Hubby, Is A Biker Insyaf!

Hubby, Is A Biker Insyaf!
sendiri


Sang mentari sudah selesai dengan tugasnya, kini berganti rembulan yang bertengger di hamparan langit tinggi dengan bintang yang bertaburan.


***


Beberapa saat yang lalu ...


Suci sudah mendapat apa yang dia mau, walau sedikit ada drama, yang membuat dia hampir saja tidak bisa mendapatkan jam yang dia incar. Namun, akhirnya, dapat terselesaikan dengan jam tangan di genggaman.


“Ke toilet aja kok lama banget sih Rin!” Suci bersungut-sungut.


“Maaf, tadi ada telpon dulu dari misua. Jadi kita ngobrol manjah dulu deh …” goda Airin.


Suci membulatkan bibir. Sepertinya dia benar-benar kesal. Hal itu membuat Airin menghentikan aksi menggoda sahabat yang sedang menjalani hubungan jarak jauh dengan kekasih yang dipacarinya, dua tahun belakangan itu.


“Iya … iya … maaf! Emang kenapa?”


“Kamu tahu gak? Jam yang aku mau, itu ‘kan Cuma tinggal satu lagi di Indonesia. Dan kebetulan, adanya di mal ini. Aku seneng dong, se—enggaknya, aku masih bisa mendapatkannya ‘kan? Tapi, ternyata, jamnya sudah ada yang booking via online dong!”


“Waduh, terus gimana?”


“Untungnya, yang beli, hari ini datang. Tepatnya barusan! Dan setelah aku nego-nego, untung aja dia mau ngasihin jamnya buat aku. Aku bilang sih, itu kado ulang tahun buat Papa!”


“Ih, nipu!”


“Biarin … yang penting jamnya dapet!” Suci memainkan kedua alisnya, sambil memperlihatkan jam tangan yang sudah terbungkus kotak dengan rapi.


“Oke—lah! Demi cinta, apa aja dihalalin!”


“Perjuangan dong!”


“Ok … Ok … Jadi kapan mau kamu kasih?”


“Kayaknya, aku mau kasih dia surprize deh. Aku mau langsung kasihin sama dia!”


“Kamu mau nyamperin dia ke Jogja gitu? Demi apa Ci … sumpah … salut deh sama pejuang LDR!”


“Iya dong …!”


Suci terlihat sangat senang. Dia sangat antusias untuk memberikan hadiah yang baru saja ia dapatkan, kepada kekasih hatinya—Hendra, yang saat ini sedang bekerja di sebuah perusaan asing di Jogjakarta.


Setelah urusan Suci selesai, merekapun melanjutkan dengan kelas memasak Airin yang sebentar lagi akan dimulai.


Kelas memasak sore, ternyata lebih banyak dari kelas yang sebelumnya ia ikuti. Dan rata-rata yang ikut kelas adalah, para ibu muda, perempuan yang mau menikah, atau yang seperti Airin—pengantin baru.


Karena peserta yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang ini, metoda pemberian materi yang digunakanpun berbeda dengan yang sebelumnya. Ya pastilah! Kalau sebelumnya ‘kan, di kelas malam, hanya ada tiga orang peserta!


Sistem yang diterapkan, sudah seperti Master Chef saja. Itu loh, acara TV yang ada chef Juna—nya sebagai judge!


Mereka akan diberikan materi oleh chef Agus. Kemudian, sesi tanya jawab—bagi yang kurang paham. Setelah itu, setiap peserta akan diberi sebuah lembaran resep, dengan bahan-bahan yang sudah disiapkan. Nah, sudah deh, mereka bisa langsung eksekusi. Sementara chef Agus, dia akan berkeliling dan memberikan mentoring kepada satu per satu peserta. Makanya, kalau ada yang kurang dimengerti dan tidak sempat ditanyakan saat sesi tanya jawab tadi, saat chef Agus keliling itulah, waktu yang tepat untuk mereka bertanya. Karena dia juga akan mengajari dan tetap stay sampai setiap peserta paham dan bisa. Hebat ….


***


“Wih … kayaknya enak tuh! Nyobain dong?” pinta Suci saat melihat hasil masakan Airin hari ini.


Chef Agus mengajarkan Airin dan peserta lainnya tiga resep masakan. Ada sop buntut, siomay goreng dan juga pisang karamel cokelat. Pastinya, Abimanyu akan sangat senang dengan masakannya hari ini.


“Pelit! Tapi … gak apa-apa deh, kalau tidak diicip chef Agus, rasanya, pasti gak enak!” ejek Suci.


“Biarin …! Wekkk ….”


Sudah mau Magrib. Seperti biasa, Airin dan Suci mampir dulu ke mushola yang ada di basement mal Bandung. Kebetulan, Suci ada janji juga dengan temannya yang lain di mal ini juga. Sehingga, mereka memutuskan untuk berpisah setelah melaksanakan kewajiban tiga rakaat.


