
Airin terkejut mendengar teriakan itu. Dia meninggalkan sarapannya, bergegas menuju sumber suara.
Dilihatnya, Suci yang tengah berdiri mematung di ambang pintu toilet dengan kedua tangan yang menutupi mulutnya.
“Kenapa Ci? Ada apa?”
Suci masih terdiam mematung. Dia sepertinya melihat sesuatu yang membuatnya terlihat syok. Airin menerobos masuk ke dalam toilet, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dia tak kalah terkejutnya. Ada seseorang yang tengah terduduk di atas closet, dengan wajah tertunduk seperti orang yang tak sadarkan diri.
Airin menuntun Suci yang masih terlihat syok untuk duduk di sofa. Mengambilkannya minum, lalu kembali ke toilet.
“Heh, Restu! Bangun!” ujar Airin sambil mengguncang-guncangkan tubuh pria itu, yang sama sekali tidak terpengaruh, oleh teriakan suci yang melengking menyaingi penyanyi sopran.
Dia merespon dengan gumaman, namun matanya, masih saja terpejam. Semakin lama, Airin semakin kesal dibuatnya. Dia mengambil seember air, lalu di siramkannya tepat di atas kepala Restu.
“B*nci Be#co#g b*bi … set*n lu!!!” cercahnya seketika bangkit sambil terkaget-kaget.
Dia terus saja nyerocos tak karuan.
“Heh, ngapain sih?” tanya Airin santai.
Dia seperti mulai mendapatkan kesadarannya. Melirik kearah Airin, sambil mengusap wajahnya yang kuyup. Menarik nafas … lalu hembuskan ….
“Brrr … dingin Rin!”
“Tapi seger ‘kan? Sana, sekalian mandi, terus sarapan!” ujar Airin.
Percuma juga dia menanyai Restu dalam keadaan seperti ini. Lebih baik, dia melihat keadaan Suci. Takutnya, sahabatnya itu masih syok dengan apa yang baru saja dia lihat.
“Itu siapa Rin?” tanya Suci, saat melihat orang ada di toilet tadi berjalan menaiki anak tangga.
“Itu temennya Abi, semalam dia menginap di sini.”
“Terus ngapain dia di toilet? Aku kira dia pingsan!”
“Hehe … gak ngerti Ci. Aku suruh dia mandi dulu, nanti deh aku tanyain!”
“Ya sudah, aku berangkat ngajar deh.”
“Loh, gak jadi sarapan? Jadi tadi mau ngapain ke sini? Katanya ada yang mau diomongin?”
“Nanti saja!”
“Jangan pergi dulu lah ci, aku anter deh. Sekalian aku juga mau pergi. Bentar ya.” Airin mengambil hape , tas, juga kunci mobil di kamarnya. Kemudian bergegas pergi.
Baru saja mobilnya keluar dari pintu gerbang rumah, Airin melihat Bik Ani berjalan menuju rumahnya.
“Bik, aku mau pergi dulu ya. Di rumah ada tamu, namanya Restu. Dia temannya Abi. Terus, sarapan di meja, belum aku beresin, Restu belum sarapan. Bibik tolong rapiin nanti ya, kalau Restu sudah sarapan. Saya buru-buru nih … pamit ya Bik!” ujar Airin pada Bik Ani.
“Owh iya Non,” sahut Bik Ani.
Mobil kuning itu kembali melaju. Airin mengantarkan Suci ke sekolahannya, selanjutnya, berencana untuk mendatangi toko tanaman yang kemarin. Dia masih penasaran, siapa yang telah memberikan bunga lily itu padanya. Walau hatinya, sudah yakin pada Angga.
“Ok, Rin makasih ya,” ucap Suci setelah sampai di tempat dia mengajar. Merekapun berpisah di sana.
Airin tancap gas kembali, menuju toko tanaman.
“Permisi Pak, saya yang kemarin,” sapa Airin, berharap Bapak pemilik toko masih ingat padanya.
“Owh, Mbak yang kemarin ya? Iya Mbak, ada yang bisa saya bantu?”
“Gini Pak, soal bunga lily itu … benar gak salah kirim? Karena kemarin, saya hanya membeli pohon mangga saja.”
“Iya betul, Mbak memang beli pohon mangga. Bunga lily—nya, dipesan sama Mas … aduh, saya lupa namanya. Yang pasti, dia minta saya untuk kirim ke alamat Mbak sekalian.” Pemilik toko menjelaskan. “Kalian saling kenal bukan?” lanjutnya bertanya.
“Yang kemarin memakai kemeja putih itu bukan ya, Pak?”
“Nah, betul yang itu.”
“Owh, Bapak ada mencatat alamat, atau nomor telponnya mungkin? Saya mau mengucapkan terima kasih.”
“Nomor telponnya ada, sebentar.” Diambilkannya sebuah catatan, dari bon belanjaan yang ia catat kemarin. Lalu menyalinkannya ke secarik kertas untuk Airin.
Airin mengambil kertas berisi rangkaian nomor itu, “makasih ya, Pak.”
