Hubby, Is A Biker Insyaf!

Hubby, Is A Biker Insyaf!
memenuhi janji


Airin kembali memacu kendali menuju tempat yang sudah disepakati. Merasa tidak enak hati, pikiran Airin malah tertuju pada Abimanyu. Dia membiarkan Abimanyu makan siang sendiri, walau suaminya itu meminta untuk ditemani. Nah sekarang, dia malah harus makan siang dengan orang lain, karena alasan tidak enak.


***


Suasana jalanan yang cukup lengang, membuat Airin tak perlu lama-lama sampai ke tujuan. Setelah memarkirkan si kuning, Airin langsung bergegas menuju café Grill. Café di mana, pertama Airin bertemu dengan Angga.


Airin masuk, menyisir setiap sudut. Namun, nampaknya Angga belum datang. Dia memilih tempat duduk terlebih dahulu, yang kemudian, langsung dihampiri oleh seorang pramusaji.


“Selamat siang Kak, silahkan,” sapa seorang gadis berseragam khas café ini ramah, sambil menyodorkan sebuah buku menu.


“Owh, saya pesan minum saja dulu, ya. Masih nunggu teman soalnya.” Airin mulai melihat-lihat aneka minuman di menu, “Ice coffee latte saja deh,” lanjutnya memesan.


“Baik, ditunggu sebentar Kak,” sahut gadis manis itu masih dengan senyum yang gurih tekecap mata Airin.


Istri Abimanyu itu terlihat menghembuskan nafas dengan kasar. Merogoh sebuah benda pipih nan canggih dari kedalaman tas ranselnya. Memainkan sejenak, sampai seseorang menghampirinya dengan terengah.


“Huft … sorry Rin. Tadi mobil aku mendadak mogok. Jadi, harus manggil orang bengkel dulu, buat benerin. Barusan aja, kesini pakek taksi online. Gak apa-apa ‘kan nunggu?” cerocos Angga mencoba menjelaskan.


Sebenarnya, Airin tidak peduli dan tidak mau tahu apa yang di—alamai—nya barusan. Airin hanya ingin secepatnya mengakhiri semua ini. masih banyak hal yang lebih penting, yang bisa dia lakukan, daripada membuang-buang waktu di tempat ini.


“Gak apa-apa Mas. Saya juga baru nyampe kok.”


“Owh, baiklah. Syukur kalau begitu. Oh ya, kamu sudah pesan?”


“Aku udah pesan minum sih.”


“Kok Cuma minum? Makannya juga dong!” ujarnya seolah-olah mereka sudah saling menganal lama. “ Aku saja yang pilihin menunya gimana?” tawarnya. Dan kini dia mulai ber—aku, tidak menggunakan kata sapaan saya lagi.


[Dipikirnya, kita sudah berasa akrab aja kali ya?] Airin bergumam dengan batinnya sendiri.


“Terserah Mas saja. Tapi … saya gak bisa lama-lama loh.”


“Memang mau kemana setelah ini?” Airin terkesiap mendengar pertanyaan Angga, mulai agak risih kelihatannya.


“Apa perlu aku bilang sama Mas Angga, mau kemana aku setelah ini?” jawab Airin ketus.


“Owh … maaf. Bukan begitu maksudnya.” Angga bisa menangkap ketidaksukaan Airin terhadap perkataannya. “Maksud aku, ya, siapa tahu kita searah. Mungkin, bisa ikut sampai ke bengkel. Itu juga kalau kamu tidak keberatan,” pintanya.


“Um … memang bengkelnya di mana?”


“Bengkel Bintang, di jalan cempaka.”


“Owh, bengkel Bintang. Aku tahu. Ya sudah, kita searah kok,” tanggap Airin. “Kalau mau bareng, boleh lah. Aku anter, itung-itung buat bayar bunga lily yang kemarin!” lanjutnya dingin.


“Ok, makasih kalau gitu,” sahut Angga, sesekali dia melirik kearah Airin.


