Hubby, Is A Biker Insyaf!

Hubby, Is A Biker Insyaf!
Saling curiga


Mobil-mobil, motor, dan kendaraan lainnya berebut meminta ruang untuk melaju. Padatnya volume kendaraan berbanding terbalik dengan luas jalanan yang tidak seberapa. Terkadang, kemacetan tak terelakkan bukan karena hal tersebut. Namun, karena ulah pengendara itu sendiri.


Seperti hari ini contohnya. Airin terjebak di tengah kemacetan dikarenakan jalan yang harusnya berfungsi untuk dua jalur, menjadi hanya satu jalur saja. Motor-motor yang merajai jalanan, menutup akses jalan hingga ke atas-atas trotoar. Mengakibatkan maceta yang teramat parah.


Hampir dua jam Airin terjebak dalam kemacetan, sampai beberapa petugas dengan piawainya mengurai mandegnya jalan menjadi teratur dan lancar kembali.


“Kenapa lama sekali, Rin?” Suci yang sudah menunggu sejak beberapa jam yang lalu, mulai mengintrogasi.


“He … macet Ci, harap maklum.” Sambil nyengir kuda, Airin mencoba memberi pengertian pada sahabat yang baru saja putus cinta itu. “Kamu udah baikan?” tanyanya melanjutkan.


“Heh, aku ini seorang guru. Harus pintar bermain emosi. Buat apa kita menangisi satu cowok yang jelas-jalas gak bermutu sama sekali. Rugi lah!”


Airin tersenyum melihat semangat yang kembali muncul pada diri Suci. Padahal kemarin, dia sampe nangis-nangis darah meratapi nasib cintanya yang kandas.


Hari ini, mereka akan membicarakan soal persiapan pernikahan Vany. Rumah Suci dipilih, karena mereka tahu, kalau Suci sedang dirundung duka. Jadi, mereka ingin sekalian menghibur Suci dan tidak membuat dia semakin terpuruk dengan rencana pernikahan Vany yang sudah diatur dari beberapa bulan yang lalu itu.


Tak mungkin juga ‘kan, tiba-tiba menunda pernikahan sampai Suci bisa kembali bangkit dan tegar menerima kenyataan. Namun, pada kenyataannya dia sudah pulih dengan sangat cepat. Syukurlah.


“Loh, aku yang putus cinta, kenapa kamu yang terlihat galau?” Sepertinya, Suci bisa menangkap apa yang sedang Airin rasakan.


“Ah, gak apa-apa. Cuma lagi ada yang dipikirin aja.”


“Apa? Soal apa?”


Airin melihat Suci tidak tega, tapi, dia juga ingin mengetahui lebih banyak soal perubahan para pria yang terindikasi berselingkuh. Apa mungkin benar, kalau Abimanyu menyeleweng dengan sekertaris seksi yang dikatakan oleh Vany itu? Karena, Airin sendiri tidak bisa mempercayai semuanya. Dia buka tipe pria yang mudah tertarik segampang itu pada seorang wanita.


“Apa mungkin, kalau Abimanyu selingkuh?”


“What? Kenapa bisa, kamu ngomong kayak gitu tentang suami kamu sendiri?”


Airin menceritakan runut permasalahan yang ia hadapi dan perubahan-perubahan yang Abimanyu tunjukkan beberapa waktu belakangan.


“Hm … kalau dari penuturan kamu sih, memang mirip-mirip dengan apa yang dilakukan Mahendra sebelum ketahuan.” Suci menelaah setiap kemungkinan dari cerita Airin dengan pengalaman pribadinya. “Kalau emang dia benar-benar melakukan itu, aku gak akan tinggal diam. Dua kesalahan dalam suatu hubungan yang tidak bisa dimaafkan, yaitu kebohongan dan perselingkuhan. Keduanya seperti penyakit, pasti akan kambuh di kemudian hari!” tegas Suci.


“Jadi menurut kamu bagaimana?” tanya Airin antusias.


“Ya, kita harus pastiin sendiri.”


Akhirnya, mereka berdua saling curhat-curhatan mengenai masalah yang sedang mereka hadapi. Dan melupakan, tujuan awal untuk membahas persiapan pernikahan Vany.


***


Hari sudah cukup siang. Airin pamit pada Suci dan mengatur jadwal di lain hari, untuk pertemuan berikutnya.


Airin memacu kemudi, meninggalkan rumah Suci. Namun, kali ini bukan untuk pulang ke rumahnya, melainkan pergi ke rumah Teguh.


“Assalamualaikum …” ucap Airin saat memasuki rumah dari sahabat terdekat Bimo tersebut.


Yang mpunya rumah muncul dari dalam. Dia terlihat dingin menyambut kedatangan Airin, tidak seperti biasanya.


“Ngapain lu ke sini, tumben?”


“Kok tumben? aku ‘kan udah biasa main kemari!” timpal Airin dengan bibir yang membulat. “Ok, ok. Setelah menikah, aku memang jarang main ke sini. Tapi, bukan berarti aku gak boleh main ‘kan?”


