Hubby, Is A Biker Insyaf!

Hubby, Is A Biker Insyaf!
Curiga


Airin tak menghiraukan panggilan ataupun chat dari Bimo. Dia bergegas pulang, lebih baik menyiapkan makan malam untuk Abimanyu daripada meladeni Bimo yang gak penting .


Karena menemani Suci yang tengah galau, Airin jadi tidak sempat mengikuti kelas memasaknya. Tak terasa sudah mau Magrib saja. Lebih baik Airin bergegas.


Pukul 18:35, ia baru sampai di rumah. Melaksanakan salat Maghrib, kemudian pergi ke dapur. Beberapa menu dia racik, sambl menunggu suaminya pulang.


Dua menu utama dan satu menu pelengkap berhasil Airin sajikan di atas meja makan. Dia pun bergegas untuk mandi kemudian melaksanakan salat Isya. Airin melihat jam sudah menunjukan pukul delapan lewat, namun belum ada tanda-tanda Abimanyu akan pulang. Bahkan, tak ada kabar sama sekali.


Diraihnya gawai pipih yang ia letakkan di atas nakas. Ada beberapa panggilan dan juga chat masuk.


Airin lupa, kalau dia telah mengganti nada dering dengan mode senyap, karena merasa terganggu dengan panggilan dari Bimo yang bertubi-tubi.


Ada beberapa panggilan dari Abimanyu, tentunya selain berpuluh panggilan yang masuk dari nomor Bimo. Dia skip, lalu membuka story chat yang masuk. Lagi-lagi Bimo mengirimi dia pesan, namun Airin tidak membacanya. Perhatiannya teralih pada chat dari sang suami.


[Mi, kenapa telponnya gak diangkat? Lagi sibuk ya? Abi hanya mau bilang, kalau malam ini Abi gak pulang ya?]


Membaca pesan itu, jujur membuat Airin tersentak tidak percaya. Bagaimana mungkin Abimanyu tega membiarkan dirnya di rumah seorang diri, padahal dia tahu kejadian beberapa hari lalu, saat Airin hanya sendirian di rumah. Dia sampai sampai lari terbirit-birit dan pingsan karena takut.


“Ini sudah gak bener! Abi benar-benar sudah berubah! Pasti ada sesuatu yang tidak beres!”


Airin nampak kesal. Dia mengambil kunci mobil, lalu meninggalkan rumah. Dia pergi sambil menggerutu sepanjang jalan, tak percaya dengan apa yang dilakukan suaminya tanpa mencari tahu ataupun bertanya alasannya.


Tak lama berselang, Mobil Mamih berhenti tepat di depan rumah Airin.


***


“Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh Abimanyu? Pekerjaan apa yang membuat dia sampai harus menginap? Selama aku kerja sama dia, tidak pernah tuh kayak gini? Pasti ada yang Abi sembunyiin dari aku! Tapi apa?”


Terus saja dia menggerutu. Mengemudikan si Kuning, tanpa tahu akan ke mana. Tiba-tiba, dia teringat pada Vany. Kalau memang ini adalah urusan pekerjaan, sedikit banyak pasti Vany tahu.


“Benar, aku harus menelpon vany!”


Airin meminggirkan mobilnya, berhenti sejenak, kemudian menekan nomor dengan nama kontak Best Vany dengan sesegera mungkin. Sudah tidak sabar untuk menanyakan sesuatu pada sahabatnya itu.


Panggilan tersambung.


“Halo Van?”


[Hey Nyonya, tumben nelpon, kirain sudah lupa!] sahut Vany terdengar nyeleneh.


“Apa sih Van! Kok sewot?”


[Heh, aku ‘kan mau nikah. Tapi, gak ada satupun yang bantuin nyiapin ini itunya! Aku sampe ngedrop, dan terpaksa bolos kerja hampir seminggu kemarin!] cerocos Vany.


Bukan bermaksud melupakan. Tapi, Airin memang lupa. Beberapa hari lalu, Vany memang sempat meminta untuk membantu mempersiapkan pernikahannya. Namun, setelah Airin resign, komunikasi di antara mereka sangat minim sekali, Vany pun tak mengabari kelanjutannya.


“Maaf Van. Kita ‘kan sudah janjian untuk fitting baju minggu ini. Tidak ada kabar lagi dari kamu, aku pikir semuanya berjalan lancar-lancar saja.”


[Ya seenggaknya, nanyain kek. Kalian ‘kan sudah berpengalaman! Aku tuh boro-boro mikirin hal lain, di kepalaku saat ini cuma ada persiapan pernikahan aku saja. Puyeng tahu!]


“Iya, iya maaf. Berarti, tadi kamu gak masuk dong?” tanya Airin tetap menjurus pada apa yang mengganjal di hatinya.


[Tadi masuk sih, tapi kayaknya lusa juga udah mulai cuti deh. Aku sudah ngobrol sama Pak Wishnu,] jawab Vany. [O iya, ada sekertaris baru di kantor. sekertarisnya Abimanyu. Duh, seksi … banget!] lanjut Vany.


