
"Den, non Airin barusan minta Pak Ono untuk mengantarkannya pulang,” Bi Yati tiba-tiba berbisik, sebelum akhirnya suara mobil meninggalkan rumah itu, terdengar di kedalaman indera Abimanyu.
Abimanyu mendongak, mencoba melihat ke luar, walau itu tak mungkin ia lakukan di tempat dia duduk saat ini.
“Owh, ya sudah. Gak apa-apa, makasih Bi.” Jawab Abimanyu lemah.
“Kalau begitu, Bibi kembali melanjutkan pekerjaan Bibi ya Den, permisi ….” Bi Yati meninggalkan Abimanyu sendiri.
Tak ada yang bisa dilakukan olehnya saat ini, mungkin Airin kesal padanya. Dia mencoba memikirkan sesuatu, agar istrinya tidak kesal lagi. Tapi apa?
Hal yang paling Abimanyu takutkan dari istrinya itu ialah kemarahannya, karena, sama seperti Abimanyu, Airin cenderung diam kalau sedang marah.
Sampai, sebuah tangan menepuk pundak kokoh Abimanyu dengan lembut.
“Istrimu pulang?” Suara itu terdengar kemudian.
Abimanyu menoleh, wanita yang telah melahirkannya tiga puluh tahun yang lalu itu kemudian duduk di samping Abimanyu. Menatap lekat dirinya, yang terlihat kebingungan.
“Iya Mih, dia pulang duluan.”
“Mungkin, Mamih terlalu keras barusan. Mamih tahu, dia tidak bisa memasak, karena itu, dulu dia pernah minta Mamih untuk mengajarkan dia masak waktu itu. Namun, belum sempat. Hanya sekali saja, kami pernah membuat kue, selebihnya, ya, berkutat seputar tanaman.” Terang Mamih.
“Dia kayaknya kesal sama aku Mih, karena tidak jujur dengan rasa masakannya selama ini.”
“Ya sudah, kamu susul saja dia, bujuk istri kamu!” usul Mamih.
“Iya Mih, ini juga lagi mikirin, cara buat ngebujuk dia.”
“Kamu pasti lebih tahu, apa yang disukai oleh Airin.” Mamih melempar senyum, menyemangati anak semata wayangnya itu. “O iya Bi, ada yang mau Mamih omongin sama kamu, soal perusahaan!” lanjutnya.
“Nanti saja Mih, aku lagi gak mau bahas soal itu! Aku pergi ya …. “ Abimanyu bangkit. Dia meraih tangan mamihnya, lalu di kecup lembut punggung tangan itu.
“Ya sudah, hati-hati!”
Abimanyu berlalu, dia mengambil kunci mobil di kamarnya, lalu bergegas menaiki mobilnya kemudian melesat pergi.
***
“Kita mau kemana Non?” tanya Pak Ono.
“Anterin saya ke rumah teman saya saja Pak, ke jalan Dakota.” Jawab Airin.
Mereka menuju rumah Vany. Sebelumnya, Airin sudah menghubungi dua teman lainnya untuk bertemu hari ini, di sebuah café. Namun, karena masih terlalu pagi, Airin memutuskan untuk menghampiri Vany terlebih dahulu, di rumahnya.
”Jangan diambil hati, omongan Nyonya tadi Non. Sepertinya, dia hanya sedang kesal saja.”
“Saya gak marah karena perkataan Mamih tadi kok Pak, saya hanya kesal sama Abi saja. Kenapa selama ini, dia tidak jujur dengan rasa masakan saya. Padahal, kalau dia jujur, saya ‘kan bisa memperbaiki, dan tidak perlu membuat Mamih kesal seperti tadi!” Airin bersungut-sungut.
“Mungkin, karena Den Abi gak mau membuat Non kecewa dan berkecil hati. Dia hanya ingin melihat Non senang, gak mau menyinggung perasaan Non Airin.” Pak Ono tersenyum. “Gak apa-apa Non, itu tandanya dia sangat mencintai Non. Percaya deh sama Bapak!” tegas Pak Ono.
Airin mengangguk. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Pak Ono, begitu pikirnya.
Namun, tetap Airin tidak bisa menerima tindakan Abimanyu itu.
“Sudah sampai Non!” ucap Pak Ono, di depan sebuah rumah bercat putih itu. “O iya, anak saya sangat suka sayur sop. Kalau makanan tadi saya bungkus buat anak-anak saya di rumah, boleh ‘kan Non?” lanjutnya bertanya.
