Hubby, Is A Biker Insyaf!

Hubby, Is A Biker Insyaf!
sebuah keputusan


Mata mereka beradu. Terlihat jelas tatapan sendu yang Abimanyu pancarkan, dan itu bukan main-main. Ada rasa takut yang menyeruak di dadanya.


“Mi, kalau Umi resign, Abi juga resign ya?” ucapnya semakin lirih.


“Bi, Umi ‘kan hanya resign dari perusahaan, buka resign dari hidup Abi. Lagian ‘kan, kita setiap hari bertemu di rumah,” jelas Airin.


“Tapi beda Mi! Abi tidak akan bisa menggoda Umi lagi saat bekerja, Abi bosan nanti Mi. Abi pasti kangen saat-saat mengerjai, dengan dering-dering telpon saat Umi sedang fokus bekerja. Atau menggoda Umi saat memasuki ruangan Abi. Abi pasti kangen masa-masa itu Mi ….”


Airin hanya berdecis mendengar pengakuan Abimanyu yang suka mengerjainya.


“Sebenarnya, ini semua salah Abi! Abi yang membuat peraturan itu, dan sekarang, Abi juga yang harus merasakannya sendiri!”


“Maksud Abi?”


“Iya, sebenarnya, peraturan itu ada dari semenjak perusahaan berdiri. Namun, HRD terdahulu, tidak menjalankannya dengan serius. Banyak pertimbangan yang diambil saat bersinggungan dengan peraturan ini. Tapi Abi …” Dia mengingat kejadian bertahun-tahun yang lalu, bahkan jauh sebelum Airin bergabung di perusahaan.


Flash back.


“Pak Agus, kenapa bahan baku belum juga datang? Kita hampir berhenti produksi nih!” ujar Abimanyu pada staf finace yang saat itu bertugas dalam pembiayaan pembelian bahan baku berdiri di hadapannya.


“Maaf Pak, tapi saya sudah mengeluarkan surat untuk pendanaan pembelian bahan baku yang kemarin di ajukan PPIC. Kewenangan itu, sekarang sudah ada di PPIC Pak,” jawabnya.


“Iya, tapi barusan, PPIC nya tidak masuk. Stafnya bilang dia sedang ada urusan. Dan itu sudah di follow up ke bagian purchasing!”


“Iya Pak, tapi, saya kurang tahu kalau soal itu. Karena sudah di luar wewenang saya.”


Abimanyu menekan nomor pada telpon yang ada di hadapannya. Dia menelpon ke bagian purchasing, namun, jawaban dari seseorang di telpon mengatakan, kalau stafnya yang menangani masalah itu, sedang izin. Dan dia sama sekali tidak mendelegasikan apa-apa kepada staf yang lain.


Abimanyu lantas menelpon pihak HRD dan menanyakan, kenapa banyak sekali yang tidak masuk hari ini. Padahal, banyak pekerjaan penting yang harusnya bisa diselesaikan secepatnya, kalau mereka tidak izin sembarangan seperti hari ini. Minimal, salah satu dari mereka bisa mempertanggung jawabkan pekerjaannya.


Namun, pernyataan HRD saat itu membuat Abimanyu naik pitam. Ternyata, mereka itu adalah sepasang suami istri. Dan kepentingan keluarga yang sama, tentu mengharuskan mereka izin bersamaan.


Dia memanggil kepala HRD untuk menghadap.


“Gila! Mereka tidak memikirkan apa, kalau mereka sudah sangat merugikan perusahaan! Dan lagi, kenapa mereka bisa bekerja dalam divisi yang saling berkaitan? Ini bisa memicu penyelewengan fasilitas perusahaan! Bagaimana kalau si PPIC bersekongkol dengan pembelian, dan memanipulasi harga?”


“Maaf Pak, tapi saya tidak pernah berfikir sampai ke situ. Lagian, selama ini, tidak pernah ada kejadian seperti yang Bapak katakan barusan,” sanggah kepala HRD saat itu.


“Bodoh! Darimana kamu tahu kalau semua itu tidak pernah terjadi? Bukannya ada peraturan yang mengatakan, kalau sepasang suami istri tidak boleh bekerja dalam satu perusahaan yang sama, apalagi dalam divisi yang saling berkaitan seperti itu? Kamu baca peraturan gak sih? Harusnya, kamu yang lebih tahu dari saya!” teriak Abimanyu.


