
“Mbak Sum, bawain kantong kresek ya, ke ruangan saya, dua buah!” pinta Abimanyu.
Dia sudah kehabisan akal untuk melenyapkan makanan yang ada di hadapannya ini. Tangan sang istri sudah kadung meraciknya dengan cinta, tapi semuanya selalu harus berakhir di tempat sampah. Sebenarnya, Abimanyu tidak tega. Kalau bisa, dia akan memakan saja semua makanan itu. Namun, perutnya, tidak sanggup untuk menerima.
[Maafkan Abi ya Mi …] batinnya sedih.
Sekali lagi, dia melihat makanan yang hendak ia hempas dari hadapannya. Matanya berkaca-kaca, saat mengingat betapa antusiasnya Airin membuatkan semua itu untuknya. Namun, ia juga tak akan sanggup untuk menelannya lagi.
Akhirnya, semua makanan racikan Airin itu, berakhir di dalam kantong kresek.
“Mbak, kalau ada Ujang, suruh ke ruangan saya ya!” ucap Abimayu di telepon.
Tak lama, Ujang datang ke ruangannya. Kemudian, Abimanyu memintanya untuk membuangkan sampah beserta kantong keresek yang baru saja dia minta dari Mbak Sum, yang sudah terisi itu.
“Setidaknya, untuk hari ini, aku aman!” ucap Abimanyu.
***
Airin memasuki ruangan Abimanyu, memberikan beberapa laporan yang harus di tandatangani.
“Permisi Pak … “ ucap Airin.
Walaupun mereka sudah menjadi suami-istri, namun, di kantor mereka tetap harus bersikap professional.
“Iya, masuk!”
“Laporannya Pak, semuanya sudah saya masukan dalam satu file. Sudah saya cek juga,” Airin menyodorkan sebuah map berwarna biru kepada Abimanyu.
“Ok!” jawab Abimanyu singkat.
Tangannya mulai membubuhkan sebuah coretan khas, namun matanya terus menatap Airin tanpa berpaling.
“Mending di lihat lagi Pak, laporannya! Nanti salah tanda tangan lagi!” ujar Airin.
Abimanyu hanya tersenyum melihat sang sekertaris yang membulatkan bibirnya. Dia terus saja menatap pada perempuan yang ada di hadapannya itu.
Semua file selesai ditandatangani.
Airin kembali mengambil file-file tersebut, namun, tangan Abimanyu dengan sigap meraih tangan Airin yang sedang merapikan kertas-kertas di atas meja Abimanyu.
“Mi … pulang kerja nanti, kita makan malam di luar yuk?” ajak Abimanyu.
Seketika, Airin menepis tangan managernya itu.
“Kita kan pulang sore,” jawab Airin singkat.
“Kita nonton saja dulu! Sambil nunggu makan malam! Yah … ?”
Kedua tangan Abimanyu kini memangku dagunya sambil menatap Airin.
“Hmm …” hanya itu yang keluar dari mulut sang wanita.
Airin, lantas meninggalkan ruangan itu tanpa mendengarkan Abimanyu lagi. Dia menyembunyikan sebuah senyum dari hadapan Abimanyu.
***
Jam sudah menunjukan pukul 17:00. Sementara, Abimanyu masih berada di ruangan Pak Sis.
Airin menunggu di mejanya, sambil memainkan ponsel yang ada di tangannya.
[Mi, Abi sebentar lagi selesai dengan Pak Sis. Umi, duluan ke mobil ya, sambil bawa tas Abi. Sebentar lagi Abi nyusul!] Pesan dari Abimanyu masuk ke gawai Airin.
[Ok!] dijawab singkat saja oleh Airin.
Airin masuk ke ruangan Abimanyu, membawa tas beserta beberapa barang-barang Abimanyu yang lainnya. Kemudian, turun ke bawah menuju mobil.
Sekitar tiga puluh menit, Airin menunggu di dalam mobil, sampai akhirnya Abimanyu datang juga.
“Maaf Mi, lama. Biasa, Pak Sis, kalau sudah detik-detik jam pulang, suka ada aja yang di bahas!” jelas Abimanyu sambil sedikit terengah.
Nampaknya dia berlari menuju ke parkiran.
“Gak apa-apa, kan sudah tahu!” jawab Airin.
“Jadi, kita mau kemana?”
