
"Mas Angga?” tanya Airin heran.
“Loh, kenapa kita ketemu lagi di sini?” tanya Angga tak kalah herannya. “Kenapa kita selalu bertemu secara kebetulan seperti ini, ya?”
‘Kenapa harus ketemu dia lagi, sih? Kalau Abi melihat kami, bisa berabe urusannya. Bagaimana aku menjelaskan kepada Mas Angga?’ batin Airin.
“Em, iya, aku juga gak tahu,” jawab Airin gugup.
“Kamu sendiri aja atau sedang menunggu seseorang?” Lagi Angga bertanya.
Airin bingung harus menjawab apa, takut Angga akan tersinggung. Namun, dia harus mengatakan pada Angga agar dia bisa mengerti dan memaklumi. Jangan sampai dia minta gabung lagi nantinya.
“Sebenarnya, aku sedang menunggu suami. Tapi maaf, dia tidak suka kalau lihat aku dengan laki-laki lain, takutnya dia melihat kita dan … ya, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan saja.”
Angga terlihat kecewa dengan penuturan Airin. Namun, sepertinya dia bisa mengerti dengan apa yang Airin katakan barusan.
“Ok, aku mengerti. Kalo gitu aku kembali ke meja aku saja, ya,” ucapnya dengan nada melemah.
Airin menjawab dengan sebuah senyum simpul. Sebenarna dia tidak enak, namun apa boleh buat. Dia sudah melakukan kesalahan dengan tidak jujur dipertemuan sebelumnya dengan Angga pada Abimanyu. Jangan sampai, pertemuan mereka kali ini, menimbulkan masalah baru.
Beberapa jam telah berlalu. Sudah pukul setengah dua, namun Abimanyu belum juga datang. Panggilan telepon pun, tidak ada yang diangkat satupun. Airin mulai bosan dan juga kesal.
***
Di tempat berbeda ….
“Gimana makanannya?”
“Em, enak.”
“Makasih, ya, sudah mau nemenin aku makan, Ci.”
“Loh, harusnya aku dong yang berterima kasih karena sudah ditraktir,” ungkap Suci pada pria di hadapannya.
“Kalau begitu, lain kali kita bisa dong makan bareng lagi?”
“Boleh, telpon aja,” jawab Suci dengan wajah yang berbinar. Sepertinya dia telah menemukan sosok pengganti Hendra. Pantas saja dia bisa move on dengan sangat cepat.
“O iya, ayah kamu suka sama jam tangannya?”
Suci tidak langsung menjawab. Dia tidak mengatakan kalau jam tangan yang waktu itu dia beli, bukanlah untuk ayahnya, melainkan untuk kekasih yang sekarang sudah berstatus mantannya itu. Padahal dia sudah mengarang alasan agar pria itu mau memberikan jam tangannya untuk dibeli oleh Suci.
“Um, itu, iya, Ayah sangat suka. Makasih, ya, kamu sudah mau merelakan jam tangan itu untuk aku. Maksudnya, untuk Ayah aku,” jawab Suci gugup.
“Syukurlah.”
Mereka terlihat menyukai satu sama lain. Setelah acara makan siangnya selesai, mereka berdua memutuskan mengakhiri pertemuannya siang ini, lalu berpisah tepat di depan restoran yang dipakai Abimanyu untuk meeting.
“Kita berpisah di sini gak apa-apa ‘kan? Aku harus lanjut meeting soalnya.”
“Gak apa-apa, kalau begitu, aku pamit, ya,” ucap Suci.
Sebelum mereka benar-benar berpisah, Suci sempat melihat ke arah dalam restoran. Dia terlihat kaget. Namun, mencoba memastikan lebih seksama. Ternyata benar, dia tidak salah lihat.
“Ada apa?” tanya pria yang baru saja makan siang bersamanya.
“Ah, gak apa-apa. Ya sudah, aku pulang, ya,” pamit Suci sekali lagi. Dia meninggalkan tempat itu dengan tergesa.
Sementara pemuda yang bersamanya tadi, masuk ke dalam restoran dan menghampiri sebuah meja yang dia tinggalkan beberapa waktu lalu.
“Hai, maaf lama.”
“Gila, lu pergi ke toilet mana? Ke luar kota? Lama banget sih, Res!” Abimanyu tidak dapat menahan lagi kekesalan pada sahabatnya itu.
“Sorry, Bro, gua ada misi penting.”
Abimanyu melihat Restu dengan tatapan yang tajam, seperti singa yang ingin menerkam mangsanya saja. Kemudia kembali membisikan sesuatu.
“Lu ingat ‘kan, gua ada janji sama istri gua? Sekarang gua gak mau tahu, lu lanjutin meeting sendiri. Gua mau pergi sekarang!”
Abimanyu hendak bangkit dari tempat duduknya. Namun, Restu menjegalnya.
“Bentar lah, Bi. Gua ‘kan gak ngerti apa-apa, masa ujug-ujug gua lanjutin?”
“Maaf, apa bisa kita lanjutin meetingnya sekarang?” potong Merry saat melihat perdebatan di antara kedua pria di hadapannya itu.
