
Wanita bercadar itu menghampiri Airin. Walaupun bercadar, namun Airin sudah sangat hafal dengan gesture dari temannya itu. Tanpa melihat wajahnya, dia bisa mengenalinya.
“Anin? Beruntung sekali kita bisa bertemu di sini!” ujar Airin menyambut pelukan dari teman kampusnya itu.
Abimanyu yang berdiri di samping Airin, membisikan sesuatu di telinga sang istri. Membuat ia menoleh ke belakang Anin.
“Mi, lihat itu! Kok ada si Bimo?” bisik Abimanyu.
Airin hanya tersenyum. Sepertinya, dia juga tidak tahu soal itu. Kenapa mereka bisa datang bersamaan. Apakah mereka memang sengaja bertemu?
“Kalian datang bersama?” tanya Airin saat pria yang tadi berjalan di belakang Anin, kini berdiri bersebelahan dengan wanita bercadar itu.
Anin sepertinya malu-malu. Karena dia banyak menundukan pandangan saat melirik pria di sampingnya. Airin tahu pasti, kebiasaan temannya itu. Dia tidak akan sembarang pergi dengan seorang pria. Apalagi hanya berduaan saja. Tentu ada yang special diantara mereka berdua.
“Iya, kami datang bersama. Rencananya, kami mau makan malam,” sahut pria yang Abimanyu sebut sebagai Bimo itu.
“O iya? Kami juga sedang mencari tempat makan!” ujar Airin.
“Wah, kebetulan sekali. Bagaimana kalau kita barengan saja! ‘Kan lebih seru kalau makannya banyak orang!” timpal Anin, sambil melirik pria yang ada di sampingnya dengan ujung matanya.
Dapat ku lihat binar di mata Anin saat aku mengatakan hal yang akan kami lakukan sama dengan yang akan mereka lakukan juga.
“Gak usah lah MI! kita makan berdua saja! Lagipula, Abi gak suka sama si Bimo, dia kok liatin Umi terus sih! Padahal di sini ‘kan ada Abi, gak sopan!” gerutu Abimanyu, yang lagi-lagi membisikan kalimatnya di samping telinga Airin.
“Gak apa-apa Bi!” ucap Airin sambil tetap menebar senyum pada dua orang di hadapannya.
Mereka memutuskan untuk makan bersama.
Dipilihnya sebuah resto dengan makanan khas nusantara, yang terletak di lantai satu Mall tersebut.
Sebuah meja dengan empat kursi menjadi sasaran mereka. Lalu, satu per satu kursi, diatur untuk mereka duduki.
Abimanyu tentu duduk bersebelahan dengan Airin, pun satu pasangan lainnya, duduk bersebelahan.
Seorang pramusaji mendatangi meja mereka dan memberikan dua buah buku menu.
Airin, mengambil salah satunya.
“Mau makan apa Bi?” tanya Airin pada sang suami.
“Ada sate kambing gak Mi? sekalian sama gule nya! Abi butuh stamina ekstra nih, buat nanti malam!” ucapnya sambil menatap sinis kearah pria yang dia panggil Bimo itu.
Pria itu membalas tatapan Abimanyu tak kalah sinisnya. Seperti ada pertarungan dalam tatapan mereka.
Andai ini film kartun, pasti akan terlihat sengatan listrik yang keluar dari masing-masing manik yang saling bergulat dalam tatap itu.
“Jangan banyak-banyak makan kambing Bi, nanti kolesterol lho!” Airin mencoba mengingatkan suaminya.
“Gak akan jadi kolesterol Mi, kalau Umi bantuin Abi mengurainya jadi keringat malam ini!” Tatapan genitnya tertuju pada sang istri, sambil memainkan alis.
Seketika, tangan Airin mencubit perut Abimanyu dari bawah meja. membuat dia mengingis kesakitan. Anin tersenyum melihat kelakuan mereka, tidak dengan pria di sampingnya.
Sepanjang makan malam, Airin dan Anin berbincang dengan sesekali bercanda. Sementara Abimanyu, tetap beradu pandang dengan pria yang ada di samping Anin. Bahkan, dari cara dia menyantap sate yang ia pesan, terlihat jelas kalau Abimanyu tidak menyukai pria itu. Dia terlihat kesal, karena selalu menangkap pria di hadapannya itu sesekali mencuri pandang pada Airin.
“Alhamdulillah, untung bertemu kalian. Makan malam kali ini benar-benar nikmat,” ucap Anin menutup makan malamnya.
Sampai di perjalanan pulang pun, Abimanyu masih saja memperlihatkan muka masam yang di tekuk.
Airin yang melihat, tergelitik untuk menggodanya.
