Hubby, Is A Biker Insyaf!

Hubby, Is A Biker Insyaf!
Airin belajar masak


Malam itu, Airin terlelap dipelukan Abimanyu. Tanpa ia sadari, tangannya sudah melingkar, di tubuh sang suami. Namun begitu, Abimanyu belum juga bisa memejamkan mata. Perutnya meronta, menghasilkan suara yang bergema di dalam ruangan yang sunyi saat itu.


Tangan Airin yang kini berada di atas perut Abimanyu, tergelitik oleh getaran yang dihasilkan.


Perlahan, dia terbangun. Terkesiap saat menyadari posisi tidurnya yang sedang memeluk Abimanyu.


“Kenapa Mi?”


“Gak apa-apa! Perut Abi kenapa bunyi kayak gitu?” Airin membenarkan posisi bantal, kemudian kembali berbaring sedikit menjauh dari suaminya. Kembali pada posisi awal, memunggungi Abimanyu.


“Abi laper Mi!”


“Emangnya Abi gak makan malam tadi?” Airin menoleh.


“Bukan cuma makan malam, makan siangpun Abi gak sempet.” Abimanyu terlihat meringis sambil memegangi perutnya. “Terakhir Abi makan, ya, pas tadi pagi. Itupun belum selesai, Umi sudah mengambil piring Abi dan menyuruh Bi Yati untuk membereskannya.” Bibir Abimanyu terlihat sedikit kedepan, layaknya anak kecil yang sedang merajuk.


“Loh, kenapa Abi gak makan?”


“Abi kan maunya makan sama Umi. Tapi, Umi gak sekalipun angkat telpon dari Abi. Dari siang, Abi nungguin Umi tahu! Tapi malah gak pulang-pulang!”


Airin mendengus. Ia bangkit meninggalkan tempat tidur pun Abimanyu yang masih berbaring.


“Aku bikinin sesuatu ya, Abi tunggu sebentar!” ujar Airin sambil berlalu menuju dapur.


Ia membuatkan Abimanyu semangkuk mie instan yang kata model di TV, itu adalah mie sehat dengan warna hijau yang alami dari daun bayam.


Dibawanya mie dalam mangkuk setelah kurang lebih empat menit dimasak, ke kamar mereka.


“Jangan di situ Bi, di sini saja makannya!” pinta Airin dengan mengambil posisi duduk di sofa yang ada di kamarnya itu.


Dengan sedikit tertatih, Abimanyu berjalan mendekat pada Airin. Lalu duduk di sampingnya.


Aroma mie, yang biasanya dia hindari, kini sangat menggugah selera Abimanyu. Dilahapnya semangkuk penuh isi dalam mangkuk, tanpa berpikir lagi.


Rasa hangat dari kuah mie, menenangkan lambung yang meronta. Sampai semua tak bersisa.


Perutnya yang kosong, kini telah terisi, ditandai dengan sendawa yang keluar nyaring dari mulut Abimanyu.


“Mie-nya enak Mi, makasih.” ucap Abimanyu sambil menyodorkan mangkuk yang sudah tandas. Juga gelas susu yang bernasib serupa.


Airin mengembalikan mangkuk dan gelas kotor ke dapur. Kemudian kembali ke kamar, dan melihat sang suami telah merebahkan diri di pembaringan sambil melihat kearahnya. Menepuk-nepuk pundaknya untuk menjadi bantalan tidur sang istri.


Airin tersenyum. Ia menyambut ajakan tersirat dari Abimanyu. Membaringkan diri, dalam dekapan hangat pria itu.


***


Keesokan harinya, mereka berangkat bekerja bersama seperti biasa. Sepertinya, hari ini mereka sudah berdamai dengan kekesalan masing-masing. Terlihat saat mereka memasuki kantor bersama. Sesekali, canda terlempar di bibir keduanya.


“Abi masuk dulu ya Mi, mencari sesuap nasi untuk kita berdua …” celoteh Abimanyu saat hendak memasuki ruangannya sambil memainkan matanya, genit.


Spontan, Airin mencubit perut Abimanyu.


“Jangan becanda deh. Kita ‘kan satu kantor! kerjanya, juga barengan! Gak usah lebay ya!” gerutu Airin sambil membulatkan mata pada Abimanyu.


“Dih! Kok galakan sekertaris daripada managernya.” Ujar Abimanyu sambil menjulurkan lidah, mengejek Airin. “Weeeek …”


Mata AIrin semakin membulat, membuat Abimanyu tak berani lagi menggodanya, dan lebih memilih untuk lekas-lekas masuk ke dalam ruangan.


***


“Mi, Abi diajak pergi sama Pak Sis. Umi ikut ya?” pinta Abimanyu saat Airin sedang merapikan laporan di atas meja kerjanya.


“Acara nanti malam?”


“Iya …”


“Gak ah! Itukan cuma acara jamuan makan. Gak ada hubungannya sama pekerjaan aku. Jadi, gak perlu ikut lah!”


“Kalau Umi gak ikut, Abi gak usah ikut saja ya ?”


“Gak boleh, Abi tetap harus ikut! Lagian nanti Umi juga mau pergi sebentar, ke mal Bandung.”


“Mau ngapain?”


“Dih, kepo!”


Dia merasa bertanggung jawab atas kemajuan perusahaan, walau posisinya hanya sebagai karyawan saja, bukan pemilik dari perusahaan ini.


“Ya sudah Bi, aku duluan ya …” pamit Airin saat tak ada lagi pekerjaan yang bisa dia kerjakan. Lagian, waktu sudah menunjukan pukul 17:35. Karyawan lain, sudah pulang dari setengah jam yang lalu.


