Hubby, Is A Biker Insyaf!

Hubby, Is A Biker Insyaf!
dinyinyirin orang kantor


“Kok lebih asin dari yang tadi sih Bi? Punya aku tadi asin, karena ada gerenjilan garam saja. Nah ini, malah asin banget semuanya!” cecar Airin.


Secara gayanya yang sudah kayak chef andal, eh, taunya sama saja.


“Masa sih? Abi ini jago masak loh Mi. Umi tahu sendiri ‘kan, bertahun-tahun Abi hidup sendiri, semua serba Abi lakukan sendiri.” Abimanyu membela dirinya sendiri.


“Terus Bi Ani? Bukannya dulu dia yang bantu-bantu di rumah Abi?”


“Bi Ani ‘kan Cuma beres-beres saja. Bikin sarapan sama makan malam, ‘kan sama Abi sendiri,”


“Terus, kenapa nasi gorengnya seperti ini? Sama aja dong kayak aku!”


“Ini pasti gara-gara semalam deh,” ujar Abimanyu dengan hampir berbisik.


“Apa Bi? Gara-gara semalam? Emang kenapa semalam?”


“Eh, itu … em … capek Mi, pasti karena capek semalam,” elak Abimanyu. Dia tidak mungkin mengatakan, kalau semalam dia dibuat KO sebelum berperang oleh Airin. dan terpaksa harus tertidur tanpa perlawanan terlebih dahulu.


***


Hari ini di kantor, seperti biasanya, Abimanyu selalu menggoda Airin. Namun begitu, Airin merasa kalau banyak pasang mata yang kini selalu mengarah padanya dengan tatapan tidak suka. Entah kenapa.


“Van, anterin aku ke tempat kursus yuk?” pinta Airin.


Namun, sepertinya Vany tidak bisa. Begitupun dengan Zhe, beruntung, Suci ada waktu sehingga dia bisa menemani Airin kursus malam ini.


***


Airin masuk ke ruangan Abimanyu. Seperti kemarin, hari inipun dia meminta ijin kepada Abimanyu terlebih dahulu. Namun, dia tidak mengatakan, untuk apa dia pergi. Sayangnya, hal itu membuat Abimanyu semakin menaruh curiga. Namun, dia tidak memperlihatkan kecurigaannya itu.


Abimanyu masih ada urusan dengan Pak Sis, maka, Airin izin pulang terlebih dahulu seperti biasa.


“Mobil, Abi mau pakek, Umi diantar sama Pak Anto saja ya? Nanti Abi bilangin sama Pak Anto,” imbuh Abimanyu.


“Ya, terserah Abi saja kalau begitu.” Airin berlalu kembali ke mejanya.


***


Airin mulai merapikan meja dan bersiap untuk pulang, pun dengan karyawan yang lain. Sampai sebuah suara menghentikan dia sejenak, dan membuat karyawan lain seketika melihat kearah Airin.


“Mbak, mau pulang sekarang?” Tiba-tiba Pak Anto muncul di depan meja kerja Airin.


“Owh, iya Pak. Sebentar ya, saya beresin meja dulu. Bapak, tunggu saja di depan. Saya segera turun,” pinta Airin.


Pak Anto tak banyak lagi bertanya, dia turun dan menunggu Airin di parkiran.


Semua karyawan terlihat sudah meninggalkan ruangan satu per satu. Airin mengirimkan pesan pada Abimanyu, lalu bergegas turun ke bawah.


“Rin, kamu pulang? Bukannya di atas masih ada tamu?” tanya Mbak Krista—resepsionis kantor, padanya.


“Gak kok Mbak, saya pulang duluan. Lagian ‘kan, sudah tidak ada yang bisa saya kerjakan lagi. Jadi Pak Abi mengizinkan saya untuk pulang,” jawabnya.


“Ya iyalah diizinin pulang, orang sama istrinya. Coba kalau karyawan lain yang minta, mana dikasih!” ujar Mbak Neti, staf finace.


“Iya, itu tadi Pak Anto sudah menunggu,” sahut Mbak Krista mengingatkan.


“Owh, iya. Kalau begitu, saya duluan ya semua!” Airin bergegas menghampiri mobil yang sudah stand by di depan kantor.


“Tuh kan, songong banget tuh orang! Pulang saja sok-sok’an minta dianter sama supir kantor. Supirnya Pak Sis lagi!”


“Iya ya, sekarang dia jadi sok! Mentang-mentang sudah jadi istrinya Pak Abi! Apa sih yang dilihat Pak Abi dari Airin, cantikan aku kemana-mana kali!”


Airin mendengar semua nyinyiran dari orang-orang itu, dia memperlambat jalannya dan mendengarkan semua perkataan mereka tentang dirinya.


