
Dengan tergesa Airin membuka bagasi mobil. dia ikut mengamati, apa saja yang dimasukan ke dalam bagasinya itu.
“O iya Pak, saya mau juga ya, pohon mangga gedong yang deket bunga lily. Yang buahnya sudah ranum. Tapi, dikirim ke alamat saya bisa ‘kan? Soalnya, saya mau ke kantor suami saya dulu sekarang. Lagian ‘kan, gak akan muat kalau di bagasi saya,” terang Airin pada pemilik toko.
Angga, yang mengekor pada Airin, spontan menghentikan langkah saat mendengar kalimat terakhir yang Airin ucapkan. Sepertinya, Angga sebelum itu, dia sudah memiliki ketertarikan pada Airin.
Airin berbalik ke belakang, dia merasakan seseorang yang memperhatikannya. Dia teringat pada Angga yang dia tinggal begitu saja. Lalu kembali ke tempat mangga tadi, namun dia sudah tidak ada di sana.
“Hm … sepertinya dia sudah pergi. Ya sudahlah!” Airin menuju meja kasir, membayar semua belanjaanya termasuk pohon mangga yang ia mau.
“Kirim ke alamat ini ya Pak, nanti di sana ada yang nerima namanya Bi Ani, saya cantumkan juga nomor telpon saya di sini,” terang Airin.
Dia menelpon rumah, dan bicara dengan Bi Ani. Menjelaskan, kalau akan ada kiriman pohon mangga ke rumah. Meminta Bi Ani untuk menunggu dan menerimanya nanti. Airinpun melanjutkan perjalanan menuju kantor.
Sampai di depan gerbang kantor, dia mengklakson beberapa kali. Seorang security, menghampirinya. Airinpun, membuka kaca jendela.
“Siang Pak, saya mau ketemu sama Pak Abi,” ucap Airin pada Pak Amin.
“Eh, Mbak … silahkan Mbak ….”
Pak Amin membukakan pintu gerbang untuk Airin dan mempersilahkannya masuk. Ini, kali pertama Airin datang bukan sebagai karyawan. Rasanya pasti aneh, tapi mau bagaimana lagi!
Diambilnya lunch box yang sudah ia siapkan untuk Abimanyu. Berjalan masuk menuju lobby kantor. Pintu kaca itu terbuka, ada Mbak Krista di meja resepsionis, terlihat dari sana.
“Mbak, saya mau ketemu sama Pak Abi!” ujar Airin pada sang resepsionis.
“Eh, Airin? kamu ke sini?”
“Iya, aku mau ketemu Pak Abi, bisa?”
“Ya bisa lah … masa enggak! Tunggu sebentar!” Dia mengambil gagang telepon lalu menekan nomor di sana.
“Halo, siang Pak, ada yang mau ketemu, Airin ada di bawah,”
[]
“Owh, maaf Pak. Maksud saya, Ibu Airin ada di bawah,” ucapnya melemah.
[]
“Baik Pak.” Telpon ditutup. Raut wajah Mbak Krista, seketika berubah. Entah apa yang dikatakan Abimanyu di telpon sana. Tak terdengar jelas oleh Airin.
“Langsung naik saja Bu Ai—rin ….” Terdengar jelas kegagapan yang mendadak pada bibir Mbak Krista. Dia seperti ragu untuk berucap.
“Owh, begitu. Ya sudah, saya langsung ke atas ya?” jawab Airin dengan senyum terkembang di bibir.
Airin menapaki setiap anak tangga menuju lantai dua gedung itu. Tangga yang biasa ia pijak hampir setiap hari, kini terasa asing baginya. Namun demikian, dia tetap bersikap senormal mungkin.
Sampai di lantai dua, dia melihat karyawan yang dulu menjadi rekan kerjanya, masih sibuk dengan pekerjaan mereka, padahal waktu sudah masuk jam makan siang.