“Ya sudah, Umi mau naik apa pulangnya? Bawa mobil sama Umi, biar nanti Abi nebeng sama Pak Sis saja.” imbuh Abimanyu.


“Iya …” Airin bersiap untuk pulang. Walau terlihat berat, namun Abimanyu melepaskan istrinya itu pulang terlebih dahulu.


***


Airin pulang ke rumah untuk mandi. Kemudian, melaksanakan salat magrib, baru setelahnya, ia bergegas menuju tempat kursus memasak.


Kelas dimulai pukul 19:00. Airin hampir saja terlambat, karena jalanan yang cukup padat. Apalagi, dia menggunakan mobil. Seandainya dia pakek motor, pasti bisa salip sana salip sini. Dan tak perlu tergesa-gesa memasuki kelas.


“Ok semua, kita akan mulai kelas memasak hari ini, silahkan untuk mencatat dulu resep yang akan kita praktekan …” Sang chef membuka kelas setelah perkenalan dengan masing-masing peserta yang jumlahnya ada tiga orang itu.


Sesuai jadwal, kelas berakhir pukul 20:30. Airin mendapat ilmu baru. Yang pasti tidak akan membuat masakannya asin lagi. Dia malu sendiri saat mengingat kejadian di kelas tadi.


“Ok, sekarang kita masukan bahan-bahannya ya!” perintah chef pada ketiga peserta.


Airin dengan pedenya memasukan bahan-bahan lalu membubuhkan bumbu ke dalam masakan.


“Loh, kenapa langsung di bumbui? Itu nanti saja kalau masakannya sudah mau matang! Nanti pas di icip pasti keasinan!” ujar chef pada Airin.


Airin terbengong. Dia meminta penjelasan untuk tindakkan yang menurut dia sudah paling benar itu.


Namun, betapa malunya Airin, saat chef menjelaskan pernyataannya tadi.


“Kalau kita bumbui masakan kita di awal, kita tidak akan bisa mengontrol kadar garam yang kita butuhkan. Memang betul, membumbui itu bisa menggunakan feeling. Tapi untuk pemula, sebaiknya ikuti petunjuk dan takaran pada resep. Jangan sekali-kali membubuhkan bumbu, di awal kita memasak. Paham semua? Air yang kita gunakan, akan menguap, tapi tidak dengan garam yang sudah kita masukan. Itu akan membuat masakan kita asin nantinya! Jangan lupa icip sebelum di sajikan. Ok!”


Hal itu membuat dia yakin. Kalau selama ini, masakan dia tidaklah bermasalah. Yang salah adalah, cara dia mengeksekusi bumbu.


Airin membawa hasil masakannya hari ini. Tapi, karena Abimanyu sedang makan malam dengan Pak Sis, akhirnya masakannya dia berikan pada pengemis di pinggir jalan. daripada mubazir tak temakan, padahal ia yakin dengan rasa masakannya yang sudah lebih baik.


Baru sekali dia mengikuti kelas memasak, Airin sudah sangat ketagihan untuk mempraktekkannya di rumah. Diapun melipir sebentar ke sebuah toko buku di dalam mal yang tak jauh dari tempat dia belajar masak.


Memasuki toko buku, dia langsung menuju rak yang memajang berbagai buku-buku dengan cover makanan yang lezat-lezat itu.


Dia memilih sebuah buku karangan Ibu Sisika Soeitomo, untuk dia praktekkan di rumah. Abimanyu sangat suka dengan masakan khas nusantara. Jadi dia pilih buku itu untuk di bawa pulang.


Saat hendak membayar, tiba-tiba seseorang menerobos mendahuluinya.


“Maaf Mbak, saya duluan ya, saya buru-buru harus segera ke ban … da—ra soalnya.” Pria itu tergagap saat menoleh kearah Airin. “Loh, Mbak yang kemarin ‘kan?”ucapnya kemudian.


Airin hanya terdiam. Lagi-lagi pria itu. Pria yang kemarin menabraknya di toilet café. Airin hanya manampakkan senyum kecut pada pria yang bernama Angga itu.


Setelah selesai, pria itupun mempersilahkan.


Airin membayar buku yang baru saja dia ambil. Lalu beranjak untuk pulang.


Namun, pria tadi ternyata menungguinya.


“Sudah selesai Mbak?”


“Iya!”


“O iya, kemarin kita belum sempat berkenalan.” Pria itu melempar senyum pada Airin.


“Nama Mas, Angga ‘kan? Kemarin Mas sudah memperkenalkan diri. Maaf, saya duluan …” Belum lagi Airin melangkah, pria itu menghadangnya.


“Iya, kemarin saya sudah memperkenalkan diri, tapi Mbak belum menyebutkan nama Mbak ‘kan?”


Airin mendengus. Dia mulai terganggu dengan pria itu. Namun, sepertinya, pria itu bukan pria berandal. Walau terkesan memaksa, namun caranya bersikap, masih dirasa sopan oleh Airin.


“Nama saya Airin. Boleh saya pergi sekarang?”


“Owh iya. Tapi, apa kita pernah bertemu sebelumnya ya?”


“Kemarin, ‘kan kemarin kita baru saja ketemu!”


“Bukan, tapi, sebelum itu! Saya rasa, kita pernah ketemu deh, tapi kapan ya?” Pria itu berusaha mengingat-ingat, sementara Airin, tidak peduli dengan apa yang dia katakan. Dia hanya ingin secepatnya pergi dari tempat itu.


Tanpa Airin sadari, Abimanyu juga berada di tempat yang sama. Dia melihat Airin dari kejauhan.