Hubby, Is A Biker Insyaf!

Hubby, Is A Biker Insyaf!
jalan-jalan


Vany dan Airin dijemput oleh Zhe, yang sebelumnya, mampir dulu ke rumah Suci. Kini, mereka berempat sudah siap untuk hangout bersama. Sudah lama setelah Airin menikah, mereka tidak bisa sekedar ngopi-ngopi cantik seperti dulu. Namun begitu, mereka memaklumi. Karena disaat Zhe menikahpun, hal yang sama terjadi.


Jadi, semua tak ada masalah untuk mereka.


***


Di perjalanan, mereka terus mengoceh, kecuali Airin. Dia lebih banyak diam, dan hanya focus memandang ke luar jendela.


“Tumben nih, pengantin baru ngajak jalan? biasanya, dihubungi saja susahnya minta ampun!” celoteh Zhe mencoba menggoda Airin.


“Iya nih, ada apa ya?” sahut Suci.


“Heh Rin, kalian gak lagi berantem kan?” Vany ikut menimpali.


Airin sama sekali tidak merespon. Dia hanya diam, dan tetap mengarahkan pandangan ke luar jendela.


Entah apa yang dia lihat, karena pandangannya cenderung kosong. Seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Ya elah. Kita nyerocos juga kagak didenger sama dia!” Zhe bersungut-sungut..


“Kayaknya bener deh, dia lagi ada masalah!” terka Suci.


Airin menoleh pada ketiga sahabatnya itu, menatap mereka dengan tatapan malas.


“Apaan sih kalian, jangan sotoy deh! Mending sekarang, ajarin aku masak lah!” Akhirnya Airin menyahut juga. Dia menceritakan keinginannya untuk ikut kelas masak.


Tentu saja, pernyataan Airin itu, mengundang gelak tawa dari yang lainnya.


“Jadi, nyonya kita ini mau belajar memasak?” ledek Vany.


Namun, iastri dari Abimanyu itu tetap tak menggubrisnya. Malah, melempar pandang ke luar jendela. Lagi. Sepertinya, selera humor mendadak hilang seketika.


Airin minta di temani ke tempat kursus memasak. Kebetulan, Zhe merekomendasikan sebuah tempat yang dulu pernah dia gunakan untuk mengasah kemampuan masaknya pasca menikah dengan Ajun.


Wanita yang dinikahi Abimanyu sebulan yang lalu itu, mendaftar, dan ikut kelas singkat yang hanya satu minggu pertemuan. Dia mengambil kelas hampir setiap hari. Kelas malam. Dari jam 19:00 sampai 20:30.


“Abis ini kita mau kemana?” tanya Suci, setelah mereka berhasil mendaftarkan Airin.


“Kita cari makan saja yuk!” ajak Airin.


“Ok, aku sih ngikut saja! Kan ada Ibu menager yang bayarin!” goda Vany.


“Iya Rin, kali-kali kamu yang traktir lah. Kalo dulu sih, kita maklum, karena kamu kerja dan harus bayar kuliah sendiri. Lah sekarang, ‘kan sudah ada yang menanggung semuanya. Yah, yah yah …!” Zhe ikut-ikutan.


“Iya boleh ….” Pungkas Airin.


Mereka meneruskan perjalanan menuju mal terdekat. Mencari tempat makan, sambil cuci mata. Apalagi Vany, dia berkali-kali harus ngecek saldo di ATM saat melihat brand-brand favoritnya terlihat memasang banner diskon.


“Argh! Diskon ….” Rengek Vany.


Namun, ketiga sahabatnya tidak membiarkan dia kalap lagi. Dan terus mengapit Vany sampai ke café yang mereka tuju. Bisa-bisa, makan siang mereka ter-skip, kalau menunggu Vany berbelanja terlebih dahulu.


“Ya sudah, kalian pesan saja dulu. Aku mau ke toilet sebentar!” ujar Airin meninggalkan mereka bertiga.


