
Abimanyu tersenyum. dia ingat betul setiap kejadian yang akhirnya membuat dia yakin pada Airin. bahkan, kejadian di atas bukit waktu itupun tidak mempengaruhinya untuk tetap meraih cinta Airin.
“Kok malah senyum-senyum sih Bi?” tanya Airin heran.
“Gak, Abi hanya mengingat-ingat kejadian waktu dulu.”
“Kejadian apa?”
Abimanyu menatap wajah sang istri yang sudah terbingkai oleh kedua tangannya. Lekat dan dalam. Sebelah tangannya beralih meraih tombol lampu di atas nakas. Kamarpun menjadi gelap, dan ….
***
Pagi itu, Abimanyu berangkat seperti biasa. Namun bukan ke kantor, karena dia sudah menyerahkan surat pengunduran diri pada Pak Sis. Diikuti oleh Restu, yang mengekor dibelakang.
“Nanti, gak usah kirim makan siang ya Mi. kayaknya, Abi makan di luar.”
Airin mengangguk tanpa mengerti. Dia sendiri, mulai berkutat dengan bibit sayur yang ia beli beberapa waktu yang lalu. Tanah, pupuk dan bibit sayuran mulai ia aplikasikan ke dalam pot-pot. Sepertinya dia mulai menikmati aktivitas barunya. Dia bahkan tidak membiarkan Bi Ani untuk membantu.
“Bibik bantu Non?”
“Gak usah Bik, Bibik kerjakan saja pekerjaan yang lain,” ujar Airin.
Sudah beberapa pot yang ia tanami. Namun, dia teringat pada acara pertunangan Unge akhir minggu ini. Setidaknya, dia harus menyiapkan sebuah kado untuknya.
Airin mencoba menelpon Abimanyu, untuk memberitahu tentang acara tersebut. Dan memintanya untuk menemani membeli kado sepulang dia bekerja. Pasti akan seru, pikir Airin.
[Nomor yang anda hubungi sedang berada di luar jangkauan.]
Beberapa kali, hanya suara operator yang Airin dengar.
“Mungkin Abi sedang meeting,” pikirnya.
Dia mencoba menghubungi teman-temannya, namun tak ada yang bisa menemani. Bahkan, Suci saat ini sedang bersiap-siap untuk memberikan kejutan pada sang kekasih. Dia akan bertolak ke Jogja dan merayakan ulang tahun kekasihnya di sana.
“The RIsma, Assalamualaikum …” sapa Airin di telpon pada Risma.
Dia bingung harus menelpon siapa lagi. Risma adalah kakak ipar Unge. Dia pasti tahu, apa yang Unge butuhkan saat ini, agar apa yang Airin berikan bisa bermanfaat nantinya.
“Jadi kamu mau nyari kado buat Unge? Kalo gak salah, Bimo juga sedang nyari kado deh buat Unge. Kenapa kalian tidak mencari kado bersama saja?” usul The Risma.
“O iya? Tapi, dia ‘kan suka sok sibuk orangnya. Mana ada waktu dia!” sungut Airin.
“Hey, jangan lupa, ini ‘kan acara pertunangan adik dari sahabatnya.”
“Iya juga sih. Apalagi Unge sudah seperti adiknya sendiri. Ya sudah, aku hubungi dia deh,” ujar Airin kemudian mengakhiri panggilannya setelah mengucapkan terima kasih dan salam pada Risma.
Setelah menelpon Bimo, merekapun janjian bertemu siang ini di mal java. Ternyata benar, Bimo juga sedang merencanakan untuk mencari kado untuk Unge. Namun, dia masih bingung mau memberikan kado apa, sama dengan Airin.
Airin menyelesaikan kegiatan bercocok tananmnya, kemudian bersiap untuk bertemu dengan Bimo.
“Bik, aku pergi dulu ya. Nanti, kalau Bibik sudah selesai, kunci aja pintunya seperti biasa.”
“Baik Non.”
Airin janjian dengan Bimo langsung di mal Java. Sudah lama setelah Airin memutuskan untuk menikah dengan Abimanyu, mereka tidak saling menghubungi satu sama lain. Ini adalah kali pertama mereka bertemu kembali setelah sekian lama.
***
“Hai Bim, sudah lama?” tanya Airin saat melihat Bimo sudah berada di café yang telah mereka sepakati.
“Lumayan,” jawab Bimo singkat. Dia kembali megesap kopi hitam yang sudah mulai dingin. Menandakan, berapa lama dia sudah menunggu.
“Kita mau langsung nyari kado atau …?”
“Suami lu tahu, kalau kita bakal ketemu hari ini?” Bimo memotong kalimat Airin seketika.
“Tadi sempet nelpon, Cuma hape—nya gak aktif, kayaknya dia sedang ada meeting. Lagian, kita Cuma nyari kado ‘kan, tidak melakukan apa-apa?” canda Airin.
“Gak bisa kayak gitu, gua cowok, gua tahu apa yang akan dipikirkan suami lu kalo liat kita jalan berdua kayak gini!”
Airin terkekeh mendengar perkataan Bimo. Dia tidak pernah mendengar laki-laki yang pernah mengisi hatinya beberapa tahun yang lalu itu berkata sebijak ini.
