
Matahari masih mengintip malu - malu di ufuk timur saat aku selesai mandi,aku benar - benar tidak bisa tidur semalaman.
Aku memoles sedikit liptint warna peach di depan kaca dan merapihkannya dengan jariku,teringat kembali ciuman kemaren malam membuatku menggelengkan kepala kuat - kuat mengusir bayangan itu.
Aku melangkah menuju kamar Min Jun untuk menyiapkan keperluannya seperti protokol yang dia berikan dalam kontrak kerja.
Aku membuka pintu yang selalu tak pernah ia kunci,dan nampaknya dia sudah selesai mandi sedang memakai sendiri kemeja putihnya.
"Selamat pagi Tuan..."
Aku menyapanya yang masih menghadap ke cermin.
Dia berbalik ke arahku dengan wajah kesal mendengar panggilanku kepadanya
"Kepalamu terbentur sesuatu?! sekali lagi kau memanggilku dengan sebutan itu aku akan benar - benar menerkammu!"
Dia mengancamku sambil menyambar dasinya.
Aku mendekat,dan membantunya memasangkan dasi.
Dia tersenyum menatapku,aku hanya sekali melihat ke arahnya dan kembali menata penampilannya.
Setelah selesai aku pun melanjut memasangkan jas abu di tubuhnya.
Dia menata rambutnya sendiri di depan cermin aku menatapnya,melihat tatanan rambutnya itu membuatku berdebar.
Aku memalingkan wajahku yang sudah merah padam,dia berbalik ke arahku
"Apa aku setampan itu?"
Dia tersenyum puas,penuh percaya diri.
"Ternyata kau punya penyakit narsistik ya ?"
Aku mendesah menyembunyikan keterpesonaanku
Dia melangkahkan kaki mendekatiku dan merapatkan pinggangku ke tubuhnya,dia menatapku dalam.
"Warna bibirmu cantik hari ini"
Dia mengusap lembut bibirku,aku menatap pria itu lembut.
Memandang wajahnya bagaikan anugerah dalam hidupku sekarang,aku tak ingin waktu berlalu cepat saat ini.
Aku berharap dia tak pernah berubah selamanya,tetap dengan tatapan hangat yang seakan selalu merindukanku.
Mengapa aku harus bertemu dengannya setelah apa yang aku lewati?Betapa sempurnanya hubungan kami bila saat ini statusku bukan seorang janda yang hampir mempunyai anak dari pria lain.
Tatapanku berubah menjadi tatapan sedih,menyesali diriku sendiri yang masih terasa tak layak untuknya.
Kami masih saling menatap satu sama lain,sibuk dengan pikiran masing - masing.
"Setiap aku melihatmu,tatapanmu selalu berubah menjadi kesedihan.... apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"
Dia menyadarinya,dia menyelipkan rambutku yang sedikit menutupi pipiku ke telinga.
"Maaf..."
Dia menatapku heran dengan permintaan maafku seakan mencari jawabannya
"Aku masih merasa tak pantas untukmu"
ucapku lirih sambil menundukkan kepala
Dia tersenyum,dan sesaat kemudian dia terkekeh geli masih memeluk pinggangku erat.
"Hana,beritahu aku apa cita - citamu?"
Aku mengangkat wajahku ke arahnya tak percaya dengan apa yang dia tanyakan.
Tak pernah ada yang peduli bahkan bertanya apa cita - citaku,aku berbinar menatapnya.
"Polisi..."
ucapku polos
Dia seakan berpikir sambil mengerutkan dahi,lalu dia menggelengkan kepala tanda tak suka dengan cita - citaku.
"kenapa?!"
Protesku
"Satu,karena itu berbahaya! dua karena sepertinya akan sulit bagimu menjadi polisi disini"
aku memahami alasannya dan mulai mencari profesi lain yang aku dambakan.
"Pramugari?"
Dia menggelengkan kepala kuat - kuat,dan mulai melotot ke arahku
"Kau ingin aku kesepian menunggumu?!Tidak boleh!!!"
aku cemberut mendengar penolakannya,dan mendesah kesal
"Bagaimana kalau menjadi Nyonya Yoon?"
