COLD FLOWER (Will Bloom Again)

COLD FLOWER (Will Bloom Again)
LUKA HATI YANG TERLIHAT JELAS


Saat suasana hatiku sedang drop aku memilih tidur seharian dan tak ingin makan apapun.


Tangisan anak kecil seakan selalu menghantuiku,membuatku merasa frustasi seperti saat ini.


Aku merasa semua yang menimpaku adalah hukuman karena aku bukan ibu yang baik.


Aku membenci diriku dan hidupku ini,hingga rasanya ingin mati saja.


***


Dua hari berlalu,aku hanya menghabiskan waktu di atas tempat tidur dengan wajah muram.


Tak ada sinar semangat hidup bagiku,rumah sewa ini seakan gelap seperti perasaanku.


Suara ketukan pintu membuatku mendesah kesal,dan dengan gontai membuka pintu.


Rama dan psikiater itu tepat berada di depan pintu dengan senyum mengembang.


"Aku sedang tidak ingin ditemui siapapun"


Ujarku malas ingin menutup pintu


Namun tangan Rama menghalanginya dengan kuat.


"Apa maumu? Meet and great? "


Tanyaku membiarkan pintu terbuka


"hmm... ya ... sekarang tinggal lima hari lagi"


ujar Rama mengakui kekhawatirannya


"OK akan ku lakukan ... pergilah"


Menjawab sekenanya agar mereka segera pergi


"Maaf Nona ... Apa kamu baik - baik saja?"


Logat seoulnya sangat kental meski bahasa indonesianya pasif,mengingatkanku pada seseorang


"PERGI"


usirku seraya membanting pintu di depan wajah mereka.


Aku menopang tubuhku dengan tangan di pintu,kilasan tentang masa lalu selalu membuatku sedih.


Aku berjalan gontai,rasanya seperti bangun dari mimpi indah dan kembali ke dunia nyata yang kelam.


Aku memegang pinggir meja dan tak sengaja memecahkan vas bunga menimbulkan suara bising.


Mataku menggelap...


***


*Kim Gi Ryeon


Prang* !!!


Aku dan Rama berbalik menatap pintu rumah Hana yang sudah tertutup lalu saling melempar pandang.


"Rama ? Apa di rumahnya ada orang lain?"


Tanyaku cemas


Rama mengangkat bahunya dan seakan tak acuh hendak melangkahkan kaki pergi,namun aku menahan tangannya.


"Lebih baik kita periksa"


Ujarku,membuat wajah Rama menegang


Pintu yang tertutup itu ternyata tidak dikunci,aku membukanya dan mendapati Hana sudah tak sadarkan diri.


Wajahnya pucat pasi dan tangannya penuh dengan pecahan vas bunga yang berserakan,kami sama - sama terkesima.


Namun aku segera mengendalikan diriku,mengangkat tubuh Hana yang sudah sedingin es itu dan menepuk pipinya beberapa kali.


"Nona ... apa kau bisa mendengarku?"


Dia tak bergeming,sementara luka ditangannya sudah penuh dengan darah yang terus mengalir.


Rama bahkan menjaga jarak,wajahnya pucat melihat keadaan Hana.


Aku berinisiatif untuk membawanya ke rumah sakit dengan menggunakan mobil Rama.


***


Riza adalah dokter yang menangani Hana sesampainya kami di IGD,dia juga salah satu temanku di sini.


Dia mengerutkan kening setelah selesai menjahit luka di tangan Hana yang masih tak sadarkan diri.


"Dia mengalami gizi buruk,untuk jaman sekarang jarang sekali ada orang yang mengalami gizi buruk."


Wajahnya penuh ke khawatiran


Rama menatapku bingung saat Riza menanyakan hal itu


"Dia salah satu penulis,kami tidak tahu persis mengenai keluarganya"


Ujar Rama apa adanya.


"Ada baiknya kalau walinya mengawasi pola makannya,pencernaannya bahkan meradang "


Membolak balik rekam medis di tangannya.


"Biarkan dia istirahat,dia harus di rawat beberapa hari,akan segera di pindahkan ke ruang rawat inap setelah dia mulai sadar"


Ujar Riza meninggalkan aku dan Rama yang masih menatap Hana dengan bingung.


Dia memang sangat kurus,tulang selangka nya terlihat jelas di balik piyama rumah sakit.


Wajahnya mengernyit beberapa kali,seakan merasakan sesuatu yang menyakitkan.


Rama bahkan menatap Hana dengan perasaan kasihan


"Aku baru menyadari dia begitu kurus"


Rama berujar lirih


Tak lama dia mengerjapkan mata dan melihat ke arah tangannya yang sudah di balut perban dan ada selang infusan di sana.


Dia memegangi keningnya dan menutupi matanya,seakan menyadari dimana dirinya saat ini.


Dia berusaha duduk dengan sisa tenaganya,dan mencabut sembarang infusan itu.


Aku dan Rama sama - sama terkejut dengan sikapnya,kakinya sudah menggantung ingin turun dari tempat tidur itu .


"Kau harus di rawat "


Aku mengahalanginya,namun dia menyingkirkan pundakku dengan sisa tenaganya.


Tanpa alas kaki dia berjalan menyusuri lorong IGD dan mengacuhkan perawat yang memintanya kembali ke tempat tidur.


Aku mengikutinya,aku tahu tubuhnya sudah sangat lemah.


Dia berjalan ke luar rumah sakit tanpa alas kaki dengan gontai,aku menarik lengannya membuat dia berbalik menatapku.


" Aku mau pulang"


Tak ada semangat dari nada bicaranya


"Tinggal beberapa hari di rumah sakit,kalau tidak akan berbahaya untuk kesehatan kamu"


Dia menepis tanganku,namun aku dengan sigap memegang kembali lengannya.


"Aku tak berniat menjaga kesehatan"


Ucapnya datar


"Kenapa?"


Aku spontan menanyakan hal itu,dia sungguh seperti magnet yang membuatku ingin tahu.


"Tak ada alasan khusus"


Ujarnya masih dengan wajah datar,namun bola matanya tersirat kesedihan.


Aku menatap tangannya yang lagi - lagi terluka akibat dia mencabut infusan dengan kasar tadi.


Tiba - tiba tubuhnya ambruk,aku dengan sigap menangkap tubuhnya dan menggendongnya kembali ke dalam rumah sakit.


Riza berdecak kesal menatap Hana yang tak sadarkan diri


"Sepertinya dia pasienmu ya?"


Menebak


"Bukan"


jawabku


"Belum ... nampak tak ada semangat hidup,atau keinginan sembuh"


Meski Riza hanya dokter umum dia adalah orang paling peka,dia tahu persis saat pasiennya sakit karena batin atau hanya karena tubuh mereka yang lemah.


"Bawa langsung ke ruang inap"


Ujarnya menepuk pundakku.


Malam itu aku menjaga Hana yang terlelap,sementara Rama pergi dan beralasan dia ada urusan lain.


Sesekali Hana mengernyitkan dahi dan menangis dalam tidurnya,entah luka apa yang ada di hatinya.


****