
Brukkk!!!
“Eeeh … kenapa dia?” Seseorang yang Airin tabrak, nampak kaget.
“Loh, Mi …” Abimanyu yang tiba-tiba muncul dari belakang pemuda yang baru saja Airin tabrak, nampak lebih kaget lagi. “Kenapa dia?” tanyanya pada pria di sampingnya.
“Kok, malah balik nanya! Gua juga kagak tahu, dia ujug-ujug lari dari dalam, terus nabrak gua! Eh, tiba-tiba pingsan!” sahutnya.
Abimanyu berdecak. Dia mencoba membopong Airin yang tergeletak di hadapannya.
“Sini gua bantu!”
“Gak usah! Jangan coba-coba buat pegang-pegang istri gua ya!”
“Dia istri lo?” pria itu menampakkan wajah heran.
Airin diboponng ke dalam rumah. Dengan perlahan, Abimanyu membaringkannya di sofa ruang tengah. Lalu bergegas mengambil sesuatu dari dalam kotak P3K.
“Mi … bangun Mi … jangan bikin Abi khawatir dong ….”
Abimanyu membuka tutup minyak kayu putih, lalu diangin-anginkan di sekitar penciuman Airin. wajahnya nampak tegang, terlihat sekali kalau dia sangat mengkhawatirkan istrinya tercinta.
Bersyukur, Airin mulai menunjukkan reaksi. Matanya mengerjap, menandakan, dia telah mulai kembali dalam kesadarannya.
“Mi ….”
Mata Airin perlahan terbuka, dengan wajah suaminya yang pertama kali ia lihat setelah tak sadarkan diri. Seketika, Airin menghamburkan tubuhkan pada Abimanyu. Membuat Abimanyu tersentak, dan hampir terpental ke belakang.
“Abi ….” Teriak Airin sambil sesegukan. Dia senang akhirnya bisa melihat suaminya. “Abi jahat ya! Kenapa ngerjain Umi kayak gitu! Untung saja, Umi gak jantungan!” Airin bersungut-sungut.
“Emangnya Umi kenapa? Abi gak ada ngerjain Umi kok.”
“Abi tadi ngumpet di mana? Umi panggil-panggil, gak nyaut-nyaut terus. Malah ngumpet aja!”
“Lah, gimana Abi mau nyaut, baru juga balik!”
“Ehem … ehem ….” Pria yang bersama Abimanyu tadi, terdengar berdehem sambil menahan tawa.
Airin melirik kearah pria yang berdehem. Dibalas dengan lambaian tangan dari pria yang datang bersama Abimanyu itu. Airin kembali melempar pandang pada Abimanyu, seolah bertanya, ‘siapa dia?’
Seperti mengerti, Abimanyupun memperkenalkan pria itu pada Airin, dan sebaliknya.
“Owh iya Mi, kenalin ini Restu! Res, ini istri gua Airin!”
Restu tersenyum, dia mengulurkan tangannya, namun, hanya dibalas dengan delikan oleh Airin. Sepertinya, dia kurang menyukai pria yang baru saja diperkenalkan oleh sang suami, sebagai sahabatnya itu.
“Jadi, tadi Abi dari mana? Mobilnya ada, tapi, orangnya entah ke mana?” tanya Airin tanpa memperdulikan uluran tangan restu.
“Jadi gini Mi, tadi sepulang kerja, baru aja beres mandi, ni anak tiba-tiba nelpon kalau dia sudah ada di bandara. Minta jemput. Dadakan banget ‘kan? Dan kebetulan dia bilang gak bawa banyak barang, jadi ya udah, Abi jemput pakek motor biar lebih cepet!” jelas Abimanyu sedetail mungkin, berharap sang istri bisa mengerti dan tidak marah lagi. “Tapi, kenapa Umi, sampai lari terbirit-birit gitu? Apa yang terjadi?” lanjutnya bertanya.
“Ini semua gara-gara Abi!” Airin menekuk wajah manisnya, membuat Abimanyu malah semakin gemes dibuatnya.
Namun, tiba-tiba restu terkekeh, membuat Airin dan Abimanyu seketika melihat kearahnya.
Melihat reaksi yang ditunjukan sepasang suami istri itu, seketika Restu terdiam.
