
Sudah beberapa hari ini, Abimanyu terlihat bersikap aneh. Dia selalu berangkat pagi dan pulang larut malam. Bahkan, weekend sekalipun, dia tetap bekerja. Padahal, dia sendiri yang mengatakan, kalau weekend tak boleh ada yang mengambil pekerjaan apapun. Karena weekend itu adalah waktu untuk mereka berdua—Airin dan Abimanyu.
Hari inipun, dia kembali pergi untuk mengurus masalah pekerjaan. Entah pekerjaan apa yang sedang dia kerjakan, sehingga tidak bisa ditinggalkan atau sekedar ditunda.
“Bi, beneran gak bisa nemenin Umi ke acara pertunangan Unge?” tanya Airin sebelum Abimanyu berangkat.
“Maaf Mi, Abi beneran gak bisa. Umi ajak temen Umi saja ya?”
“Tapi, hari ini jangan pulang malam lagi ya?”
Abimanyu mengelus pipi mulus Airin sambil melempar senyum. “Inshaa Alloh ya, Mi. Abi usahakan.”
Dia berangkat setelah mengecup kening istri tercinta.
Airin hanya bisa pasrah melepas suaminya yang harus pergi bekerja di hari minggu.
***
“Hai Rin, yuk masuk. Acaranya baru mau dimulai.” Sapa Teh Risma saat Airin datang ke acara Unge. “Kamu datang sama siapa? Mana suami kamu?” tanyanya kemudian.
“Suami lagi ada kerjaan Teh, saya datang sendiri aja,” jawabku.
“Owh, ya sudah. Gabung saja sama yang lain ya, kamu ‘kan sudah pada kenal sama tema-temannya teguh.” Teh Risma mengantar Airin pada teman-teman teguh yang sedang berkumpul di pojok kiri bangunan tersebut.
Ada Erwin, Peno, Sena, Erik, Ilham dan juga Bimo.
“Hai pengantin baru,” sapa Ilham, sang ustad.
“Gila, makin cantik aja lu Rin. Nyesel pasti si Bimo!” canda Erwin.
Yang lain ikut terkekeh meledek Bimo.
“Lu dateng sama suami lu ‘kan?” Tiba-tiba Bimo bertanya, membuat Airin menatap padanya.
“Em … gak kok. Aku datang sendiri.” Airin tersenyum simpul. “Biasa, orang sibuk, banyak kerjaan. Lagian, gak ada yang dia kenal. Jadi, ya, sudah deh.”
Bimo terus memperhatikan Airin. Dia tahu, kalau ada yang Airin tutupi.
Acara berjalan dengan lancar dan khidmat. Airin mencoba menikmati berbagai prosesinya, namun dia seperti terlihat mengkhawatirkan sesuatu. Berkali-kali dia melihat ponsel yang ada di tangan.
“Lu gak kenapa-kenapa?” Bimo menghampiri, membuat Airin terkejut.
“Ih,Bimo! Ngagetin aja! Kenapa harus kenapa-napa? Ada-ada aja deh!”
“Gimana kalo kita ngobrol sambil ngopi aja? Ke café biasa?” ajak Bimo.
Airin sebenarnya merasa bosan berada di acara ini. walaupun banyak yang dia kenal, dan acaranya juga cukup seru, tapi entah kenapa Airin kurang bisa menikmati acaranya. Pikirannya terus tertuju pada Abimanyu. Lagi-lagi, dia tidak memberikan kabar.
Ajakan dari Bimo boleh juga, Airin menerimanya.
Bimo memesankan minuman yang biasa Airin pesan. Dia sendiri memesan minuman yang sama.
“Tumben? Biasanya juga pesen batu!” ledek Airin.
“Kok batu sih? Emangnya gua debus apa?”
“Batu ‘kan keras!” tegas Airin.
“Owh, ngerti gua. Gak ah, gua lagi pengen minum kopi aja.”
Mendengarjawaban Bimo, membuat Airin menautkan alisnya. Beberapa waktu yang lalu, Airin sampai harus berdebat dulu dengan Bimo agar dia tidak memesan minuman batu ( minuman keras ) yang Airin maksud tadi, bahkan bisa sampai berantem gara-gara hal itu. Dan Bimo tidak pernah mau mendengarkan Airin. Namun, hari ini, Bimo sendiri yang menolak.
“Udah insyaf ya?” ledek Airin.
“Gak juga, lagi ngurangin aja.”
“Dan lebih ganteng! Bener ‘kan?”
Mereka berdua tertawa.