Minuman Airin sudah datang. Sekalian Angga memesankan makanan yang sudah dia pilih-pilih tadi. Airin hanya fokus pada hape—nya, sambil sesekali menyedot ice coffee latte yang ada di hadapannya, tanpa mempedulikan Angga sama sekali.


Di hadapannya, Angga terus saja mencuri pandang. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu. Namun, sikap dingin Airin, membuat dia kikuk. Entah dari mana harus memulai.


Sepuluh menit kemudian, satu per satu pesanan mereka datang. Tanpa basa-basi lagi, Airin langsung menyantap makanan yang sudah tersaji di meja.


[Bi, sudah makan belum? Sudah jam makan siang loh!] Airin mengirim sebuah pesan pada Abimanyu.


[Bete …!]


[Kok bete? Gak enak ya, makanannya? Itu Umi loh yang masak.]


[Abi makan—nya Cuma sendiri! Gak ada yang nemenin!]


[Loh, ini Umi temenin lewat chat.]


[Umi emang lagi apa? Lagi makan juga?]


Tiba-tiba Abimanyu menanyakan hal itu. Airin tidak mungkin mengatakan, bahwa dia sedang makan siang dengan Angga. Bisa perang dunia nanti!


[Iya ….]


[Video call ya, baru Abi mau makan!]


******!


“Umm … aku permisi dulu ya Mas. Mau ke belakang dulu sebentar,” ucap Airin sambil berlalu menuju toilet.


Dia mencari spot yang hampir mirip dengan salah satu spot di rumah mereka. Airin terus mencari dan mencari, kemudian masuk ke dalam toilet. Dia melihat kaca besar yang mirip dengan kaca, yang yang ada di dalam toilet rumah mereka.


Ponselnya berbunyi, panggilan video call dari sang suami. Airin panik. Dia berbalik, lalu menyeret icon bergambar gagang telepon berwarna hijau.


Panggilan video tersambung.


“Ih, Umi lagi di mana?” Abimanyu memicingkan matanya, terlihat dari layar hape Airin. “Umi lagi di toilet ya?” ujarnya kaget.


“Iya, ini baru masuk. Nanti deh, Abi telpon lagi ya?”


“Ya sudah!” panggilan diakhiri oleh Abimanyu.


Huft … Airin membuang nafas lega. Dia kembali ke meja. nampak Angga yang melihatnya dengan heran. Seperti ingin bertanya, namun dia sungkan.


“Owh, kamu sudah menikah?” Terlihat raut wajah Angga yang berubah setelah mendengar penjelasan Airin. Namun, sepertinya, dia coba untuk menutupinya. “Hm … sepertinya dia suami yang posesif, sampai-sampai, kamu panik saat menerima telpon darinya?” Angga mencoba menebak-nebak.


“Tidak juga, dia hanya sangat mencintai aku!” tegas Airin sambil menaikkan kedia alisnya berbarengan.


“Owh, beruntung ya, dia.”


“Maksudnya?” tanya Airin heran.


“Ah, tidak apa-apa. Aku pikir, kamu belum menikah loh sebelumnya!”


“Oh ya?”


“Iya! Aku pikir, kamu masih kuliah gitu!”


“Aku memang masih kuliah, tinggal nunggu wisuda aja sih! Dan, aku nikahnya baru, baru dua bulanan!” terang Airin.


“Pantes aja, kamu masih terlihat imut-imut. Eh!” Angga melirik kearah Airin.


“Ya sudah, aku udah kenyang. Bisa kita pergi sekarang saja?” Airin mencoba mengakhiri perbincangan, yang sudah mulai menjurus-jurus itu.


“Ok!” Angga memanggil pelayan dan meminta bill. Dia membayarkan semua tagihan untuk makan siang mereka.


“Gak usah, aku bayar sendiri aja!” ujar Airin.


“Jangan menghina gitu dong. Di mana harga diriku, kalau membiarkan perempuan yang makan denganku harus mengeluarkan uang sendiri.” Angga mencoba memberi penjelasan. “Sudah, kali ini, biarkan aku saja yang bayar ya!” tegasnya.


