
Berdiri mematung di ambang pintu. Melihat sosok itu tengah berbaring di atas ranjang yang Airin pesan beberapa waktu yang lalu.
“Gila, kenapa aku bawa dia ke kamar? Kenapa tidak langsung membawanya pulang? shit!” Airin mengumpat. Merutuki dirinya sendiri. Bodoh!
Ponselnya masih tergeletak tak bernyawa di mobil. tak sempat diambil. Kalaupun menelpon Teguh dengan telpon hotel, untuk menjemput Bimo, Airin tak hafal nomornya.
Berpikir, dan terus berpikir. Dengan posisi masih di ambang pintu kamar hotel. Airin memindai sosok Bimo yang tengah berbaring. Mencoba mendekatinya, lalu mulai meraba-raba paras pinggang menuju ke bawah. Ya, dapat.
Dirogohnya kedalaman saku celana Bimo, dan mencoba mengambil benda pipih di sana.
“Rin, Airin ….” Dia mengigau, matanya masih terlipat rapat.
Dirogoh dengan pelan, dan hati-hati. Namun, lagi dia bereaksi. Dengan igauan yang sama, memanggil nama Airin.
“Aku dapat!” ujar Airin setengah berteriak. Lalu spontan, menutup mulutnya sendiri.
Saat mengeluarkan benda pipih itu dari saku celana Bimo, tiba-tiba tangan Bimo meraih pinggang Airin yang tengah membungkuk dan menarik ke atas tubuhnya yang tengah terlentang.
Matanya masih saja terpejam, dengan bibir yang terus mengigau memanggil-manggil nama Airin. Didekapnya erat tubuh dari istri Abimanyu itu, nyaris tak dapat bergerak.
“Rin, gua masih sangat sayang sama lu! Jangan perlakuin gua kayak gini, plis. Gua sakit! Sakit ….” Lagi, dia mengigau sambil tergugu.
Tetes demi tetes keluar dari pelipis matanya. Dapat terlihat dengan jelas oleh Airin, saat berada di dalam dekapan Bimo.
Airin meronta. Dan dengan segenap tenaga, akhirnya dapat melepaskan diri. Sambil terengah dicarinya nomor kontak Teguh, lalu menekannya membuat sebuah panggilan.
Agak lama, sampai akhirnya panggilan tersambung.
[Hm.]
“Halo Guh, Assalamualaikum,” sapa Airin.
{Hah, siapa ini?] Sepertinya Teguh kaget mendengar suara perempuan dari nomor yang menghubunginya.
“Ini aku, Airin. aku sedang di hotel bersama Bimo,” ucapnya menjelaskan.
“Apa? Di hotel? Ngapain lu berduaan di hotel malam-malam begini, hah?”
Terlihat jam pada layar ponsel. Pukul 22:14. Airin mencoba menjelaskan apa yang terjadi serinci mungkin. Jangan sampai Teguh berpikir yang aneh-aneh tentang mereka.
“Tapi gua gak bisa keluar Rin, gua baru aja kerokan. Gua nyuruh orang deh buat ke sana.”
“Kalau bisa, dua orang, ya, Guh! Biar ada yang bawa mobil Bimo juga.”
“Ah, gila. Seorang pun belum tentu gua dapet. Lu udah minta dua orang aja!” cerca Teguh. “ Gini aja deh, biarin dia tidur di sana malam ini. besok pagi gua jemput!”
Pikiran Airin sedang buntu. Jadi, dia menurut saja saran dari Teguh. Dia membiarkan Bimo tertidur di atas tempat tidur, sementara dia, berbaring di sofa.
Berkali-kali, Bimo muntah. Sprei, baju, celana, semua kena. Dengan bantuan seorang room service, Airin mengganti baju Bimo dan meminta membersihkan sprei dan baju yang kotor.
Kondisi Bimo sangatlah buruk. Keadaan ini, jauh lebih buruk dari kebiasannya beberapa tahun yang lalu. Kenapa dengan Bimo? Padahal, kemarin, dia terlihat sudah banyak berubah. Di café pun, dia hanya memsan es kopi, bukan minuman yang biasa dia pesan. Tapi malam ini … ah!
***
“Kenapa kalian bisa ketemu di sini?” tanya Teguh saat datang untuk menjemput Bimo.
“Ya, seperti yang aku ceritakan semalam, kita ketemu di sini gak sengaja,” jelas Airin. “Padahal. Siangnya kami sempat ketemu dan bahkan makan siang bersama di rumah.”
“Apa? Makan siang di rumah lu?”
“Iya, makan siang bertiga sama suami aku. Cuma, dia buru-buru pamit. Dan tak lama setelah itu, dia mulai mengirimiku pesan gak jelas, terus nelponin aku berkali-kali. Gak ngerti deh, aku pikir dia sudah berubah. Kalau aku gak dateng tepat waktu, mungkin dia sudah digelandang ke kantor polisi kali!”
Terguh menatap Airin, tajam. Tak pernah Airin melihat dia seserius itu saat melihat Bimo terkapar karena banyak minum. Ini bukanlah pemandangan yang aneh, buat dia, buat kami. Bimo sudah sering seperti ini.
“Dia memang sudah jauh berubah, hampir setahun terakhir dia tidak pernah minum-minuman keras lagi. Tapi, kayaknya gua tahu alasan kenapa dia sampai minum-minum seperti itu,” terang Teguh. “Gua akan bawa dia, thanks udah jagain dia semalamam,” lanjutnya.
