Hubby, Is A Biker Insyaf!

Hubby, Is A Biker Insyaf!
Kaku


"Hai, Mi,” sapa Abimanyu dengan senyum kaku yang terpaksa ia ukir.


Airin hanya menjawab dengan senyum. Senyum yang juga terpaksa ia ukir.


Keduanya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, walaupun dalam hati mereka, selalu ada gumaman yang saling menaruh curiga.


‘Habis darimana dia? Pasti, habis ketemuan dengan perempuan itu, si sekertaris baru yang sexy!’ batin Airin sambil matanya terus menatap sang suami dengan curiga.


Abimanyu yang kini duduk di hadapannya juga melihat ke arah Airin, dengan tatapan tajam sambil sesekali menyeruput minuman yang nyaris mengering di dalam cangkir.


Restu yang melihat sepasang suami istri itu, mencoba mencairkan suasana. Dia memperlihatkan sebuah katalog paket liburan ke Raja Ampat yang ia dapat dari sebuah situs online.


“Hei, Tuan dan Nyonya, gua ‘kan belum memberikan kado pernikahan untuk kalian, bagaimana kalau ini saja?” tanyanya sambil memperlihatkan apa yang baru saja dia temukan dalam benda pipih pintar miliknya.


Airin dan Abimanyu hanya menatap Restu dengan heran. Terlebih Abimanyu, dia sama sekali tidak mengetahui apa yang ada di kepala sahabatnya itu.


“Maksudnya?” tanya Airin.


“Iya, hadiah pernikahan? Gua dengar, kalian berdua belum sempat berbulan madu ‘kan?”


Airin melirik suaminya. Dia berpikir, kalau ini hanyalah rencana Abimanyu untuk membujuk dirinya, agar melupakan masalah sekertaris seksi yang bahkan sampai saat ini pun, belum juga dia beritikad menjelaskan, maksudnya menjelaskan dari hati ke hati. Namun, Airin tidak akan termakan oleh bujuk rayu Abimanyu yang murahan itu. Begitulah pikirnya.


“Sorry, Res. Kayaknya aku gak bisa deh, soalnya sudah ada janji dengan beberapa orang untuk membahas kerjaan!” Airin bangkit. Dia melangkah meninggalkan kedua sahabat itu, menuju kamar tidur.


Setelah melihat Airin cukup jauh meniti tangga dan menghilang dibalik pintu kamarnya, Restu menghampiri Abimanyu dengan setengah berbisik.


“Wah, parah, Bi. Istri lu bener-bener parah! Lu liat ‘kan tadi?” Restu mencoba menjelaskan sesuatu.


Abimanyu hanya terdiam dengan dagu yang ditopang kepalan tangannya di atas meja. matanya menatap lurus ke depan. Nafasnya tak beraturan, menghembuskan emosi yang sedikit membuncah.


“Lu liat sikap dingin dari Airin? Wanita mana yang tidak senang, saat diberi hadiah berlibur bersama pria yang dikasihinya? Tapi lu liat istri lu, dia malah melengos pergi!” lanjut Restu mencoba mempengaruhi Abimanyu. dia mengusap-usap dangunya sambil berdecak.


“Jadi maksud lu, apa? Kenapa juga lu sok-soan mau ngasih paket liburan buat kami!” tanya Abimanyu masih belum mengerti.


“Sebenarnya, gua hanya mau mengetes istri lu aja. Lu liat ‘kan barusan? Ini membuktikan sesuatu,”ucapnya mantap.


“Membuktikan apa?” tanya Abimanyu penasaran.


“Ini membuktikan, kalau sebenarnya dia tidak peduli sama lu. Dia tidak berselera untuk pergi berbulan madu dengan suaminya sendiri, parah! Dan lagi, biasanya ‘kan dia akan sibuk menyiapkan makan malam, tapi lu liat? Dia malah masuk kamar, Bro!”


Kepalan tangan Abimanyu dihantamkan pada meja. sepertinya, dia sangat terpengaruh dengan ucapan Restu. Dadanya naik turun, menandakan ada luapan emosi yang tertahan di sana.


“Tenang, Bro, tenang. Lu gak boleh emosi. Kita harus mencari tahu lebih banyak lagi. Sekarang, lebih baik lu ikutin dia ke kamar. Bersikap biasa saja dan cobalah minta jatah malam lu, liat reaksi dia kayak gimana?”


“Lu gila!”


“Kenapa gila? Kalian ‘kan suami istri, hal seperti itu sangat wajar ‘kan?”


Abimanyu mencoba mengatur nafas. Dia ikuti saran dari sahabatnya, Restu. Bangkit dari tempat duduk, beranjak menuju kamar tidurnya.