“Apa? Sekertaris baru Abimanyu?”


[Iya jeng, sekertaris baru. Aku juga baru liat tadi. Emang Abimanyu gak bilang? Tapi kayaknya Abimanyu gak ada di kantor? Aku mau minta izin cuti, disuruh ke Pak Wishnu aja!]


“Hm, hari ini Abi ambil cuti.”Airin mendesah. “Ya sudah, kabarin kalau butuh bantuan, Suci juga lagi galau tuh karena baru putus. Kayaknya kita perlu ketemu deh,” sambung Airin.


“Ok.”


Panggilan diakhiri. Banyak hal yang bergelayut di kepala Airin saat ini. sekertaris seksi, Abimanyu yang sudah jarang berkabar, tidak perhatian lagi sama dia, dan yang paling fatal, Abimanyu mulai tidak jujur. Banyak yang dia sembunyikan dari Airin.


***


Airin sangat bingung, apa yang harus dia lakukan saat ini. bahkan, dia tidak tahu di mana Abimanyu berada. kembali dia mengambil hape yang tergeletak di atas dashboard.


“Yah, mati. Pasti habis batre.” Airin mencari-cari USB, namun tidak ketemu.


Kalau dia pulang ke rumah ibunya. Pasti ibunya berpikir aneh-aneh. Ke rumah Mamih pun akan sama saja. Vany dan Suci, mereka sedang punya masalah sendiri. Kalau Zhe, dia ‘kan sudah menikah, gak akan enak sama Ajun nantinya.


Akhirnya Airin pergi menuju hotel. Tak ada jalan lain, lebih baik malam ini dia menginap di hotel saja. Setelah reservasi dan mendapat kunci, Airin pun bergegas menuju kamarnya.


Airin merebahkan tubuhnya. Namun tetap saja tidak bisa terpejam. Ia keluar, dan mencari udara segar. Saat sampai di loby hotel, terdengar keributan dari beberapa orang. Airin penasaran, dia mencoba mencari tahu.


“Ada apa, Mas?” tanya Airin pada salah satu staf hotel yang sedang bergunjing.


“Itu Mbak, ada pengunjung di bar hotel yang ngamuk,” jawabnya setengah berbisik. Staf hotel itu menoleh. “Eh, maaf Mbak, jangan bilang-bilang kalau saya mengatakan ini ya. Nanti saya bisa kena skors, permisi.”


Sepertinya staf hotel tadi keceplosan bicara. Lagian, Airin juga tidak peduli.


Dia teringat pada ponselnya yang mati di dalam mobil. lalu bergegas mengambilnya untuk segera di-charge agar bisa dia gunakan kembali. Saat sedang berjalan di basement, tak sengaja, dia melihat mobil Bimo.


Dia mendekati mobil itu, mencoba memastikan. Namun, seorang petugas datang menghampiri. Membuat Airin terkesiap dibuatnya.


“Selamat malam, apa yang sedang Mbak lakukan?” tanya petugas tersebut. Sepertinya gerak-gerik Airin mencurigakan.


“Owh, ini Pak. Saya hanya mencoba memastikan, kalau mobil ini benar-benar milik teman saya.”


“Jadi Mbak kenal dengan pemilik mobil ini?” tanya petugas, seperti menaruh curiga.


Airin yakin kalau mobil itu adalah milik Bimo. Plat mobilnya pun sama.


“Tentu, saya kenal!” Dengan yakin Airin menjawab. Dia tidak terima kalau sampai dicurigai yang tidak-tidak oleh petugas itu.


“Baik, kalau begitu, ikut saya!” Petugas itu membawa Airin menuju sebuah ruangan.


Dia melihat beberapa petugas serupa ada di dalam ruangan tersebut. Mereka sedang memegangi seorang pria yang Airin kenal. Satu di antara mereka, laki-laki berjas rapi menatap ke arah Airin.


“Anda siapa?” tanyanya penuh curiga.


“Wanita ini pengunjung hotel. Dia mengatakan, kalau pria itu adalah temannya,” terang petugas yang membawa Airin.


“Owh ya?”


Ternyata keributan yang terjadi di bar hotel itu adalah ulah Bimo. Dia mabuk parah, dan bertengkar dengan salah satu pengunjung lain. Saat ini, mereka sedang mencoba mengintrogasi Bimo, namun, sepertinya dia tidak sadarkan diri. Dan hendak dilaporkan pada yang berwajib.


“Um, maaf Pak. Mungkin kita bisa selesaikan ini secara kekeluargaan saja. Saya akan mengamankan dia dan menjamin kalau tidak akan terjadi keributan lagi. Saya akan membawa dia ke kamar saja. Maaf.”


Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya mereka membebaskan Abimanyu dan membiarkan Airin membawanya.


“Dasar! Pertengkaran rumah tangga dibawa-bawa keluar. Kenapa gak selesaikan di rumah! Menyusahkan saja!” terdengar gerutu dari manager hotel setelah Airin membawa Bimo.


Dengan bantuan seorang petugas, Airin membopong Bimo menuju kamar.