
Seperti bagaimana Airin keluar, kali ini, dia juga masuk ke kamar Ibu mertuanya dengan cara yang sama. Mengendap-endap.
Secara perlahan, merebahkan diri di ranjang, di samping Sang mertua.
Airin kelelahan, tak peduli lagi di sekitarnya. Dia terlelap.
***
Azan subuh mulai menggaung, menjadi alarm bagi mereka yang terlelap agar segera beranjak menunaikan kewajiban dua rakaatnya. Pun dengan Airin.
Tangannya meraba, mencari sesuatu di atas nakas. Diintipnya dengan sebelah mata, ke mana jarum jam menunjuk angka.
Matanya mengerjap, sudah pukul 04:40. Dia bangkit meninggalkan pembaringan, menuju kamar mandi.
Guyuran air membasuh setiap jengkal tubuhnya, menghadirkan rasa sejuk nyaris dingin.
“Kamu mandi Rin?” tanya Mamih saat Airin keluar kamar mandi.
Dengan sedikit kaget, Airin menjawab walau agak terbata. Bukan hanya karena menggigil kedingingan, namun juga dikarenakan pertanyaan Mamih yang mendadak, mengagetkan dirinya. Takut-takut, kalau Mamih curiga nantinya.
“I—iya Mih, aku gerah. Jadi sekalian saja mandi!” kelitnya.
Mamih hanya menatap penuh tanya, lalu masuk untuk mengambil wudu.
“O iya Rin, kita berjamaah saja ya. Kamu, coba bilang sama Abimanyu!” teriak Mamih dari dalam sana.
Airin hanya mengenakan kimono, menuju ke kamar Abimanyu. Dia tahu kebiasaan suaminya itu. Saat ini, dia pasti sedang berada di dapur. Menikmati the hijau kesukaannya.
Tak ada baju yang bisa dia pakai, karena bajunya yang kemarin, tak mungkin dia pakai lagi. Harus dicuci terlebih dahulu. Oleh karenanya, dia mengambil baju Abimanyu di lemari, di kamarnya. Sepotong kaos dan juga celana pendek, dipilih, untuk dikenakan sambil menunggu bajunya dicuci.
Airin bergegas ke dapur, setelah berpakaian. Ia harus menyampaikan pesan Mamih kepada Abimanyu. Dan benar saja, suaminya itu sudah duduk di meja makan dengan secangkir the di tangan yang sesekali ia teguk perlahan.
“Bi, sudah salat?” tanya Airin seraya menghampiri Sang suami.
Pria itu menoleh. Wajahnya sudah terlihat segar. Bau wangi dari tubuhnya tercium sampai kedalaman indera Airin. Rambutnya yang dibiarkan hanya disisir tangan itu, terlihat basah.
“Belum, ini baru mau.” Jawabnya.
Sebuah senyum terbit di wajah mereka. Hukuman Mamih, tak bisa membendung asa mereka. Justru, adrenalinnya dua kali lipat lebih menantang.
“Mamih minta kita berjamaah, di mushola! Dia sedang wudu, aku sudah ambil wudu. Nanti nyusul ya!”
Airin berlalu. Abimanyu bergegas menghabiskan minumannya, kemudian menyusul.
“Assalamualaikum …” ucap Abimanyu saat memasuki mushola.
Dijawab serempak oleh dua wanitanya yang sudah berada di sana terlebih dahulu.
“Waalaikum salam …”
Mamih menatap kearah Abimanyu, menatapnya dengan dua alis yang bertaut.
Dua rakaat telah tertunai. Airin merapikan mukena dan sejadah, lalu mengembalikannya ke dalam lemari, masih di dalam mushola.
“Kalian semalam tidur bersama?” Tiba-tiba saja, Mamih melemparkan pertanyaan yang membuat Airin dan Abimanyu kikuk.
“Mak--sud Mamih a--pa? ‘Kan Airin, tidur sama Mamih semalam?” ucap Abimanyu tidak lancar. “Aku mau jogging dulu deh!” elak Abimanyu.
Airin yang mendapat tatapan curiga dari Mamih setelah Abimanyu berlalu, langsung mengalihkan.
“Aku juga mau minta Bi Yati buat cuciin baju aku dulu Mih, biar bisa dipake lagi pagi ini.” Airinpun meninggalkan Mamih yang sudah menaruh curiga pada mereka berdua.
***
Pagi itu, makanan sudah tersaji di meja. Baju Airinpun sudah kering, dan rapi. Bi Yati memberikannya pada Airin, yang langsung di sambut oleh empunya. Dia membawanya ke kamar, untuk dikenakan.
Abimayu terlihat sudah kembali dari olah raga. Tak biasanya dia kembali lama sekali, kalau hari-hari dia akan kembali paling lama satu jam. Tapi kali ini, sudah lebih dari dua jam dia baru kembali.