“Jangan Pak, nanti anak-anak Bapak sakit perut lagi!” tolak Airin.
“Gak akan Non, inshaa Alloh. Istri saya memang suka sengaja membuat makanan yang sedikit asin, agar hemat lauk katanya. jadi, nasinya yang dibanyakin, lauknya cukup sedikit saja, jadi asinnya gak kerasa. Dan akhirnya, lauknya cukup deh untuk kami semua. Maklum, anak saya banyak.” Terang Pak Ono.
Airin tersenyum mendengar penjelasan Pak Ono. Makanan yang ia buat, tidak mubajir jadinya.
“Baiklah Pak, kalau Bapak mau, bawa saja semuanya. Saya masuk ya … “ Airin tersenyum, berlalu menuju rumah temannya itu.
***
Abimanyu sampai di rumah. Dia bergegas untuk masuk, namun, pintunya masih dikunci. Dia buka menggunakan kunci serep, lalu masuk, dan memanggil-manggil Airin.
“Mi, kamu di mana? Kok pintunya dikunci? Kamu marah ya?”
“Mi, kamu ada di rumah ‘kan?” Masih tak adasautan yang terdengar.
[Kemana Airin? Apa dia pergi ke tempat lain? Atau jangan-jangan, dia pulang ke rumah orang tuanya?] batin Abimanyu.
Dilihatnya jam, sudah lewat dari jam sepuluh.
Di rogoh sebuah ponsel dari kedalaman saku celananya, kemudian menekan sebuah nomor yang sudah tersimpan di kontak.
“Halo Pak, Bapak di mana?”
[Saya sudah di rumah, Den.]
“Bapak anter Airin kemana tadi, kok di rumah dia gak ada?”
[Non Airin minta dianter ke rumah temannya di jalan dakota Den.]
“Owh, ya sudah. Makasih ya Pak.”
Panggilan diakhiri. Abimanyu tahu alamat itu. Dia bergegas menuju kesana.
Secepat kilat dia menacu mobilnya menuju tempat yang disebutkan oleh Pak Ono.
Diketuknya pintu, setelah dia sampai dan memarkirkan mobilnya di depan rumah Vany.
Setelah ketukan yang pertama, belum juga ada yang membukakan pintu. Maka, diketuklah pintu untuk kedua kalinya.
[Sebentar …!]
Terdengar sebuah teriakan dari dalam rumah.
Abimanyu menunggu, dan masih berdiri di depan pintu.
“Iya, mau bertemu dengan siapa?” tanya seseorang yang baru saja keluar dari dalam rumah. Sepertinya, dia ART rumah ini.
“Maaf Mbak, Vany-nya ada?”
“Owh, Neng Vany baru saja pergi.”
“Pergi kemana ya?”
“Wah, saya kurang tahu tuh. Dia pergi sama temannya sih … sebentar saya tanya Ibu dulu Mas?”
Perempuan itu kembali masuk ke dalam rumah.
Tak lama, seorang perempuan lain keluar menemui Abimanyu.
“loh, Nak Abimanyu toh. Ayok masuk!” Mamanya vany mempersilahkan Abimanyu.
“Saya hanya mampir sebentar Tante, cuma mau nanya. Apa barusan, Airin habis dari sini?” Tanpa berbasa-basi, Abimanyu langsung mengutarakan maksudnya.
“Iya, baru saja berangkat sama vany. Ada apa ya?” tanya Mama vany heran.
“Gak apa-apa Tante, tadi dia bilang mau kesini, saya pikir masih ada,” tanya Abimanyu dengan senyum yang tertahan.
“Tadi sih bilangnya mau ketemuan sama Suci dan Zhe, tapi gak bilang tuh kemana-kemananya.” Jelas Mamanya Vany. “Apa mau Tante telpon dulu?”
“Gak usah Tante, biar saya saja. Makasih, kalau begitu saya pamit ya. Permisi, assalamualaikum …”
“Waalaikum sallam …”
Abimanyu kembali masuk ke dalam mobil. Berkali-kali dia menelpon Airin, namun tak juga diangkat. Begitupula dengan Vany dan dua sahabatnya yang lain.
Dia kembali ke rumah, menunggu Airin pulang, yang entah kapan.
Sudah siang, namun tak kunjung juga memberi kabar.
Satu hal yang membuat Abimanyu tenang ialah, Airin mungkin sedang bersenang-senang dengan ketiga sahabatnya.