
Perlahan dia mendekat. Menghampiri Airin yang hanya berdiri mematung menatapnya, tanpa memberikan jawaban apapun.
“Maafkan Abi, Mi. akhir-akhir ini Abi sibuk dan kurang memperhatikan Umi. Sampai-sampai, Umi harus pergi dan bersenang-senang dengan teman-teman Umi.” Abimanyu berbisik di telinga Airin. Lirih.
Tangan Abimanyu meraih dagu Airin, mengangkatnya sedikit, lalu dikecupnya bibir kecil sang istri. Kecupan yang hangat dan lembut.
Seharian tidak bertemu, bagi mereka rasanya sudah bertahun-tahun lamanya. Rasa rindu yang membuncah, membuat cinta mereka semakin terpupuk dan subur.
Dekapan semakin dieratkan, kecupan Abimanyu, mendapatkan perlawanan. Menautkan asa keduanya yang menghangat.
“Mi, Abi sayang Umi.” Lirih terdengar suara Abimanyu. bertubi-tubi, dia daratkan kecupan hangat di bibir istri tercinta. Membuat gejolak dalam diri keduanya semakin terbakar hebat.
Sambil melepas kecupannya, Abimanyu berbisik. “Abi punya sesuatu untuk Umi.”
Di tuntunnya sang istri menuju halaman belakang. Banyak lampu-lampu berkelap-kelip. Lilin-lilin wangi, mengelilingi kolam renang, menambah keromantisan yang tercipta. Abimanyu memutar sebuah lagu. Mengajak sang istri untuk bergerak mengikuti alunan yang mendayu.
“Mi, ingat gak saat pertama kali kita berdansa?”
“Hm … dipernikahan Mas Fajar.”
Abimanyu tersenyum. Mereka menikmati lantunan lagu yang membawa mereka mengayunkan tubuh mereka ke kanan, dan ke kiri. Suasana malam yang dingin, membuat ide gila di kepala Abimanyu semakin menjadi. Ditanggalkannya pakaian yang membalut tubuh, lalu ….
“Kita berenang yuk Mi?”
“Apa?”
“Berenang?”
“Gak!”
“Kenapa?”
“Dingin Bi!”
“Kan ada Abi yang menghangatkan.”
“Gila!”
“Ayolah.” Dia menceburkan diri ke dalam kubangan air. “Seger Mi. Umi belum pernah nyoba ‘kan, berenang malam-malam?”
Airin tidak mau ikut-ikutan. Tidak nyebur aja, udaranya sudah dingin menusuk tulang, apalagi kalau sampai berenang! Hal terkonyol yang tidak akan pernah dia lakukan.
Dia melangkah menjauh, melambaikan tangan pada Abimanyu, hendak masuk ke dalam rumah. Sampai ….
“Mi, tolong Abi Mi!”
Abimanyu terlihat timbul tenggelam ke dalam kubangan air. Airin hanya mendengus. Paling hanya modus, pikirnya.
“Abi keram Mi, tolong …” teriaknya berkali-kali.
Airin tak menghiraukan. Dia tidak mau kedinginan secara konyol. Namun, suara Abimanyu tak terdengar lagi setelah beberapa kali berteriak meminta tolong.
Airin menoleh. Suaminya itu, tak nampak lagi di permukaan.
“Jangan bercanda Bi. Sudah, naik saja! Aku gak mau nyebur ya!” Airin kembali berbalik dan melangkah masuk. Namun, tak ada sahutan dari yang bersangkutan.
Sekali lagi Airin menoleh. Abimanyu masih belum naik ke permukaan. Airin yakin, kalau ini hanya lelucon. Tapi, kalau benar bagaimana? Ada rasa khawatir juga di hatinya.
Dia berbalik, mendekati kolam. Mendongak ke air, memastikan.
Dan ya, seperti dugaannya. Abimanyu muncul dari dalam air dan menariknya.
“Abi …!”
Hm, Airin nyemplung juga. Mereka saling menciprati air. Berkali-kali Airin mencoba keluar dari dalam kolam, namun Abimanyu terus menariknya kembali. Mendekapnya, membuat Airin lagi-lagi harus pasrah kedinginan dan basah.
Mau tidak mau, mereka harus mentransfer kehangatan satu sama lain.
***
Pagi hari, di dapur ….
“Mi, Abi kayaknya flu deh,” ucap Abimanyu dengan suara agak sengau.
Airin meracikkan the jahe untuk mereka berdua.
“Ya siapa suruh, semalam pakek acara berenang segala!”
“Abi gak pergi kerja deh hari ini,” ucapnya manja. ”Kita jalan-jalan aja yuk, nonton atau apa kek gitu?”
“Ih, katanya flu?”
“Gak kok, Cuma bindeng aja sedikit.”
“Mandi bareng yuk?” bisiknya.
“Ih … aku mau siapin sarapan!”
“Gak usah, kita nyari sarapan di luar saja. Abi gak akan membiarkan Umi bekerja hari ini.”
