
"Pagi Pak, saya mau menyerahkan surat pengunduran diri saya. Sudah ada tanda tangan dari Pak Abi juga,” ucap Airin seraya menyerahkan selembar kertas di atas meja Pak Sis.
“Apa ini berarti, Abimanyu sudah setuju?”
Airin mengangguk pelan, lalu pamit pada atasannya itu. Dia ditawari untuk dibuatkan surat rekomendasi. Namun, sesuai dengan permintaan Abimanyu, maka Airin tidak akan menerimanya.
Flash back
“Mi, mulai sekarang, Umi gak usah kerja lagi. Abi gak nikahin Umi untuk jadi tukang masak, tukang cuci, apalagi pembantu! Abi nikahin Umi, untuk jadi istri Abi, sebagai pendamping hidup Abi!” ujar Abimanyu sebelum berangkat ke kantor. “Abi tidak suka, Umi diperlakukan seperti itu, oleh siapapun! Termasuk Pak Sis sekalipun!” lanjutnya.
“Tapi, Umi masih pengen berkarir Bi. Gak biasa cuma diem di rumah aja.”
“Umi sudah janji, akan menuruti permintaan Abi. Ok, Abi gak akan larang Umi untuk bekerja di kemudian hari, kalau Umi mau. Tapi ingat satu hal, gak ada yang boleh mengganggu Umi, berbuat jahat sama Umi, apalagi sampai merendahkan Umi!” ancamnya. “Mereka akan berurusan dengan Abi nantinya!” lanjutnya mantap.
***
“Kenapa? Ini kesempatan bagus buat kamu. Saya sendiri yang merekomendasikan kamu agar tetap bisa bekerja!” ujar pak Sis.
“Maaf Pak, tapi … suami saya tidak mengizinkan. Permisi …”
Pak Sis tertegun, tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya terdiam, pasrah melihat Airin meninggalkan ruangannya.
***
Airin mulai merapikan barang-barangnya. Sebelum jam kerja berakhir hari ini, dia sempat berkeliling ke beberapa divisi untuk berpamitan. Namun, tak ada tangis yang keluar dari mata Airin.
“Kok resign sih Rin? Kamu lagi isi ya?”
Airin hanya menjawab setiap pertanyaan dengan senyum yang selalu menghiasi bibir kecilnya.
Tepat pukul 17:00, Abimanyu keluar dari ruangannya. Tak ada kesedihan di raut muka Abimanyu. Semua nampak biasa saja.
“Rin, ayok kita pulang!” ujarnya pada Airin yang masih berpamitan pada karyawan yang lain.
Mereka terlihat sedih dengan keluarnya Airin dari perusahaan, tapi, tak sedikit juga yang merasa senang dengan hal itu.
Airin mengambil sebuah kotak di atas meja. kemudian bergegas menyusul Abimanyu, di barengi oleh Vany di sampingnya.
“Pulang bareng Van?” sahut Abimanyu sambil mendongak dari dalam mobil.
“Gak usah, Alex udah di jalan. Bentar lagi nyampe kok, makasih.”
Airin dan Abimanyu meninggalkan kantor tepat pukul 17:00. Vany melambaikan tangan pada keduanya, yang disambut dengan lambaian juga dari sepasang suami istri itu.
***
“O iya Bi, kapan teman Abi yang mau berkunjung itu datangnya?”
“Belum tahu Mi, belum ngabarin lagi ….”
“Biar ada persiapan gitu Bi, jangan dadakan.”
“Iya, nanti pasti Abi kabari.”
Airin mengganti jadwal kelas masaknya menjadi siang hari, juga menambah durasi yang tadinya hanya akan satu minggu menjadi genap satu bulan.
Banyak waktu yang ia punya saat ini, dan sebelum dia kembali bekerja, tidak ada salahnya dia melanjutkan kelas masaknya.
***
Hari ketiga, pasca Airin resign. Tepat hari senin, hari pertama di minggu ini.
“Mi … Abi berangkat ya? Jaga rumah baik-baik, kalau Umi bosen, ajak saja teman Umi untuk jalan-jalan. Belanja, apa kek!” ujar Abimanyu sambil mengelus pipi mulus Airin.