“Siang semua ….” Sapa Airin yang spontan membuat ruangan berkubikel itu, senyap seketika. Berpasang-pasang mata seakan dikomando, langsung terarah padanya. Airin hanya tersenyum dan sedikit menautkan alisnya, melihat reaksi yang mereka tunjukkan. Mereka seperti sedang dirundung ketegangan saja.
[Ada apa dengan mereka? Kok kayak liat hantu sih! Aneh!]
Airin menatap pintu kaca, yang ada di hadapannya. Menarik nafas dalam, dan menghembuskannya perlahan. Diketuknya pintu itu, lalu masuk tanpa menunggu dipersilahkan yang mpunya.
“Siang Pak …” sapanya sambil memperlihatkan lunch box yang ada di tangannya.
“Ah, akhirnya datang juga. Abi sudah lapar tahu!” sahut Abimanyu.
“Owh, Cuma nungguin makanannya saja. Akunya enggak …” goda Airin.
Abimanyu bangkit menghampiri wanita yang sudah ia tunggu dari tadi. Direngkuhnya sang istri sambil berbisik, “bohong, kalau Abi gak nungguin Umi ….” Kalimatnya membuat Airin menampakkan muka geli.
“Apa sih Bi … mulai deh! Genit!”
“Loh, kenapa? Genit sama istri sendiri kan wajar, daripada genit sama wanita lain ‘kan? Emangnya Umi mau, kalau Abi genit-genitan sama wanita lain?”
“Bodo! Weeekkk …!” Airin menjulurkan sedikit lidahnya.
“Bener ya, jangan nyesel loh!”
Airin membulatkan matanya, disambut oleh senyum sedikit nyengir dari Abimanyu.
Mereka duduk di sofa yang biasanya digunakan untuk tamu suaminya itu. Membuka satu persatu makanan yang ia bawa.
“Masak apa Mi?”
“Gak Masak Bi, tadi beli karena takut gak keburu. Umi bawa lunch box dari rumah, makanannya … beli. Hehe ….”
“Gak apa-apa, yang penting Umi yang sajiin. Sama saja.”
“O iya Bi, kok aku ngerasa aneh ya. Apa karena aku datang bukan sebagai karyawan kali ya? Jadi kelihatannya, kayak gimana gitu.”
“Aneh kenapa? Apa ada yang mengganggu Umi? Siapa, bilang sama Abi?”
“Bukan itu. Maksud aku, suasana di kantor kok jadi beda gitu loh Bi. Kayak tegang gimana gitu ….”
“Owh … perasaan umi aja kali. Kantor aman terkendali kok. Gak ada yang perlu Umiku khawatirkan. Mending, sekarang kita makan saja ya, Abi sudah lapar ….”
Abimanyu menelpon Mbak Sum untuk membawakan dua buah piring, dan juga minum untuk mereka berdua.
***
“Alhamdulillah kenyang! Besok datangnya jangan terlalu siang dong Mi ….”
“Bi, kayaknya, ini pertama dan terakhir deh Umi nganter makan siang buat Abi!”
“Loh, kenapa?”
“Ini kantor Bi, bukan rumah kita. Umi, hanya ingin menciptakan suasana kondusif saja di kantor. Jangan sampai, gara-gara ini, menimbulkan masalah baru nantinya. Kita gak bisa seenaknya Bi!”
Wajah Abimanyu terlihat merah padam. Ada sebuah amarah yang dia simpan. Namun, tak mungkin dia keluarkan di sini. Airin melihat perubahan air muka Abimanyu yang tiba-tiba.
“Abi gak apa-apa ‘kan?”
“Hmm ….”
“Kita bicarakan nanti di rumah ya? Umi pamit.”
Airin keluar dari ruangan itu. Lagi-lagi, pandangan orang-orang yang ada di ruangan itu tertuju padanya, namun saat Airin membalas tatapan mereka, seketika itu juga mereka menurunkan pandangan. Hanya Vany yang saat itu melihatnya, langsung menghamburkan diri kepelukan Airin.
“Hey, kapan datang? Kok gak bilang sih?”
“Cuma mampir doang, nganterin makan siang buat suami tercinta!”
