
Aku menatap kesal ke arah laptop dan smartphoneku yang terus berbunyi.
"Aaargh!!"
Aku berteriak kesal ke arah laptop yang terus menampilkan notifikasi email baru dari perusahaan penerbit yang memintaku hadir di launching buku pertamaku.
"Rupanya dia ingin mati!"
teriakku sambil beranjak dari dudukku.
****
Aku berjalan cepat menyusuri tiap lorong dan kubikal kantor itu tanpa peduli setiap orang yang menatapku penuh tanya.
Aku membuka pintu ruangan itu dengan kasar membuat Rama berdiri dengan wajah kaget.
"Kau mau mati?!"
Ucapku sambil menerobos masuk
Orang yang bersama Rama ikut menatapku kaget tapi masih duduk di tempatnya dan hanya memutar tubuhnya ke arahku.
Aku menggebrak meja dengan keras,membuat Rama mengerjapkan mata kaget.
"Aku tidak mau hadir di acara launching buku!!"
teriakku kesal
Rama berjalan memutari mejanya,dan berdiri di hadapanku nampak gusar dengan ucapanku.
"penulis Hana ... maaf tapi kenapa datang dengan cara seperti ini?"
tanyanya masih bingung
Aku memutar tubuhku setelah meraih sebuah gunting yang tergeletak di mejanya.
"Kamu masih nanya ? aku sangat sangat tidak suka di hubungi terus menerus seperti itu!!!! apa aku punya hutang ke kamu?!!! "
menggenggam erat gunting di tanganku
"Oh ok ... ok ... maaf tapi aku butuh keputusan hari ini"
berusaha menjaga jarak aman dariku
"Jangan memprovokasiku atau kamu bakal menyesal !!!!"
Mengacungkan ujung gunting ke arahnya
Seseorang meraih gunting dari tanganku dengan lembut namun bertenaga,aku beralih menatap orang yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu.
Dengan mata tajam dan raut wajah seriusnya menatapku dan melempar gunting itu ke arah belakangnya.
"Siapa kamu?!"
Tanyaku kesal
Dia menatapku lagi,wajahnya seakan menjelaskan bahwa dia tak suka keadaan ini dengan jujur.
dr. Kim Gi Ryeon
Psikiater
"Nampaknya kita harus banyak berbincang"
Ucapnya masih dengan logat orang korea yang membuatku meremas kartu namanya.
Namun dia tak peduli dan berlalu dari hadapanku
"Rama ... nampaknya kamu harus membereskan sesuatu dulu,aku pulang"
ucapnya tersenyum ke arah Rama yang masih kebingungan dan berlalu tanpa mempedulikan tatapan benciku.
Dengan masih menggenggam kartu nama itu ,aku berbalik ke arah Rama dengan tatapan tajam.
"Aku benar - benar tidak mau!"
Ucapku segera berlalu dari hadapannya tanpa mempedulikannya yang masih berusaha membuatku berbicara baik - baik padanya.
Aku berjalan dengan cepat keluar dari kantor itu dengan kesal,hingga aku tak sengaja menabrak tubuh seorang anak kecil yang sedang berlarian hingga jatuh tersungkur.
Anak itu terduduk dan mulai menangis,tangisannya seakan menggema di telingaku.
Tangisan anak yang membuatku sedih dan marah pada diriku sendiri
"Berhenti menangis "
Ucapku menahan emosiku
Anak itu terus menangis memanggil ibunya,kilasan balik tentang aku yang tak bisa menjaga anakku sendiri.
kilasan mimpi indah itu,serta membayangkan anakku menangis meraung dan menyalahkan aku yang tak bisa menjaganya membuat aku meledak pada akhirnya.
"Berhenti menangis !!!!!"
Aku membentak anak itu bertepatan dengan ibunya yang datang dan merangkul anak itu
"Apa kamu gila???!!! membentak anak orang lain ?"
cecar ibu anak itu dengan amarah di matanya
Aku tak menjawabnya masih terjebak dalam bayangan anak yang menyalahkan diriku.
Airmataku sudah ada di pelupuk mata saat ibu itu mengatai aku wanita gila dan segera berlalu dari hadapanku.
Aku berjalan gontai menuju keluar gedung dengan tatapan kosong.
"wanita gila ? ya ... aku mungkin wanita gila"
gumanku pelan
Aku terkekeh geli sesaat ,mungkin perkataan ibu tadi benar aku memang wanita gila sekarang.
****