“Iya Abi … hati-hati ….”
Abimanyu mendaratkan sebuah kecupan di kening sang istri. Membuat Airin memejamkan matanya seketika. Ditatapnya lekat wajah sang istri, sebelum dia benar-benar pergi, sambil berbisik … “Abi sayang Umi ….”
Airin hanya tersenyum, pipinya bersemu merah.
“Iya … sana cepat pergi! Nanti telat loh!” usirnya.
“Kok gak dibales Mi?” Abimanyu membulatkan bibirnya manja.
“Ih … sudah sana!” Airin mendorong suaminya sampai ke mobil, membuat Abimanyu pasrah.
Dibukanya pintu mobil, masih dengan bibir yang membulat. Airin hanya tekekeh melihat mimik muka kesal sang suami. Tak menghiraukannya sama sekali.
“Bi …”
Panggilan Airin membuat Abimanyu menoleh. Dikecupnya pipi lelakinya itu dengan tiba-tiba, lalu berlari menuju pintu, dan bersembunyi di baliknya. Dengan membuka sedikir celah, Airin mengintip dari balik pintu. Dilihatnya sang suami masih berdiri di samping pintu mobil yang terbuka. Mengelus-elus pipinya, sambil tersenyum.
“Cepetan masuk mobil Bi! Hati-hati … I love you too ….” Teriak Airin dari balik pintu, lalu menutupnya rapat. Kini dia beralih mengintip Abimanyu dari balik tirai.
Abimanyu melihat kearahnya. Tersenyum, lalu melambaikan tangan. Barulah dia memasuki mobilnya dan mulai memacu kendali.
Baik Airin maupun Abimanyu, merasakan sensasi yang berbeda hari ini. Mereka benar-benar merasa seperti pengantin baru pada umumnya. Peran sebagai istri dan suami, mereka rasakan hari ini.
Walau hampir dua bulan ini, mereka juga merasakan sensasi yang berbeda, apalagi, setelah berbagi ranjang bersama. Namun, hari ini, terasa ada hal yang lain yang membuat berbeda.
***
Airin meregangkan jari jemarinya. Dimulai dengan merapikan meja makan, mencuci piring serta gelas kotor. Menyapu, pel, dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
Tidak sampai satu jam, semua sudah rapi dan bersih. Airin mendengus. Dia bingung, mau melakukan apa lagi, sampai seseorang membuka pintu rumahnya.
“Bi Ani?”
“Loh, Non kok ada di rumah? Emang gak kerja?” tanya perempuan paruh baya, yang biasa membantu Airin dan Abimanyu membereskan rumah saat mereka berangkat bekerja itu.
“Gak Bi, aku mengundurkan diri.”
“Loh, kenapa? Lagi program ya? Atau …” matanya membulat seketika.
“Belum … doain aja!” Airin tersenyum. “ O iya, semua pekerjaan rumah sudah aku kerjakan, tinggal nyuci baju aja. Sekarang, aku mau ke toko tanaman, mau beli beberapa bibit sayur. Kayaknya aku mau nanam sayuran di samping rumah Bi,” ujar Airin.
“Baik Non,” sahut Bi Ani.
Airin mengambil tas juga kunci mobil, dia berangkat menuju toko tanaman terdekat dari rumahnya.
“Rin, lagi di mana?” Tiba-tiba Suci menelpon.
“Aku lagi di jalan Ci, kenapa?”
“Di jalan mau kemana? Bukannya kamu resign? Tapi jam segini, ngantor kesiangan juga sih!”
“Bukan, aku lagi otw ke toko tanaman, mau beli bibit sayur.”
“Owh … em … anter aku mau gak?” pintanya sedikit ragu.
“Anter ke mana?”
“Em … beli kado buat Mas Hendra.”
“Ok! Kamu di mana? Aku jemput deh ….”
Airin memutuskan untuk menemani Suci membeli kado untuk pacar LDRnya itu, Hendra. Baru setelahnya ia mampir ke toko tanaman untuk membeli bibit. Sekalian beli makan siang untuk Abimanyu di mal saja. Karena kalau masak dulu, gak akan sempat.