“Jangan galak-galak lah Mi, nanti aku tambah gemes lho sama kamu!” ujar Abimanyu sambil mencubit hidung mungil Airin.
Airin hanya mendelik sang suami, sambil mengelus-elus hidung yang baru saja tercubit hingga sedikit memerah.
***
Satu jam perjalanan menuju Mall yang paling terdekat dari kantor, dan sudah menjelang waktu magrib. Mereka menunaikan kewajiban terlebih dahulu, sebelum akhirnya mereka naik ke lantai tiga Mall tersebut.
“Mau nonton film apa Mi?”
DIlihatnya sang istri yang sedang melihat-lihat poster yang di pajang di dinding bioskop.
“Kita nonton film ini saja ya Bi?” tunjuk Airin pada sebuah judul film keluarga yang baru saja di rilis.
“Itu film sedih Mi, yang romantic saja lah!”
“Beliin tiketnya Bi …!” ucap Airin sambil tetap menunjuk judul yang dia mau. Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.
Abimanyu hanya menarik nafas panjang, dan membuangnya kasar. Tak dapat menolak apa yang diminta oleh wanitanya itu.
Dua tiket sudah di tangan. Popcorn dan minuman pun, sudah mereka dapatkan. Tinggal menunggu jadwal pemutaran di studio1, yang tinggal 15menit lagi.
“Aku ke toilet sebentar ya,” ucap Airin.
Abimanyu hanya mengangguk. Setelah selesai, tak lama, film mereka akan segera di putar. Keduanya, memasuki studio1 dan menempati tempat duduk sesuai nomor yang ada di tiket masing-masing.
Sudah setengah jalan, film di putar. Airin, nampaknya sangat menikmati isi cerita pada layar besar itu. Romantic, haru, sedih.
“Mi, coba lihat deh, orang yang duduk di depan kita!” Tiba-tiba Abimanyu berujar, membuyarkan konsentrasi Airin yang sedang khusuk menghayati isi film.
Airin menoleh, menatap Abimanyu. Mata Abimanyu mengisyaratkan agar Airin melihat kemana matanya di tujukan.
Mau tidak mau, Airin mendongak. Melihat sepasang muda-mudi dalam remangnya ruang bioskop yang dingin. Tak mudah memang, melihat apa yang mereka lakukan dalam jarak per baris kursi yang mereka duduki. Walau akhirnya, setelah mengamati dengan seksama, Airin mengetahui apa yang sepasang remaja itu lakukan.
“Ih! Gak ada kerjaan! Ngapain sih Abi lihat-lihat mereka!” ujar Airin kembali pada posisi duduknya semula.
“Maulah Mi, kayak mereka!” ucap Abimanyu sambil nyengir.
“Kenapa? Kita kan sudah halal!” Abimanyu merajuk.
“Karena kita sudah halal, ngapain coba melakukan hal itu di tempat umum seperti ini! Kayak gak ada tempat lain saja!” timpal Airin.
“Kalau begitu, kita bisa … nanti?”
“Hah?”
“Begadang Mi … aku mau push up!” ucap Abimanyu sambil terkekeh. Kemudian menggoda Airin dengan alisnya.
Seketika, Airin memukul Abimanyu yang mulai nakal.
“Kayaknya aku harus bawa sapu deh! Otak Abi ngeres!” ujarnya.
“Boleh lah Mi … yah?”
Akhirnya film berakhir. Airin marah, dia tidak bisa menikmati film gara-gara Abimanyu yang terus saja berceloteh tidak jelas.
“Gara-gara Abi sih, filmnya jadi udahan kan! Umi gak tahu deh endingnya kayak gimana!” ujar Airin.
“Maaf Mi, nanti kita nonton lagi deh,”
“Gak! Nonton sama Abi tuh, gak pernah bisa konsen!”
“Nanti di beliin CDnya deh!”
Airin melipat kedua tangannya di dada. Tak mau menghiraukan Abimanyu lagi.
“Ya sudah, gimana kalau kita makan saja. Abi minta maaf deh. Umi mau makan di mana?” bujuk Abimanyu.
Saat mereka sedang memilih resto, sebagai tempat makan malam mereka kali ini.
Airin dan Abimanyu, bertemu dengan teman kuliah Airin, Anindita.
Namun, dia tidak hanya datang seorang diri.