
‘Kenapa Abimanyu tiba-tiba mengajak makan di sana? Atas rekomendasi Restu, lagi?’ gumam Airin dalam hati.
Restu yang merasakan tatapan curiga dari Airin, langsung mencari alibi. Jangan sampai Airin benar-benar curiga padanya. Lagian, kenapa juga secara tiba-tiba Abimanyu menodong Airin dengan mengajaknya ke tempat itu.
“Iya, gua pernah makan di sana. Makanannya enak banget,” terang Restu.
“Kapan kamu makan di sana?” tanya Airin penasaran.
“Lu berdua ingat gak, waktu gua beli selempak beberapa hari yang lalu? Nah, tadinya gua mau sekalian makan siang di sana, tapi ternyata rame banget. Gua kayaknya gak bakalan kebagian kursi. Makanya gua urungkan, dan baru nyoba makan di sana kemarin apa kemarinnya lagi gitu.”
Abimanyu terus menatap pada istrinya. Sampai pada fakta itu, tak adakan dia mau mengatakan kalau dia pernah juga makan di sana dengan seseorang?
Seandainya Abimanyu tidak melihat foto yang Restu tunjukkan, mungkin dia tidak akan mempercayai perkataan Restu. Namun, apa yang dia lihat, benar adanya. Jam pengambilan gambar, baju yang dikenakan Airin pun, sama dengan yang ia kenakan saat video call dengan dirinya. Berarti, waktu itu, sebenarnya dia bukan berada di rumah, melainkan sedang makan siang di café dengan pria itu.
“Ya sudah kalau begitu,” jawab Airin.
Restu mendekatkan kursi yang sedang ia duduki ke arah Abimanyu, kemudian membisikkan sesuatu.
“Bi, bukannya kita ada janji sama Om Willy, untuk meeting hari ini?”
“Iya, lu urus gih!” ujar Abimanyu.
Restu melipir ke ruang depan, untuk menelepon.
“Loh, Restu mau ke mana?” tanya Airin.
“Em, Abi ada meeting hari ini. Gak apa-apa ‘kan kalo kita ketemu di sana saja?”
“Meeting? Hm, nanti kabarin aja kalau Abi sudah otw dari kantor.”
“Abi gak berangkat ke kantor, Mi, tapi langsung berangkat ke lokasi.”
“Meeting di luar?”
“Iya.”
“Terus Pak Sis?”
“Gak, Abi gak sama dia.”
Abimanyu seolah tidak mau banyak menjelaskan. Dia masih juga belum mengatakan kalau sebenarnya dia sudah resign dari kantor. kesibukannya akhir-akhir ini, memang berhubungan dengan pekerjaan, Mamih terus saja mendesaknya untuk mengurus perusahaan keluarga di Surabaya. Kebetulan Abimanyu baru saja resign dari kantor, dan Airin tidak pernah mengetahui akan hal itu. Bukan hanya soal resign-nya Abmanyu dari kantor, tapi dia juga tidak pernah mengetahui kalau Abimanyu bukah sekedar manager di perusahaan yang pernah menaungi mereka berdua. Namun, dia juga adalah pewaris tunggal perusahaan besar milik Kakeknya, yang saat ini sedang dikelola oleh Om Willy, Om-nya sendiri.
“Owh, ok gak apa-apa.”
Pagi itu, Abimanyu dan juga Restu pergi bersama. Sementara Airin, dia masih kepikiran dengan beberapa hal. Lantas menelpon Suci untuk mendapat sedikit pencerahan.
[Kenapa, Rin?] tanya Suci saat telepon tersambung.
“Em, gak apa-apa sih, Ci. Aku hanya merasa kalau Abimanyu memang sedang menyembunyikan sesuatu saja dariku.”
[Maksudnya? Coba jelaskan?]
“Jadi gini, hari ini dia tiba-tiba mengajak makan di café.”
[Loh, memang kenapa? Apa salahnya dengan itu?]
“Dengerin dulu! Bukan masalah ngajak makan, tapi dia ngajak makan siang bareng hanya karena temannya bilang kalau menu makan siang di sana tuh enak. Dia gak kayak gitu!” ujar Airin menjelaskan. “Satu lagi, dia bilang hari ini ada meeting penting di luar. Nah, tadi dia bilang gak pergi sama Pak Sis tapi perginya malah sama temannya yang pernah aku ceritakan itu. Mereka ‘kan gak kerja bareng? Aneh tahu gak. Biasanya, kalau dia ada meeting di luar, pasti bareng Pak Sis.”
“Em, sebaiknya kamu jangan menebak-nebak. Waspada harus, tapi kita tetap berpikir positif.” Suci mencoba menenangkan sahabatnya, jangan sampai dia termakan oleh kecurigaan yang tidak mendasar. “Terus, apa yang akan kamu lakukan sekarang?” lanjutnya bertanya.
“Sebenarnya, aku mau mengikutinya. Tapi gak mungkin ‘kan aku mengikutinya sendiri?”
“Sebenarnya aku mau bantu, tapi saat ini aku sudah ada janji sama teman. Kebetulan, hari ini aku bebas tugas mengajar,” jelas Suci. “Em, nanti deh kalau aku sudah beres, aku kabari, ya.”
