Hubby, Is A Biker Insyaf!

Hubby, Is A Biker Insyaf!
Pacaran ala pengantin baru


"Saya terima, nikah dan kawinnya, Airin Permesta Ris binti Prayoga Ris dengan maskawin seperangkat alat sholat beserta sebuah motor Royal Enfield Contineltal GT, dan satu unit Rubicon di bayar tunai!”


“Sah? Sah? Sah?” tanya bapak penghulu pada saksi yang hadir.


“Sah … “ ucap para saksi berbarengan.


Semua tamu undangan, serempak mengucap “Alhamdulillah … tabarokalloh …”


Setelah perjalanan yang cukup pelik dan berliku, akhirnya Airin dan Abimanyu bersanding di pelaminan juga. Namun, kisah cinta mereka barulah di mulai.


***


Sebelum adzan subuh berkumandang, Airin terbangun, ia mendengar seseorang sedang menggunakan dapurnya.


[Apa ada maling?] pikir airin dalam hati.


Ia langsung bangkit dan hendak membangunkan suaminya, Abimanyu. Namun, laki-laki yang baru di nikahinya itu, tak ada di sampingnya.


[Lho, Abi kemana? Ini kan baru jam empat subuh?]


Dengan perasaan takut, ia mengendap-endap, Airin memasuki dapur dengan sapu di tangan.


Di lihatnya sebuah bayangan sedang berdiri di dapurnya, dapur, yang sama sekali belum ia jamah itu.


“Hey, dasar maling, sedang apa kau di dapur orang jam segini hah! Dasar maling kau, maling …!” teriak Airin, sambil bertubu-tubi melayangkan pukulan tongkat nenek sihir yang baru ia temukan hari itu.


Tanpa melihat siapa yang ada di hadapannya, terus ia berteriak dan memukul-mukulkan gagang sapu yang ia pegang.


“Mi, ini Abi Mi … aduh, aduh … ampun Mi … ampun …!” teriak seseorang yang ia sangka pencuri itu.


Airin menghentikan aksinya, manakala seseorang yang ia anggap pencuri itu,buka suara.


[Tunggu, suaranya seperti aku kenal?] Airin berbisik pada dirinya sendiri, lalu perlahan, ia membuka matanya.


“Abi? Sedang apa jam segini di dapur?” teriak Airin, saat mendapati suaminya sedang mengaduh kesakitan.


“Aduh Mi, kalau mau mukul itu ya lihat-lihat dulu lah. Sakit tahu!” sungut Abimanyu, sambil mengusap-usap kepala dan tubuhnya yang baru saja kena hajar sang istri.


“Maaf … Umi kan gak sengaja Bi. Umi pikir, Abi tadi pencuri. Abis jam segini, udah berisik aja di dapur, ngapain sih Bi?” tanya Airin penasaran.


Abimanyu memperlihatkan secangkir the hijau yang baru saja dia racik.


Kebiasaan Abimayu yang mungkin belum di ketahui Airin adalah:


Abimanyu, bangun sangat pagi, sekitar pukul empat subuh, sebelum Adzan subuh berkumandang.


Abimanyu selalu meminum the hijau, selepas bangun tidur dan sebelum memulai aktifitasnya.


Setelah meminum the hijau, lalu menunaikan sholat subuh, Abimanyu selalu menyempatkan diri untuk olah raga pagi, berupa jogging.


Next.


“Kalau Abi mau the hijau, kenapa ga bangunin Umi sih?” ujar Airin.


Abimanyu hanya tersenyum melihat perempuan yang baru ia nikahi membulatkan bibir kecilnya itu, membuat dia semakin gemes terhadap wanita yang ada di sampingnya. Ia tidak ingin merepotkan sang istri, biarlah dia tahu kebiasaan sang suami seiring waktu berjalan, pun sebaliknya.


“Jangan manyun gitu ah, jelek!” dikecupnya manja bibir yang membulat itu, “muah …”


Spontan Airin mencubit Abimanyu, dia terlihat tersipu malu, mendapatkan perlakuan dari suaminya itu. lalu mereka main kejar-kejaran seperti anak SD, sampai suara Adzan berkumandang.


Mereka, melanjutkan sholat subuh berjamaah. Sholat subuh pertama, pasca mereka menikah.


Di kecupnya punggung tangan Abimanyu, sesaat setelah mereka selesai dengan kewajiban dua rokaat mereka.


