COLD FLOWER (Will Bloom Again)

COLD FLOWER (Will Bloom Again)
PEKERJAAN YANG ANEH


Dua gadis itu menunjukan sebuah pintu kamar di sebelah kamarku


"Ini kamar tuan muda,nona"


ternyata kamarnya bersebelahan dengan kamar yang aku tempati


Aku hanya mengangguk dan masuk ke dalam kamar itu,warnanya masih senuansa dengan kamar sebelah.


Suara gemericik air di balik pintu sana menandakan dia sedang mandi,aku menelan salivaku berusaha menyingkir bayangan nakal itu.


Aku menunggu duduk di sebuah sofa single di dekat tempat tidur,tak lama dia keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk putih di pinggangnya.


Aku segera berdiri lalu menundukan kepalaku tak ingin melanjutkan apa yang aku lihat.


" Tuan saya disini"


Dia mendekat ke arahku yang masih menunduk,kini jarak tubuhnya dari ku hanya setengah meter saja aku bahkan bisa mencium aroma mint entah dari shampoo atau sabunnya.


"Pilihkan aku baju !"


Aku langsung melempar pandangan mencari tempat pakaian di simpan.


Beruntunglah aku cepat menemukan sebuah ruangan di belakangku,nampak seperti lemari kaca besar dengan segala isinya yang terlihat jelas.


Aku berhambur setengah lari ke dalam ruangan itu tanpa meliriknya.


Ruangan itu cukup besar bila di sebut sebagai lemari pakaian saja.Kemeja,jas,jam tangan dan dasi serta jejeran sepatu tertata rapi di dalam lemari kaca dan meja - meja kaca seperti ada di sebuah toko.


"Diakan bukan malaikat pencabut nyawa ,bajunya tak ada satupun yang berwarna"


Aku menyisir ruangan yang terisi penuh dengan benda serba warna gelap dengan mataku.


Aku memilih kemeja dan jas navy dengan dasi berwarna senada beserta perlengkapannya yang lain,aku keluar dari ruangan itu sambil tetap menunduk.


Dia nampak sedang duduk membelakangiku di tempat tidurnya dan memegangi head dryer,ku simpan bajunya di sisi tempat tidur


"Sudah saya pilihkan Tuan ..."


berharap dia segera menyuruhku keluar


"Keringkan rambutku"


dia menyodorkan head dryer yang sudah terpasang itu,masih membelakangiku.


Aku meraihnya dan mendekatinya yang masih duduk santai hanya berbalut handuk di pinggangnya.


Sekarang posisiku ada di hadapannya tapi dia tak bergeming,sementara aku bingung bagaimana aku memulainya bila posisinya menghadapku.


Dia menatapku,bulir - bulir air masih menetes dari rambutnya membuatnya nampak semakin menggoda.


"Ayo keringkan!"


Aku menatapnya bingung,tapi aku segera menyalakan head dryer dan mulai mengeringkan rambutnya.


Kini kepalanya tepat ada di depan perutku,aku agak ragu saat akan menyibak rambutnya tapi kulakukan agar rambutnya di bagian lain cepat kering.


Aroma mint menusuk penciumanku,sesekali ku lirik ekspresinya yang sedang memejamkan mata seakan menikmati setiap sentuhanku.


Nampaknya moodnya sedang baik


"Tuan ..."


ucapku agak ragu


"Hmm..."


dia menjawab,masih memejamkan mata


"Bolehkah saya ijin ke rumah hari ini? untuk mengambil barang - barang milik saya yang tertinggal?"


Aku bahkan tak membawa handphone .


"Biarkan sekretaris Kim yang membawakannya "


permohonan ijin di tolak mentah - mentah


"Tapi ..."


Dia menangkap tanganku yang sedang sibuk menyibak rambutnya yang sudah setengah kering itu.


" Apa kau tak takut? bahkan ******** itu melarikan diri !"


Dia menatapku tajam seakan memberi peringatan


Aku mematikan head dryer dan menarik tanganku


"Maksud Tuan?!"


Dia mendengus kesal


"Si Robin mantan suami brengsekmu itu lari saat polisi menuju rumahmu untuk menangkapnya,si bodoh sekretaris Kim kehilangan jejaknya!"


Dia nampak geram sekarang


Dengan uangnya dia pasti akan mencari tahu latar belakangku,yang lebih mengejutkan daripada itu sekarang adalah orang yang berusaha membunuhku masih berkeliaran bebas.


" Kalau kau tak ingin mati lebih baik kau tidak keluar rumah sendirian "


Peringatan itu seakan mencekikku,terbayang kembali bagaimana Robin berusaha membunuhku.


Aku tak menjawabnya,hanya ketakutan yang menjalar di tubuhku.


"Tunggu disini"


Dia berlalu dari hadapanku yang masih mematung dan tak lama kembali sudah memakai celana panjang namun masih bertelanjang dada.


"Pakaikan kemejaku!"


Aku terperanjat dan segera menyambar kemeja itu.


Setelah lengan kemeja terpakai di lengannya aku terdiam lagi,masih berkutat dengan pikiranku di balik punggungnya


"Apa yang kau lakukan?! cepat kancingkan !"


Pikiranku seakan kosong mengetahui Robin masih bebas dan mungkin masih memburuku.


