COLD FLOWER (Will Bloom Again)

COLD FLOWER (Will Bloom Again)
PERMAINANNYA


Pagi itu ku habiskan dengan menunggu di kamar,rumah ini nampak sepi saat dia pergi bekerja seperti tak ada aktifitas manusia didalamnya.


Aku terduduk di sofa dekat jendela yang menghadap ke halaman utama dengan taman yang luas.


Rimbunnya pepohonan seakan menutupi pintu gerbang utama,sama sekali tak terlihat dari tempatku duduk.


Otakku kembali menerawang jauh,mengingat masa - masa penuh kebahagiaan bersama Robin.


Aku mencintainya walau dia berlaku kasar padaku.Janjinya yang akan selalu bersamaku membuatku terenyuh dan buta dari logikaku sendiri.


Di besarkan di sebuah panti bukanlah hal yang mudah.Beberapa orang sempat mengadopsiku,tapi mereka tak berlaku tulus dan malah menyakitiku.


Di umur yang sangat belia aku bahkan harus merasakan tajamnya pisau bedah karena tulang punggungku yang patah.


Entah kapan itu dimulai,tapi ketika melihat kekerasan di depanku aku merasakan serangan panik.


Mungkin karena itu,aku begitu mudah jatuh cinta pada Robin yang bermulut beracun tanpa tahu dia hanya seekor ular berbisa yang memanfaatkanku.


Robin bahkan tahu latar belakangku,serta trauma masa kecilku.Tapi dia tetap berlaku kasar bila aku membuatnya marah


Bodohnya aku...


Seandainya saja aku menikah dengan orang tepat mungkin umur anakku dulu tak sesingkat itu.


Aku meremas jari - jariku sendiri,merasakan penyesalan tak berujung...


Ketukan pintu mengembalikanku ke waktu saat ini...


Aku beranjak dari sofa dan membukakan pintu,seorang gadis pelayan tersenyum ramah padaku.


"Nona ... Tuan menitipkan sesuatu untuk nona"


Dia menyodorkan sebuah kotak padaku,aku meraihnya dan gadisku membungkuk hormat langsung meninggalkanku.


Ku tutup kembali pintu kamar sambil memandangi kotak itu lalu membukanya,sebuah smartphone keluaran terbaru dan ada sebuah note kecil tertempel di atasnya


"Ini fasilitas kerja,gunakan dengan baik!"


Aku membukanya dan mulai mengaktifkannya,tak lama berselang sebuah pesan singkat masuk


"Antarkan aku makan siang ke kantor sekarang!"


Pandanganku langsung tertuju pada jam yang ditunjukan di smartphone,ternyata sudah mendekati makan siang.


Aku membawa smartphone itu sambil keluar dari kamar,mencari - cari seseorang untuk aku tanyai dimana letak dapur rumah ini.


Sampai di ruang utama ruang itu,aku bertemu dengan koki itu di nampak membawa sebuah kotak bekal.


"Ahjussi,itu untuk tuan muda?"


Aku mendekatinya


"Benar nona"


dia menyodorkan kotak bekal itu dan aku meraihnya


"Ahjussi,siapa namamu?"


Aku menahan kepergiannya dengan pertanyaanku


Aku bahkan hanya mengenal sekretaris Kim yang bahkan tak kulihat batang hidungnya,akan lebih baik kalau aku mengenal semua yang bekerja disini bukan?


"Nona bisa memanggil saya Chef Jo"


Dia nampak seperti pria paruh baya yang tegas dan displin terlihat dari cara berbicara dan berjalannya.


"OK ...Chef Jo, bisa kah anda hanya memanggil saya Hana?saya hanya asisten pribadi Tuan Min Jun disini..."


Dia tersenyum tipis


"Maaf Nona kami yang bekerja disini diperintahkan untuk memanggil anda Nona Hana "


Aku mendesah,tak puas dengan jawaban Chef Jo.


"Oh ya ,Nona sudah di tunggu Ha neul di mobil untuk mengantarkan makan Tuan"


Dia membungkuk hormat dan berlalu


Aku keluar dan melihat sebuah mobil dengan drivernya sudah menunggu.


Ha neul wanita muda yang cantik,namun tinggi badannya menampakan dia bukan wanita yang lemah.


Rambut hitamnya terikat rapi ke belakang,lengkap dengan baju ala body guard yang membalut tubuhnya.


Aku melempar senyum padanya dan langsung di sambut hormat,dia membukakan pintu mobil itu untukku.


Di dalam mobil,Ha neul tak berbicara sepatah katapun.Dia nampak sudah tau dan mengerti harus mengantarku kemana.


"Ha neul..."


aku membuka suara memecah keheningan itu


"Ya Nona ..."


jawabnya di balik kemudi


"Apa jaraknya jauh dari sini?"


mencari - cari topik apa yang pas untuk kami bicarakan


" lima menit lagi kita sampai di tujuan,Nona"


Aku menganggukan kepala sambil memikirkan apa yang harus aku tanyakan,tapi dia melirik sekilas ke arah kakiku yang terbalut sandal rumah di belakangnya.