Memang tidak bisa dipungkiri kalau Bimo terlihat lebih ganteng bila dibanding dengan dulu. Mungkin karena penampilan dia yang lebih rapi dan bersih kali ya.
“Nah, gitu dong ketawa. Gua liat lu cemberut aja sepanjang acara tadi. Kayak ikan cue tau gak, ma—nyun aja!”
“Enak aja!” sahut Airin sambil memukul tangan Bimo.
Obrolan mereka mencair. Airin jadi lupa kalau dia sedang menunggu kabar dari Abimanyu.
Keseruan mereka berlanjut. Airin mengajak Bimo menonton film yang sudah dia tunggu selama sepekan terakhir. Film yang sebelumnya ia ingin tonton bersama Abimanyu. Namun, kesibukan Abimanyu akhir-akhir ini membuat Airin ragu. Menemani dia ke acara tunangan Unge saja dia tidak bisa, apalagi menemani Airin menonton.
“Suami lu, beneran kerja? Ini ‘kan hari minggu?” tanya Bimo penasaran.
Kalau boleh jujur, Airin juga tidak tahu apakah Abimanyu benar-benar ada pekerjaan atau ada kegiatan lain. Dia cukup terpengaruh dengan pertanyaan Bimo. Namun, dia coba tepis semua kecurigaan dalam dirinya. Abimanyu tidak mungkin berbohong padanya.
“Iya bawel! Dia lagi banyak kerjaan!” pungkas Airin.
Selama menonton film, Airin tidak bisa fokus. Padahal, itu adalah film yang dia tunggu sepekan terakhir. Tapi, pikirannya terus saja pada Abimanyu.
Dia jadi kangen saat-saat menonton bersama suaminya itu. Bukan saat nonton filmnya, tapi, kekonyolan yang Abimanyu lakukan, yang membuat dia merindukan kebersamaan yang selama sepekan ini terasa hilang dari dirinya.
Mungkin ini yang dirasakan Abimanyu di awal Airin memutuskan resign. Dia merasa kehilangan momen-momen kebersamaan mereka yang selalu mereka jalani berdua. Setiap hari pasti bersama, di rumah, di kantor, menghabiskan weekend bersama. Sedangkan sekarang, itu semua sulit mereka dapatkan. Paling, bertemu dirumah saat pagi dan malam hari. Weekend seperti sekarang pun, mereka tak bisa bersama.
Airin jadi kengen masa-masa itu. Airin kengen sama Abimanyu.
Bimo yang ada di sampingnya, melirik kearah Airin. Dia bisa merasakan, kalau ada sesuatu yang terjadi pada Airin. Pandangan wanita di sampingnya menatap layar besar, namun terlihat kosong. Airin melamun.
***
“Makasih ya Bim, udah nemenin aku nonton,” ucap Airin setelah keluar dari bioskop.
“Bukan nemenin lu nonton kali, tapi nemenin lu ngelamun!” sahutnya sambil berlalu.
Airin mengekor. Mereka kembali ke rumah Teguh, mengambil mobilnya yang ditinggalkan di sana, sekalian pamit pada Teguh dan Teh Risma.
“Aku pulang ya, Bim.”
“Ok, hati-hati,” sahut Bimo. “Kalo lu butuh temen buat ngobrol., hubungi gua aja ya?” lanjutnya kemudian.
Airin hanya membalas dengan sebuah senyuman. Kalau Abimanyu sampai tahu, entah apa yang akan dia lakukan.
***
Sampai di rumah, Airin melihat mobil suaminya sudah terparkir di car port. Itu berarti, Abimanyu sudah pulang?
Dengan tergesa, dia memarkirkan si kuning, lalu bergegas masuk. Dan benar saja, Abimanyu sudah ada di rumah sedang duduk di sofa, menunggu dirinya.
“Bi, sudah pulang?” Airin melihat jam di tangan. Pukul 20:00.
“Abi sudah pulang dari tadi sore. Umi abis dari mana?” tanyanya dingin.
“Umi ‘kan abis dari acara tunangannya Unge, yang Umi ceritain tadi pagi,” jawab Airin ragu.
“Owh, bukannya acaranya siang? Emang sampe malam ya, acara tunangannya?”
Airin menelan salivanya kasar. Dia bingung harus menjawab apa. Karena acara tunangannya memang hanya sampe sore saja. Sekitar pukul tiga atau empat sore.
Abimanyu menatap sang istri, menunggu jawaban dari pertanyaannya yang belum juga dijawab.