Hubby, Is A Biker Insyaf!

Hubby, Is A Biker Insyaf!
Bimbang


Airin akhirnya pulang, diantar oleh Angga tentunya. Mereka berhenti tepat di sepan rumah Airin.


“Kamu serius gak mau nerima ini?” tanya Angga sambil menyodorkan paperbag berisi ransel putih yang baru dia beli.


Airin menggelengkan kepalanya, sambil mengukir senyum, berharap Angga tidak tersinggung.


“Kenapa? Aku ikhlas kok.”


Sambil mengeluarkan barang-barangnya dari dalam bagasi mobil, Airin mencoba memberi pengertian pada Angga yang terus saja ngotot.


“Tanpa bermaksud menyinggung siapapun, aku hanya ingin menghargai suami aku, Mas. Itu aja.”


“Tapi, apa hubungannya? Anggap saja ini hadian dari teman.” Terus saja Angga bersikeras agar Airin mau menerima pemberiannya.


“Suami aku memang jarang membelikan barang-barang mewah, tapi, bukan berarti aku bisa menerima pemberian orang lain begitu saja,” tegas Airin. “Maaf Mas, aku mau masuk.”


Airin meninggalkan Angga, dia membuka pagar rumah yang langsung disambut oleh Bik Ani.


“Bawa masuk Bik,” perintahnya.


Angga hanya melihat Airin berlalu, kemudian pergi dengan agak kesal.


Airin menoleh. Melihat mobil siver itu melesat menjauh dari rumahnya. Namun, dari kejauhan, dia melihat mobil lain yang diparkir tak jauh dari tempatnya berdiri saat itu. Dia kenal mobil itu. Dia tahu, siapa pemilik mobil tersebut. Kemudian mendekat, menghampiri mpunya.


Kaca mobil diturunkan perlahan, nampaklah siapa yang ada di balik kemudi.


“Sedang apa kamu di sini, Bim? Kamu membuntuti kami?” selidik Airin.


“Um … itu … gua ….”


“Gua apa?”


“Maaf Rin, gua hanya ingin memastikan saja.”


“Memastikan apa?”


“Sebenarnya, siapa orang yang bernama Angga itu? Setahu gua, lu gak punya banyak teman cowok,” jawabnya. “Sory, tadi gua liat kalian saat kembali masuk ke dalam mal. Gua liat, ada yang aneh aja. Makanya gua buntutin kalian.”


“Hah? Jadi bener kamu membuntuti kami? Buat apa?” tanya Airin. “Tadi ‘kan sudah dibilangin, kalau dia itu teman aku. Apa kurang jelas?”


Tiiinnn.


Suara klakson dibunyikan. Airin menoleh ke arah sumber suara.


Deg!


Mobil Abimanyu.


Terlihat seseorang keluar dari sana. Menghampiri mereka.


“Mi, sedang apa?” tanya Abimanyu yang baru saja datang.


“Em, Abi sudah pulang?” jawab Airin gugup.


Abimanyu melongo, melihat siapa yang ada di dalam mobil.


“Hai Gar, lu di sini? Jangan bilang, kalau lu yang nganterin istri gua pulang?”


“Um … itu ….”


“Waduh, thanks Bro. Gua jadi nyusahin lu nih.” Abimanyu tidak menaruh curiga sama sekali pada Bimo. “Masuk yuk, kita ngupi-ngupi sambil nungguin istri gua masak. Lu belum makan siang ‘kan?” lanjutnya bertanya.


“Owh, iya.”


Abimanyu merengkuh pundak Bimo, membawanya masuk ke dalam rumah. Sementara Airin, mengekor dari belakang. Dadanya berdegup kencang. Banyak ketakutan yang ia rasakan saat itu.


***


Airin mulai meracik makan siang untuk suaminya dan juga mantan kekasihnya, yang kini tengah berbincang di ruang tamu. Dia benar-benar merasa cemas, melihat keakraban mereka.


Makanan akhirnya sudah tersaji di meja makan. Airin memberi tahu suaminya. Dan mengajaknya untuk segera menuju meja makan.


“Ayo Gar, kita makan,” ajak Abimanyu.


Mereka beranjak menuju ruang makan. Airin menatap sinis pada Bimo. Berharap dia menyadari akan tindakannya yang bisa menimbulkan masalah baru yang lebih besar apabila Abimanyu mengetahui kalau dia adalah Bimo—sang mantan dari Airin.


Airin tahu betul, betapa bencinya Abimanyu pada sosok Bimo. Betapa besar rasa cemburunya pada pria yang mengisi hati Airin sebelum dia itu.


“Eh, iya Gar, lu udah nikah belum?”


Pertanyaan Abimanyu membuat Airin dan Bimo tersedak berjamaah, membuat Abimanyu terbahak seketika, sambil menyodorkan minum pada keduanya.


“Loh, kok kalian malah tersedak? Apa ada yang salah sama pertanyaan gua?” tanyanya heran. “Mi, kamu gak apa-apa ‘kan?” tanya Abimanyu sambil mengusap punggung sang istri.


“Hm, gak apa-apa Bi. Ayamnya pedes,” kelit Airin.


Pandangan Abimanyu kembali tertuju pada Bimo. Dia masih menunggu jawaban darinya.