Airinpun mengalah. Dia hanya tidak mau sampai berhutang budi pada Angga. Pengalamannya dengan Abimanyu, membuat dia takut, akan ditagih di lain waktu. Walau dia tahu, kalau Abimanyu hanya menggunakan itu, sebagai alasan saja agar mereka bisa pergi bersama.


Ia khawatir, kalau Angga juga akan menggunakan ini, sebagai alasan untuk mereka bertemu di kemudian hari.


Angga diantar sampai bengkel Bintang, sesuai janji Airin. Merekapun berpisah di sana. Selanjutnya, Airin pergi ke butik milik teman kampusnya Anin. Ada rencana untuk membuka usaha, sebelum memutuskan kembali ke dunia kerja. Mungkin, sharing dengan Anin, akan sedikit mendapat pencerahan.


Di butik tersebut, ternyata dia bertemu dengan Hilmy. Sepertinya, hubungan mereka semakin dekat. Hilmy terlihat serius dengan Anin. Mereka memang serasi.


“Hai, pengantin baru. Udah lama nih gak keliatan, sibuk ya?” sapa Anin saat Airin memasuki butik miliknya.


“Gak juga kali, aku ‘kan sekarang sudah jadi pengangguran!”


“Oh ya? Kamu resign? Pasti karena permintaan suami ya?”


“Hmm …” jawab Airin singkat.


“Aku juga dapat kabar dari Vany, soal pengunduran diri kamu.” Tiba-tiba Hilmy ikut dalam perbincangan kedua wanita itu. Airin hanya tersenyum menanggapinya.


“O iya, ini ‘kan butik khusus perempuan? kok Bapak hilmy bisa ada di sini? Jangan bilang, kalau Kak Hilmy mau belikan tante Gamis ya!” canda Airin mengalihkan pembicaraan.


Hilmy tersipu malu. “Kalau kamu mau pakai gamis, aku beliin deh! Mau yang mana, ambil aja!” tantang Hilmy.


“Bener ya?” sahut Airin.” Nin, bungkusin semua ya! Kak Hilmy nih yang bayarin!” lanjutnya.


Seketika, tawapun pecah.


Sambil minum kopi, mereka mengobrol santai. Sampai pada suatu tawaran, agar Airin mau bergabung di kantor tempat Hilmy bekerja. Kantor cabang sebuah bank, dengan logo biru itu.


Airin belum meng—iyakan, namun juga tidak menolak.


“Nanti deh, aku obrolin dulu sama suami.”


Di saat Anin pamit karena ada pelanggan yang datang, mereka melanjutkan mengobrol berdua. Hilmy menatap Airin lekat. Seperti ada hasrat yang masih tersisa di hatinya. Walau sudah ada Anin yang mengisi.


Airin melihat itu. Mencoba mengalihkan.


“Owh iya, gimana perkembangan hubungan Kakak sama Anin?”


“Ya gitu.”


“Gitu gimana?”


“Kita temenan aja dulu, sambil mengenal pribadi masing-masing. Karena, Anin gak mau pacar-pacaran. Dia bilang, kalau memang serius, langsung hubungi orang tuanya saja!”


“Wah wah … lampu hijau tuh! Sikat kak!”


“Kayaknya gak dulu deh, karena aku—nya belum siap Rin.”


“Belum siap apanya? Anin itu, perempuan yang langka. Kayak diem-diem, tapi tau-tau, yang datang ke rumah pada ngantri tau gak!” Airin mencoba meyakinkan.


“Gak semudah itu Rin, menghapus kenangan yang telah terukir lama di hati.”


“Ish, jangan sampe nyesel aja ya, kalau tiba-tiba, Anin diambil orang loh!”


“Kayak kamu ya?” ujar Hilmy. “Waktu kita makan malam bareng berempat kemarin aja, aku masih belum bisa nerima, saat melihat kamu jalan sama suami kamu.” Dia menunduk lemah.


***