Aku menggelengkan kepala sambil melihat ekspresinya,wajahnya berubah kesal.
"Masih harus dipikirkan !"
Dia makin terlihat kesal dengan jawabanku.
"Jangan marah,aku bukan menolakmu.Hanya saja,bukankah ini rencanamu juga,untuk mengenal satu sama lain terlebih dahulu?"
Aku berusaha agar dia tak lagi marah.
"Kalau begitu beri aku hadiah!"
Dia merajuk sambil menunjuk bibirnya,aku terkekeh geli melihat tingkahnya lalu ku darat kan kecupan di pipinya.
"Bukan disana!"
kembali merajuk masih menunjukan bibir merah alaminya dengan lekukan sempurna.
Aku berusaha melepaskan diri saat chef Jo dan pelayan masuk kekamar mengantarkan sarapan.
"Maafkan kami Tuan"
Mereka menunduk dalam - dalam tak ingin melihat lebih lanjut pemandangan luar biasa di hadapan mereka.
Aku benar - benar malu dengan keadaan itu,dan mulai meronta dari pelukan Min jun yang masih terkunci.
"Tak apa Chef Jo"
Dia berbicara santai sambil mengecup bibirku
Aku melotot memakinya tanpa suara sambil menahan malu.Chef Jo dan dua pelayan itu segera berlalu dan menutup pintu.
"Kenapa?"
Protesnya padaku yang memukul dadanya agak keras.
"Mereka melihatnya !!!"
Apa dia benar - benar tak malu menciumku di depan pelayannya ? sudah pasti aku akan jadi bahan gosip mereka setelah mereka keluar dari kamarnya!
"Biarkan! Kalau perlu aku akan menciummu di hadapan pria yang memelukmu dilift !!!"
Aura cemburu berkobar dari tatapannya,seakan membakar keberanianku untuk melawannya lagi.
"Dengarkan aku,semua orang harus tahu kau adalah milikku."
Dia membuat keputusan yang akan membuatku benar - benar menjaga jarak terhadap orang lain,terutama pria.
Ciumannya di bibirku kali ini mulai memanas lagi,ada gairah dan cemburu yang bersatu di sana membuatku agak gelapan mengimbanginya.
Dia menempelkan dahinya saat melepaskan ciumannya diikuti dengan nafas beratnya yang berhembus di wajahku.
"Kau tahu? aku bahkan tidak tidur karena memikirkan bibirmu yang manis"
Jujurnya
Aku tersipu mendengar ucapannya,ternyata bukan aku saja yang tak bisa tidur.
"Sampai kapan kau akan berkutat dengan keraguanmu?aku bahkan tak bisa menjanjikan kepadamu aku bisa menahan diriku lagi bila setiap kali aku melihatmu aku ingin memilikimu."
sejujurnya,akupun tak tahu sampai mana aku akan tahan bila dia terus - terusan menyerangku seperti ini.
"Kalau begitu,ayo kita menjaga jarak dulu "
usulku,diikuti dengan gelengan kepalanya yang masih menempel di dahiku.
"Aku bahkan ingin segera pulang sesampainya aku di ruang kerjaku"
Dia tersenyum malu.
Ah... hentikan senyum malu-malumu itu !
Kalau begini aku yang takan tahan untuk jauh darimu!!!!
"Ayolah! sekretaris Kim mungkin sudah menunggu diluar!"
Aku mengalihkan pembicaraan
Dia melepaskanku dan melirik jam tangannya,dan sekali lagi merengkuhku lalu mengecup keningku dengan lembut.
" Tunggu aku pulang"
Aku mengangguk dan dia berlalu dengan langkah cepat meninggalkan kamarnya.
"Nampaknya aku sudah terjerat dalam belenggu cintanya yang memabukkan"
Gumanku sambil merapihkan riasan bibirku di depan cermin yang sedikit berantakan karena bibir nakalnya sambil tersipu malu.
Halo readers,
saya Nuti Park menulis novel ini , ini karya pertama saya jadi semoga kalian suka,saya sangat menghargai dengan segala masukan kalian, dan mencoba memberikan yang terbaik. Vote dan like kalian adalah dukungan besar untuk saya menulis novel.
terimakasih ... 💕