan darinya. Menaiki tangga, dan menuju sebelah kiri, kamar paling pojok.


Satu per satu anak tangga berhasil kupijak. Entah berapa jumlahnya, tak sempat juga kuhitung.


Sampai kupijakkan kaki di lantai dua setelah menapaki anak tangga teratas. Pandanganku beralih ke sebelah kiri. Perlahan, kuayunkan kembali kakiku menuju kamar paling pojok. Ada yang keluar dari sebuah kamar, kamar paling pojok. Itu artinya, kamar Mas Hendra.


Aku terperanjat. Dan membalikkan badanku kembali ke tangga, mengintip dibalik tembok. Pandanganku tertuju pada seseorang yang baru saja keluar, seorang perempuan dengan pakaian yang sangan minim.


Alisku mengernyit, siapa dia? Ini ‘kan kos khusus laki-laki?


Ku telan salivaku kasar. Pandangan tetap mengarah pada perempuan itu. Namun seketika, pupil mataku membesar, mataku membulat, tanganku seketika menutupi mulutku yang mulai menganga.


Mas Hendra yang bertelanjang dada keluar dari dalam kamar, menarik perempuan itu kedalam pelukannya. Meraih pinggangnya lalu …


***


Suci menghentikan bercerita. Isak tangis kembali pecah, tak mampu lagi menjabarkan apa yang dia lihat kemarin. Tapi, Airin bisa menangkap cerita selanjutnya dari apa yang Suci gambarkan.


Direngkuhnya sang sahabat ke dalam pelukkannya.


“Sudah Ci, yang sabar ya.” Hanya itu yang mampu Airin ucapkan untuk menenangkan sahabatnya itu.


Dia membiarkan Suci menangis sejadi-jadinya. Berharap, semua kepiluannya akan ikut menguap bersama Air mata yang mengalir.


“Pantas saja dia jarang menelponku beberapa bulan terakhir. Kalau kita bisa berkomunikasi pun, itu karena aku yang selalu menelepon dia. Itupun terkadang tak mendapat respon.” Kembali dia sesegukan.


“Sudah Ci. Mungkin Allah tunjukan itu sama kamu, pasti ada alasannya. Sebelum hubungan kalian semakin serius, mending ditunjukkan sekarang, benar ‘kan? Berarti Alloh sayang sama kamu, dan sudah menyiapkan jodoh yang lebih layak,” ucap Airin berusaha membesarkan hati Suci.


“Iya, mungkin seperti itu Rin. Mudah-mudahan saja, aku bisa mendapatkan calon suami yang seperti suami kamu. Sayang, perhatian, baik, hkhik.”


“Iya, inshaa Allah.”


Ada sesak di dada Airin. Bukan karena kisah Suci, tapi dia jadi teringat pada sikap Abimanyu yang berubah akhir-akhir ini.


Tidak, Abimanyu tidak mungkin menghianatinya seperti yang Hendra lakukan. Dia bukan pria serendah itu.


Terlihat Airin menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Dia mencoba menepis pikiran buruk tentang suaminya.


Airin menemani Suci sampai sahabatnya itu tertidur karena kelelahan. Energinya seperti terkuras seiring dengan air mata yang mengalir tak hentinya.


Ditatapnya sendu wajah yang cukup berantakan dari sahabatnya. Dia tak habis pikir, sahabat yang paling baik diantara sahabat-sahabatnya yang lain, yang paling alim, ternyata mendapatkan ujian seperti itu. Mungkin, membayangkannya saja, tak pernah terlintas sama sekali.


Airin keluar dari kamarnya.


Kemudian pamit pada Mama Suci.


***


Airin membuka pintu mobil, kemudian Ia meraih benda pipih yang super canggih itu dari atas dashboard. Sengaja tak dibawa masuk, biar bisa fokus pada Suci. Terlebih, beberapa panggilan terakhir yang membuat dia malas.


Dilihatnya pada layar, beberapa panggilan dan juga chat dari nomor yang sama.


[Kenapa lu gak angkat telpon gua Rin? Kenapa!!! Seburuk itu kan gua di mata lu?]