Restu mencoba memberi semangat pada sahabatnya, dengan menepuk-nepuk pundak Abimanyu sebelum dia mulai melangkah.


“Semangat, Bro! Kalo gitu gua balik, ya!” seru Restu.


Abimanyu hanya mengangguk dan membiarkan Restu meninggalkan rumahnya.


***


Pintu kamar dibuka. Mata Abimanyu menangkap seorang wanita yang ia nikahi dua bulan yang lalu, tengah duduk bersandar diatas ranjang dengan sebuah buku di tangannya. Abimanyu berjalan mendekat ke sisi lain dari tempat tidur yang mereka bagi pasca resmi menjadi sepasang suami istri.


Airin melirik dengan ujung mata, saat suaminya memasuki kamar, menghampiri tempat tidur mereka. Namun, ia bergeming, tak mengindahkan kehadiran Abimanyu di sampingnya. Lagi-lagi kekakuan terjadi di antara mereka.


Buku dilipat. Airin mulai mengambil posisi berbaring. Namun, dengan tubuh yang menyamping ke arah lain dari Abimanyu, membelakanginya.


Airin tak menyahut. Dia pura-pura tertidur, walau kantuk belum benar-benar menghampiri. Dia masih merajuk.


“Umi masih marah?” tanya Abimanyu mencoba membuka obrolan, berharap sang istri akan merespon. “Soal, sekertaris itu, Pak Sis sendiri yang nyari, bukan Abi yang minta.”


Airin berbalik, dia menatap suaminya penuh curiga. Akhirnya Abimanyu angkat bicara juga soal sekertaris barunya itu. Apa karena sudah merasa terdesak, makanya dia cerita?


“Terus, kenapa baru bilang sekarang?” tanya Airin ketus.


“Belum sempet, Mi. Akhir-akhir ini, Abi lagi banyak kerjaan.”


“Kerjaan apa yang mengharuskan Abi sampai menginap segala? Sebelumnya tidak pernah seperti itu?”


Abimanyu menatap lekat sang istri, dia menjelaskan apa yang bisa ia jelaskan. Walau suasana sempat menegang, sampai drama dorong tarik, tepis rangkul. Namun, sepertinya Airin bisa mengerti juga. Lagi pula, Abimanyu bukan pria seperti itu. Dia mengenal baik watak suaminya itu. Walau demikian, Airin tetap menaruh curiga padanya. Tidak semudah itu mentoleransi yang namanya perselingkuhan, kalau itu sampai benar terjadi!


Airin kembali berbaring.


“Mi,”


“Hm,”


“Boleh?”


“Hm,”


“Bener?”


Airin berbalik, jatah malampun, berhasil didapatkan Abimanyu.


***


Pukul satu dini hari. Airin nampak tertidur pulas karena kelelahan, dengan sedikit mendengkur seperti biasanya. Namun, Abimanyu masih terjaga. Dia berdiri menatap ke luar kamar, menikmati terpaan angin dari pintu yang terbuka. Berdiri di ambang pintu balkon kamarnya, menerawang, memikirkan sesuatu.


***


“Pagi semua,” sapa Restu pagi itu.


Dia melihat Airin tengah sibuk menyiapkan sarapan, sedangkan sahabatnya membaca koran pagi seperti biasa. Pemandangan sudah kembali normal, Restu pun ikut duduk bersama Abimanyu.


“Kopi, Res?” tawar Airin.


“Boleh,” sahutnya.


Dia menyenggol sang sahabat dengan sikutnya pelan. Mengalihkan perhatian dari koran yang sedang dibaca.


“Bagaimana?” bisiknya penasaran. Abimanyu hanya tersenyum, dan kembali meneruskan memindai surat berisi berita-berita terupdate negeri ini. membuat Restu jadi semakin penasaran. “Berhasil?” lanjutnya.


“Berhasil apanya?” tanya Airin yang datang dengan cangkir berisi minuman hitam pekat beraroma yang baru dia racik.


Abimanyu menurunkan apa yang sedang ia baca, melipatnya, kemudian beralih pada the hangat yang sudah lebih dulu tersaji untuknya.


“Mi, nanti siang, kita makan di luar, yuk?” Abimanyu mengalihkan pembicaraan.


“Boleh, tumben?” tanyanya heran.


Airin ikut duduk, mengisi piring dengan makanan yang baru saja dia olah untuk suaminya.


Abimanyu menyeruput the dalam cangkir, sambil menatap sang istri yang tengah melayaninya. Dengan tenang, dia kembali berkata. “Abi hanya mau nyobain menu makan siang di café Grill saja, Restu bilang sih enak.”


Seketika, Airin dan Restu saling pandang.