Diapun kembali masuk ke dalam mobil. Sambil menegemudikan si kuning kesayangan barunya, Airinpun mulai menekan nomor yang baru saja dia dapatkan.
[Assalamualaikum …] sapanya dengan mengirimkan sebuah chat.
[ … ] tak ada balasan.
“Jangn-jangan, si Bapak salah catet nomornya lagi!” gerutu Airin.
Diapun kembali ke rumah, untuk mempersiapkan makan siang untuk Abimanyu.
Mobil diparkir di car port, lalu masuk ke dalam rumah, langsung menuju dapur. Membuka kulkas, kemudian menuangkan segelas air putih dari dalam botol. Meskipun, terbilang masih pagi—jam sepuluhan, namun Airin merasa kegerahan dan haus.
“Eh, Non sudah pulang?” tanya Bik Ani.
“Iya Bik, Cuma nganter Suci aja,” imbuh Airin. “ O iya, Restu sudah sarapan? Sekarang dia di mana?” tanya—nya kemudian.
“Den Restu tadi pergi setelah sarapan, adalah setengah jam yang lalu. Tapi gak bilang mau kemana.”
“Ya sudah gak apa-apa Bik, udah gede ini. Biarin aja, he …” ujar Airin. “Saya ke atas ya, mau bersih-bersih. Di luar terik banget, baru sebentar aja, udah lengket lagi ni badan.” Airin bergegas naik ke kamarnya. Mandi untuk kedua kalinya pagi ini.
***
Badannya kini telah segar kembali. Dia berganti pakaian, lalu turun ke bawah menuju dapur. Beberapa bahan makanan, dikeluarkannya dari lemari pendingin. Dia akan meracik makan siang untuk suami, dengan tangannya sendiri. Setelah berhasil dengan sop buntut semalam, Airin semakin pede untuk meracik menu lain, yang dia rasa, akan disukai juga oleh Abimanyu.
“Ada yang bisa Bibik bantu Non?” tanya Bik Ani yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.
“Boleh Bik, tolong cuci ayam sama sayurannya ya, terus potong-potong. Saya mau bikin ayam ungkep gorenng sama urap sayur,” ujar Airin. “Jangan lupa parut kelapanya ya Bik,” lanjutnya.
“Baik, Non.”
Dengan tangannya yang sudah cukup terampil. Dia mulai meracik bahan makanan yang sudah disiapkan. Tak lupa, diapun meminta Bik Ani untuk mengicip hasil masakannya.
“Gimana Bik, enak gak? Kurang apa?” tanyanya antusias.
“Umm … sudah enak kok Non. Enak banget. Den Abi pasti lahap makannya.”
Airin tersenyum mendengar penuturan Bi Ani. Dua menu masakan yang tersaji, langsung dia pindahkan ke dalam wadah beralumunium foil. Tak lupa, buah mangga yang dipetik dari pohon yang baru dibeli kemarin, juga disiapkan untuk pencuci mulut sang suami.
“Saya siap-siap dulu ya Bik.” Dia memoleskan sedikit make up di wajahnya yang sudah terbasuh air dan sabun. Mengganti kerudung, lalu bergegas pergi.
Airin mengantarkan sendiri makan siang untuk Abimanyu. Tapi, dia tidak masuk untuk menemani makan, seperti yang dia katakan kemarin. Dia hanya menitipkan makan siangnya di reseptionis.
[Bi, aku sudah titipin makan siang kamu di reseptionis. Ayam ungkep sama urap sayur. Makan yang banyak ya, love u …. ] Ada emot kiss di akhir chatnya.
[Umi gak masuk?] balasan dengan cepat diterima Airin.
[Gak Bi, ‘kan kemarin sudah kita bahas. Itu Umi sendiri loh yang masak. Kata Bik Ani, rasanya enak. Habisin ya!]
[Umm … ok. Love u too.]
Baru saja mobil melaju, sebuah chat masuk lagi ke gawai Airin.
[Waalaikum salam …] chat dari nomor tadi. nomor yang diberikan pemilik toko tanaman.
Airin menghentikan mobilnya di pinggir jalan. membalas chat tersebut terlebih dahulu.
[Maaf, saya mendapat nomor ini dari pemilik toko tanaman.]
[Iya, kenapa Rin?]
Balasan kali ini membuat Airin menautkan kedua alisnya.
[Kok tahu, nama saya? Ini siapa ya?]
[Ini Angga.]
Benar dugaan Airin. yang memberikan bunga lily itu, pasti Angga.
[Owh, kenapa ngirim bunga lily?]
[Kayaknya lebih baik kita ketemu aja deh. Gak enak kalau bahas di chat!]
[Owh gitu ya? Mau ketemu di mana?]
[Di café Grill aja mau? Yang waktu pertaman kita ketemu.]
Sebenarnya, Airin malas untuk ketemu Angga. Apalagi harus bertemu berduaan seperti ini. Tapi, sepertinya dia tidak bisa menolak.
[Baiklah, kapan?]
[Kalau hari ini, sambil makan siang, gimana?]
Mau tidak mau, Airin meng—iyakan ajakan Angga. Dia bergegas menuju café Grill, yang ada di mal Bandung itu.