“Mi, ingat gak, kapan pertama kali Umi sun tangan ke Abi seperti barusan?” tanya Abimanyu.


“Em… kapan ya BI? Emang pernah gitu sebelum ini?” perempuan itu mengerutkan alisnya, mencoba mengingat-ingat.


“Pernah lah Mi, di mushola kampus Umi. Sebelum kita pergi nonton untuk pertama kali. Ingat kan?” Ujar Abimanyu. Pria itu menaik turunkan alisnya, berharap wanita pujaan hatinya itu akan mengingat moment yang menurut dia romantic itu.


Airin mencoba mengingat kejadian waktu itu …


----------


“ Mushola di mana Mi, magrib dulu lah. Kalo magrib di jalan, ga akan keburu,” ujarnya.


Tanpa berkata, aku berjalan menuju mushola kampus.


Dia mengikutiku dari belakang.


Di sana banyak mahasiswa lain yang juga sedang menunaikan kewajibannya. Setelah mengambil wudhu, dia membimbingku untuk berjamaah.


Ada beberapa mahasiswi lain yang ikut bersama kami, dia yang menjadi imam.


Bacaan yang dia lantunkan, terdengar merdu dan menenangkan jiwa. Aku jadi kurang khusyuk saat menjalankan kewajibanku. Namun ku upayakan tetap pada kekhusyuan.


“ Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh,. Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh,.”


Aku menengok ke arahnya setelah melakukan salam. Dia terlihat berdzikir sesudahnya.


Aku pun melakukan hal yang sama. Kami melakukan itu sambil menunggu waktu Isya tiba. Lantas melaksanakan kewajiban Isya sekalian.


Setelah selesai, dia mengulurkan tangannya padaku.


Matanya mengisyaratkan sesuatu. Berkali-kali matanya di arahkan pada punggung tangan yang ia sodorkan. Lalu ia mengambil tanganku dan menempelkannya di keningku.


“ Salim!” ujarnya.


Aku benar-benar kehabisan kata-kata. Dan hanya menatap pria di hadapanku itu, dengan lekat.


----------


Airin tersenyum, dia ingat kejadian waktu itu. Iya benar, itu memang bukan pertama kali mereka sholat berjamaah, namun, itulah kali pertama Airin mencium punggung tangan pria yang sekarang telah resmi menjadi suaminya itu.


***


Sebagai seorang istri yang baik, Airin mencoba menyiapkan segala kebutuhan suaminya. Mulai dari menyiapkan air hangat untuk mandi, menyiapkan sarapan, dan pakaian yang akan suaminya kenakan pagi ini.


Untuk pertama kalinya Airin membuatkan sarapan untuk Abimanyu, lebih tepatnya, ini kali pertama Airin masak sarapan sendiri.


“Sarapan apa kita pagi ini Mi?”


Abimanyu melihat nasi goreng dengan telor orak arik di atas meja.


Ada kejadian lucu, kenapa akhirnya mereka saling sapa dengan panggilan sayang Abi-Umi ini.


----------


POV Airin.


[Hari ini jadi ya aku tagih hutang kamu!] lagi-lagi dia bahas masalah hutang.


Tak ada keinginan sedikitpun untuk membalas pesan itu. Malas rasanya. Tapi kalau aku tidak membalas, bisa-bisa dia menelpon dan ibu bisa mendengar pembicaraan kami nanti.


Ku putuskan untuk membalas saja pesan dari Abimanyu itu.


[Ok! Hutang apapun yang Bapak maksud, saya akan bayar hari ini juga. Jadi, Bapak ga usah bahas lagi masalah hutang padaku!] tegasku pada pria itu.


[Hey, kan aku udah bilang kemarin. Jangan panggil Bapak kalau sedang tidak di kantor, atau kalau kita sedang berdua saja. Panggil saja Abi. Dan aku akan memanggil kamu Umi nanti, haha.] Dia tertawa kegirangan sendiri.


Hah! Abi Umi! Dia pikir ini kisah anak SMA alay yang saling memanggil lawan jenis dengan panggilan-panggilan alay seperti itu. Uweeeekkk. Mual rasanya.


----------


Airin menarik bibirnya kesamping, lalu mengembangkan senyum. Itulah ke konyolan Abimanyu yang kadang membuat dia rindu.


***


“Aku buatkan nasi goreng special, dengan telor mata sapi Bi, cobain deh!” ujarnya antusias.