"Nona,ukuran kaki nona kecil saya tidak bisa meminjamkan sepatu saya apa tidak apa masuk memakai itu?"


Aku menatap sandal itu,baru menyadarinya...


"Tak apa ... lagi pula aku hanya mengantarkan makanan,aku tak membawa apapun ke sini"


Ha neul tak berbicara lagi sampai kami tiba di tujuan.


Dia tergesa membuka pintu mobil yang hampir terbuka sempurna olehku,aku menatapnya sambil memegangi kotak bekal itu.


" Ha neul bisakah kita bertindak santai ?Aku agak canggung..."


Dia membungkuk hormat


"Maafkan saya Nona,Tuan muda memerintahkan saya untuk melayani anda seperti saya melayaninya."


jawaban yang sama


Aku menghela nafas seraya meninggalkannya masuk ke dalam kantor.


"Seperti melayaninya ?! Aku hanya asisten pribadinya,kenapa juga dia menyuruh semua orang untuk memperlakukanku seperti dia"


cecarku dalam hati sambil masuk ke dalam lift tanpa melihat sekelilingku.


" Hana !"


suara yang ke kenal terdengar dari sebelahku


Aku menengok dan terkejut melihat siapa yang berdiri di sebelahku


"Jin Ho sunbae ?!"


Dia tersenyum cerah menatapku


"Kenapa kau tak membalas pesanku?aku sungguh khawatir padamu !!!!"


Dia memelukku


Rasanya memang hanya dia teman kantorku dulu,bahkan di smartphoneku hanya ada kontaknya.


Dia melepaskan pelukan,masih memegangi lenganku.


" Lalu ? kenapa kau disini?"


Dia menatap kotak bekal ditanganku,heran


"Aku mau mengantarkan makan siang Tuan Min jun "


ucapku jujur


"Apa? "


Dia mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti


"Panjang ceritanya sunbae,yang pasti sekarang aku bekerja sebagai asisten pribadinya"


jelasku


"Dari rumor yang beredar bukannya dia tak suka kalau ada yang menemaninya makan selain mendiang Ayahnya?!"


aku menggelengkan kepala,aku bahkan baru mendengar rumor itu dari mulut Jin Ho sunbae tadi.


Lalu dia memelukku lagi,kali ini lebih erat dari yang pertama hanya terhalang kotak makanan itu


Dia mengelus punggungku lembut


Aku ingin melepaskan diri dari pelukan itu,rasanya kami tak begitu dekat hingga pantas berpelukan seperti ini.


Belum lepas pelukan Jin Ho sunbae,pintu lift terbuka.


" ehemm!!!"


Suara berdehem tak natural itu membuat Jin ho sunbae melepaskan pelukannya,aku terkejut melihat siapa yang melihat siapa yang menyaksikannya.


Jin Ho sunbae memberi hormat tanpa rasa bersalah,dan berlalu meninggalkanku.


Aku melangkahkan kaki keluar dari lift,dia menatapku dingin bahkan terkesan ada kemarahan yang meluap.


"Tuan,makanan anda sudah datang"


dia tak bergeming


"Tunggu di ruanganku "


Lalu dia berlalu ke lift executive di sebrang lift yang ku pakai tadi,diikuti oleh sekretaris Kim.


Aku masuk ke ruangannya,ruangan yang sebelumnya ku pikir terakhir kaliku lihat.


Ku simpan kotak makan di meja yang ada di seberang meja kerjanya,lalu aku mengedarkan pandanganku dan duduk di sofa hitam itu.


Tak lama,dia datang dengan langkah tergesa diikuti sekretaris Kim yang langsung menyimpan segelas jus di sebelah kotak makan,sekretaris Kim langsung keluar ruangan tanpa berkata apapun.


Dia duduk di sampingku,aku langsung membuka kotak makanan itu.


Saat aku akan menyuapinya dia mengatup mulutnya rapat masih dengan raut wajah marah,aku menurunkan sendok dan meletakannya di kotak makan.


"Tuan apa saya melakukan kesalahan?"


Dia terdiam sejenak


"Aku tak suka kalau barang milikku di sentuh orang lain"


Aku menatapnya bingung tak mengerti maksud ucapannya


"Kotak makan ini hanya saya dan chef Jo yang memegangnya Tuan"


Dia masih menatapku marah,artinya bukan itu barang yang dia maksud.


"Apa kau sedekat itu dengannya?sampai berpelukan di lift?!"


Aku baru menangkap maksudnya sekarang


"Maaf Tuan ,Jin Ho sunbae hanya mengkhawatirkan saya karena saya tidak membalas pesannya"


aku menjelaskan apa adanya


Tapi raut wajahnya malah semakin marah,aku menggigit bibirku menahan rasa takutku dari tatapannya yang tajam


Dalam sekejap,dia ******* bibirku sedikit kasar...


Aku terkesiap bukan kepalang,tanganku mendorong tubuhnya agar menjauh tapi sia - sia,tenagaku kalah jauh dengannya.