Ketiganya terlihat sibuk memilih-milih menu, sementara Airin, berjalan menuju toilet.


Ia berjalan menuju bagian paling belakang dari café ini, di sebelah kiri.


Sebuah lorong yang tak cukup panjang, nampak di hadapan Airin. Ia melangkah menyusurinya dengan santai, dan di ujung lorong itu, ia berhenti sejenak, mencari toilet khusus untuk wanita. Namun ….


Bukkk!


Seseorang menabrak Airin, tepat di depan toilet pria. Orang itu, terlihat terburu-buru, dengan Ponsel yang menyala di tangan.


“Maaf Mbak!”


“Iya gak apa-apa!”


Pria itu berlalu tanpa menghiraukan Airin yang baru saja ia tabrak. Sementara Airin, juga tidak mempedulikan soal itu, ia melanjutkan niatnya, setelah menemukan toilet wanita.


***


Dilihatnya layar ponsel berkali-kali. Sebuah nomor, sudah siap untuk ditekan. Airin ingin sekali menelpon Abimanyu. Memastikan, apakan dia sudah makan apa belum. Dengan posisi berdiri di depan cermin, dia nampak ragu-ragu.


[Tapi … Abimanyu pasti sedang makan siang bersama Mamih.] gumamnya dalam hati.


[Argghh!!!]


Diapun mengurungkan niatnya. Mematikan ponsel, kemudian, bergegas kembali ke meja.


langkahnya agak dipercepat, karena teman-temannya pasti sudah menunggu. Namun, seseorang membuatnya berhenti, tepat dua meja sebelum meja yang sekarang sedang dikuasai oleh ketiga sahabatnya itu.


“Eh, Mbak. Maaf ya soal tadi.” Pria yang bertabrakan dengan Airin di koridor toilet tadi, tiba-tiba menghadang Airin. Kalau ditaksir, usianya sekitar di atas 30 namun, di bawah 40tahun.


Airin ,masih mengenali wajah orang itu. “Owh, santai saja. Gak apa-apa kok.”


Pria itu memperkenalkan namanya, sebelum akhirnya sebuah panggilan memotong perbincangan mereka.


“Rin, ngapain? Ayok cepet! Makanannya udah dateng loh!” panggil Suci yang membuat kalimat pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Angga itu, tak dapat diteruskan.


“Iya!” sahut Airin pada Suci diiringi dengan lambaian tangan. “Ya sudah Mas … Angga, saya permisi. Sudah ditunggu teman-teman saya.”


“Owh, iya, silahkan!”


Airin menghampiri mejanya, yang disambut oleh makanan yang sudah memenuhi meja, juga teman-temannya yang sudah terlihat kelaparan.


“Siapa pria itu? Kamu kenal?” tanya Vany penasaran.


“Gak tahu, dia bilang sih, namanya Angga!”


“Terus ngapain dia ngajak ngobrol kamu, kalau gak kenal?” selidik Zhe.


“Tadi pas mau ke toilet, kita sempat bertabrakan. Sepertinya dia buru-buru. Nah, barusan, dia minta maaf.”


“Owh …” reaksi Suci.


Mereka melanjutkan makan siang.


Berkali-kali, ponsel Airin berbunyi. Panggilan dari Abimanyu untuk yang kesekian kalinya, namun tak juga dijawab. Malahan, kali ini, Airin mematikan ponselnya itu.


“Jawab lah Rin, dari tadi nelpon terus. Kasihan tahu, di cuekin mulu!” protes Zhe.


“Gak usah! Mending kita lanjutkan saja makannya.”


“Gimana, kalau sehabis ini, kita nonton?” tanya Suci.


Airin hanya mengangguk.


Sepanjang hari, mereka habiskan dengan menonton film yang disukai Suci, menemani Vany berburu diskon, menunggu Zhe nyalon, sampai tak terasa hari sudah berganti malam. Perut mereka, sudah minta diisi ulang kembali.