[Apa? Dia bilang, ini telor mata sapi? Mana matanya? Aku pikir tadi, ini tuh telur orek!] guman Abimanyu dalam hati.


“Owh, iya Mi. kelihatannya enak ya … mana aku mau!” ucap Abimanyu sambil menyodorkan piring kepada Airin.


Airin, langsung menyendokan beberapa centong nasi goreng special buatannya beserta telur mata sapi yang di orek itu.


Tak perlu di perintah lagi, Abimanyu langsung melahap sesendok penuh masakan istri tercintanya.


“Gimana, enak kan?” tanya Airin antusias. Matanya berbinar, dia bahagia bisa menyajikan sarapan untuk sang suami.


Abimanyu mengunyah perlahan makanan yang baru saja ia daratkan di mulunya, dan seketika, ia telan kasar hingga masuk melewati kerongkongannya secara terpaksa.


“Em…enak banget Mi. nasi goreng buatan kamu, memang juara!” ucapnya tidak jujur.


[Ya ampun Airin, apa yang kamu masak ini? Ini nasi goring pake garam, atau garam pake nasi. Asin banget sih! Uwek…] isi hatinya meronta.


Di pandanginya sepiring penuh nasi goring yang super asin itu dengan mata terbelalak. Saliva nya ia telan secara kasar. Membayangkan bagaimana semua isi dalam piring itu, akan berpindah ke perutnya.


“O iya Mi, aku mau … kerupuk deh. Iya … kerupuk, he…” pinta Abimanyu mencoba mencari celah.


Saat Airin berbalik melangkan untuk mengambil kerupuk, dengan sigap, ia memasukan nasi garam berkecap itu ke dalam tempat sampah yang ada di samping washtoffel.


“Ah, aman!” ucap Abimanyu sambil mengelus dadanya sendiri.


“Apanya yang aman Bi? Lho, sudah habis lagi Bi? Kamu suka ya sama masakan aku?” Airin, memeluk Abimanyu dengan gemasnya.


[Kalo bukan karena kamu istri aku, gak mau deh, makan nasi asin seperti itu] lagi Abimanyu bergumam dalam hati.


“Ya sudah, Abi panasin dulu mobil gih. Umi mau sarapan dulu, baru kita berangkat ke kantor bersama ya!” ujar Airin.


Airin, kini di angkat menjadi sekertaris pribadi Abimanyu di kantor. ini adalah permintaan Abimanyu sendiri, yang ingin istrinya yang mengaturkan agenda dan semua pekerjaannya sehari-hari. Selain agar bisa dekat setiap hari, Abimanyu juga berfikir, dengan cara ini ia dan Airin akan terhindar dari cekcok karena istrinya itu mengetahui semua kegiatan yang ia lakukan dari pagi hingga sore hari.


“Em … jangan Mi!” reflex Abimanyu melarang Airin untuk memakan makanan racikannya sendiri. “inikan masakan yang Umi buatkan khusus untuk ABi, jadi ini semua mau Abi bawa ke kantor ya. Abi masih lapar nih, Cuma, gak akan keburu kalau lanjut makan sekarang. Umi bungkusin deh, buat Abi bawa ke kantor ya?” Abimanyu meminta istrinya untuk membungkuskan sisa masakan istrinya itu, lalu membuatkan Airin roti dengan selai strawberry sebagai pengganti. “Nih, buat sarapan Umi, Abi buatkan roti saja ya?” elak Abimanyu sambil menampakkan senyum termanisnya.


[Alamat manyun dia nanti, kalau tahu hasil masakannya tidak seenak ekspektasinya. Mending aku amankan makanannya, sambil nanti aku ajari dia masakan kesukaanku!]


Abimanyu tidak tega mematahkan hati istri tercintanya, kalau dia sampai tahu, seberapa hancurnya rasa masakan yang ia buatkan pagi ini


[Tak apa, skil memasak bisa di asah nanti. Yang terpenting sekarang, menjaga hati nya saja dulu. Karena mendapatkan seorang Airin itu, butuh perjuangan yang cukup ekstra. Dan tak mungkin aku kecewakan dia hanya karena masakan yang belum sempurna ini!]


***


Pagi itu, mereka berangkat ke kantor bersama untuk pertama kalinya.


Dan saat sampai di kantor, kini Abimanyu kebingungan sendiri, harus di apakan makanan yang ada di hadapannya ini.