Hubby, Is A Biker Insyaf!

Hubby, Is A Biker Insyaf!
kabar buruk


Beberapa hari sudah, Airin mengikuti kelas masak. Kini, masakannya sudah jauh lebih baik. Setidaknya, dia tahu cara membumbui yang benar, timing yang tepat saat membumbui dan juga komposisi apa saja yang bisa dia gunakan dalam sebuah menu. Hebat ‘kan?


“Masak apa Mi?” tanya Abimanyu yang sudah rapi dan wangi.


“Taraaaaa … nasi goreng special untuk Abi ….” Airin menyajikan sepiring nasi goring racikannya.


[Yah … nasi goring lagi!!! Umi … Umi ….]


Dengan terpaksa, walau dalam hati Abimanyu sudah bosan sarapan nasi goreng terus selama beberapa hari terakhir, tapi tidak apa, yang penting, rasa nasi gorengnya sudah jauh lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya. Dan tentunya, di racik dengan cinta membuat hidangan di hadapannya itu terasa nikmat-nikmat saja.


“O iya Mi, teman Abi ada yang mau datang nanti. Dia teman kecil Abi, beberapa tahun belakangan, dia menetap di Singapura, dan besok dia kembali ke Indonesia.” Abimanyu memberitahukan Airin tentang rencana kedatangan sahabatnya.


“Ya sudah, terus?”


“Ya, kayaknya dia akan berkunjung kemari ….”


“Boleh, biar Umi masak, makanan yang special untuk dia. Masakan sunda—nasi liwet. Gimana?”


“Ok, atur-atur saja sama Umi. Tapi kalau Umi butuh bantuan, nanti Abi bisa hubungi Bi Ani untuk bantu-bantu,” tawar Abimanyu.


“Gak usah, bikin nasi liwet kan gampang, Umi bisa kok.” Dengan pedenya Airin menyanggupi untuk menyiapkan makanan sendiri.


“Hmm ….”


***


“Rin, kamu sama Pak Abi diminta untuk ke ruangan Pak Sis ya,” ucap Mbak Nita—sekertaris pribadi Pak Sis.


“Owh, iya Mbak. Nanti saya sampaikan sama Pak Abi,” sahut Airin.


Setelah Nita pergi, Airin beranjak menuju ruangan Abimanyu. Tepat lima belas menit sebelum jam pulang. Tak biasanya Pak Sis memanggil Abimanyu beserta Airin. biasanya, cukup Abimanyu saja.


[Ada apa ya?] batin Airin yang jadi tak enak mendadak.


“Bi, Pak Sis meminta kita untuk ke ruangannya.”


Airin melihat raut wajah Abimanyu yang terlihat berbeda dari biasanya.


[Tak biasanya Abi merengut saat aku masuk ke ruangannya, biasanya dia akan becanda atau sekedar menggodaku.] Lagi, Airin berbisik pada hatinya.


“Ayo Bi … Pak Sis nungguin!”


“Gak usah ke sana! Kita pulang saja!”


“Loh, kenapa?”


Tiba-tiba, telpon berdering. Nita kembali menginformasikan tentang pesan Pak Sis agar Airin dan Abimanyu segera menghadap.


“Tuh ‘kan udah ditungguin, yuk?”


Dengan malas dan berat hati, Abimanyu bangkit dari singgasananya. Dia berjalan bersisian dengan Airin. Saat itu, beberapa karyawan sudah turun sebagian. Sebagian lagi, terlihat masih berbenah, membereskan meja masing-masing.


Airin yang sudah menyadari ketidaksukaan karyawan lain terhadap dirinya, mencoba mengambil jarak dari Abimanyu. Namun begitu, Abimanyu malah mengambit tangan Airin dan menjadikan mereka semakin terlihat mesra saja. Membuat karyawan yang masih tinggal, lebih iri dari sebelumnya.


Pintu dibuka. Airin dan Abimanyu masuk setelah mendapat izin dari mpunya untuk memasuki ruangan itu.


“Ayo masuk … silahkan duduk!” ucap Pak Sis pada mereka berdua.


“Ada apa ya Pak, kenapa memanggil kami kemari?” Abimanyu langsung menodong Pak Sis dengan pertanyaan.


“Langsung saja Pak, ada apa?” Lagi Abimanyu bertanya.


Airin sedikit mencubit Abimanyu dari bawah meja. bagaimanapun juga, Pak Sis adalah atasan mereka. Jadi, harus sedikit sopan dalam bertutur kata.


“Baiklah, em … ini soal peraturan perusahaan,” ucap Pak Sis terdengar ragu. “Jadi ….” Kalimatnya terpotong, saat Nita masuk dengan membawakan mereka minuman. Sekalian pamit untuk pulang, karena pekerjaannya sudah selesai.