“Abis makan malam, kita pulang yuk? Udah malam nih!” Suci melihat jam di ponsel.


“Ok ok, Bu guru kita takut kesiangan keknya besok. Nanti, bukannya murid yang dihukum karena telat, ini malah Ibu gurunya yang telat, ‘kan lucu!” ledek Zhe.


Airin menyalakan ponselnya. Dia melihat banyak sekali miscall dari nomor yang sama, berpuluh-puluh kali. Namun lagi-lagi dia abaikan. Dia tahu sifat suaminya itu, dia tidak akan berhenti meneror sampai maksudnya tersampaikan. Tapi terkadang, dia akan begitu saja melupakan setelahnya.


***


“Ok bye pengantin baru. Jangan terlalu lama marahannya ya, salam buat Abi ya Mi …” ledek Vany, yang masih juga tidak mendapatkan respon berarti, saat mereka sampai di depan rumah Airin.


“Ya sudah, kita jalan ya …” pungkas Zhe.


Suci melambaikan tangan. Airin masih berdiri, melihat mobil merah kepunyaan zhe itu melaju meninggalkannya dan menghilang di pertigaan, di ujung jalan.


Airin masuk. Mobil pajero hitam terparkir di halaman. Itu artinya, Abimanyu ada di rumah.


Terlihat dari luar, rumah itu masih gelap. Lampu-lampu belum dinyalakan.


Airin membuka pintu, lalu menekan saklar lampu. Dia terus berjalan, menuju tangga. Namun, hatinya tergelitik untuk melihat ke ruang tengah. Seperti ada seseorang yang berbaring di sofa.


Airin mengikuti kata hatinya, melangkah mendekati seseorang yang tengah merebahkan diri.


Ditatapnya lekat, pandangannya menguliti sosok di hadapannya.


Tangannya meraih sepatu yang masih terpasang di kedua kaki Abimanyu. Melepaskannya dengan perlahan. Kemudian beralih pada bantalan yang menyangga kepala sang suami. Membenarkan posisinya, lalu beranjak untuk pergi sebelum sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya.


“Mi …” Spontan Airin menoleh kearah sumber suara. “Abi boleh ikut ke kamar ‘kan? Di sini banyak nyamuk ….” imbuh Abimanyu.


Airin menepis perlahan, genggaman Abimanyu dari tangannya. Ia kembali mengayunkan kakinya, dan dilangkah ketiga, ia berhenti.


“Pintu kamar, gak akan aku kunci.” ucap Airin, kemudian kembali melangkah, naik ke atas, menuju kamar tidurnya.


Ia berganti pakaian, sebelum merebahkan tubuhnya di pembaingan.


Tak berapa lama, pintu kamar dibuka dengan perlahan dari luar. Abimanyu masuk dengan sedikit mngendap.


“Kalau mau tidur, ganti dulu bajunya!” ujar Airin yang sedang berbaring, tanpa menoleh.


“Iya Mi,”


Abimanyu menggantin pakaiannya dengan piyama, kemudian berbaring di sisi lain ranjang yang sudah ia bagi dengan Airin lebih dari sebulan itu.


Dia tidur menghadap istrinya, walau hanya bisa menatap punggungnya saja.


Tak berapa lama, suara dengkuran halus terdengar dari wanitanya itu. Abimanyu tersenyum. Salah satu hal yang baru ia ketahui setelah menikah dari istrinya itu adalah, ternyata, Airin mendengkur kalau sedang tidur. Walau dengkurannya terdengar lebih sopan dibanding dengan satpam kompleks, tapi jujur, Abimanyu cukup terganggu awalnya. Namun, lama-lama, ia terbiasa juga.


Abimanyu merentangkan tangan kanannya, kemudian, meletakkan kepala sang istri di atasnya. Menjadikannya bantalan penyangga tidur wanitanya itu.