
Leherku sudah terasa perih saat Robin menempel pisau itu di atas kulitku,aku memejamkan mata sambil mengulang kembali kenangan masa - masa indahku bersama Robin.
"Baiklah... kita mati bersama,kita pergi ke alam baka bersama anak kita"
air mataku mengalir deras
Robin menarik pisaunya,aku membuka mataku perlahan dan melihat mata Robin yang berlarian mencari arti ucapanku.
Dia menatapku lagi,masih dengan pisau di tangannya namun kini tangannya nampak bergetar.
"Apa maksud ucapanmu?!"
Suaranya bergetar tak kalah hebat.
"Mari kita pergi ke alam baka bersama anak yang bahkan tak pernah melihat cahaya dunia yang dingin ini"
menahan setengah mati rasa sedihku yang lama tak ku sentuh
Robin melangkah mundur dan berpegang pada pagar tangga itu.
"Pada hari itu aku berniat memberitahukanmu tentang keberadaannya di rahimku,ya... pada hari kau bersama wanita ****** itu."
Luka itu kembali menyeruak mencabik hatiku
Robin menjatuhkan pisaunya,tatapannya tertunduk lesu mengakui dosanya.
"Aku berharap kau akan menyambutnya,tapi apa yang ku dengar dan kulihat hari itu membuatku tak lagi percaya akan cinta posesifmu.Bahkan kau membiarkanku yang mengerang kesakitan memohon kalian menolongku"
Air matanya tumpah bersamaan air mataku
Perasaan takut yang mencekamku beberapa menit tadi kini berganti menjadi kebencian terhadap orang dihadapanku.
"Aku berharap,kau pun tetap hidup di dalam perasaan sedih bagaikan neraka ini !"
mengeluarkan segala kemarahanku yang telah lama terkubur waktu
Derap langkah cepat seseorang menapaki anak tangga mendekati kami,dan dalam sekejap mata Robin jatuh tersungkur.
Min jun kini ada di hadapanku menghalangi pandanganku dengan punggungnya.
"Tutup matamu!"
Aku menutup rapat mataku meredam kepanikan batinku,yang terdengar hanya erangan Robin dan suara pukulan keras.
"Jangan kau ganggu lagi calon istriku!!!"
Min jun mengancam Robin
Tak lama berselang,beberapa orang terdengar mendekati kami.
Aku membuka mataku pelan,Min jun menatapku dan menutupi tubuhku dengan jasnya yang entah kapan dia lepaskan.
Dia merapatkan jas nya yang besar menutupi tubuhku,menatapku khawatir ...
"Tenanglah... aku ada disini"
Aku mengatur nafasku yang terasa memendek sedari tadi
"Hana ...maafkan aku!"
Robin mengiba dengan suara tercekat
Nampak Robin yang sudah babak belur meraung dengan tangan yang dipegangi ke belakang oleh orang - orang itu,aku membuang wajahku ke arah lain bahkan tak ingin memaafkannya.
Inilah akhir tragis dari cerita pernikahan pertamaku bersamanya.
Pipiku basah dengan air mata yang tak bisa berhenti keluar,suara Robin kini sudah menghilang.
"Pergilah ... sesali semua dosa - dosamu!!!!"
Min jun merengkuhku lembut dalam pelukannya yang hangat dan tangisku semakin menjadi,seakan melepaskan semua kesedihanku selama ini dalam pelukannya....
Min Jun membawaku kembali ke ruangannya,duduk disofa yang tadi menjadi tempatnya mencuri ciumanku berkali - kali.
Dia melepaskan rangkulannya dan menuju laci meja kerjanya lalu membawa sebuah kotak yang dia simpan di sampingku.
Dia tak berbicara sepatah katapun,hanya fokus membuka plester dan antiseptik dari dalam kotak,aku hanya memperhatikan setiap gerak geriknya.
Dia mengoles luka di leherku dengan antiseptik,aku meringis merasakan perih
"Sakit sekali?"
Aku menggelengkan kepala pelan
Dia meneruskan membersihkan lukaku dalam diam.Sekilas ku lihat tangannya yang lecet, mungkin terluka saat dia memukuli Robin tadi.
Hatiku merasa dia bukanlah orang yang jahat,tapi sejenak aku ragu akan kebaikannya karena ciumannya itu.
Setelah menempelkan plester di leherku,dia sedikit bergeser menjauhiku.
Ku raih kotak itu dan membawa antiseptik lalu meraih tangan Min jun yang masih mengepal,aku mengoleskannya pelan dan sesekali aku meniup pelan ke arah lukanya.
"Terimakasih Tuan"
Aku memandangnya sekilas dan kembali mengobati lukanya.
Dia diam selama beberapa detik lalu menghela nafas dalam -dalam
"Maafkan aku"
kali ini ucapan pelannya menunjukan penyesalan yang tulus.
Aku tak menjawab dan kembali meletakan tangannya disofa
Kami membisu beberapa saat...
"Aku memang tak berniat menjadikanmu asisten pribadiku sejak awal"
Dia tertunduk tak menatapku,aku tak menjawabnya hanya ingin dia berbicara lebih lanjut
"Ayah menginginkanmu menjadi istriku sebelum dia pergi,dan menulisnya dalam surat wasiat"
Aku terkejut mendengar ucapannya.
