
Kepalaku terasa berat saat aku memulai aktifitasku,mata yang sembab tak ku hiraukan lagi.
Saat aku memasuki kantor,tim ceriwisku menanyakan mengapa aku nampak seperti itu namun tak satupun ku gubris membiarkan mereka berspekulasi sendiri tentang wajahku hari ini.
Semalaman aku menghubungi Min Jun,tapi hasilnya nihil.Aku menyadari,seharusnya aku yang takut dia meninggalkanku.Aku yang bukan siapa - siapa.Dia mampu mendapatkan wanita seribu kali lebih baik dari padaku!
"Selamat pagi"
Aku menyapa Raditya tanpa menatapnya dan segera beralih ke meja.
Raditya tak menjawab sapaanku,mungkin dia sedang bingung dengan aura sedih yang keluar dariku.
Setelah membuka laptop aku memeriksa smartphoneku namun layar smartphone tak menunjukan tanda - tanda Min Jun membalas pesanku.
Dia marah padaku ...
"Kamu kenapa?"
Aku terperanjat saat melihat Raditya yang entah kapan sudah ada di sebelahku
"Aku gak apa - apa kok"
Jawabku mengalihkan pandangan ke laptop tak ingin Raditya melihat mata sembabku.
Raditya menyentuh dahiku dengan tangannya membuatku refleks beringsut mundur.Dia masih terus memegangi dahiku nampak berpikir
"Kamu demam!"
Ucapnya dengan wajah khawatir,melepaskan sentuhannya
Aku memegangi dahiku sendiri dan baru menyadari suhu tubuhku yang tak normal
"Aku antar ke dokter ya?"
Raditya kembali dengan tawaran bantuannya dan wajah lembutnya
"Ini cuma demam ko"
Aku menggelengkan kepala
Raditya menghela nafas lagi mendengar penolakanku
"Aku antar pulang ya?"
Lagi - lagi aku menggelengkan kepala.
Pulang ke kosan hanya akan membuatku terus memikirkan Min Jun yang marah padaku.
Raditya tak menjawabku dia beranjak dari duduknya dan menekan sesuatu di bawah meja besarnya,dan dinding di belakang meja itu bergeser.
Nampaklah sebuah ruangan istirahat rahasianya miliknya itu,Raditya menarik tanganku masuk ke ruangan itu.
Ruangan itu memiliki kaca yang memperlihatkan pemandangan kota dari atas,dengan tempat tidur dan barang - barang minimalis berwarna abu dan putih.
Aku duduk di tepi tempat tidur,memandang ke arah Raditya yang sekarang sudah berlutut dihadapanku dengan tatapan lembutnya.
"Sudah makan?"
Dia bertanya penuh rasa khawatir,aku menjawabnya dengan anggukan kepala.
Raditya membuka laci di samping tempat tidur itu dan menyodorkan obat dan segelas air dari atas meja.
Aku meraihnya dan segera meminumnya,masih dengan Raditya yang menatapku lekat.
Kebaikannya sungguh membuatku salah paham,selembut ini kah perhatiannya kepada pegawainya ?
"Istirahatlah disini,aku akan memperbaiki data sendiri."
Raditya beranjak meninggalkanku
"Ta...pi..."
Raditya berbalik ke arahku yang mulai buka suara
"Ini perintah! Aku tak ingin pegawaiku pingsan di tempat kerja!"
ucapnya tegas
Dia berlalu dan menutup kembali pintu rahasia itu.
Aku menghela nafas berat,masih menggenggam smartphoneku yang tak memberikan tanda - tanda kehidupan.
Aku membaringkan tubuhku karena kepalaku semakin terasa berat.
****
Aku terbangun karena rasa sakit diperut yang luar biasa,ku sibak selimut abu yang entah kapan menutupi tubuhku rapat.
Aku bersandar merasakan kepalaku yang semakin terasa berat sambil memegangi perutku,dan rasa mual luar biasa muncul.
Aku berlari ke arah toilet di sudut ruangan itu,mengeluarkan apa yang ada di dalam perutku.
Setelahnya,aku merasa tak terlalu mual lagi namun badanku lemas dan aku hanya bisa terduduk disamping toilet itu.