“Hush, jangan kenceng-kenceng. Nanti dia dengar loh!”


“Ih, iya. Nanti dilaporin deh sama suami tercinta. Bisa-bisa kita kena SP nanti! Secara, Pak Abi ‘kan anak kesayangannya Pak Sis!”


Airin hanya menggelengkan kepalanya mendengar ghibahan mereka. Dia masuk ke dalam mobil dan meminta Pak Anto untuk mengantarkannya ke tempat kursus, namun sebelumnya, mempir dulu ke rumah Suci.


***


Airin dan Suci sudah sampai di mal Bandung, karena kelas masih satu jam lagi dimulai. Maka, Airin memutuskan untuk jalan-jalan dulu sambil menunaikan Magrib di sana.


“Kita Magrib saja dulu, nyari camilan, baru ke tempat kursus ya Ci?”


“Iya, tapi pulangnya nanti anterin aku ke toko buku ya? Aku mau lihat novel yang kamu bilang kemarin. Aku sudah nunggu cetakan keduanya, takutnya keabisan lagi!” sungut Suci.


“Iya, gampang!” sahut Airin.


Mereka melakukan seperti yang sudah direncanakan. Selepas salat, mereka membeli toppoki untuk pengganjal perut. Baru setelahnya bergegas menuju tempat chef Agus mengajar.


Jarak yang tidak terlalu jauh, membuat mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja dari mal Bandung. Dan itu cukup efisien. Karena mereka datang tepat pada waktunya.


Airin kembali memulai kelas memasaknya. Dia banyak bertanya, terutama tentang pengalamannya pagi ini. Dan tentu, dia mendapat ilmu baru yang harus dia praktekkan secepat mungkin. Tak sabar rasanya, ingin menyajikan masakan yang lezat untuk sang suami. Masakan racikan tangannya sendiri.


***


“Rin, ayo cepet kita ke toko buku. Aku mau novel itu. Janji ya, kamu yang bayarin ….” Suci tertawa bahagia.


Setelah selesai kelas, mereka kembali menuju mal Bandung. Sesuai janji Airin, kalau Suci mau menemani ke tempat kursus, Suci akan dibelikan novel yang ia mau.


Namun, diluar dugaan. Ternyata, Abimanyu menungguinya di depan mal Bandung.


Dia seakan merencanakan, menguntit kemana Airin pergi.


“Abi? Kok ada di sini? Emang urusannya sudah selesai?” tanya Airin saat mendapati Abimanyu sedang berada di depan mal Bandung.


“Owh, itu, sudah beres Mi. jadi, Abi pikir untuk jemput Umi saja, sekalian makan malam. Kebetulan, Pak Anto tadi bilang, Umi ke sini.” Abimanyu melihat kearah Suci.


“Yah … jangan pulang dulu dong. ‘Kan mau beli novel dulu …” rengek Suci.


“Iya, kita beli novel kamu dulu. Udah gitu, kita cari makan, baru deh pulang, boleh kan Bi?” imbuh seraya bertanya pada Abimanyu.


Abimanyu mengangguk. Dia sedikit lega, karena melihat istrinya yang pergi bersama Suci sahabatnya. Dia masih kepikiran soal pria yang dia lihat bersama Airin kemarin malam. Dia pikir, kalau Airin akan janjian lagi dengan pria itu, makanya Abimanyu sengaja meminta Airin untuk diantar oleh Pak Anto saja, agar dia bisa mendapat informasi kemana dan dengan siapa Airin pergi dari Pak Anto.


***


“Kalian hati-hati ya …” ucap Suci setalah sampai di depan rumahnya.


Airin dan Abimanyu melesat meninggalkan Suci.


Ada perasaan was-was di hati Airin, kalau-kalau suaminya akan mengetahui kalau dia ikut kelas memasak. Namun, berbeda dengan Abimanyu, dia justru menaruh kecurigaan kepada istrinya itu, soal pria yang bersamanya kemarin.


Karena tak bisa dipungkiri, kalau Abimanyu menaruh curiga kalau Airin suka janjian dengan Bimo, mantan pacarnya itu.


Rasa cemburu, membuat dia berprasangka yang aneh-aneh terhadap Airin.


“Umi mau mampir dulu beli kue cubit?” ucap Abimanyu memecah kesunyian.


“Gak ah, Umi sudah kenyang. Kita langsung pulang saja!” Pinta Airin.


“Yakin …?” goda Abimanyu.


“Apa sih Abi! Iya lah yakin, emang Abi mau? Umi sih udah kenyang …”


“Abi juga udah kenyang sih … em, Abi mau Umi saja deh!”


“Ih …”


“Umi …”


“Gak …”


“Mi …”


Mereka melesat membelah jalanan dengan terus berdebat sepanjang perjalanan.