COLD FLOWER (Will Bloom Again)

COLD FLOWER (Will Bloom Again)
SENYUM YANG HILANG


Aku tersenyum saat dokter memberitahukan kehamilanku,ada manik air mata yang hampir jatuh saat dokter memberikan kabar itu.


Robin pasti akan senang mendengarnya...


Aku menelponnya sedari aku masuk IGD karena pingsan saat di tempat kerja,namun dia tidak menjawab ...


Beberapa kali aku kirim pesan singkat pun tak dia baca,di bus aku mulai gusar menunggu balasannya.


Aku tahu seberapa dia sangat tidak suka aku pulang telat,dia akan merasa aku tak menghormatinya sebagai suami dan akan mengira aku berselingkuh.


Aku tahu dia sangat mencintaiku,itu sebabnya dia sangat protektif terhadapku,ku elus beberapa kali perutku,sambil tersenyum menenangkan diri.


Robin pasti tak akan marah kalau tahu aku pingsan karena aku sedang mengandung dan dokter menyarankan aku untuk banyak istirahat.


Aku setengah berlari memasuki rumah kulihat pintu tak tertutup rapat ,aku menghela nafas kesal


"pasti Robin lupa lagi menutup pintu rapat!"


Aku melangkah masuk sesaat setelah aku melihat sebuah sepatu higheels wanita tercecer berantakan di depan pintu,tak ada pikiran jelek apapun,sampai aku mendengar suara dari kamar tidurku.


"Tubuhmu nikmat sekali Miya ... Oh ... "


Aku mematung di depan pintu kamarku ,berusaha mencerna apa yang aku dengar


"Ah... ah... Robin kalau istrimu pulang gimana ?ah... "


Suara seorang wanita dengan nafas memburu terdengar oleh kedua telingaku, hatiku terbakar seketika.


"Biarin aja sayang,dia cuma atm berjalan kita ahh... ah...ohhh"


Dengan tangan bergetar ku dorong pintu kamar yang tak tertutup rapat itu perlahan , mengsinkronkan apa yang ku dengar dengan perkiraan buruk yang ada di benakku.


Sepasang manusia sedang bergumul dengan nafsunya di atas ranjangku , dan lelakinya adalah suamiku .


Suami yang ku sokong kehidupannya karena dia memutuskan untuk kuliah lagi,dan ku cintai segenap jiwa raga ,ayah dari si jabang bayi di dalam perutku.


Mereka menghentikan aktifitasnya,saat mereka menyadari kedatanganku.


Tanganku bergetar hebat menutupi mulutku tak percaya ,air mata sudah tumpah dari mataku membasahi pipi.


Dengan susah payah mereka menutupi tubuhnya dengan selimut yang selama ini aku pakai berdua dengan Robin.


"Pergi kalian dari sini!"


Setengah menjerit dengan tatapan tertunduk, aku menunjukan jalan keluar di belakang tubuhku.Robin sibuk memakai bajunya lalu mendekatiku.


"Maaf sayang ..."


Aku beringsut mundur tak ingin di sentuh tangan menjijikannya lagi.


Wanita di atas ranjang itu dengan tak tahu malunya memutar bola mata tanda muak dengan kedatanganku yang mengganggunya.


"Kita cerai !!! aku baru sadar aku telah menyokong seorang lelaki pengkhianat seperti kamu demi menghidupi perempuan murahan seperti dia !"


emosiku meledak saat itu juga


Wanita di atas ranjang itu dengan menggunakan selimut melompat ke arahku dan menjambak rambutku kasar.


"Makanya kalau punya suami itu di jaga jangan cuma dikasih duit !!! cewek ***** lu !!!"


Aku melakukan perlawanan sekuat tenagaku, rambutnya ku jambak dan ku tarik keras, dan yang mencengangkan Robin ternyata lebih membelanya dengan memasang badannya dan mendorongku,aku terpelanting ke belakang, jatuh terduduk.


Beberapa saat kemudian,aku mengaduh kesakitan karena perutku terasa nyeri luar biasa, mereka malah saling berpandangan tanpa menolongku.


Ibaku sambil memegangi perutku,berusaha menahan sakit


Naluriku berkata anak dalam kandunganku sedang dalam bahaya, hanya itu yang ada dalam pikiranku.


" Pura - pura ya ?!"


Perempuan itu tertawa sinis di hadapanku yang tersungkur.


Robin yang dulu tak lagi ku kenali,dia segera pergi meninggalkanku yang kesakitan bersama wanita ****** itu.


Entah dia berubah atau memang dia seperti itu dari sejak dulu,hanya saja aku tak tahu....


Bodohnya aku.


Aku tertinggal di kamar itu, kamar yang menjadi saksi pengkhianatan Robin bersama wanita itu, aku mengaduh kesakitan sambil berusaha meraih handphone ku yang berserakan dari tas ku.


Usaha terakhirku adalah menelpon nomor darurat,agar ada yang menolong anak dalam perutku,setelah itu pandanganku menghitam dan aku tak ingat apapun.....


****


Pandanganku kosong ....


Saat dokter menjelaskan aku sudah kehilangan jabang bayiku,karena pendarahan hebat.


Air mataku mengalir deras tanpa suara ....


"Tuhan kenapa kau hanya menitipkan sebentar saja dia di rahimku ...."


Aku menangis pilu di bangsal rumah sakit tanpa seseorang yang menemani,inilah saat dimana senyumku hilang bersama anakku yang pergi.


"maafkan ibu nak,ibu tak bisa menjagamu bahkan saat kau masih segumpal darah ..."


Isakan ku kini tak lagi tertahan terdengar menggema ke seluruh tubuh ruangan itu.


Redup sudah cahaya kehidupanku.


****


Sejak saat itu,Robin tak pernah terlihat lagi batang hidungnya ,bahkan saat aku mengantarkan surat perceraian Robin ke kampusnya,ternyata namanya tak pernah terdaftar sebagai mahasiswa di perguruan tinggi besar itu.


Bodohnya aku yang terlalu mencintainya , hingga aku terlalu percaya terhadapnya ...


***


Perceraian itu setelah proses panjang akhirnya selesai.


Dan aku mulai menata hidupku lagi perlahan,meskipun aku belum dapat melupakan anakku dan rasa sakit hatiku,atau mungkin takan pernah lupa.


Aku mulai belajar bahasa korea , dan setahun kemudian aku di salurkan untuk melamar kerja di beberapa perusahaan di Seoul.


Berbekal uang tabunganku,aku berangkat pergi menuju Seoul ,berharap aku menemukan hal yang menarik yang mampu membuatku lupa akan sakitnya perasaanku dan dapat tersenyum dengan hati yang hangat lagi.


Semoga....


Halo readers,


saya Nuti Park menulis novel ini , ini karya pertama saya jadi semoga kalian suka,saya sangat menghargai dengan segala masukan kalian, dan mencoba memberikan yang terbaik. Vote dan like kalian adalah dukungan besar untuk saya menulis novel.


terimakasih ... 💕