“Ok deh.”
***
Sementara itu, di tempat lain ….
“Kok belum datang juga sih? Katanya pesawatnya landing dari pukul sembilan? Ini udah mau jam sebelas loh!” ujar Abimanyu pada sahabatnya.
“Iya, tadi di telepon emang bilangnya gitu, kok. Delay kali. Udah, sabar aja,” Restu mencoba menenangkan.
“Tahu gini ‘kan, udah aja gua nunggu di café Grill dari tadi, sekalian ketemu sama Airin!”
“Kenapa sih, lu ngotot banget buat makan siang di sana?”
“Gua mau meyakinkan, kalau yang ada di foto lu sama apa yang gua lihat itu benar adanya. Airin menyembunyikan sesuatu dari gua! Gua curiga kalau cowok yang ada di foto lu itu adalah Bimo.”
“Bimo, siapa dia?”
“Mantan pacarnya.”
“Hah, mantan pacarnya? Kok bisa makan siang bareng?”
“Itu dia yang mau gua cari tahu. Kemarin, beberapa hari yang lalu, gua pernah mergoki dia sedang berduaan dengan seorang cowok. Dulu, gua pikir, dia adalah Bimo. Kami beberapa kali pernah bertemu. Sebelum kami menikah, Airin pernah nolak gua, karena dia sedang menjalin hubungan bersama pria yang bernama Bimo. Beberapa waktu setelahnya, gua ketemu sama dia di acara pernihakan teman kantor yang bernama Fajar. Mereka datang bersama, mesra banget. Terus, gua pernah juga ketemu sama mereka di Malang. Tapi, dari info yang gua dapet, ternyata Airin dan Bimo sudah putus. Gua merasa punya sedikit harapan, makanya gua terus berusaha mendekati Airin lagi. Sampai akhrnya menikah.”
“Terus, apa yang membuat lu yakin kalau cowok di foto itu adalah Bimo?”
“Sebulan setelah kami menikah, kami bertemu di mall. Gua melihat tatapan cowok itu masih dalam sama Airin. Lu bayangin, dia datang bersama pacarnya, dan gua ada di sana waktu itu, gua suami sahnya Airin, tapi lu tahu dia tetap saja curi-curi pandang sama Airin.” Abimanyu menceritakan saat dia dan Airin bertemu degan Hilmy dan Anin sepulang nonton di mall, beberapa waktu yang lalu. “Airin sempat bilang, kalau dia itu bukanlah Bimo, melainkan Hilmy. Siapa lagi coba Hilmy? Gua yakin, sebenarnya dialah Bimo, dan pasti ada sesuatu yang disembunyikan Airin saat ini.”
Di saat mereka tengah berdebat alot mengenai Airin. tiba-tiba seoang gadis manis dan sexy datang menghampiri meja mereka.
“Siang …” sapanya dengan senyum yang merekah.
Abimanyu terlihat sedikit kaget dengan kedatangan wanita itu. Dia adalah Merry—sekertaris pribadi Om Willy.
“Loh, Pak Willy mana?” tanya Abimanyu heran karena melihat dia datang seorang diri.
Restu berbisik ketelinga Abimanyu. “Lu gimana sih, Bro. Emang Om Willy gak nelpon tadi?”
“Nelpon apaan? Hape gua ketinggalan.”
“Dia ‘kan tadi bilang, kalau dia ada urusan yang tidak bisa di ganggu gugat hari ini. Makanya, dia gak jadi datang dan hanya akan mengutus sekertaris pribadinya untuk meeting bareng kita.”
“Apa? Yang benar saja!” Telpon Abimanyu memang tidak dibawa, karena saat dia berangkat, hape-nya lowbat, sehingga harus di-charge terlebih dahulu. “Tahu gitu, lu aja yang urus semua. Gak usah gua ikut-ikutan segala,” gerutunya kesal dengan berbisik menimpali cara bicara Restu.
“Maaf, saya terlambat. Bisa kita mulai? Ada beberapa poin yang harus Pak Abi ketahui, Pak Willy bilang ini penting. Jadi, harus tersampaikan secara tuntas,” terang Merry.
“Bisa sama Restu aja? Gua ada urusan soalnya,” elak Abimanyu.
“Maaf, Pak, tidak bisa. Ini harus disampaikan kepada Bapak langsung. Begitu pesan dari Pak Willy.”
“Sudahlah, Bro. Ikuti saja, pastinya juga gak akan lama. Lagian, gua kalau ngomong sama cewek cantik kayak gini, suka gak fokus.” Restu kembali berbisik pada Abimanyu.
“Ya sudah, kita mulai saja.” Abimanyu mengalah.
“Lu berdua mulai saja dulu, gua mau ke toilet sebentar, ok.” Restu pamit, meninggalkan mereka berdua.
***
Airin yang sudah sampai di café, beberapa kali melihat benda yang melingkar di tangannya. Sudah jam makan siang, namun Abimanyu belum datang juga. Ditelpon pun tidak diangkat. Airin bangkit, dia kebelet pipis dan hendak beranjak menuju tolet. Namun ….
Bug!
Dia menabrak seseorang saat berbalik.
“Airin?” ucap seseorang yang ia tabrak.