“Abi kenapa? Kok merengut gitu? Jelek tahu!”
“Gak apa-apa! Cuma kesel aja!”
“Lho, kesel kenapa? ‘Kan kata Umi juga, gak usah makan sate kambing, tekanan darahnya naik tuh, makanya gampang kesel!” goda Airin sambil bergelayut manja di tangan kekar milik suaminya itu.
“Gak ada hubungannya kali! Abi kesel aja sama si Bimo! Ada Abi saja dia berani menatap Umi seperti itu. Bukannya dia membawa pasangannya, kenapa gak di lihatin aja tuh wanita di sampingnya, kenapa juga harus curi-curi pandang sama umi!” Abimanyu bersungut-sungut. Nampaknya dia benar-benar kesal. Entahlah, mungkin benar, itu efek dari sate kambing yang ia makan.
“Cuma perasaan Abi saja kali! Lagian, masa liat wajah Anin, dia ‘kan pakek cadar, gak mungkin keliatan juga ‘kan?” goda Airin. Dia tidak menanggapi suaminya yang sedang dibakar api cemburu. “Aku baru tahu, kalau mereka dulunya pernah satu kantor. setahuku sih, Anin memang pernah bekerja di Bank. Tapi gak tahu juga, kalau ternyata, itu Bank yang sama di mana Kak Hilmy bertugas!” sambung Airin.
Iya! Dari obrolan mereka tadi, ternyata terungkap bahwa sebenarnya Anin dan Hilmy itu saling mengenal dulunya. Tepatnya beberapa tahun lalu, saat Anin belum menggunakan cadar seperti sekarang ini.
Dulu, Anin hanya menggunakan kerudung seperti yang airin kenakan sekarang. Namun, setelah dia bercadar, tentu membuat Hilmy tidak mengenalnya lagi. Makanya, saat di kampus, Hilmy tidak mengenali Anin.
Setahun mereka bekerja di kantor yang sama, sampai Anin memutuskan keluar dan membuka Butik, sampai akhirnya dia berhijrah dan tetap istiqomah dengan cadar yang ia kenakan sampai saat ini.
Mereka memang cocok, keduanya baik. Memang benar janji Alloh, orang baik, akan di pertemukan dengan orang yang baik pula. Seperti mereka ini.
Mungkin itu kali ya, yang membuat hubungan Airin dengan Hilmy selalu mendapat halangan, walau banyak peluang yang bisa mempersatukan mereka.
Mungkin, karena memang bukan jodoh.
“Hilmy siapa lagi?” tanya Abimanyu masih dengan nada kesal.
Airin tersenyum, “Hilmy itu yang tadi. yang makan sama kita, yang bareng sama Anin!”
Abimanyu menolehkan wajahnya pada Airin, kedua alisnya bertaut. Dia masih belum menyadari, kalau yang dia anggap sebagai Bimo itu, sebenarnya adalah Hilmy.
“Itu kan si Bimo! Hilmy gimana maksudnya?”
“Iya, yang Abi anggap Bimo itu, sebenarnya adalah Himly. Maf, Umi belum sempat menjelaskan soal itu. Dia itu Kakak sepupunya Vany, Kakak kelas juga waktu sekolah dulu. Makanya aku panggil dia Kakak! Kalau Bimo, sih, ngapain di panggil Kakak,” terang Airin.
“Terus dipanggil apa? Sayang?” ucap Abimanyu ketus. “Tapi kok, dia mandang Umi kayak gitu banget sih? Apa kalian dulunya …?”
Airin tak menjawab pertanyaan Abimanyu, dia malah menggodanya dengan alis yang di naik turunkan.
Tentu saja, itu membuat Abimanyu semakin kesal.
“Ya sudah! Kalau Abi ngambek terus, sate kambingnya bener-bener bakal jadi kolesterol tuh!” Airin melepas pelukannya dari tangan kekar sang suami. Lantas melipat kedua tangannya di dada, serta memalingkan muka.
Abimanyu yang melihat Airin ngambek, akhirnya luluh. Dia berbalik membujuk sang istri, dengan mencolek dagu imut istrinya itu.
Airin berpura-pura menepis. Membuat perasaan Abimanyu menjadi tak karuan, sehingga menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Di bingkainya wajah cantik Airin, sehingga membuatnya keduanya saling berhadapan. Di tatapnya lekat-lekat sang istri sampai ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Seketika, sebuah kecupan, mendarat dengan lembut di bibir sang istri. Terasa hangat, bahkan hangatnya sampai menjalar ke seluruh tubuh. Airin hanya bisa pasrah memejamkan matanya. Menikmati perlakuan halal dari lelakinya.