
Abimanyu terus saja asik dengan kegiatannya. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, merekapun melanjutkan pergi ke swalayan.
“Ya sudah Gar, gua pamit deh. Mau nganter istri belanja bulanan dulu nih, jadi suami idaman dulu. Haha …” ujar Abimanyu pada teman barunya itu. “O iya, kapan-kapan mampir ya, ke rumah kita. Istri gua pinter masak loh. Lu pasti ketagihan sama masakannya, ok?” lanjutnya.
“Ok, siap. Kapan-kapan gua mampir deh,” sahut pria itu.
Berbeda dengan suaminya yang nampak sumringah karena mendapat koleksi vespa baru plus teman baru, Airin malah terlihat tegang. Abimanyu memang tidak pernah bertemu dengan Bimo sebelumnya. Bahkan, dulu dia menganggap kalau Hilmy itu adalah Bimo.
Airin tidak tahu, apa reaksi Abimanyu kalau tahu, kalau teman barunya itu adalah Bimo, mantan pacar Airin.
***
Saat tengah memilih-milih sayuran, tiba-tiba, Abimanyu mendapat telpon. Sepertinya, itu panggilan penting. Nampak dari air mukanya yang berubah menjadi sangat serius saat menjawab telepon.
“Ok, aku ke sana sekarang!” ucapnya mengakhiri panggilan.
Abimanyu menatap Airin, seperti kebingungan untuk mengatakan sesuatu.
“Kenapa Bi? Abi harus berangkat sekarang juga? Apa, semuanya baik-baik saja?” tanya Airin seolah tahu akan kebingungan yang sedang dialami sang suami.
“Iya Mi, Abi harus pergi sekarang juga. Umi gak apa-apa ‘kan belanjanya dilanjut sendirian?”
“Gak apa-apa, Abi pergi aja. Lagian ini juga tinggal sedikit kok, nanti aku bisa pulang naik taksi.” Airin meyakinkan Abimanyu.
“Ya udah Mi, maaf ya?”
“Iya, udah sana!” perintah Airin sedikit mendorong suaminya, sambil mengukir senyum.
“Hati-hati pulangnya ya, Mi.”
Airin menatap suaminya yang berlalu meninggalkannya, lalu meneruskan membeli keperluan bulanan mereka, sendiri.
Kini, Airin beralih ke bagian camilan. Dia mengambil beberapa snack juga minuman ringan. Sampai seseorang menegurnya ….
“Airin?”
Seseorang memanggil namanya, membuat dia menoleh pada orang tersebut.
“Mas Angga? Kok …?”
“Ini pasti kebetulan lagi,” ujarnya sambil tertawa.
“Owh,” jawab Airin dengan sebuah senyum kaku di bibirnya.
“Kamu sendirian aja?”
“Owh, iya. Tadi sama suami sih, cuma dia ada urusan, jadi aku lanjutin belanja sendiri.”
“Boleh aku temani?”
Airin terkesiap mendengar tawaran dari Angga. Kalau boleh memilih sih, dia mending belanja sendiri saja. Tapi, dia akan kesulitan saat membawa belanjaannya nanti. Apalagi, Airin tidak membawa mobil sendiri. Mungkin, bantuan Angga akan sangat dia butuhkan.
Akhirnya dia menerima tawaran Angga untuk menemaninya. Toh, dia sudah tahu kalau Airin sudah memiliki suami, tentu Angga tidak akan menyalah artikan semua ini. Karena, itu artinya mereka berteman. Hanya teman.
“O iya, kamu nanti pulang naik apa?”
“Um … sepertinya aku naik taksi online saja.”
“Kenapa taksi online? ‘Kan ada aku. Gantian lah, waktu itu, saat mobil aku mogok, ‘kan kamu anterian aku sampai bengkel. Nah, sekarang, giliran aku yang nganterin kamu pulang, gimana?”
Airin menarik nafas dalam. Dia bingung.
“Rin, mana Abimanyu?” tanya seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
Airin mengalihkan pandangan pada orang tersebut.
“Hai Bim. Abi … dia ada urusan. Jadi pergi duluan.”
“Owh, ya sudah gua anter pulang kalo gitu. Lu udah selesai belanjanya?”
Airin nampak lebih bingung lagi. Di satu sisi, Angga. Dia belum pernah bertemu dengan Abimanyu, namun, dia hanya teman Airin.
Di sisi lain, Bimo. Dia sudah kenal dengan Abimanyu, kalau dia mengantar Airin pulang, tentu Abimanyu tidak akan masalah. Tapi, apa yang akan Abimanyu lakukan seandainya dia mengetahui kalau Bimo adalah mantan pacarnya?
Airin mendengus. Dia butuh bantuan saat ini.
Ditatapnya kedua pria yang ada di hadapannya.
“Em … kayaknya aku pulang sama Angga deh, Bim.”
“Angga? Siapa Angga?” tanya Bimo heran.
“O iya, kenalin, ini Angga. Temen aku. Dan Angga, kenalin ini Bimo.”
Bimo melihat tajam ke arah Angga. Dia seperti tidak menyukai pria itu. Namun, dia tidak bisa memaksa Airin untuk diantar pulang olehnya. Apalagi, dia bilang kalau Angga adalah temannya. Bimo tahu diri. Dia tidak mau membuat masalah.
“Ya sudah gua duluan,” pamit Bimo. Dia meninggalkan Airin bersama pria bernama Angga itu.
“Aku bantuin?” Angga mengambil alih membawa belanjaan Airin menuju kasir.
***
Setelah membayar semua belanjaannya, Airin dibantu oleh Angga, membawa semua belanjaannya ke mobilnya.
“Maaf loh, jadi ngerepotin,” ucap Airin saat sedang memasukan belanjaan ke bagasi.
