
Aku memegangi dahiku di meja kerja,sambil membolak balik berkas ditanganku,sementara berkas yang lainnya masih tertumpuk,terbengkalai tepatnya.
Tak lama sekretaris Kim masuk dengan berkas lainnya ditangannya,aku melotot kaget melihatnya.
"Lagi?!"
Sekretaris Kim tak menggubris ekspresi lelahku.
"Kau sudah menemukan wanita itu?"
Aku bertanya padanya masih menatap berkas,berharap dia tak menyadari kegundahanku setelah beberapa hari tak ku jumpai wanita berparas serba mungil itu.
"Kami sedang mengawasinya,saat ini nona Hana sedang mencoba mencari pekerjaan lewat penyalur tenaga kerja,namun belum mendapatkannya. "
Aku mengangkat wajah ke arah sekretaris Kim yang masih dengan posisi sigap nya.
"Jangan biarkan dia bekerja diperusahaan manapun!"
Sekretaris menganggukan kepala seraya memberi aba-aba untuk pamit dari hadapanku.
"Bawa segera dia ke hadapanku!"
Sekretaris Kim berhenti melangkah dan berbalik kembali ke arahku,raut wajahnya penuh rasa ingin tahu.
"Tuan muda, anda tak seperti biasanya "
Dia mulai menyelidiki
"Aku ?! tidak...aku biasa saja!"
Aku menutup map berkas dan menyimpan penaku di atasnya,sambil menyilangkan tangan di dada.
"Tuan,kalau anda mau ... saya akan mencarikan orang yang lebih kompeten untuk menjadi assisten pribadi anda"
sekretaris Kim jelas sedang mengujiku,dia orang yang sangat teliti mengawasi setiap ekspresiku dan Ayah sejak dulu.
"Tidak,aku ingin dia ... bukankah kau yang menyuruhku untuk mengenalinya lebih jauh?Kalau hanya di sini, dari mana aku tahu sifat aslinya seperti apa?"
Posisiku masih menyilangkan tangan di dada,dan segera kusadari sekretaris Kim sudah tahu aku menutupi sesuatu dengan bahasa tubuhku itu.
Ku turunkan tanganku di atas meja,mendesah kesal.Rasanya mati kutu di buatnya,menghadapi orang lulusan terbaik fakultas psikologi seperti sekretaris Kim.
Aku tahu,dia sedang memastikan saja apa yang telah ia ketahui.
"Kalau begitu,bagaimana kalau menikah saja dengan nona ,tuan?"
idenya masih tentang keinginan terakhir Ayah,aku memutar bola mataku.
"Menikah adalah hal paling sakral bagiku,bukan hanya sekedar permainan rumah - rumahan ,sekali aku menikah aku akan mengikat diri dan hati hanya untuk istriku"
Aku memainkan kursi kerjaku ke kanan dan ke kiri
"Saya rasa Tuan bisa jatuh cinta pada nona Hana setelah menikahinya"
masih mendesakku
Aku menghela nafas panjang, mengatup bibirku dan menggenggam tanganku sendiri.
Percuma menutupi apapun di hadapan sekretaris Kim.
"Sejujurnya ... Aku bimbang"
belum aku meneruskan perkataanku,nampaknya sekretaris Kim tahu apa yang menjadi kegundahanku.
"Apa karena statusnya Tuan?"
tepat mengenai sasaran
"hmmm..."
Aku mengiyakan dengan enggan
"Tuan,status itu ... tak ada wanita yang menginginkannya."
Aku tertunduk memandangi meja marmer putih di bawah lenganku.
Benar...
tak ada yang ingin rumah tangganya hancur,apalagi sampai kehilangan anaknya.
sekretaris Kim berhasil menerobos ambang kerinduanku pada wanita itu.
"Hari ini sepulang kerja temani aku mengawasinya langsung"
sekretaris Kim mengangguk mengerti dan meninggalkanku yang masih terdiam.
Apa yang penting saat ini?
keegoisanku?
harga diriku?
atau ...
hatiku?
Aku sudah memutuskan....
Perasaan ini mungkin takan pernah menghampiriku saat aku berhadapan dengan wanita lain selain dirinya.
Tak ada yang salah dari menikahi seorang wanita berstatus janda,bukannya di luar sana banyak sekali wanita yang berstatus lajang tapi sudah tak lagi suci? bahkan itu lebih buruk!
****
Mobil hitam membelah jalanan kota yang mulai sepi,otot - otot tubuhku terasa tegang,penat rasanya berkutat seharian dengan pekerjaan di kursi kantor.
Sekretaris Kim mengendarai mobil dalam diamnya,sambil menyangga daguku dengan tangan mataku melayang menyusuri jalanan menuju rumah wanita itu,hingga sampailah di sebuah jalanan kecil dipinggiran kota.
Sekretaris Kim menghentikan laju mobil di pinggir jalan itu.
"Dimana rumahnya ?"
Rasanya aku sudah tak sabar untuk melihatnya
"Dari sini kita harus menaiki tangga itu"
Aku melotot kaget melihat banyaknya anak tangga itu,akan lebih mudah kalau aku tak memecatnya tempo hari !
Aku keluar dari mobil ketika sekretaris Kim membukakan pintunya,menarik nafas dan mulai menyusuri anak tangga itu.
Nampaklah seorang wanita mungil berjalan gontai agak jauh di depan kami,nampak letih sambil sesekali tangannya bertumpu pada dinding di sampingnya terlihat dia membawa sebuah kantong plastik.
Aku menahan langkah sekretaris Kim dan menariknya ke sisi dinding untuk bersembunyi.
Aku sangat mengenali rambut cokelatnya itu
Betapa harga diriku jatuh saat dia tahu aku diam - diam seperti seorang stalker mengikutinya seperti ini.
Ku intip lagi dari balik dinding, dia sudah berlalu tak nampak lagi,aku menghela nafas lega dan meneruskan langkah,diikuti sekretaris Kim yang memandu arah.
Sebuah rumah kecil yg jauh dari kata layak di puncak anak tangga itu terpampang di depan kami.Penerangan jalannya pun sangat buruk,beberapa lampu mati membuat jalanan dan anak tangga menuju ke sini memiliki cahaya remang saja.
Tak ku sangka gadis mungil itu tinggal di tempat yang sama sekali tidak aman baginya juga jauh dari perusahaan,aku tak bisa membayangkan jam berapa dia berangkat dan pulang dari perusahaan dulu.
Aku menatap dalam rumah itu, dengan tatapan sedih.Bagaimana kehidupan begitu tidak adil terhadap wanita mungil itu?
Kami kini bersembunyi di balik kegelapan malam dan remangnya cahaya lampu jalanan kecil itu sambil terus memperhatikan.
"Prangggg!!!"
Terdengar suara gaduh dari dalam rumah itu,instingku berkata ada sesuatu yang tidak beres di dalam.
"Arrghhhh!"
Pekikan ketakutan terdengar melengking keras memecah kesunyian malam itu.
Aku menatap sekretaris Kim memberi perintah tanpa berkata.
****
Halo readers,
saya Nuti Park menulis novel ini , ini karya pertama saya jadi semoga kalian suka,saya sangat menghargai dengan segala masukan kalian, dan mencoba memberikan yang terbaik. Vote dan like kalian adalah dukungan besar untuk saya menulis novel.
terimakasih ... 💕