Teguh hanya memberi kode dengan matanya sebagai jawaban. Airin tahu, kalau Teguh marah padanya gara-gara semalam.


“Bimo baik-baik saja ‘kan Guh?”


“Menurut lu?” jawabnya balik bertanya. “Dia gak mau makan sejak tadi, gak tahu deh ngapain aja di kamar. Mewek kali dia!”


Airin yang baru saja duduk, langsung bangkit kembali. Dia menuju kamar Bimo.


Indera penglihatannya menangkap seorang pemuda yang tengah berbaring. Matanya menutup, dengan tangan yang di letakkan di atas kepala.


“Hai, Bim.”


Sapaan Airin membuat pemuda tadi mengerjapkan mata. Dia bangkit, mengambil posisi duduk.


Cukup lama, mereka saling diam. Hanya sesekali saling melempar tatap, namun tak ada yang berani memulai obrolan. Sampai Risma datang membawakan makanan untuk Bimo.


“Gak usah Ris, bawa lagi aja!”


“Kenapa dibawa lagi? Emang kamu gak mau makan?” tanya Airin menimpali. “Kata Teguh, kamu belum makan dari tadi pagi?” lanjutnya.


Risma yang melihat obrolan yang mulai serius, pamit meninggalkan mereka berdua.


“Gua gak laper!”


“Gak bisa. Kamu harus makan!” tegas Airin. “Masa harus aku suapin sih?”


“Emang lu mau nyuapin gua?” Pertanyaan Bimo membuat Airin mendelik. “Ok, gua mau makan, kalo lu yang nyuapain!”


Airin mengambil makanan di atas nampan, mulai menyuapi Bimo sesuap demi sesuap. Bimo makan, tapi matanya terpaku pada Airin. Terus menatap istri Abimanyu itu dengan lekat.


“Makan, makan aja! Matanya gak usah jelalatan!” seru Airin yang menyadari kalau pria yang sudah jadi mantannya itu, terus saya memandanginya.


“Masa liat aja gak boleh!”


Airin membalas pandangan Bimo. Dia cukup merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada laki-laki di hadapan. Lalu kembali fokus menyuapinya.


“Sorry, gua pikir, gua bisa nerima pernikahan lu. Tapi ternyata tidak!”


Airin hanya diam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Takut-takut, dia malah membuat Bimo kembali pada tabiat buruknya.


“Suami lu gak marah?” Bimo kembali bertanya saat melihat Airin hanya terdiam.


“Kalau dia tahu, ya pasti marah lah!” ujar Airin sambil bangkit dan berlalu ke dapur, mengambil minum. Kemudian kembali ke kamar Bimo. “Cepet habiskan makannya, aku pamit!”


Sebelum Airin berhasil bangkit, Bimo menarik tangannya. “Gua mau jadi yang kedua!”


Airin terkesiap mendengar pernyataan Bimo. “Apa?”


Wah, ini sih gila! Airin tidak bisa membiarkan ini.


“Kenapa lu kayak terkejut gitu? Gua becanda kali!” ujar Bimo kemudian melepaskan genggamannya dari tangan Airin.


Airin menarik nafas lega.


“Bikin orang jantungan aja! Ya sudah, aku pamit!”


Bimo hanya menjawab dengan sebuah senyuman.


“Guh, aku pamit ya. The Risma, aku pulang …!” Terdengar teriakan Airin dari kedalaman indera pendengaran Bimo.


Bimo menunduk. Beberapa tetes bening, terlihat berjatuhan. Namun, dengan cepat ia seka.


***


Airin kembali ke rumah. Dia melihat mobil Abimanyu masih terparkir di car port. Namun, Bik Ani yang segera menghampirinya, mengatakan kalau Abimanyu tidak ada di rumah. Dia berangkat setelah dijemput oleh Restu tadi pagi.


“Ya sudah Bik, aku mau istirahat dulu ya di kamar. Bangunin kalau Bibik mau pulang.”


“Iya Non.”


Airin sudah tidak mempedulikan lagi kelas memasaknya. Sudah dua hari ini dia absen. Mungkin, akan diakhiri saja. Mengingat, dia sudah cukup terampil meracik beberapa menu kesukaan Abimanyu—Suaminya. Sepertinya, dia akan eksplor sendiri saja menu-menu yang lain.


Airin baru bangun dan turun untuk mengambil minum. Tak lama, suara mobil Restu terdengar di depan rumah.


Abimanyu dan Restu turun, mereka melihat mobil Airin sudah terparkit di samping mobil hitam kesayangannya. Sebelum Abimanyu masuk, berkali-kali, Restu mengingatkan, untuk bersikap biasa saja. Jangan sampai Airin curiga, kalau dia sedang mencurigainya.


“Ingat Bro, bersikaplah senormal mungkin. Ok!”


Abimanyu hanya mendengus kasar. Lalu masuk ke dalam rumah, yang kemudian berpapasan di ruang tengah dengan Airin yang baru keluar dari arah dapur.


Mereka saling bersitatap. Keduanya saling menaruh curiga satu sama lain.


“Ingat Bro, bersikap normal Bro!” bisik Restu yang muncul dari arah belakang Abimanyu.