Hubby, Is A Biker Insyaf!

Hubby, Is A Biker Insyaf!
dihukum Mamih


Tok … tok … tok …


Suara kaca mobil di ketuk. Dari dalam, terlihat seorang pria berseragam sedang memperhatikan, mencari tahu apa yang mereka lakukan. Membuat mereka yang sedang terpacu adrenalinnya, menjadi semakin terkejut-kejut.


Kaca mobil dibuka. Seorang polisi yang masih membungkuk, melihat kedalam mobil sambil menempelkan tangan di samping kening, melakukan hormat ala petugas.“Maaf, bisa keluar sebentar?” Sang petugas berujar pada Abimanyu dan Airin dengan gaya yang khas.


Mereka berdua turun, dengan perasaan kaget dan bingung. Berdiri saling bersisian, di hadapan sang petugas.


“Maaf, boleh tunjukan surat-suratnya?” tanya beliau.


Abimanyu mengambil surat-surat beserta Sim untuk di tunjukan. Namun, sepertinya bukan itu masalahnya.


“Baik, sedang apa kalian malam-malam begini di dalam mobil berdua?”


“Owh, soal itu Pak. Barusan, saya sedang mengangkat telpon. Jadi saya pinggirkan dulu mobilnya, ‘kan tidak boleh mengangkat telpon sambil mengendara?” jelas Abimanyu berkelit.


“Kalau seperti itu, kenapa tidak menyalakan lampu sen?”


“Itu … saya lupa Pak. Tadi telpon penting, jadi buru-buru.” Lagi Abimanyu memberi alasan.


“Tapi, tidak seperti itu yang saya lihat tadi! lebih baik, kalian jelaskan saja di kantor polisi!”


Petugas menggiring keduanya menuju kantor polisi. Beliau mengira, kalau mereka berdua adalah sepasang muda-mudi yang sedang berbuat mesum di dalam mobil.


Airin dan Abimanyu ditahan di kantor polisi, sampai ada orang yang bisa membuktikan bahwa mereka memang adalah sepasang suami istri, seperti yang mereka berdua katakan.


“Mana mungkin kami berbuat mesum seperti yang Bapak katakana barusan? Kami ini suami istri loh Pak! Kalaupun kami sekedar berciuman di dalam mobil, saya pikir itu wajar saja! Toh kami sudah menikah!” ujar Abimanyu.


“Bagaimana kalian bisa membuktikan, kalau kalian adalah sepasang suami istri?”


“Kami ada foto pernikahan, sebagai bukti.”


“Foto seperti itu, bisa di buat dengan mudah saat ini. Jadi, itu tidak bisa di jadikan sebagai alat bukti!”


“Lalu kami harus membuktikan dengan apa?”


“Minta saja orang rumah untuk membawakan surat nikah kalian, kalau itu memang benar-benar ada!”


Dengan terpaksa, Abimanyu menelpon mamihnya untuk mengambilkan buku nikah mereka berdua di rumah. Tak ada yang bisa di percaya untuk melakukan hal itu, selain ibunya sendiri. Lagipula, mamih mempunyai kunci serep rumah mereka.


Dengan gelisah, Airin dan Abimanyu menunggu di kantor polisi.


Tak lama, Mamih datang, dengan membawa buku nikah mereka berdua. Sehingga polisi percaya kalau mereka memang benar-benar suami istri, dan akhirnya di bebaskan.


“Baik Pak, terima kasih banyak atas kerja samanya. Saya pastikan, mereka berdua tidak akan berbuat seperti itu lagi di tempat umum. Maklum saja Pak, mereka itu kan masih pengantin baru,” tutur mamih mengharapkan maklum, dari para petugas polisi.


“Baik. Silahkan, kalian bisa pulang sekarang!” ujar pak polisi.


Abimanyu berjalan menuju parkiran, mengambil mobilnya. Sementara Airin, menunggu pak Ono mengambil mobil mamih yang juga diparkir, di tempat yang sama.