“Dia gak akan kenapa-kanapa, kecuali kalo kamu masih menaruh hati sama aku dan berniat untuk mendekati aku lagi. Dia pasti marah!” Kini, sebuah tawa pecah di bibirnya.
“Lu gak akan ngerti Rin,” ucap Bimo, masih dengan nada serius.
Mereka mulai memasuki outlet-outlet yang ada di mal tersebut. Beberapa produk mereka lihat. Mulai dari baju, tas, sepatu, dll. Airin sendiri tertarik memberikan buku untuk Unge. Pengalaman dia saat menikah dulu, banyak yang tidak dia ketahui tentang pasangan dan juga hubungan pernikahan. Itu semua membutuhkan pengetahuan dan pemahaman khusus,mungkin dengan memberi Unge buku yang berhubungan dengan pernikahan, pasti akan sangat bermanfaat buat dia.
“Ya sudah, lu beli buku saja. Gua nyari yang lain, gampang!”
Airin membeli beberapa buku yang akan dia hadiahkan. Namun, sebelum pencariannya berakhir, pandangannya tertuju pada sebuah paket al-quran couple yang ada di dekat meja kasir. Dia melirik kepada Bimo.
“Em … gua ‘kan belum ngasih apa-apa saat pernikahan lu. Kalo gua kasih al-quran couple ini, lu mau gak?” Bimo seakan tahu apa yang ada di pikiran Airin. “Gak usah liatin gua kayak gitu deh. Kalo mau, ambil aja!”
“Beneran?”
“Hmm ….”
Airin mengambil satu paket al-quran couple yang dia lihat barusan. Lalu membawanya ke meja kasir. Setalah Bimo membayar, merekapun melanjutkan dengan makan siang bersama.
“Kita makan siang dulu yuk?” ajak Airin.
“Ok.”
Airin melihat banyak perubahan pada diri Bimo. Terkadang, dia melihat antara Bimo dan Abimanyu, terdapat banyak sekali kesamaan. Terlebih, saat ini. Dia melihat sosok Abimanyu pada diri Bimo, yang tidak pernah dia lihat waktu dulu.
“Kenapa lu liatin gua kayak gitu? Hati-hati, entar malah lu yang jatuh cinta sama gua, lagi!”
“Ih, geer.”
Mereka menghabiskan waktu bersama dan berpisah setelah menyelesaikan makan siang mereka.
***
Waktu sudah hampir Magrib. Airin sudah berada di rumah dari 30 menit yang lalu. Namun, tak ada kabar dari Abimanyu. Bahkan, dia melarang Airin untuk mengantar makan siang. Ditelponpun selalu saja sibuk. Airin sampai bosan menunggu. Dia hanya duduk termenung, melihat makanan yang sudah kembali dingin.
Tanpa sadar, diapun tertidur dimeja makan, dengan posisi duduk bersidekap membenamkan wajahnya di dalam lipatan tangan.
***
Entah pukul berapa, mobil Abimanyu terdengar memasuki halaman rumah. Dia cukup kaget melihat istrnya sampai tertidur di meja makan dengan makanan yang belum tersentuh sama sekali.
“Mi,” panggil Abimanyu pelan.
Suara dengkuran terdengar dari mulut sang istri, menandakan kalau yang dipanggil sudah terlelap. Abimanyu tak kuasa untuk membangunkan, digendongnya sang wanita sampai ke kamar tidur dan menyelemutinya, dan membiarkannya terlelap.
***
“Semalam Abi pulang jam berapa?” selidik Airin.
Karena ketiduran, dia jadi tidak tahu kapan suaminya itu pulang ke rumah.
“Owh, cukup malam Mi. Abi gak berani bangunin Umi, keliatannya lelap banget tidur Umi semalam. Ada meeting penting.”
“Terus, kenapa telponnya sibuk terus?”
“Ya ‘kan Abi lagi meeting.”
“Siang ini, mau dibawain makan siang sama apa?”
“Gak usah Mi, abi makan di kantor saja.”
Airin menangkap, ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya. Tak biasanya dia bersikap seperti itu. Jawabannya pun selalu singkat, seolah tak mau menjelaskan apapun.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Airin menoleh pada Restu yang sedang menyantap sarapannya tanpa terganggu oleh perbincangan suami istri di hadapannya. Airin berpikir, kalau Restu mengetahui sesuatu. Karena, sebelum dia datang kemari, Abimanyu tidak pernah bersikap seperti itu pada Airin.
“Akhir pekan ini, ada temen yang bertunangan. Abi bisa ‘kan nemenin umi ke sana?”
Abimanyu tak langsung menjawab. Dia hanya menatap kearah Airin yang sedang menunggu jawaban darinya.
“Maaf Mi, sepertinya Abi gak bisa. Umi ajak temen umi aja ya?”
“Kenapa? ‘kan Weekend Bi, Abi gak ambil kerjaan di weekend ‘kan?”
“Iya, tapi, Abi bener-bener gak bisa Mi, banyak kerjaan. Gak bisa ditinggalin. Bahkan weekend sekalipun!” Abimanyu mengakhiri sarapannya. “Abi berangkat ya?” Tanpa menunggu jawaban dari Airin, dia bangkit, mengecup pucuk kepala Airin yang masih dalam posisi duduk, lalu bergegas pergi.