
Sementara itu di kantor,
“Bi, saya minta Wishnu untuk mencarikan karyawan baru untuk jadi sekertaris kamu. Kayaknya di bawah sudah ada deh!” ujar Pak Sis.
Sepertinya, keributan yang Abimanyu lakukan beberapa terakhir ini, membuat Pak Sis turun tangan juga. Beliau beranggapan, kalau Abimanyu stress karena pekerjaan yang menumpuk dan tidak ter—handle olehnya.
Karena memang akhir-akhir ini, Abimanyu sering marah-marah kepada karyawan lain karena kesalahan-kesalahan sepele, yang biasa Airin tangani. Sehingga Pak Sis berpikir, kalau Abimanyu membutuhkan sekertaris yang baru.
“Saya gak butuh sekertaris Pak!”
“Tapi, pekerjaan kamu banyak Bi? Gak akan ke handle!” Pak Sis mencoba menjelaskan. “Saya yakin, kamu gak akan menolak dia. Temui saja dulu ya?” lanjutnya.
“Sebelum saya meminta Airin untuk menjadi sekertaris saya, semua pekerjaan saya kerjakan sendiri ‘kan. Dan tidak ada masalah. Begitupun sekarang!”
“Ya, saya mengerti. Tapi, tidak ada salahnya ‘kan kamu temui dulu calon sekertaris baru kamu itu. Dia sudah berpengalaman menjadi sekertaris, lebih dari lima tahun. Dan tentu, dia akan sangat membantu pekerjaan kamu nantinya.”
Abimanyu tidak berkata lagi. Mau tidak mau, dia harus mengikuti apa yang Pak Sis katakan.
“Ya sudah, saya minta Pak Wishnu untuk membawanya langsung kemari saja. Biar kamu bisa meng—interview dia. Kalau cocok, kamu bisa ambil dia sebagai sekertaris kamu yang baru!”
Beliau keluar dari ruangan Abimanyu. Sementara itu, tak lama kemudian Pak Wishnu masuk bersama seorang perempuan yang dimaksudkan oleh Pak Sis tadi.
“Permisi Pak Abi,” sapa Pak Wishnu.
Abimanyu mengalihkan pandangan dari laptop kearah dua orang yang ada di hadapannya. Tak sepatah katapun terlontar dari bibirnya, tatapannya tajam mengarah pada Pak Wishnu.
[Lagi-lagi penjilat ini! apa sih maunya dia? Cari muka? Jijik!] batin Abimanyu.
“Maaf Pak, ini calon sekertaris baru Bapak. Sesuai dengan instruksi dari Pak Sis tempo hari.”
Abimanyu menatap Pak Wishnu semakin tajam. tak ada sedikitpun simpatinya pada pria paruh baya di hadapannya itu. Penjilat!!!
Pak Wishnu melihat air muka tak suka Abimanyu pada dirinya, sehingga, dia memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua untuk melanjutkan sesi interview—nya.
“Silahkan, bisa dilanjut sama Pak Abi ya.” Pak Wishnu mempersilahkan perempuan itu, untuk di—interview oleh Abimanyu. “Beliau adalah General Manager di sini.”
“Baik, Pak, terima kasih.”
Pak Wishnupun pamit dan meninggalkan ruangan tersebut.
“Kalau begitu, saya permisi.”
Abimanyu tak mengindahkan perkataan Pak Wishnu sama sekali, dia menatap perempuan cantik yang ada di hadapannya. Rambutnya panjang terurai, kulitnya putih bersih, nampak sekali hasil perawatan yang dia jalani. Body—nya yang padat berisi, namun terlihat ramping, mirip lah dengan artis ibu kota, sekelas Syahrini. Apalagi, tubuhnya itu dibalut pakaian yang super ketat, menampakkan keindahan nyata dari makhluk ciptaan tuhan yang sexy itu.
“Siapa nama kamu?” tanya Abimanyu pada wanita di hadapannya.
“Amira Pak, panggil saja saya Mira,” jawabnya menggoda.
“Kenapa kamu mau bekerja di sini?”
“Saya harus membiayai kedua anak saya Pak. Kebetulan, saya sudah berpisah dengan suami saya sejak setahun yang lalu.” Wanita itu menjelaskan sambil sesekali membenarkan posisi duduknya, dengan memainkan kancing kemeja yang seakan menegang menahan dua sembulan di dadanya.
“Kamu sudah mendengar, bagaimana saya memperlakukan karyawan yang tidak disiplin atau melakukan kesalahan di perusahaan ini? saya tidak pernah pandang bulu!”
“Saya sudah berpengalaman selama lima tahun menjadi sekertaris direktur. Jadi, saya sudah paham dengan itu semua. Bapak tidak usah khawatir, saya tahu bagaimana cara bersikap.”
“Owh, begitu? Ya sudah, kamu bisa mulai bekerja besok.” Ucap Abimanyu. “ Sekarang, kamu bisa pulang!” lanjutnya.
“Baik Pak, terima kasih.” Ucap perempuan itu gembira, kemudian menyalami Abimanyu.