“Kalian besok libur kan? Jadi sekarang, menginap saja di rumah Mamih! Abi, kamu bawa mobil kamu. Sementara Airin, akan ikut dengan Mamih!” tegas Mamih pada keduanya.


Airin dan Abimanyu tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti apa yang mamih katakan.


Mereka bahkan harus pasrah, saat mamih meminta keduanya untuk tidur terpisah malam ini.


“Airin, untuk malam ini, kamu tidur di kamar Mamih. Biar Abimanyu tidur di kamar dia saja. Anggap saja ini hukuman, karena perbuatan kalian tadi!” Mamih berlalu menuju kamarnya, diikuti Airin dari belakang


***


Malam itu, baik Abimanyu maupun Airin, mereka sama-sama tidak bisa memejamkan mata. Sebulan terbiasa tidur dalam ranjang yang sama, membuat keduanya merasa ada yang hilang, saat harus tidur terpisah.


Abimayu terlihat berguling ke kanan, ke kiri. Namun tetap terjaga, tak ada sedikitpun kantuk yang menghinggapi. Sesekali matanya melirik jam sudah, menunjukan pukul 23:00.


Airin sedang apa ya? Apa dia sudah tidur? batin Abimanyu mencoba menebak-nebak.


Di tempat yang berbeda, Airinpun sama gelisahnya seperti Abimanyu. Dia mencoba memejamkan mata, namun tetap tak mendapatkan kantuk yang bisa membawanya ke alam mimpi yang indah. Di liriknya Sang Ibu mertua yang terbaring di sampingnya. Di perhatikan dengan seksama, sepertinya Mamih sudah terlelap. Airin mencoba bangkit, menjauh dari pembaringan. Namun, baru saja dia hendak menurunkan kakinya, tiba-tiba perempuan yang telah melahirkan suaminya tiga puluh tahun yang lalu itu, berujar.


“Mau kemana kamu Rin?”


Airin terkesiap. Seketika dia seperti di totok jalan darahnya, dan mematung untuk beberapa saat. Di liriknya sang mertua, ternyata dia belum sepenuhnya terlelap.


“Owh, ini Mih, aku haus, mau ke dapur sebentar. Teko nya kosong, sekalian aku isi ya?” kelit Airin.


Airin keluar, turun menuju dapur. Berjalan perlahan, seperti orang bingung. Ia mengisi teko sambil melamun. Tak memperhatikan sekitarnya. Tiba-tiba, sebuah tangan melingkar manja di pinggangnya. Memeluk tubuh ramping itu dari belakang.


“Mamih sudah tidur?” bisik seorang pria yang telah menikahinya sebulan yang lalu itu. Sambil sesekali mengecup pucuk kepala sang istri.


“Abi? Kenapa kamu di sini? Nanti Mamih liat loh!” ujar Airin mengingatkan. Walau sebenarnya, dia juga menginginkan hal yang sama. Bisa berduaan dengan lelakinya.


“Aku kangen Mi! Tidur sendirian gak enak!” rengek Abimanyu.


“Ih, dulu juga ‘kan tidurnya sendirian. Gak apa-apa! Manja deh!”


“Iya, tapi itu ‘kan dulu. Sekarang ada yang bisa di peluk, ngapain coba peluk guling!” Dekapannya semakin di eratkan. Sebuah kecupan mendarat di pipi Airin.


“Ehem! Sedang apa kamu Bi? Kamu juga mau ambil air minum?” Tiba-tiba mamih berdehem, membuat keduanya terperanjat. “Sudah selesai ngambil air minumnya Rin? Ayo kembali ke kamar!” ucap Mamih sambil berlalu.


Airin, seketika mengekor. Meninggalkan Abimanyu di dapur sendirian yang masih terlihat syok.


***


Sudah pukul 01:00 dini hari, Airin belum juga terpejam. Diliriknya berkali-kali sang mertua. Sepertinya, kali ini, beliau sudah benar-benar terlelap. Suara dengkuran, walau terdengar halus, namun terdengar di telinga Airin. Membuat dia yakin, kalau Ibu mertuanya sudah benar-benar berada di alam mimpi.