“iya Bi. Mamih sama Airin sudah turun?”
“Nyonya sebentar lagi turun. Kalau Non Airin, sedang ganti baju dulu Den,”
“Ya sudah, makasih ya Bi,”
Abimanyu melanjutkan langkah menuju kamarnya. Dia membersihkan diri untuk yang kedua kali. Badannya sudah segar, bajunya sudah diganti. Abimanyu turun ke ruang makan.
Terlihat di sana, sang istri sudah sibuk membantu Bi Yati merapikan meja makan.
“Ayo Bi, sarapan.” Ajak Airin antusias.
Di belakang Abimanyu, Mamihnya mengekor. Mereka mengambil posisi duduk, memulai sarapan pagi itu.
Mamih tetap dengan tatapan penuh tanya. Dia terlihat masih kesal, karena merasa kecolongan oleh kedua anaknya tersebut.
Sendok yang sudah terisi makanan, dia daratkan ke mulut. Mengunyahnya dengan perlahan, tatapannya masih tajam mengarah pada Airin dan Abimanyu.
“Cih …! Apa-apaan ini! Bi … Bi Yati ….!” teriak Mamih, sesaat setelah makanan dia kunyah, dan dilepeh kemudian.
“Iya Nyonya,” Bi Yati dengan cepat menghampiri Mamih, dia terlihat gugup dan terkaget mendengar teriakan majikannya yang tak biasa itu.
“Kamu sudah berapa lama bekerja di sini? Masa makanan seperti ini, kamu sajikan untuk kami!”
Bi Yati hanya terdiam. Matanya melirik kearah Airin. Abimanyu yang menangkap tatapan itu, langsung mengicip salah satu hidangan di atas meja.
Dari ekspresi wajah yang ia tampakkan setelah mengicip, dia tahu siapa yang memasak makanan pagi ini. Seketika, wajahnya memucat.
“Enak kok Mih, makanannya enak kok!” ucap Abimanyu mencoba meyakinkan Mamihnya.
“Apa? Enak kata kamu? Makanan asin seperti ini, kucingpun tak akan mau memakannya!” cecar mamih. “ Lagian, sejak kapan kamu suka makanan asin seperti ini? Kamu bisa muntah kalau makan makanan seperti ini!” lanjutnya semakin meradang.
Bi Yati masih diam. Dia tidak tahu harus berkata apa, karena yang masak, bukan dia namun Airin.
“Ma—af Mih, ini bukan salah Bi Yati. Aku yang masak pagi ini, bukan Bi Yati.” Ucap Airin lirih.
“Kamu? Jadi setiap hari kamu memasakkan Abimanyu makanan seperti ini?” cecar mamih.
“Dan kamu, kamu bilang masakan dia enak? Yang benar saja Abi! Dulu kamu sampai muntah-muntah, kalau makan makanan seperti ini. Bahkan yang lebih mending dari ini! Dan ini kamu bilang enak?” Kali ini, Abimanyu yang jadi sasaran.
“Kalian berdua ini lucu!”
Kursi yang Mamih duduki, digeser mundur. Dia bangkit, menggelengkan kepalanya menatap Airin dan Abimanyu yang hanya menunduk dari tadi. kemudian, meninggalkan meja makan.
Airin membuang nafas kasar. Dadanya cukup sesak. Melihat Ibu mertuanyanya yang berlalu meninggalkan mereka, tanpa meneruskan sarapannya.
Dia merasa sangat sedih, ini kali pertama dia memasak di rumah mertuanya. Tapi malah berakhir seperti ini. Bahkan, membuat sang mertua, kehilangan selera untuk makan.
Sementara … Abimanyu masih saja menyendokkan makanan itu ke mulutnya. Tanpa berani menatap Airin yang ada di sampingnya. Melihat itu, Airin menjadi semakin kesal.
“Jadi, selama ini, masakanku asin?” Airin melemparkan tanya pada suaminya.
Sendok yang sudah berada di depan mulutnya, berhenti di situ, lalu dikembalikan ke piring. Abimanyu menarik nafas dalam. Entah apa yang harus dikatakannya kali ini. Wanitanya terlihat kesal padanya, nada bicaranya terdengar sedikit sinis.
“Gak kok Mi, gak asin. Cu—ma sedikit asin sa—ja,” ucapnya lirih. Matanya masih menatap lurus, tak ada nyali untuk menatap balik Airin.
“Sudah! Gak usah memaksakan diri memakan semua itu! Makasih, karena mau memakan masakanku yang asin ini!” Diambilnya piring yang ada dihadapan Abimanyu, lalu meminta Bi Yati untuk membereskan semuanya.
Airin naik ke atas. Mengambil tasnya, lalu turun lagi. Dia pergi meninggalkan rumah itu, dengan kesal.