Abimanyu kembali melanjutkan pekerjaannya. Terlihat jam menunjukkan pukul 15:30. Dia mengambil sebuah kertas yang baru saja keluar dari mesin print, memasukkannya ke dalam map, lalu membawanya ke ruangan Pak Sis.
Dua kali pintu ruangan diketuk, lalu dia masuk ke dalam tanpa dipersilahkan.
“Permisi Pak,” ucapnya sambil melangkah masuk.
“Hai Bi, bagaimana? Saya dengar, kamu menerima sekertaris baru itu ya?” sahut Pak Sis terlihat bersemangat. “Ya, saya juga sudah yakin, kalau kamu akan suka dengan kandidat yang satu ini. sulit memang, mendapatkan sekertaris seperti dia. Apalagi dengan pengalaman, dan pembawaannya yang sangat menarik.”
Abimanyu hanya mendengus.
“Ini ….” Disodorkannya sebuah map yang ada di tangan kepada Pak Sis. “Saya permisi,” pamitnya kemudian.
Gak sopan memang Abi!
Pak Sis terlihat heran. Dia membuka perlahan map itu. Dibacanya dengan seksama, dan ….
***
Abimanyu kembali ke ruangannya. Merapikan meja kerja, lalu bergegas meninggalkan tempat itu. Beberapa orang terlihat panik, dan berlalu lalang memasuki ruangan Pak Sis. Tak terkecuali Mbak Sum. Dia membawakan segelas air putih ke ruangan Pak Sis.
“Permisi Pak Abi …” ucap Mbak Sum tergesa.
Abimanyu tidak mempedulikan, dia melanjutkan langkahnya menuju parkiran dan melesat pergi. Tanpa bertanya, apa yang terjadi pada Pak Sis.
“Pulang cepat Pak?” sapa salah satu security yang bertugas, saat membukakan pintu gerbang untuk Abimanyu.
“Hm … iya.” Jawabnya singkat.
Beberapa kali hape—nya berdering, entah itu panggilan dari nomor kantor, nomor Nita—sekertaris Pak Sis, dan beberapa nomor lain yang dia yakini masih dari orang kantor juga. Dia abaikan semuanya. Tetap fokus pada kemudi, dan menekan sebuah rangkaian nomor yang ia beri nama Umi—ku di gawainya.
[Iya, Assalamualaikum Bi?] sapaan dari seberang.
“Umi lagi di mana sekarang?”
[Umi lagi di butiknya Anin Bi, kenapa?]
“Owh, gak apa-apa.”
Panggilan diakhiri. Abimanyu mengarahkan kemudi menuju tempat yang Airin sebutkan barusan. Dia punya rencana besar yang akan dia bagi dengan Airin sebagai kejutan.
***
“Siapa?” tanya Hilmy.
“Abi ….”
“Owh, suami kamu!” Hilmy menautkan kedua tangannya menjadi sebuah kepalan yang menjadi penyangga dagunya. “Aku salut sama Abimanyu,” lanjutnya.
“Salut kenapa?”
“Dia bisa menghempas dua pria di kehidupan kamu sekaligus!”
“Maksudnya?”
“Iya, aku dan Bimo!”
“Udah deh, jangan pernah membahas masa lalu. Mending, tatap masa depan yang sudah pasti hadapan kamu!”
“Inget gak? Waktu dulu di saat kamu sedang makan es krim di deket lapangan basket, terus gak sengaja bola yang aku lempar, mengenai kamu. Membuat es krim yang pegang, jatuh.”
“Em ….” Airin mencoba untuk mengingat-ingat kejadian bertahun-tahun yang lalu, yang baru saja Hilmy ceritakan. “Owh iya! Aku ingat. Lagi enak-enaknya tuh, eh es krimnya jatoh!” sungut Airin.
“Itu tuh, aku sengaja loh. Cuma biar bisa beliin kamu es krim baru, dan ada alasan agar kita bisa pulang bareng!” ungkap Hilmy.
“Ih, jahat banget sih! Mau beliin yang baru, tapi ngambil dulu punya aku!”
Hilmy menatap Airin lekat. Sepertinya, pria tampan itu belum bisa move on dari Airin. sebuah senyum kaku nampak di wajahnya.
“Tapi itu dulu, sekarang, justru apa yang aku punya telah diambil orang, pas lagi sayang-sayangnya.”
Eaakkkk!!!
Ucapan Hilmy membuat Airin tak bisa berkata-kata lagi. Dalem banget! Airin jadi merasa bersalah mendengarnya. Tapi, ini sepenuhnya bukan kesalahan dia. Mungkin ini memang sudah takdir. Hilmy terlalu baik, dan Airin, dia tidak sebaik itu.
Airin mengesap kopi yang sudah tinggal sedikit dalam gelas. Dia menatap kearah Hilmy yang masih menatapnya dengan lekat dan dalam.
***
Tanpa Airin sadari, Abimanyu memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. kemudian berlalu meninggalkan tempat itu.