Dia bangkit, berjalan mengendap-endap, lalu keluar menuju kamar Abimanyu.


Sekali lagi dia memastikan, yang berbaring di sebelahnya tadi, tak memberika reaksi sedikitpun. Lalu setelah benar-benar yakin, ditutupnya pintu dengan pelan.


Huft, sepertinya kali ini Mamih benar-benar sudah terlelap. Bisik Airin pada dirinya sendiri.


Perlahan, dia berjalan menuju kamar Abimanyu. Membuka pintu kamar itu, lalu masuk tanpa menyalakan lampu.


Dilihatnya tempat tidur yang masih rapi. Tak ada siapapun berbaring di sana.


Abi kemana ya? Kok tempat tidurnya kosong? lagi dia berbicara pada dirinya sendiri.


Pintu kamar yang menuju balkon, terbuka dengan lebar. Membuat angin dengan bebas keluar masuk, membelai manja tirai yang menjuntai.


Airin melangkah menuju balkon. Mungkin Abimanyu ada di sana, begitulah pikirnya. Namun, saat sampai di balkon, tak ada siapapun yang nampak. Lantas, kemanakan Abimanyu malam-malam begini? Di periksanya di kamar mandi, juga tak ada.


Ceklek.


Terdengar suara pintu dibuka. Airin terdiam. Mungkinkah itu Abimanyu? Atau malah, Mamih yang terbangun lalu mencari-cari dirinya? Dadanya berdegup kencang. Semoga saja itu bukan mamih, batinnya bergejolak.


Diintipnya siapa yang masuk dari celah pintu, mencoba memastikan. Namun, saat dia sedang mengintip, seseorang membuka pintu dan mendapati dia yang tengah membungkuk mencuri pandang.


”Mi, sedang apa kamu di sini?” tanya Abimanyu heran.


Airin mendongak, mendapati suaminya yang sedang berdiri di hadapannya dengan bertelanjang dada. Badannya kuyup sekujur tubuh. Wajahnya basah, pun dengan rambutnya yang tengah di gosok menggunakan handuk.


Mata Airin membulat. Pipinya memerah. Dia mendorong Abimanyu, lalu menutup pintu kamar mandi seketika.


“Mi, kok di tutup sih? Umi lagi ngapain di kamar mandi? ‘kan di kamar Mamih juga ada kamar mandinya?”


“Abi pakek baju dulu gih! Baru aku keluar!”


Seketika, terdengar gelak tawa dari Abimanyu.


“Jadi Umi ngumpet di kamar mandi, karena melihat Abi gak pakek baju? Abi masih pakek celana loh ini?”


“Sudah, jangan banyak omong! Cepat pakek baju!”


“Ok, ok! Keluarlah, Abi sudah pakek baju nih!”


Perlahan pintu di buka, Airin mendongak. Namun, seketika, Abimanyu mendekap tubuhnya. Tak membiarkan dia terlepas dari cengkraman.


Airin berontak, badan Abimanyu yang masih basah setelah berenang malam itu, membuat Airin meronta kedinginan, sampai mereka terguling di atas tempat tidur. Dan melepaskan hasrat yang tertunda.


***


Keduanya terlelap di kamar Abimanyu. Tangan Airin meraba-raba mencari sesuatu. Di ambilnya jam yang di letakan di atas nakas. Mengintip sedikit, terlihat jam menunjukan pukul 03:30. Matanya mengerjap. Dia bangkit, namun Abimanyu masih memeluknya dengan erat, walau matanya terpejam.


Perlahan, dia lepaskan pelukan Abimanyu lalu memunguti pakaian yang tercecer di lantai. Memungutinya satu per satu. Lantas dibalutkannya kembali ketubuhnya yang sudah terkupas sang suami.


Berjalan mengendap, kembali ke kamar ibu mertua.