Ku buka kembali smartphoneku,masih tak ada jawaban.Saat ini aku menyesal tak pernah mempunyai nomor sekretaris Kim,yang mungkin bisa menjadi perantara.
Dengan sisa kekuatanku,aku keluar dari toilet dan mendapati Raditya mematung di depan toilet dengan wajah khawatirnya
"Sepertinya hari ini aku gak bisa kerja..."
Aku melihat ke arah jendela besar itu,warna lembayung sudah memenuhi ruangan itu menandakan malam segera datang.
"Kita ke rumah sakit dulu baru pulang"
Raditya segera memapahku saat aku akan melangkah.
Aku menarik lenganku,namun Raditya kembali meraih lenganku dan merangkul bahuku.
"Cuma ada security dikantor,kamu gak usah takut di omongin sama orang - orang kantor.Aku cuma mau mengantarkan kamu ke rumah sakit"
Ucapannya membuatku membiarkannya memapah tubuhku yang sudah lemas.
Sesampainya di halaman kantor,seseorang menarikku dari rangkulan Raditya.
Dia merangkulku erat - erat,rahangnya mengeras menatap Raditya yang masih kaget melihat aku yang sudah berpindah tangan.
"Terimakasih sudah mengantarnya,mulai saat ini aku akan menjaga Hana,kau tidak perlu menjaganya lagi.Maaf untuk ketidak nyamanan yang selalu terjadi saat kita bertemu."
Min Jun menatap dingin Raditya yang menatapku bingung mencari arti kata ucapan Min Jun.
Aku menghela nafas kesal,kenapa di saat seperti ini aku harus jadi translator antara mereka.
"Raditya,dia calon suamiku... dia mengucapkan terimakasih telah menjaga saya dan maaf telah membuat keributan waktu itu"
Hanya intinya saja yang tidak menimbulkan kerusuhan lainnya yang ku sampaikan pada Raditya.
Raditya melangkah mendekati Min Jun dengan pandangan tak bersahabat.
"Jaga dia dengan baik,kalau tidak...mungkin aku akan merebutnya!"
Nada mengancamnya terdengar jelas namun Min Jun tak mengerti yang di ucapkan Raditya.
Min Jun menatapku mencari tahu terjemahan ucapan Raditya,aku tak memberi jawaban apapun pada Min Jun hanya menatap Raditya kaget dengan ucapannya.
Aku mendengar dengan jelas ucapan Raditya pada Min Jun,tapi masih bingung memaknainya.
Kepalaku semakin terasa berat,aku memegangi jas yang Min Jun pakai menahan agar tidak jatuh.
Min Jun segera menyadari aku yang sudah tidak kuat berdiri,dia dengan sigap memegangiku dan dengan satu hentakan Min Jun menggendong tubuhku di depan mata Raditya.
Dalam keadaan tidak sakit aku sudah pasti meronta minta di turunkan karena merasa malu dengan perlakuannya itu,tapi tubuhku sudah tak berdaya,tak ada lagi tenaga untuk berdebat atau berbicara sekalipun.
Aku masih merasakan pandangan Raditya yang menatapku dan Min Jun hingga aku memasuki mobil.
Ada seribu pertanyaan yang ada di benakku karena ancaman yang dilontarkan Raditya pada Min Jun tadi.
Min Jun tak berbicara apapun,dia hanya menyandarkan kepalaku kepangkuannya dan membelai lembut rambutku hingga aku setengah terlelap.
Hanya terdengar samar - samar suara Min Jun dan sekretaris Kim yang bersahutan,entah membicarakan apa.
Aku mendekap tubuh Min Jun dengan sisa tenagaku saat dia menggendongku lagi keluar dari mobil dan masuk ke rumahnya,rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang membuat aku mencari kehangatan dari tubuhnya.
Min Jun membaringkanku dengan hati - hati di tempat tidur,dan menyelimutiku.
"Maafkan aku Hana "
Desah sesal keluar dari bibir Min Jun
Dia membelai rambutku lagi,membuat aku jatuh dalam buaian dan terlelap dalam tidurku yang panjang.
Yang panjang hingga aku ingin berlama - lama dalam mimpi itu.
****