“Owh, gua belum nikah. Hampir sih dulu, cuma cewek gua udah nikah sama cowok lain, ” jawab Bimo sambil sesekali meliihat ke arah Airin.


Airin mencoba tidak melihat kepada Bimo. Dia tidak mau kalau tatapan mereka sampai beradu.


Bimo hanya tersenyum.


“Gua saranin ya, cepet-cepet deh lu nikah. Enak tahu. Ada yang masakin, nyiapain semua keperluan kita, yang nungguin pas kita pulang kerja, ada yang dikangenin setiap saat, dan yang pasti ada yang dipeluk pas tidur,” ujar Abimanyu sambil mengelus pipi Airin.


Melihat perlakuan Abimanyu pada Airin, sontak membuat Bimo kembali tersedak. Apa yang dia lihat seakan membuat tenggorokannya tercekat, tak mampu membuka jalan masuk untuk makanan yang ia telan. Nafasnya tiba-tiba jadi berat. Sesak di dada yang terbakar api cemburu membuat Bimo tak bisa melanjutkan menikmati makanannya.


“Sory, sory. Lu gak apa-apa ‘kan Gar?”


Bimo hanya mengulas senyum di bibirnya. Dengan sesekali melirik kepada Airin.


“Gak apa-apa kok. Gua cuma iri aja kayaknya liat kemesraan kalian. Kamu beruntung bisa mendapatkan istri seperti Airin,” ungkapnya dengan tatapan yang terus mengarah pada Airin.


“Hah, gak tahu aja lu. Gimana perjuangan gua buat dapetin dia kek gimana,” timpal Abimanyu. “Tapi lu emang bener, gua emang beruntung,” lanjut Abimanyu sambil mengelus tangan Airin.


“Ya sudah, gua kayaknya harus balik. Gua lupa, kalau ada janji siang ini.” Bimo bangkit.


“Loh, kok cepet-cepet amat. Belum juga makanannya lu abisin. Ayolah, istri gua udah masakin masakan yang spesial nih, buru-buru amat!”


“Iya, sory, kapan-kapan, gua dateng lagi deh,” janji Bimo.


“Ok deh kalau begitu. Janji ya?”


Bimo bergegas pergi. Abimanyu mengantarnya sampai ke mobil. sementara Airin, hanya diam mematung di tempat dia duduk.


***


[Rin, aku mau ketemu.] Pesan dari Suci.


Baru kemarin dia berangkat ke Jogja, tapi hari ini sudah meminta Airin untuk bertemu.


[Bukannya kamu sedang di Jogja?]


[Aku sudah pulang, kemarin sore, aku langsung pulang lagi kok!]


[Ok, nanti aku kabarin deh.]


[Hm, ok.]


Abimayu datang. Dia melihat air muka sang istri yang terlihat tidak seceria biasanya. Wajahnya menjadi agak muram.


“Mi, kenapa?” ucapnya di samping telinga sang istri sambil memeluknya dari belakang.


“Gak apa-apa Bi,” jawab Airin datar.


Abimanyu mengambil posisi duduk di samping Airin. Ditatapnya wajah cantik Airin dengan penuh cinta. Membuat Airin menjadi tersipu malu.


“Apa sih Bi, kok ngeliatinnya gitu amat!”


“Maaf ya, Umi jangan tersinggung dengan sikap Garin barusan. Ini bukan masalah makanan Umi kok.” Abimanyu mencoba menghibur sang istri yang kelihatan bete. “Kayaknya, Garin beneran cemburu deh liat kita. Bener ‘kan? Secara, dia ‘kan jomblo. Apa kita cariin dia pacar ya? Sudah, gak Umi pikirin. Masakan Umi ini, hm … lezato perfecto!”sambil menautkan telunjuk dan jempolnya di depan bibir.


Airin tersenyum. Andai Abimanyu yang sebenarnya terjadi. Apa dia masih bisa seceria itu?


Abimanyu mengambil hapenya, lalu menekan nomor, menelpon seseorang.


“Halo Res? Lu di mana?” tanya Abimanyu di telpon.


[]


“Ketemu sama siapa? Jangan sok sibuk deh lu!”


[]


“Ya sudah, gua udah beresin kok barusan. Besok jangan lupa!”


[]


Abimanyu menutup telepon. Dia menatap Airin, lalu meneruskan menyantap makan siang buatan istrinya itu.


“Bi, nanti sore Umi mau pergi gak apa-apa? Barusan Suci chat, dia ngajak ketemu, ada yang mau dia bicarakan katanya. sepertinya penting!”


“Ok, gak apa-apa. Habis ini, Abi mau berangkat lagi kok. Ada urusan yang harus Abi selesaikan.


“Urusan yang tadi itu?”


“Hm,” jawabnya singkat.


Airin menatapnya penuh tanya. Dia merasa, kalau ada yang disembunyikan oleh Abimanyu. Entahlah.


***


Airin berangkat, setelah beberapa saat Abimanyu maninggalkan rumah. Dia bertemu dengan Suci sebelum mengikuti kelas masaknya.


Namun, diperjalanan, tiba-tiba sebuah pesan lain masuk ke gawainya.


[Rin, lu bahagia sama suami lu? Selamat!]


Pesan dari Bimo.