“Ya sudahlah, Abi sudah makan belum?”
“Belum Mi …”
“Hm … kita makan dulu saja. Nanti saja Umi ceritainnya!” Airin yang hendak bangkit, tersentak oleh pecahnya tawa Restu yang dari tadi coba dia tahan sebisa mungkin. Namun, kali ini, dia benar-benar tidak bisa menahannya.
“Bwahahahahaha … gak usah kasih makan MI, si Abi memang suka nakal! Bwahahahah ….” Tawanya renyah sekali, menggelegar di seisi ruangan. “Abi-Umi! Gila … gila ….”
“Apaan sih lo Res!” Abimanyu mendelik. Dia bangkit mengikuti Airin yang sudah berjalan duluan menuju meja makan, tanpa memperdulikan ledekan dari Restu.
Airin mengambil sendok dan piring, menatanya di atas meja, bersama dengan makanan yang sudah dia siapkan sebelumnya. Walau makanannya sudah dingin, namun, tak apa, nasi panas akan sangat membantu.
Baru saja Airin menyimpan mangkok nasi di tengah-tengah meja, Restu sudah menyambar saja memindahkan beberapa centong nasi ke atas piringnya. Dan kini, tangannya beralih ke mangkuk sop buntut yang berada tepat di hadapannya.
Airin yang melihat itu, seketika mengambil centong sayur, dan tak membiarkan dia menyendok terlebih dahulu. Namun, hal itu malah membuat Abimanyu meoleh kearahnya.
“Kenapa Mi?”Airin hanya memberi kode lewat matanya.
Abimanyu yang melihat itu, menjadi terkesiap. Dia mencoba membaca kode yanag diberikan mata Airin.
[Apa mungkin, yang dimaksud Umi, adalah soal makanannya? Jangan sampe Restu nyicip makanan ini, mulutnya ‘kan ember!] batin Abimanyu.
“Eh, lo yang sabar dong. Di mana-mana itu, yang namanya tamu, harus menunggu dulu dipersilahkan tuan rumah, iya ‘kan Mi?” Dengan memberikan kode tersirat.
Airin lega, karena suaminya bisa menangkap maksudnya dengan baik. Dia mulai menyendokkan nasi beserta sop buntu itu ke piring Abimanyu. Restu hanya mendelik kearah mereka, lalu mengambil siomay goreng yang langsung mendarat di mulutnya.
Suapan pertama, Abimanyu daratkan dengan perlahan. Disusul dengan lengkungan di bibirnya.
“Em … enak Mi!” dengan semangat, dia mulai memindahkan isi piring ke dalam perutnya. Sementara Restu ….
“Ayo dimakan …” Airin mulai menyendokkan sop buntunya ke atas piring Restu.
“Akhirnya … boleh dimakan nih?” ejeknya.
Airin hanya tersenyum. Mereka baru pertama bertemu, tapi sikap Restu yang tidak sungkan dan tidak sensitif, membuat mereka menjadi cepat akrab. Dia tahu akhirnya, kenapa Restu bisa bersahabat dengan Abimanyu yang seperti itu dari kecil hingga saat ini.
[Maaf ya Res, bukannya tidak sopan. Namun, makanan ini aku siapkan khusus untuk Abi. Jadi, harus dia duluan yang icip.] batin Airin.
“Eh Bi, selera lo meningkat ya sekarang.”
“Maksud lo?”
“Udah … udah … mata lo fokus aja ke piring!” telunjuk dan jari tengahnya diarahkan pada kedua manik matanya, kemudian beralih ditujukan pula ke sepasang mata Restu bergantian. Memberi arti kalau dia memperhatikan gerak gerik Restu.
Tak rela sepertinya, sang istri tercinta menjadi sasaran mata keranjang sahabatnya.
Sebucin itu … Abimanyu terhadap Airin.
“Aduh Umi … si Abi nampaknya marah nih! Bwahahahah ….” Lagi-lagi Restu meledek mereka. “Gila, seorang Abimanyu … eh, maksud gua Abi … gak nyangka gua!” lanjutnya berdecis.
“Eh, makanya nikah! Biar tahu rasanya gimana! Awas aja ya, kalau lo nikah nanti terus manggil-manggil istri lo sayang embeb atau semacamnya, gua viralin lo!” tegas Abimanyu.