“Apaan sih Bi?”
“Ini adalah hari Umi sama Abi, gak boleh ada yang ganggu!”
Airin jadi teringat pada sahabat Abimanyu yang tidak kelihatan batang hidungnya pun.
“O iya, Restu kemana? Kok gak keliatan dari semalam?”
Airin berbalik. Dia melihat sang suami dengan mata membulat.
“Dia Abi suruh nginep di hotel aja,” jawab Abimanyu dengan senyum menggoda.
“Kenapa harus di hotel, ‘kan dia punya rumah sendiri?”
“Ah, Umi. Abi udah nyoba romantis, Umi malah mematahkan terus! Ngapain bahas si Restu sih,” sungut Abimanyu.
Airin terkekeh.
“Sudah sana mandi,” ujar Airin sambil sedkit mendorong Abimanyu agar menjauh darinya. “Semalam aja, aku hampir dibuat mati beku sama Abi!”
Sambil melengos, Abimanyu berujar, “tapi ‘kan Abi sudah mencairkannya!”
Dasar Abimanyu!
***
Hari itu, mereka berencana untuk menghabiskan waktu bersama. Mulai dari membuat sarapan bersama, melanjutkan menanam sayur di pot, sampai berbelanja kebutuhan bulanan.
Hal-hal kecil yang sudah jarang bisa mereka lakukan berdua.
Setalah sarapan, mereka melanjutkan dengan menanam sayur di samping rumah. Bik Ani sudah datang dan memulai pekerjaannya. Tanpa harus dikomando, Bik Ani sudah tahu apa yang harus dia kerjakan. Sehingga, tak menganggu Airin dan Abimanyu saat bercocok tanam.
“Eh, Bik, kami mau ke supermarket. Ada yang mau dibeli gak? Detergen dan yang lainnya sudah pada habis ‘kan?” tanya Airin pada Bik Ani yang sedang sibuk mencuci baju.
“Iya Non, semuanya aja dibeli karena sudah pada mau habis,” sahutnya.
Airin dan Abimnayu bersiap untuk pergi berbelanja. Mereka cukup antusias untuk melakukan kegiatan yang jarang mereka bisa lakukan bersama akhir-akhir ini.
***
“O iya Bi, tumben Pak Sis memberikan Abi izin. Biasanya ‘kan, mau pulang cpet saja gak bisa?” tanya Airin heran.
Abimanyu terdiam. Dia belum bisa mengatakan kalau dia juga sudah resign dari kantor.
“Em itu … ya bisa lah, buktinya sekarang Abi dapat cuti,” jawabnya tak jujur.
“Terus, nanti siapa yang ngurusin kerjaan Abi, kalo Abi cuti?” Airin terus saja bertanya.
Pekerjaan Abimanyu bukanlah pekerjaan yang bisa di delegasikan pada siapapun kecuali Pak Sis sendiri.
“Sudahlah Mi, kalau Abi sudah dapat cuti, berarti semuanya sudah aman dan terkendali. Yang penting sekarang, Abi bisa menebus yang kemarin dan bisa nemenin Umi.”
Jawaban dari Abmanyu membuat Airin luluh, dia bergelendotan manja di lengan kekar sang suami yang tengah mengemudikan si hitam kesayangannya.
Airin dan Abimanyu memutuskan berbelanja kebutuhan bulanan, di supermarket yang ada di mal. Biar sekalian jalan-jalan dan cuci-cuci mata. Apalagi, akan ada pameran otomotif yang diselenggarakan di mal tersebut. Acaranya sudah launching dari hari jumat kemarin. Namun, masih akan berlangsung sampai akhir pekan ini.
“Mampir dulu ke pameran ya, Mi. mumpung Abi ada waktu. Takutnya, nanti Abi gak sempet lagi.”
“Iya,” jawab Airin singkat.
Setelah si hitam diparkir, Airin menemani Abimanyu menuju pameran di lantai satu mal tersebut. Abimanyu terlihat antusias, sementara Airin melipir untuk membeli camilan. Baru sekitar tiga puluh menit kemudian, Airin kembali.
“Mi, di sini!” panggil Abimanyu saat melihat istrinya celingukan mencari dirinya.
“Udah Bi, liat-liatnya? Ada yang nyantol?” tanya Airin.
“Abi kayaknya mau nambah koleksi vespa deh,” ujarnya. “Owh iya, kenalin nih, temen baru. Ternyata, dia juga sama, pecinta vespa antik.”
Abimanyu memperkenalkan seorang teman yang baru dia temui di acara pemeran tersebut. Dia memanggil pria yang dimaksud, dan mengenalkannya pada Airin.
“Kenalin nih, Mi. namanya Garindra Bimo.” Abimanyupun memperkenalkan Airin pada temannya itu. “Gar, kenalin nih istri gua, Airin.”
Airin dan pria itu saling bersitatap. Mereka bersalaman, lalu memperkenalkan nama masing-masing.