“Mer, kamu jelasin ke Restu aja, ya. Apa yang kita bahas tadi, saya ada urusan lain,” pinta Abimanyu pada sekertaris pribadi om-nya itu. Merry terlihat bingung.
“Tuh, ‘kan, sedikit lagi. Udah, sabar aja dulu,” ucap Restu merasa mendapat pembelaan. “Atau begini saja, lu telpon Airin deh. Bilang, tungguin bentar lagi,” lanjutnya menyarankan.
“Ya sudahlah, kita lanjut saja. Tapi jangan lama-lama, ya!” tegas Abimanyu pada kedua manusia yang ada di hadapannya.
Ada kekhawatiran pada diri Abimanyu, baru saja mereka berbaikan semalam, jangan sampai Airin marah lagi pada dirinya, karena telat datang.
Sementara itu, Airin yang menunggu lama di café, sudah mulai merasa sangat bosan dan kesal.
***
[Rin, suami kamu belum datang juga?] pesan dari Angga.
Ternyata dia masih memperhatikan Airin dari meja tempat dia berada sekarang. Airin menoleh ke arahnya. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Angga dan memilih untuk mengacuhkannya.
Dua gelas minuman sudah tandas, berpindah ke dalam perut Airin. Pramusaji juga sudah mendatanginya beberapa kali, menanyakan apa yang akan dia pesan. Namun, belum juga ada tanda-tanda bahwa suaminya itu akan segera menampakkan batang hidungnya.
Tiba-tiba, Angga menghampiri meja Airin. Membuat Airin terkejut.
“Mungkin suami kamu tidak datang,” ucapnya sambil duduk di hadapan Airin tanpa dipersilakan.
Airin menjadi salah tingkah dibuatnya. Dia bangkit, meminta bill pada pelayan, lalu pergi tempat itu setelah membayar.
“Loh, kenapa pergi? Maaf kalau aku membuat kamu tidak nyaman,” ucap Angga sambil mengikuti Airin.
“Gak apa-apa, Mas. Aku memang sudah mau pulang,” jawab Airin masih tetap memacu langkah.
Angga menaruh beberapa lembar merah di atas mejanya tadi, lalu bergegas mengikuti Airin yang sudah keluar dari café.
“Tunggu, Rin. Kamu marah sama aku?”
Airin menghentikan langkahnya, berbalik menatap ke arah Angga.
“Gak apa-apa, Mas. Aku kesal bukan karena Mas Angga. Ya sudahlah, aku pulang, ya.” Airin menjawab dengan lebih ramah, agar Angga tidak mengejarnya terus. Dan ya, Angga berenti mengejar Airin. dia membiarkan Airin berlalu dari hadapannya.
Airin menelpon Bimo, mereka janjian di taman kota. Entah kenapa, dia malah memutuskan untuk menelpon Bimo.
***
“Kenapa, lu tiba-tiba nelpon gua? Kangen, ya?” goda Bimo.
“Gak, aku lagi kesel aja!”
“Kesel sama siapa? Abimanyu?” tanya Bimo sambil memberikan es krim vanila pada Airin.
Airin mengangguk. Dia mulai menjilati es krim pemberian Bimo. Es krim vanila dengan taburan kacang di atasnya.
Airin menceritakan kejadian yang baru saja dia alamai. Dia mengungkapkan kekesalannya pada Abimanyu, di hadapan Bimo. Airin berpikir, kalau Bimo akan lebih care padanya. Dia lupa, apa yang terjadi pada Bimo beberapa waktu yang lalu.
“Ya sudah, berarti kamu belum makan siang ‘kan?” tanya Bimo penuh perhatian.
Lagi-lagi Airin menjawab dengan sebuah anggukan.
Bimo mengajak Airin untuk makan siang, walau mungkin sudah telat. Hampir pukul tiga. Mereka pergi ke sebuah café, lalu makan bersama.
Beberapa kali Abimanyu menelepon. Namun, tak diangkat oleh Airin. Dia masih cukup kesal pada suaminya itu.
“Itu Abimanyu yang nelpon?” tanya Bimo.
“Hm,” jawab Airin singkat. Dia benar-benar terlihat lapar, dan tetap fokus menyantap makanannya dengan lahap.
“Angkat lah dulu,” pinta Bimo.
Airin menghentikan sendok berisi makanan yang sudah hampir mendarat di mulutnya, lalu menaruhnya kembali ke atas piring dengan sedikir dilempar. Dia mendengus.
“Biarkan aku makan dulu, Bim. Aku masih lapar,” ujar Airin kesal.
“Ya sudah, gua ke toilet dulu sebentar, ya.”
Bimo pergi. Dia membiarkan Airin melahap makanannya sendiri. Hampir setengah jam dia berada di dalam toilet. Bahkan, Airin pun sudah selesai dengan makanannya dari tadi.
Tiba-tiba ….
“Mi, ternyata Umi ada di sini?”
Airin terlihat terkejut melihat suaminya ada di hadapannya,”Abi …?”