***
Pagi itu, Airin bergegas pulang. Mobil Abimanyu sudah terparkir di car port saat Airin datang. Sepertinya, Abimanyu sudah pulang lebih dulu.
Dia masuk, pandangannya tertuju pada seseorang yang terbaring di sofa ruang tengah. Pria itu menggeliat, lalu bangkit, menghampiri Airin.
“Mi? Umi dari mana aja?”
“Abi pikir, aku dari mana? Bukankah semalam, Abi bilang kalau Abi gak pulang? Tega tau gak Bi!”
“Abi tahu ‘kan, aku gak berani di rumah sendirian? Tapi, tanpa khawatir, Abi membiarkan aku sendiri di rumah? Ok!”
“Mi, abi sudah minta Mamih untuk nemenin Umi. Semalam, Mamih juga dateng kok, hanya saja, Umi udah gak ada di rumah,” jelas Abimanyu. “Abi minta maaf, semalam Abi langsung pulang saat Mamih bilang, kalau Umi gak ada di rumah. Dan Cuma ada makan malam yang masih hangat. Umi nyiapain makan malam untuk Abi?” lanjutnya bertanya.
Airin hanya mendengus kesal.
“Makanya, semalam Abi langsung pulang. Dan membatalkan pekerjaan Abi," ucapnya kemudian.
“Pekerjaan apa? Apa yang membuat Abi sampai harus menginap?”
“Itu … Abi ….” Abimanyu nampak tergagu, dia tak dapat menjelaskan sesuatu pada Airin.
“Apa karena sekertaris baru yang seksi itu?”
“Sekertaris baru? Maksud Umi apa?”
“Sudahlah! Aku capek, ngomong sama Abi. Ini bukan kali pertama, Abi gak jujur sama aku!” Airin bergegas masuk ke kamarnya. Lalu menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Abmanyu menyusul dari belakang.
“Tapi bisa Abi jelaskan MI! buka pintunya. Mi …?” Dia terlihat frustasi. “ Andai Umi tahu, Abi melakukan semua ini untuk Umi! Abi gak akan membiarkan orang yang sudah membuat Umi jauh dari Abi dan mengharuskan Umi keluar dengan terpaksa dari perusahaan, tetap bernafas lega. Mereka harus membayar mahal untuk itu semua Mi!” Abimanyu bermonolog.
“Arrggghhh!” Dia berteriak dengan kedua tangan yang mengepal.
Berkali-kali Abimanyu mengetuk daun pintu, namun tak diindahkan sama sekali oleh Airin. Abimanyu kembali turun. Terduduk di atas sofa, menunduk dengan menangkup wajahnya sendiri.
Tak lama, Airin turun. Langkah kakinya terdengar tegas. Membuat Abimanyu bangkit dan kembali menghampirinya.
Airin sudah terlihat rapi.
“Umi mau kemana? Baru juga pulang?” tanya Abimanyu dengan wajah yang kusut.
“Abi tahu ‘kan, sekarang aku sudah tidak bekerja. Dan Abi tahu kalau Suci baru saja putus dari pacarnya dan Vany sedang mengurus pernikahannya? Jadi, biar waktuku lebih berguna dan bermanfaat, aku mau menemui mereka dan menjadi sahabat yang baik untuk mereka.” Airin menatap sinis sang suami. "Setidaknya, aku bisa bermanfaat untuk orang lain," lanjutnya.
“Terus Abi bagaimana? Sarapan Abi gimana?”
Langkah Airin terhenti. Mundur dua langkah, kembali ke hadapan Abimanyu.
“Abi mau sarapan? Aku rasa, makanan yang semalam masih ada ‘kan?” ucap Airin bertanya. “ Buat apa masak, kalau tidak ada yang makan!” Dia berlalu meninggalkan Abimanyu sendiri.
“Mi, tapi Abi … ck, ah sial!” ujar Abimanyu setengah berteriak.
Abimanyu mengusap wajahnya kasar. Mengambil ponselnya lalu menelpon Restu.
“Jemput gua, SEKARANG!”
Tak berapa lama, Restu datang dengan mobilnya. Abimanyu yang sudah menunggu, langsung menghampiri dan masuk ke dalam mobil tanpa di suruh.
“Kita cari sarapan!” ujar Abimanyu.
“Nyari sarapan? Emang si Umi gak masak? Entar Uminya marah lagi loh, masakannya gak dimakan?” ledek Restu.
“Udah jangan bawel. Cepat berangkat!”
Restu hanya mendelik, dia terheran dengan apa yang sahabatnya itu lakukan. Cari mati nih orang, begitu pikirnya.
“Airin nyangka gua selingkuh!” Tiba-tiba, Abimanyu membuka suara setelah sekian lama dia terdiam selama perjalanan.
“Apa? Selingkuh? Selingkuh sama siapa?”
“Dia pikir, gua selingkuh sama sekertaris baru di kantor Pak Sis.”
“Sekertaris yang seksi itu? Wah, mantap tuh.”
Abimanyu mendelik membuat Restu tak berani lagi untuk sekedar bercanda.
“Udahlah, cewek tuh memang begitu, jinak-jinak merpati. Semakin di kejar, semakin dia lari menjauh. Tapi, kalau kita nyeleweng dikit aja. Langsung deh, dia akan merasa kehilangan, terus mohon-mohon deh agar tidak ditinggalkan.” Restu memberikan wejangannya pada Abimanyu.
“Boro-boro dia memohon. Dia malah ninggalin gua begitu saja!”
Restu mendengus. Dia terlihat lebih serius sekarang.
“Atau bisa jadi, istri lu yang selingkuh.”