Dia ******* habis bibirku sambil merengkuh tengkukku,aku hampir kehabisan nafas saat dia melepaskan ciumannya.


"Tuan!"


Saat tanganku melayang ke arah pipinya dia menangkis dengan cepat dan mencengkram lenganku.


"Itu barusan hukuman karena kau sudah disentuh oleh orang lain selain aku"


aku berusaha melepaskan cengkramannya namun lagi-lagi percuma


Dia menyeringai dan memegangi daguku lalu mengarahkan wajahku mendekati wajahnya.


Darahku mengalir deras keseluruh wajah dan suhu panas menjalar dipipiku


"Dan ini hukuman karena kau berusaha melawan dan menamparku"


Dia kembali ******* bibirku,namun kali ini lebih lembut dari sebelumnya cengkraman tangannya kini beralih ke telapak tanganku.


Seperti terhipnotis,darahku berdesir melihat dia menciumku lembut sambil memejamkan matanya seakan menikmatinya .


Dia melepaskan ciumannya dengan nafas memburu


"Tuan,ini bukan bagian dari kontrak kerja!"


Aku lagi - lagi berusaha melepaskan cengkraman tangannya


"Kau selalu melupakan poin penting kontrak itu 'AKU ADALAH ATURANNYA'!"


Dia menatapku lagi dengan tatapan tajamnya,aku beringsut mundur sebisa mungkin.


"Aku juga sudah menyuruhmu untuk tidak menggigit bibirmu sendiri,atau..."


Dia tak melanjutkan kalimatnya,malah kembali menyerangku dengan ciumannya yang lembut sambil menggigit bibir bawahku sedikit kuat


Dia mundur dari posisinya sedikit setelah melepaskanku kembali.


"Keadaan macam apa ini?Apa aku sudah masuk perangkap singa ?!"


Aku mengatur nafasku yang memburu


Dia menempelkan ibu jarinya di bibirnya sendiri yang masih terlihat lembab.


"Aku suka bibirmu yang manis itu"


Dia tersenyum puas


Aku makin beringsut mundur tak ingin dia mengulangi serangannya.


"Bagaimana kalau kau jadi istriku saja ?"


dia menatapku yang terperangah dengan pertanyaannya


Aku tak tahu harus menjawab apa,tapi ini bukan sebuah lamaran kan???


Mungkin aku akan menendangnya dan melaporkan pada polisi karena dia telah melakukan pelecehan seandainya bukan dia orang yang menyelamatkanku dari Robin.


Sedari awal memang mengganjal di hati kontrak kerja yang dia buat dengan aturannya sendiri,tapi aku tak menyangka dia malah memintaku menjadi istrinya,dia pasti sedang bercanda !


"Jangan permainkan saya Tuan!"


Dia berdiri dan membelakangiku,nampak kekesalan dari bahasa tubuhnya.


"Maafkanku telah mempermainkanmu! pulanglah !"


nadanya tinggi menggelegar ke sudut ruangan


Rasanya ingin menangis,mataku membendung sebisa mungkin air mata yang akan jatuh di pipi tapi gagal


Perasaan di permainkan dan dilecehkan melukaiku


"Tuan,saya tahu saya hanya seorang wanita dengan status janda dan saya sebatang kara disini.Tapi tolong hargai saya,saya hanya ingin bekerja dengan baik untuk anda,jangan membuat saya merasa di rendahkan seperti ini lagi,saya mohon !"


Ucapku setengah terisak sambil meninggalkannya yang tak berbalik sedetikpun.


Aku menuruni tangga darurat sambil terisak,aku tak ingin orang lain melihatku menangis seperti ini.


Dia benar - benar membuatku seperti mainan,aku tak keberatan jika dia bertingkah saat menyuruhku memakaikan baju bahkan menyuapinya.


Tapi dia menciumku beberapa kali tanpa persetujuanku,seakan aku hanya wanita murahan yang bisa dia perlakukan seenaknya.


Aku tak ingin lagi pulang ke rumahnya sekarang.


Tangga itu terasa tak habis ku turuni.Sambil mengusap air mata aku meneruskan langkah gontaiku.


"Hai sayang...Apa kau merindukanku?"


suara serak dari arah belakangku membuatku bergidik ngeri


Aku perlahan menoleh ke arah suara,terlihat Robin dengan pakaian hitamnya mendekatiku.


Aku bahkan sudah tersudut di dinding saat dia mengacungkan sebuah pisau lipat yg berkilauan terkena sinar lampu.


"Biarkan aku hidup tanpamu Robin"


Aku mengiba dengan air mata berderai


"Kau hanya bisa hidup denganku Hana,dan mati pula bersamaku..."


Dia mendekat selangkah lagi,aku yang sudah terpojok menutup mataku pasrah akan semua yang akan terjadi padaku sedetik kemudian....


Halo readers,


saya Nuti Park menulis novel ini , ini karya pertama saya jadi semoga kalian suka,saya sangat menghargai dengan segala masukan kalian, dan mencoba memberikan yang terbaik. Vote dan like kalian adalah dukungan besar untuk saya menulis novel.


terimakasih ... 💕