Kepala HRD itu hanya diam. Dia tidak berani berkata apa-apa lagi. Sifat keras dan kejam Abimanyu yang tak pandang bulu pada siapa saja yang melanggar peraturan, apalagi sampai merugikan perusahaan, membuatnya ciut nyali. Karena, dia akan menindak siapa saja yang dia rasa tidak bekerja dengan baik.


“Sekarang, saya minta data, siapa saja karyawan yang ada di perusahaan ini, yang statusnya suami istri. Saya tunggu hari ini juga datanya. Dalam satu jam kedepan, mengerti?”


“Baik Pak, akan saya laksanakan, permisi.”


Hari itu juga, Abimanyu mendapatkan nama-nama siapa saja karyawan dengan status suami istri. Lebih dari sepuluh nama di back office, dan ratusan di bagian produksi.


Abimanyu, memanggil mereka satu per satu. Menanyai mereka, dan memerintahkan mereka untuk memilih, siapa yang akan tinggal dan siapa yang akan resign dari perusahaan dengan memberikan kompensasi sesuai kebijaksanaan perusahaan.


Pada akhirnya, peraturan itu benar-benar di berlakukan, dan menjadi mutlak pada siapapun. Terutama, bagi mereka yang mendapat jodoh di perusahaan. Maka, saat pengajuan cuti nikah. Mereka juga harus menyertakan surat resign dari salah satu pasangan. Itu wajib.


“Begitulah Mi, ceritanya. Dan kemarin, sebenarnya, Pak Sis juga sudah membicarakan masalah ini dengan Abi.”


Airin mendengus kasar. Apalagi yang bisa dia lakukan saat ini, kalau ternyata suaminya sendiri yang membuat peraturan yang sekarang menjerat mereka berdua.


“Ya gak bisa gitulah Bi. Peraturan adalah peraturan. Abi yang buat, masa Abi sendiri yang melanggar?”


“Mungkinkah ini karma Mi?” Mata Abimanyu berkaca-kaca. Dia tak dapat lagi membendung kesedihan yang membuncah dalam dadanya.


Airin memeluknya. Mencoba menenangkan Abimanyu yang tengah putus asa.


“Abi ‘kan bisa godain Umi kalau di rumah. Bisa mengganggu Umi kalau sedang melakukan pekerjaan rumah. Dan yang terpenting, kita masih tinggal di dalam satu rumah, ya ‘kan?” ucap Airin pada sang suami.


“Tapi … apa yang akan Abi lakukan saat jam makan siang? Abi gak mau kalau harus makan siang sendiri Mi, Abi maunya makan di temani Umi?”


“Ya sudah, Umi bisa datang kapanpun ‘kan ke kantor untuk mengantarkan makan siang untuk Abi?”


Abimanyu mendekap tubuh sang istri, menariknya sehingga semakin erat dengannya. Airinpun melingkarkan kedua tangannya di leher Abimanyu.


Tatapan mereka beradu semakin lekat. Bibir tipis Abimanyu semakin mendekati bibir kecil Airin ….


“Eit, jangan nakal ya!” cegah Airin dengan menempelkan telunjuknya di bibir Abimanyu yang hampir mengenai bibirnya yang ranum.


“Mi … masa masih gak boleh sih?” rengek manja Abimanyu.


“Gendong …” goda Airin.


Sebuah lengkungan melebar di bibir Abimanyu, diraihnya tubuh sang istri dengan kedua tangannya seperti bayi. Membawanya masuk ke dalam kamar, melemparnya perlahan di atas pembaringan. Dengan remang cahaya lampu tidur, keduanya menghabiskan malam tanpa ada yang bisa mengganggu lagi.


***


“Bi, hari ini, aku pergi ke kantor hanya untuk menyerahkan surat pengunduran diri dan membawa barang-barangku saja ya, sekalian pamitan,” ujar Airin pagi itu.


“Ah … jangan bahas itulah Mi, males Abi!”


“Kita udah sepakat loh, tadi malam,” tegas Airin.


“Iya … iya ….” Abimanyu mendekap tubuh istrinya yang tengah sibuk memasukan berkas-berkas ke dalam tas.


Wangi rambut Airin yang masih basah, menyeruak di indera Abimanyu.


“Bi … sudah sana panasin mobilnya!”


“Sebentar saja Mi, abi masih kangen … Abi mau menikmati masa-masa ini ….”


“Sudah sana! Kita hampir telat loh!”


“Ok … ok … tapi janji ya …?”


“Janji apa?”


“Hmm … gak boleh nolak pokoknya!”


Abimanyu berjalan mundur, dia terus saja menebar senyum menggoda pada sang istri.


Sementara Airin, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat tingkah konyol sang suami.