Presdir? kami bahkan hanya berhubungan sebagai pegawai dan boss,mengapa dia memilihku untuk menikahi anak satu - satunya.
"Aku tak ingin pernikahan tanpa cinta,itu hanya akan menyakiti satu sama lain"
"Jadi aku menyusun rencana untuk mengenalimu lebih jauh sebelum memintamu menikah denganku"
Aku menghela nafas kesal.
Serumit itu pemikiran pria ini,kenapa dia tak mencoba mengenalku dengan cara baik - baik saja???
"Tuan..."
Dia kini menatapku yang memanggilnya dengan suara pelan
"Presdir adalah orang yang baik,walaupun saya tidak mengerti mengapa almarhum menjodohkan saya dengan anda,tapi saya hanyalah seorang janda yang tidak sederajat dengan tuan muda "
aku menatapnya saat menyampaikan fakta menyedihkan itu.
"Ayah bukan tipe seperti itu,dia tidak menilai orang dari status sosialnya."
Dia menerawang,seakan ada kerinduan mendalam saat dia menceritakan Ayahnya,setidaknya dia punya orang tua yang dapat di rindukan
"Saya tahu Tuan.Itulah sebabnya Presdir menjodohkan saya dengan anda"
Aku menghela nafas berat menundukan kepala dalam
"Tapi saya tidak tahu tentang Tuan muda.Jujur saja,setelah beberapa kali tuan mengungkit tentang status saya,saya yakin Tuan muda merasa saya tidak pantas.Saya pun tidak merasa pantas di hadapan Tuan muda,bermimpi menikahi tuan pun saya tak berani"
Aku meremas tanganku menyadari posisiku
"Kau hanya salah paham Hana,aku tak bermaksud merendahkanmu.Maaf sudah melukai perasaanmu"
Dia menggeser tubuhnya sedikit mendekatiku
"Permintaan Ayah memang tak beralasan,tapi aku yakin Ayah berusaha memberikan yang terbaik untukku sampai akhir"
rahangnya mengeras merasakan kerinduan pada Ayahnya
"Jadi aku memutuskan untuk memenuhi permintaan terakhirnya"
Dia menatapku mantap
"Maksud Tuan?"
pandangan kami saling bertemu,dia kembali mendekat.
"Aku tak memintamu untuk menikah secara paksa,bagiku itu terlalu egois untukmu.Aku juga tak ingin membuatmu terluka dengan pernikahan yang terpaksa."
Aku masih menatapnya ingin tahu apa sebenarnya yang ada dipikirannya sekarang.
"Berkencanlah denganku selama satu bulan"
Aku terperangah mendengar permintaannya
"Aku hanya ingin kita saling mengenal satu sama lain,dan menumbuhkan perasaan di antara kita."
Dia nampak tak ragu mengucapkannya
"Tapi ..."
aku menatapnya ragu.
"Setelah itu, kita akan menikah"
semakin membuatku terkejut,itu sama saja pemaksaan Tuan ....
"Aku ingin memenuhi permintaan Ayahku,ku pastikan kau takan menyesalinya"
meyakinkanku
aku memandangi wajahnya yang serius itu
"Dan... bisa kah kau memberiku kesempatan?karena.... aku mulai menyukaimu..."
Hatiku bergejolak,darah mengalir deras ke wajahku membuat jantungku berirama tak beraturan.
"Kau bisa tetap bekerja untukku,sambil mengenalku dari dekat"
Dia tersipu,telinganya sudah merah padam.
Udara di ruangan itu terasa memanas,aku menatap wajahnya masih dengan perasaan tak percaya.
"Sekali lagi,aku minta maaf tak memberitahukan kebenaran ini dari awal"
Dia menepuk lutut beberapa kali dengan wajah masih tersipu malu seperti anak kecil yang sedang menyatakan cinta.
Entah kenapa rasa senang memenuhi hatiku,aku tersenyum menundukan kepalaku sambil menggigit bibir bawahku.
"Jangan menggigit bibirmu lagi!"
tiba - tiba dia menghardikku
Aku segera mengatup mulutku rapat - rapat
"Aku sungguh tak tahan melihatnya.Kau akan menyesal nanti..."
Dia sudah mengalihkan pandangan ke arah lain dengan wajah bersemu merah,tapi aku pura - pura tak tahu kemana pikirannya melayang.
Sisi lainnya terlihat,betapa polosnya pria yang selalu di gosipkan berperangai kasar dan seenaknya ini.
Aku membuka kotak makan siang yang teronggok di meja dan menyodorkan sesuap makanan ke mulutnya tanda setuju dengan permintaannya.
Dia membuka mulut dengan senyum malu - malu menggemaskan itu dan melahap makanannya,aku tersenyum melihat wajahnya yang tak berani menatapku.
Betapa sederhananya awal pertemuan kami bila dia jujur sedari awal!
Bodoh...
Walaupun sampai sekarang aku masih tak punya kepercayaan diri itu,karena dia yang meminta mari kita coba dan kenali dia pelan - pelan.
Dia terus mencuri pandang menatap wajahku saat menyuapinya,membuatku ikut tersipu.
****
Halo readers,
saya Nuti Park menulis novel ini , ini karya pertama saya jadi semoga kalian suka,saya sangat menghargai dengan segala masukan kalian, dan mencoba memberikan yang terbaik. Vote dan like kalian adalah dukungan besar untuk saya menulis novel.
terimakasih ... 💕