“Cie … pengantin baru kita ini, kayaknya gak mau deh pisah bentaran aja! Padahal, di rumah juga nanti ketemu lagi! Lebay deh kalian!”
“Hush … enak aja! Anterin aku sampe bawah yuk!”
Airin meminta Vany untuk berbincang dengannya sebentar, dengan dalih, mengantarkannya ke parkiran.
“Gitu Rin … makanya suasana kantor jadi tegang. Tahulah kamu, bagaimana rasanya. Kayak awal-awal kita bergabung di sini!” ujar Vany menjelaskan.
Airin mendengus. Dia tak tahu, kalau akhirnya akan menjadi seperti ini. Pantas saja suasana kantor terlihat berbeda dari biasanya.
“Ya sudahlah Van, aku pulang dulu. Berkabar saja ya, kalau ada sesuatu yang terjadi …” imbuh Airin.
“Ok, hati-hati ya ….”
Airin memasuki mobil mini berwarna kuning miliknya. Kemudian melesat meninggalkan tempat itu.
***
Airin sampai di rumah. Dia melihat, pohon mangga yang ia beli tadi, sudah ada di halaman rumahnya.
“Non, sudah pulang? Itu pohon mangga sama bunganya sudah datang. Kalau begitu, Bibi pamit ya Non. Semua sudah selesai.”
“Bunga? Bunga apa Bi?”
“Gak tahu bunga apa, Bibi gak tahu namanya. Yang itu-tuh,” tunjuk Bi Ani pada bunga dalam pot di samping pohon mangga.
“Ya sudah, terima kasih ya Bi ….”
[Perasaan, aku gak pesan bunga lily, hanya minta minta kirim pohon mangga saja! Jangan-jangan salah kirim lagi?] gumamnya dalam hati.
Airinpun mencoba mengkonfirmasi ke toko tanaman yang tadi. Dia menelpon nomor yang tertera di nota pembayaran. Namun, pemilik toko mengatakan, kalau itu pesanan lain yang ditujukan ke alamat Airin.
“Pesanan atas nama siapa Pak? Takutnya salah kirim loh?”
“Gak salah kok, bener ke alamat itu. Tadi orangnya sendiri yang bilang begitu,” terang pemilik toko.
[Siapa ya?]
Airin teringat pada Angga yang tadi sedang melihat-lihat bunga lily. Apa mungkin dia?
“Ah sudahlah!”
Airin mulai bersiap untuk mengikuti kelas masaknya hari ini. Namun, sebelumnya, dia menelpon Suci. Dia kepikiran juga untuk mengantarkannya ke mal Java untuk mencari kado yang belum didapatkan di mal Bandung tadi.
“Sempet gak kamu Rin, kalau ke mal Java dulu? Jam berapa kelasnya dimulai?” tanya Suci khawatir.
“Masih lama, kelasnya dimulai jam empat sore kok. Nyantai aja!”
“Ya sudah, jemput di rumah ya? Makasih loh …”
“Iya, nyantai aja. Aku kan sekarang pengangguran. Waktuku banyak! Hehe ….”
“Ok, ok!”
Setelah siap, Airin menjemput Suci di rumahnya. Merekapun melesat menuju mal Java. Dan langsung menuju gerai jam tangan dengan brand original SA. Suci terlihat antusias melihat-lihat, sementara Airin, melipir ke toilet.
“Ci, aku ke toilet dulu ya, kebelet.” Dia berjalan menuju toilet, dengan tergesa.
Airin merasa kalau ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Namun, saat berbalik, tak ada siapapun yang mencurigakan.
“Ah, mungkin hanya perasaanku saja!” Diapun melanjutkan langkahnya menuju toilet.
***
“Mi, di mana?”
“Umi lagi di mal Java Bi, nemenin Suci beli kado, buat pacarnya.”
“Owh!” telpon di tutup.
Airin terheran. Ini sudah kali kelima Abimanyu menelpon dia setelah Airin pamit untuk pulang setelah makan siang di kantor tadi. Dia merasa, kalau Abimanyu menjadi agak posesif padanya.