****


Suasana gelap malam dengan lampu-lampu kota yang menyala di sepanjang jalanan kota Bandung, tidak sedikitpun menyurutkan mobilitas bagi penghuni--nya, yang bahkan, semakin ramai menjelang malam hari. Terutama, di pusat keramaian seperti ini. Banyak jalan-jalan yang disulap menjadi surganya pecinta kuliner saat malam menjelang. Akan terasa amat romantis, apalagi bagi mereka yang sedang dilanda kasmaran.


Terbukti dengan banyaknya pasangan muda-mudi yang Airin lihat berkeliaran di tengah-tengah keramaian malam. Bahkan mungkin, Airin yang hanya seorang diri yang ada di tengah-tengah mereka!


Airin jadi teringat pada Abimanyu. Dia tidak pernah mengajaknya pergi ke tempat mewah. Mereka menyelami perasaan masing-masing bukan dengan hal-hal manis seperti yang terlihat oleh sepasang mata Airin saat ini.


Angkringan surabi, kue cubit … yang kayak gitu-gitu doang. Padahal, orang-orang ber—ekspektasi lebih tentang hubungannya dengan Abimanyu. Katakanlah, teman-teman Airin sendiri. Namun, sejak awal mereka saling terikat rasa cinta, kekonyolan dan ketulusannya—lah yang selalu membuat Airin rindu.


Diliriknya tas makan yang sudah terisi dengan masakan yang tadi dia buat. Bulat sabit berpindah ke bibir Airin. Berharap, Abimanyu akan menyukainya nanti.


Mobil mini kuning itu, akhirnya menyelesaikan tugasnya untuk mengantar Airin pulang. Diparkirnya mini cooper yang sudah beberapa hari ini menemaninya pergi-pergi, di halaman rumah. Bersisian dengan mobil hitam milik sang suami yang sudah bertengger terlebih dahulu.


“Assalamualaikum …” sapa Airin saat memasuki rumah yang hampir dua bulan itu dia tinggali.


Tak ada siapapun yang menyahut. Mungkin, Abimanyu sedang di kamar? Pikir Airin seperti itu.


Dia berjalan, mendekati tangga, menaikinya satu per satu menuju kamar tidurnya. Namun, tak ada tanda-tanda ada seorangpun di dalam rumah.


[Em … sepertinya Abi mau main petak umpet nih!] batin Airin.


Dia mengambil wudu, menunaikan empat rakaat, kemudian turun ke dapur. Makanan yang tadi dia bawa, dia masukan ke dalam microwave. Airin tidak mempedulikan di mana Abimanyu bersembunyi. Ditatanya meja makan yang akan dia gunakan. Mengganti taplak meja, menaruh sebuah vas dengan beberapa kuntum bunga di dalamnya. Walau bukan bunga segar, namun, tetap nampak cantik dipandang mata.


Microwave sudah berbunyi. Tanda proses menghangatkan sudah selesai. Airin mengelurkan makanan yang sudah mengepul kembali, kemudian menaruhnya di atas piring.


Setelah semua siap, dia kembali ke kamar untuk bersih-bersih. Guyuran air hangat dari shower, meluluh lantahkan kepenatan yang menghinggapi tubuhnya. Aroma terapi dari sabun dengan ekstrak bunga lily itu, menyeruak membuat badannya semain fresh dan nyaman.


Dia keluar dari kamar mandi, menyisir setiap sudut kamar, dengan sepasang manik matanya.


[Hm … kemana ya Abi? Kok belum muncul juga? Biasanya, kalau sudah begini, dia akan tiba-tiba muncul dan memelukku dari belakang. sok-sok—an mau mengagetkan aku gitu …] batinnya.


Sampai Airin selesai berganti pakaian, namun, Abimanyu belum muncul juga. Suasana rumah yang sepi, dengan tirai yang melambai-lambai di terpa angin malam yang sunyi, membuat Airin menjadi ciut nyali.


Kalau benar Abimanyu tidak ada di rumah, berarti, ini kali pertama dia berada di rumah malam-malam sendirian. Dan itu sangat horor Airin rasakan.


“Bi, jangan bercanda deh …” ucap Airin, yang tak mendapat respon dari siapapun.


“Bi …?”


Menyadari Abimanyu memang tidak ada di rumah saat ini. Tubuhnya mendadak menggigil, tangannya gemetar, bulu kuduknya seketika berdiri meremang.


Airin melangkah perlahan, meninggalkan ruang tidurnya dengan peluh yang mulai bercucuran. Rasa segar yang baru saja dia rasakan, hilang seketika. Suhu tubuh yang meninggi dadakan, membuat dia berkeringat hebat di sekujur tubuh.


“Aaaaaaa ….” Dia berteriak sambil membanting pintu kamar. Berlari menuruni anak tangga, tak peduli kakinya licin dan hampir terpeleset, dia terus memacu langkah hingga menghamburkan diri ke luar. Dia terus berlari di antara dua mobil yang sedang terparkir. Sampai di depan pintu gerbang, dia menabrak seseorang hingga badannya limbung dan terjatuh kaget, hingga tak sadarkan diri.