“Ok,” jawab pak Sis pada Nita, lalu kembali lagi kepada Airin dan Abimanyu.” Jadi begini … saya mendapat laporan dari beberapa divisi. Semacam aduan,” ucapnya kemudian.


Airin dan Abimanyu bersitatap. Aduan semacam apa, yang membuat Pak Sis harus memanggil mereka secara bersamaan.


“Ini soal kalian!” Pak Sis mencoba menjelaskan.


Beberapa hari terakhir, banyak sekali aduan yang masuk dari beberapa divisi, seperti produksi, finance, HRD, dan beberapa divisi terkait lainnya. Mereka mempertanyakan soal peraturan perusahaan yang melarang sepasang suami isteri bekerja dalam satu perusahaan yang sama. Peraturan yang sudah ada, sejak perusahaan ini berdiri. Namun begitu, izin yang diberikan khusus kepada Abimanyu saat mengajukan izin pernikahan dengan Airin, yang diberikan langsung oleh Pak Sis saat itu, mulai dipertanyakan. Dan itu, jelas melanggar peraturan perusahaan.


“Saya berat untuk menyampaikan itu. Tapi, peraturam adalah peraturan. Salah satu dari kalian, harus mundur dari perusahaan. Dan saya tidak mungkin melepas kamu Abimanyu!” jelas Pak Sis.


Itu artinya, Airin harus resign dari perusahaan. Tidak ada pilihan lain. Airin sangat terkejut, apalagi Abimanyu.


“Gak perlu salah satu dari kami, karena kami berdua yang akan resign dari sini!” ujar Abimanyu seraya meninggalkan ruangan itu tanpa permisi.


Airin merasa tidak enak dengan sikap kekanak-kanakan suaminya di depan Pak Sis.


“Rin, maafkan saya karena harus mengambil keputusan seperti ini pada kalian. Tapi saya benar-benar harus mengambil keputusan. Dan soal Abimanyu, dia sangat dibutuhkan di perusahaan. Kamu mengerti ‘kan maksud saya?” Airin mengangguk. “Karena itu, saya sangat berharap banyak sama kamu, untuk mau membujuk dia agarmenerima keputusan ini,” lanjutnya.


Airin tahu betul, kalau keputusan ini, juga berat untuk Pak Sis. Dia juga mengatakan, kalau Airin tidak sepenuhnya akan meninggalkan perusahaan, tenaga dan pengalamannya tentu akan sangat dibutuhkan di pusat. Oleh karena itu, Airin akan di rekomendasikan untuk dipindahkan ke pusat.


***


Airin keluar dari ruangan Pak Sis, dia berjalan menuju ruangan Abimanyu. Namun, ternyata, Abimanyu sudah tidak ada di sana.


“Pak, apa Pak Abimanyu sudah turun?” tanya Airin pada petugas di bawah via telepon.


[Pak Abi sudah menunggu di parkiran Mbak,]


Airin turun, setelah mengambil tasnya. Menyusul Abimanyu yang sudah stand by menunggunya.


“Abi kenapa?”


“ … “


Tak ada jawaban, sepertinya Abimanyu sangat kesal dengan apa yang baru saja Pak Sis katakan. Dia memacu kemudi tidak seperti biasanya. Kekesalan tergambar pada diri Abimanyu saat itu. Bahkan, selama perjalanan pulang, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Bahkan, setelah mereka sampai ke rumahpun, Abimanyu tetap bungkam seribu bahasa.


“Bi, mandi dulu gih. Kita salat Magrib. Baru setelah itu, Umi siapkan makan malam. Setelah Isya, kita makan malam bersama,” ucap Airin yang mendapati Abimanyu yang tengah berdiri melamun di balkon kamar.


Dia masih tak mau bicara. Hanya berlalu pergi, melakukan apa yang Airin katakan. Sampai di meja makapun, hal serupa masih terjadi.


Dia menyelesaikan makan malamnya, lalu pergi ke atas. Meninggalkan istrinya seorang diri, merapikan meja makan. Airin menghela nafas dalam, setelah membereskan meja makan, Airinpun menyusul Abimanyu ke atas.


Airin kembali melihat suaminya itu hanya berdiri di balkon kamar mereka, menerawang jauh ke depan. Dia menghampiri suaminya, memeluk sang suami dari belakang, yang dari tadi hanya memunggunginya.


“Abi kenapa?” tanya Airin yang masih mendekap punggung pangerannya itu.


Abimanyu berbalik, ditatapnya lekat-lekat sang istri.


“Mi … Abi gak mau jauh dari Umi,” ucap Abimanyu lirih.


Dibingkainya wajah sang istri dengan kedua tangannya.