Aku mengancingkan kemejanya,sambil setengah melamun ku pandangi perut dan dadanya yang bidang dengan bentuk atletis.


Dia sedikit menunduk mempertemukan pandangan kami,aku beringsut sedikit


" Kau takut?"


Aku terdiam tak membantah,tak usah lagi menjelaskannya sudah sangat jelas tertulis di wajahku pastinya.


Dia menelan salivanya dan menghela nafas panjang.


"Aku akan segera menangkapnya,tapi untuk sementara disinilah tempat yang paling aman"


Aku tak menjawab,menyambar dasi di tempat tidur dan memakaikannya dengan cekatan,di akhiri dengan memakaikan dia jas.


Dia duduk di sofa,aku meliriknya pelan


"Pakaikan sepatu juga "


Aku mengambil sepatu dan berlutut di hadapannya tanpa membantah,aku sudah yakin dia pasti sangat ingin dilayani seperti ini.


Tiba-tiba tangannya membelai rambutku lembut,aku kaget dengan perlakuannya tapi tak menolaknya.


"Jangan di pikirkan lagi, akan segera ku akhiri "


Dia seakan sedang menjanjikan hal itu padaku


Rasa hangat di dada menyeruak,seumur hidupku baru kali ini aku diperlakukan dengan lembut.


Aku tak pernah menemukan perlakuan ini bahkan setelah menikah dengan Robin dulu,yang ada hanya cacian dan kekasaran setiap hari.


Tapi dengan bodohnya, aku percaya bahwa dia melakukan hal itu atas nama kepedulian dan cintanya yang besar untukku.


Aku menyelesaikan ikatan sepatu terakhir bersamaan dengan di tarik tangannya dari kepalaku.


"Sudah selesai Tuan"


Aku bangkit berdiri untuk pamit


"Tunggu,aku makan di sini.Suapi aku!"


dia menepuk sofa di sebelahnya menyuruhku duduk di sampingnya.


Aku duduk di sampingnya,agak memberi jarak.


Tak lama sebuah ketukan pintu terdengar dia menyuruh masuk orang yang mengetuk pintu,seorang pria paruh baya berpakaian koki dan dua gadis pelayan masuk membawakan makanan di troly seraya memberi hormat.


Dengan kode tangannya,dia menyuruh orang - orang itu keluar kembali.


Aku berinisiatif membawa sepiring sandwich dari troly ke hadapannya yang sudah membuka mulut,aku menyuapinya dengan perasaan aneh yang tak bisa ku jelaskan.


"Semanja inikah pewaris perusahaan Yoon ?!"


Dia mengunyah sandwichnya sambil sesekali mengecek handphonenya,suapan kedua masuk ke mulutnya.


Aku sudah pasrah kali ini,Baiklah anggap saja dia anak kecil ...


Suapan ke tiga dia merebut sandwich dari tanganku dan memasukannya kemulutku agak sedikit memaksa,aku menggigit ujung sandwich gelagapan,kaget dengan apa yang dia lakukan.


Aku hanya menggigit ujungnya tanpa mengunyah karena masih kaget dengan tingkahnya.


Dalam sedetik dia menyambar sandwich di mulutku,bibir kami hampir bersentuhan.


Dia mengunyah sandwich itu dengan santai,sementara aku menutupi mulutku dan berusaha mengunyah sisa sandwich,takut kalau - kalau ada serangan lagi.


Darah terasa mengalir ke seluruh wajahku membuatnya terasa panas,dia melirikku dan kemudian terpingkal geli.


"Tuan tolong jangan jahil!"


geram ku


"Kalau kau tak ingin terjadi lagi,saat aku makan kau juga harus makan.Aku tak ingin punya asisten yang kurus karena kurang makan !"


ujarnya sambil memainkan handphonenya acuh.


" Baik Tuan,tapi tolong lain kali anda cukup memberi tahu saya keinginan anda"


dia menyimpan handphonenya di meja dan menatapku dalam


" Kau lupa ya ?"


dia membelai rambutku lagi dan memilin ujung rambutku


Jantung ku berdegup kencang saat dia mendekatiku dan berbisik


"Aku adalah aturannya"


nadanya kini sedikit mengancam,aku bahkan menahan nafas saat dia berada sedekat itu denganku.


dia memandangiku dari dekat,sangat dekat.


"Siapkan air hangat untuk berendam sebelum aku pulang nanti"


Dia berdiri dan meraih segelas susu di atas troly dan meneguknya.


Sementara aku berupaya kembali bernafas normal.


Dia tersenyum puas setelah melihat ekspresiku yang gelagapan mengatur nafas, dia pun pergi keluar dari kamar meninggalkanku yang masih mematung di sofa tanpa mengatakan apapun lagi.


" Ini pekerjaan yang aneh? hatiku yang aneh atau .... atau... dia yang aneh?"


gumanku masih mengatur irama detak jantungku.


****


Halo readers,


saya Nuti Park menulis novel ini , ini karya pertama saya jadi semoga kalian suka,saya sangat menghargai dengan segala masukan kalian, dan mencoba memberikan yang terbaik. Vote dan like kalian adalah dukungan besar untuk saya menulis novel.


terimakasih ... 💕