Airin tersenyum. Saat mereka hendak memasuki mobil, tiba-tiba Angga teringat pada sesuatu.
“Astagfirulloh, kenapa jadi lupa ya!” ujarnya sambil menepuk jidatnya sendiri.
“Kenapa Mas?” tanya Airin heran.
“Ini Rin, em … aku lupa. Tadinya aku kesini mau memcari sesuatu untuk ponakan. Cuma, karena haus, jadi tadi mampir dulu beli minuman, eh, malah kelupaan hadiah untuk ponakannya belum dapet.”
“Owh, ya sudah gak apa-apa. Aku pesen taksi oline aja.”
“Eh, jangan! Lagian ‘kan belanjaan kamu sudah masuk bagasi.” Cegal Angga. “Kalau kamu gak keberatan, gimana kalau kamu temenin aku sebentar. Sekalian pilihin kadonya. Biasanya, kalau cewek itu, lebih tahu kado yang bagus. Bantuin pilihin,” lanjutnya memohon.
Kalau sudah begini, Airin jadi tidak enak untuk menolak. Mau tidak mau, ya harus mau. Lagian, dia juga sudah dibantu oleh Angga.
“Owh, ok!”
Mereka kembali berjalan memasuki mal. Menyusuri beberpa outlet.
“O iya, ponakan Mas, cewek apa cowok?”
Angga menjawab dengan tersenyum, ”cewek. Usianya, ya, sama lah sama kamu.”
“O iya? Aku sekarang mau 25 loh, kalo boleh tahu, emang usia Mas berapa?”
“Em … aku sudah kepala tiga. Kenapa? Terlihat sekali tuanya ya?”
“Gak juga. Suami aku juga kepala tiga sih, kalo gak salah tiga satu apa tiga dua gitu,” terang Airin.
“Owh, aku tiga lima sih.”
“Owh ya? Tapi gak keliatan loh!”
“Masa?”
“Iya.” Airin melanjutkan dengan setengah berbisik, “Ya kayak umur tiga puluh empat setengah lah.”
Sontak jawaban Airin membuat tawa Angga pecah.
“Ya sama aja dong!”
Airin ikut tersenyum.
“Gak kok, becanda. Keliatannya sih, kayak 29 atau tiga puluhan gitu lah.”
“Ok, ok. Lumayan lah, kelihatan lebih muda lima tahun berarti.”
Mereka tertawa bersama sepanjang mencari hadiah. Candaan renyah terlontar saling bersahutan dari keduanya.
“Rin, aku liat kamu sering banget pakek ransel. Emang, kamu suka tas ransel ya?” tanyanya penasaran.
“Iya sih, lebih simple dan praktis aja menurut aku. Kenapa? Mas mau ngasih ransel untuk ponakan Mas?”
“Boleh sih, good idea!”
Mereka memasuki sebuah outlet dengan brand CC bertaut itu. Airn membantu memilihkan beberapa tas, yang mungkin akan disukai oleh keponakan dari Angga.
“Gimana kalo yang ini?” tunjuk Airin pada sebuah tas Ransel berwarna putih.
“Kenapa pilih itu?”
“Lucu aja, warnanya putih.”
“Ok. Kalo kamu suka, itu ambil saja untuk kamu,” ujar Angga. “Untuk ponakan aku, kita pilih yang ….” Dia mengambil sembarangan tas yang ada di hadapannya.
“Em … gak usah deh. Aku belum butuh tas baru kok,” tolak Airin.
“Plis, terima aja. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih, karena mau membantu aku mencarikan kado untuk ponakan aku.” Angga tetap memaksa.
“Tapi, ini harganya mahal loh.”
“Ya, tapi gak akan semahal yang dibelikan suami kamu ‘kan?”
“Gak juga. Dia gak pernah beliin aku barang-barang, apalagi yang mahal. sayang juga 'kan uangnya," terang Airin. "Kita lebih milih uangnya ditabung aja, buat masa depan. Lagian, tidak selamanya pekerjaan suami aku akan semulus sekarang. Jadi, kita harus punya dana cadangan untuk kedepannya nanti,” jawab Airin.
Gaji Abimanyu memang cukup besar, mengingat dia adalah seorang General Manager di perusahaan. Tapi, mereka berdua harus banyak-banyak menabung untuk masa depan mereka nanti. Karena, tidak selamanya Abimanyu akan bekerja di perusahaan itu ‘kan. Apalagi, kalau mereka sudah mempunyai anak kelak. Banyak biaya yang harus mereka keluarkan.
“Masa? Jadi suami kamu, gak pernah beliin tas beginian? Em, maksudnya ….” Angga tidak menyelesaikan kalimatnya.
“Maksudnya apa?” Airin tersenyum. “Suami aku pelit? Gak lah! Dia baik, cuma akunya aja yang gak pernah minta yang neko-neko. Lagian, gak selamanya dia akan bekerja kepada orang terus ‘kan? Siapa tahu suatu saat kami butuh modal, atau dana yang tak terduga dan membuat usaha sendiri. Dari mana coba kalau bukan kita nabung sendiri dari sekarang!”
“Memangnya suami kamu kerja apa?”
“Dia karyawan sebuah perusahaan. Jabatannya sih manager, tapi tetap saja karyawan ‘kan?”
“Tapi manager gajinya ‘kan gede?”
“Iya sih lumayan. Tapi, gak tahu deh, sejak pacaran, kami memang lebih suka dengan hal-hal yang sederhana. Suami aku gak membiasan aku dengan hal-hal yang mewah.”
“Hm … iya.” Dia terlhat heran, namun juga kagum kepada Airin.
Angga tetap membungkus tas putih tadi untuk Airin, walau Airin sudah menolak berkali-kali.