Airin menjemput Suci di sekolah tempat ia mengajar. Kebetulan, karena sedang ada rapat komite sekolah, kegiatan belajar mengajar menjadi diliburkan. Dan beruntung, kegiatan rapat, terlaksana lebih cepat. Sehingga, Suci punya waktu lebih banyak untuk sekedar mencari kado untuk kekasihnya tercinta, yang akan berulang tahun minggu depan itu.
“Jangan lama ya Ci … hari ini pertama kalinya aku akan mengantarkan makan siang untuk Abimanyu. Kalau aku telat, bisa-bisa dia marah lagi!”
“Iya, gak lama kok. Aku udah tahu yang mau di beli apa. Tinggal nyari doang!”
“Emang, mau ngasih kado apa?”
“Em … kayaknya, dia lagi pengen jam tangan baru deh. Mudah-mudahan di mal ini ada ya, jam yang dia mau!”
“Ok, tapi nanti mampir dulu ke tempat makan, beli makan siang buat Abi!”
“Iya … iya ….”
Mereka berkeliling ke beberapa gerai jam tangan, namun, merk dengan model yang diinginkan Suci, ternyata limited edition. Dan hanya di jual di gerai resminya saja.
“Di sini kayaknya gak ada Ci, setahuku cuma ada di mal Java sih! Tapi gak sekarang ya, aku takut telat nganter makan siang!”
“Ya sudah, aku coba nyari via online dulu deh!”
“Ok!”
Setelah makan siang sudah di tangan. Airin bergegas mengantar Suci untuk pulang, lalu mempir sebentar ke toko tanaman.
***
“Pak, mau bibit sayur-sayuran dong. Yang bisa di tanam di pot. Sekalian sama tanah, pupuk dan potnya sekalian.” Ujar Airin.
“Baik Neng, tunggu sebentar ya ….”
“Langsung masukin bagasi saja ya Pak,” imbuh Airin.
Sambil menunggu pesanannya di siapkan, dia berkeliling sambil melihat-lihat beberapa tanaman bunga dan buah yang ada di sana.
Ada pohon mangga gedong yang sudah ranum buahnya, dia tertarik untuk membawanya pulang, dan menanamnya di pekarangan rumah.
“Eh Mas, saya mau sama pohon mangga itu ya, tapi yang itu minta di anter ke rumah saya saja. Bisa ‘kan?” pinta Airin pada seseorang yang tengah sibuk memperhatikan bunga lily di sampingnya.
Pria itu mendongak, tersenyum, lalu bangkit dari jongkoknya.
“Mau pohon mangga yang mana Mbak?” sahutnya.
Airin menoleh, dia terkaget saat melihat pria yang dia kira sebagai penjaga toko tanaman itu.
“Loh, Mas Angga?”
“Kenapa ya, setiap kali saya ke Bandung, kok ketemu sama kamu terus? Padahal, saya jarang-jarang loh berkunjung kemari!”
“Kebetulan aja kali!”
“Kebetulan yang aneh ya?”
“Maksudnya?”
“Ah, nggak!” pungkas pria bernama Angga itu. “O iya, sedang nyari apa?”
“Lagi nyari bibit sayur aja! Mas sendiri?”
“Em … kalau saya sih sedang mencari bibit bunga lily. Saya lihat, bunga lily di sini tumbuh subur, jadi berminat untuk membelikan buat kakak. Kebetulan, dia sangat suka bercocok tanam,” jelasnya.
“Owh … ok!”
“O iya, boleh minta nomor kamu? Maksud saya, siapa tahu saya ke Bandung lagi …”
“Neng, pesanannya mau dimasukin sekarang? Ada lagi?” teriak seseorang memotong kalimat Angga.
“Owh, iya Pak, saya ke sana. Sebentar …” sahut Airin. “Ya sudah Mas, saya tinggal ya!” Airin berlalu menghampiri mobilnya.
Angga tersenyum. Dia mengekor pada Airin.