“Sorry ya, gua mah bukan budak cinta kayak lo!” mereka berdua beradu tatap, saling tak mau mengalah.
Airin yang melihat itu, hanya menggeleng. Dia membereskan piring-piring bekas makan ke dalam washtofel. Dia senang, karena makanan yang dibuatnya kali ini habis tak bersisa.
Kamar tamu sudah rapi. Bisa digunakan oleh Restu menginap malam ini. Airin melihat kedua sahabat itu dari balkon atas, membiarkan mereka bermain PS sepuasnya. Sementara dia, masuk ke kamar tidur.
Entah pukul berapa, Airin terbangun. Dia mendapati sang suami sudah terlelap di samping dengan tubuh mendekap dirinya.
***
“Bi, Restu sudah bangun?”
“Kayaknya belum deh Mi, dibangunin buat salat subuh aja susahnya minta ampun!”
“Kenapa gak dibangunin aja, biar bisa sarapan bareng?”
“Biarin—lah, dia emang kayak kebo kalau tidur. Nanti juga bangun-bangun, langsung ke dapur!”
Airin menatap sang suami lekat. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.tapi, tak enak juga untuk mengatakan kepada suaminya itu.
“Kenapa Mi?” Abimanyu seperti tahu kegelisahan sang istri.
“Em … Abi berangkatnya kalau Bi Ani sudah datang ya?” ucapnya pelan.
“Kenapa? Bi Ani ‘kan datangnya suka jam sembilanan Mi, paling cepet jam setengah sembilan juga sudah datang.”
“Iya …” Airin tidak memberitahukan alasan akan permintaannya itu. Dia dan Restu ada dalam satu rumah, dan mereka bukan mahrom.
Drrrrr … drrrrr ….
Hape Airin bergetar, ada panggilan masuk.
“Halo, Assalamualaikum … iya Ci?”
[Rin, aku mampir ke rumah ya? Suami kamu sudah berangkat belum? Aku sudah deket ni ….]
Kalimat itu membuat Airin sedikit lega. Suci mau berkunjung pagi ini.
“Iya, cepetan ya ….”
“Itu Suci? Dia mau kemari?” tanya Abimanyu.
“Iya Bi, dia mau mampir sebentar sebelum ngajar katanya … kebetulan, dia ngajarnya agak siang.”
“Ya syukurlah kalau begitu ….”
***
“Assalamualaikum ….”
Airin langsung menuju pintu, dia tahu siapa yang datang.
“Waalaikum salam … masuk Ci! Udah sarapan belum?”
“Udah sih … “
“Hai Ci … “ sapa Abimanyu yang tiba-tiba keluar dari ruang makan. “Ya sudah, Abi berangkat ya Mi ….” Dikecupnya pucuk kepala sang istri.
Airin mengiringi langkah sang suami sambil membawakan tas kerjanya, sampai ke mobil. suci terlihat iri melihat kemesraan mereka.
“Duh … duh … duh … ada tamu nih, jangan bikin iri dong pagi-pagi!”
Spontan hal itu membuat Airin dan Abimanyu terkekeh. Suci membulatkan bibirnya.
“Ya sudah … Abi berangkat ya. Love you ….” Sekali lagi Abimanyu mendaratkan kecupan mesranya, di kening Airin.
“Hati-hati … love you too ….” Balas Airin setengah berbisik.
“Pepet teruusss ….”
“Yey, ada yang sirik Bi. Kakandanya jauh sih …” ledek Airin.
Abimanyu hanya tersenyum menanggapinya. Kemudian berlalu pergi.
***
Airin dan Suci kembali masuk ke dalam rumah. Mereka menuju ruang makan untuk sarapan. Suci yang sebelumnya mengatakan sudah sarapan, nyatanya malah ikut melanjutkan sarapan dengan Airin.
“Katanya udah sarapan?”
“Malu … tadi ‘kan ada suami kamu, hehe …” ujarnya. “Eh, aku ikut ke toilet ya.”
suci bergegas menuju toilet yang berada tepat di bawah tangga. Karena kebetulan, toilet yang di samping dapur, sedang rusak. Namun, tak lama setelah dia pergi, terdengar teriakan dari arah toilet.
“AAAaaaaaaaaa …!!!”