COLD FLOWER (Will Bloom Again)

COLD FLOWER (Will Bloom Again)
PERNYATAAN CINTA


Raditya hanya menjawabku singkat saat aku menelponnya untuk ijin hari ini,nampak ada kekecewaan dari suaranya namun aku tak berani membahasnya lebih lanjut mengingat Min Jun yang masih menatapku tajam.


Aku menutup ponselku dan menyimpannya di atas meja,aku menjatuhkan diriku ke tempat tidur tanpa memperdulikan Min Jun yang menatapku dari sofa dengan posisi setengah berbaring.


"Dia pasti kecewa kau tak datang hari ini"


Min Jun melipat tangan di depan dadanya dengan wajah kesal.


Aku bangun dan duduk lalu menatapnya dan memincingkan tatapanku ke arahnya.Dia bakas menatapku heran dengan tatapanku itu.


"Ayo kita tinggal terpisah sebelum menikah"


Min Jun segera beranjak berdiri saat aku mengusulkan hal itu


"Tidak mau!"


Tolaknya


"Aku ingin fokus selama sisa masa kerjaku di perusahaan"


Ucapku serius


Min Jun menghampiriku dan duduk di tepi tempat tidur


"Aku tetap tidak mau"


Ucap Min Jun merajuk


"Kenapa?"


Pertanyaan bodoh yang harusnya aku tahu persis jawabannya


"Aku akan merindukanmu!"


Mata Min Jun berkaca - kaca,namun itu membuatku gemas melihatnya.


Aku mencubit kedua pipinya dengan gemas


"Aku ingin fokus"


Ucapku mempertegas


"Apa kau akan menemuinya di luar jam kantormu?!"


Min Jun lagi - lagi cemburu tak beralasan,aku mendesah kesal menarik tanganku dari pipinya.


"Kau harus mempercayaiku"


Ucapku tertunduk lesu.


permintaanku terdengar tak tahu diri,setelah meninggalkan Min Jun kini aku meminta dia mempercayaiku,itu pasti sulit untuknya.


Namun,aku tak ingin di ingat sebagai karyawan yang tidak profesional.Aku ingin bekerja di perusahaan sampai akhir dengan hasil memuaskan.


"Baiklah,aku akan mengirim orang untuk mengantar jemputmu"


Min Jun nampak melonggarkan peraturannya sendiri,dia nampak ingin menjalani hubungan yang saling percaya satu sama lainnya meski tetap dalam pengawasannya.


Aku tersenyum senang mendengarnya,biarlah dia melihat betapa aku takan goyah untuk bersamanya kali ini walau ada di situasi apapun.


****


Pagi itu Raditya nampak enggan melihatku,dia selalu mengalihkan pandangannya ke komputer.


Aku sendiri memilih sibuk dengan berkasku,karena aku sudah tak mau membahas mengenai ucapannya pada Min Jun malam itu.


Aku malah takut membuat situasi semakin canggung.


Raditya berdehem beberapa kali dan memanggilku untuk menghampirinya,aku mendekatinya


"Ya Pak?"


"Maksud saya ... Radit..."


Entah mengapa bersikap formal sangat terlarang untukku.


"Kayanya Y Company minta presentasi di majukan jadi besok,kamu siap kan?"


Tanya Raditya khawatir


Aku menggeram dalam hati.


Min Jun serius saat menyebutkan kata sesegera mungkin.


Artinya waktuku di perusahaan ini sungguh sangat sedikit,aku sedih membayangkan harus berpisah dari teman - teman yang sudah membuatku tetap ceria.


"Kamu gak apa-apa Hana?"


Lamunanku pecah mendengar suara Raditya


"Aku siap "


Raditya tersenyum mendengar ucapanku


"Terimakasih atas loyalitas yang kamu berikan untuk perusahaan ini,apapun hasilnya jangan di pikirkan"


Raditya menatapku dengan perasaan tulus.


"Dan...Maaf masalah malam itu "


Raditya membuka suaranya membahas hal yang sebenarnya tak ingin aku bahas bersamanya


"Tapi aku serius "


Aku menatap wajah Raditya kaget,bagaimana dia se blak - blakan itu di hadapanku?


Wajahnya nampak merah padam,namun dia berusaha tenang dengan menghela nafas.Sementara aku masih terkesima dengan ucapannya.


"Maaf kalau aku seperti pemimpin yang tidak profesional Hana,tapi saya benar - benar menyukai kamu"


pernyataan itu membuat lututku bergetar.


kenapa harus ada hal semacam ini ketika aku akan menikah dengan Min Jun


"Dia bilang kamu calon istrinya? tapi... aku merasa gak salah kan kalau aku mendekati kamu sebelum kamu menikah.Jadi,pertimbangkan dengan baik siapa yang lebih pantas untuk kamu"


genderang perang Raditya berbunyi nyaring


Kalau Min Jun tahu tentang pernyataan Raditya ini,sudah pasti aku tidak akan bisa menginjakan kaki ku di kantor lagi.


"Maaf,tapi saya benar - benar hanya menghormati kamu sebagai pemimpin di perusahaan ini"


Tolakku halus namun jelas,membuat pandangan Raditya menjadi mendung


"Kamu gak usah buru - buru.Tolong biarkan aku dengan perasaanku sendiri,jangan terbebani"


Sudah pasti akan membebaniku,dia adalah boss ku saat ini dan dia sekarang berterus terang ingin merebut hatiku dari Min Jun.


"Aku pikir lebih baik aku pura - pura gak dengar omongan kamu ini"


Raditya menatapku sedih setelah mengucapkan kalimat itu.


"Maaf"


ujarku lagi pelan


Aku tahu Raditya akan terluka dengan ucapanku tapi aku benar - benar tak ingin memberi harapan apapun untuknya.


Raditya hanya menjawabku dengan senyuman,dia sama sekali tak berniat mengikuti ucapanku untuk melupakan perasaannya.


Sebaliknya,dari tatapannya dia nampak bertekad meyakinkan perasaanku padanya.


****