COLD FLOWER (Will Bloom Again)

COLD FLOWER (Will Bloom Again)
NAMA PANGGILAN


Hari ini adalah hari aku terakhir bersama teman-teman timku sebelum aku dipindahkan ke ruangan Pak Raditya untuk persiapan presentasi.


Mereka tak henti-hentinya menyemangatiku,dan seakan menaruh harapan besar padaku.


Setelah selesai lembur,aku berjalan keluar kantor hendak memesan ojek online.


"Hana"


Suara yang tak asing menyapaku


"Malam Pak"


Ucapku pada Pak Raditya yang ternyata ada di depanku.


"Kamu lembur?"


tanyanya dengan posisi masih memasukan tangannya di saku celana


"Iya pak,biar besok teman-teman bisa meneruskannya"


Aku tersenyum,masih memegang smartphoneku


"Kamu di jemput ?"


aku mensejajari tempatnya berdiri


"Di jemput Pak"


Aku mulai mengalihkan pandanganku pada smartphone akan memesan ojek online


"Sama siapa?"


dia bertanya agak ragu


"Ya ampun ini Boss...kok kepo amat sih?"


aku memandangnya sambil memaksakan senyum.


"Di jemput sama ojek online Pak..."


Ujarku polos


Dia terkekeh,menutupi senyum dengan tangannya.


"Saya kira kamu di jemput pacar"


Seakan menertawakan kejombloanku


"Sama-sama di jemput kan Pak"


Jawaban netral


Aku menunjukan gigiku,tanda tak terusik dengan ucapannya.


"Kalau gitu,bareng saya saja.Saya antar"


Aku menjawab ajakannya dengan raut wajah bingung


"Terimakasih Pak,saya sudah memesan ojek online.Orangnya sudah dekat sini"


Tolakku halus sambil memperlihatkan layar smartphoneku


"Oh .... Apa gak apa - apa perempuan pulang sendirian malam begini pake ojek online?"


Telisiknya penuh rasa khawatir


"Apa sih yang dia pikirin?! gak bakalan di culik juga kan?"


"Pak Radit... sistem ojek online ini aman kok,lagian gak ada yang mau juga nyulik orang kaya saya "


kekehku geli,tapi Pak Raditya nampak serius menanggapi ucapanku


"Ya ...kamu kan perempuan,cantik... nanti ada yang nyulik loh"


saat dia mengucapkan kata cantik dia terlihat ragu sambil mengusap tengkuknya dengan tangan.


"Kalau saya anak orang kaya mungkin ada yang nyulik saya dan minta uang tebusan sama orang tua saya Pak,tapi saya bukan siapa - siapa"


Jangankan kemewahan,orang tuapun aku sudah tak punya dari dulu.


Wajahnya berubah seperti memikirkan ucapanku.


Tak lama ojek online datang


"Pak Radit saya duluan ya,ojek onlinenya udah datang"


Pamitku,dia hanya menganggukan kepala membiarkanku berlalu.


****


Rutinitas pagiku selalu monoton sampai aku tiba di kantor,ditempat ini selalu menyimpan sejuta kejutan.Ditambah ini hari pertama aku satu ruangan dengan Pak Raditya.


Setelah semalam suntuk aku membaca bahan presentasi,aku merasa ada kekurangan di dalamnya tapi entah apa itu alhasil aku tidak tidur memikirkannya.


"Cieee yang mau seruangan sama si Boss ampe gak tidur ya?"


Mbak fany mulai meledekku yang sedang mengemasi berkas ke dalam kotak kardus dengan lemas.


"Aku baca bahan presentasi sampai gak tidur Mbak,kaya ada yang kurang gitu rasanya ... tapi gak nemu sampai pagi "


jelasku


"Ah paling Mbak Hana deg - degan mau seruangan sama Boss ganteng... "


Rayya ikut menimpali sambil menutupi mulutnya


"Hana ... kalau beruntung bisa kayanya lu jadi ceweknya hehehe"


Randy muncul dari arah belakang sambil menepuk pundakku


"Apaan sih kalian?aku seriusan lagi mikirin itu ,kalian mikirnya yang aneh-aneh... lagian aku sama si Boss udah beda level,beda dunia..."


Ucapku agak getir


Bukan karena Pak Raditya,tapi aku tahu rasanya menjalin hubungan dengan status sosial yang berbeda ...


Setelah membereskan semuanya aku pamit pada mereka dan membawa kotak itu menuju ruangan Pak Raditya.


"Selamat pagi Pak..."


Ternyata Pak Raditya sudah ada di dalam sedang membolak balik berkas ditangannya,pemandangan yang dulu selalu membuatku terpana bila dilakukan oleh Min Jun.


"Pagi Hana ,kamu sudah datang?ini masih pagi"


ucapnya sambil melirik jam tangannya


"Ngejar busway Pak"


tuturku jujur


Setiap hari aku harus berangkat lebih pagi,karena kosanku agak jauh dari kantor.


Di area perkantoran ini harga sewa kos bisa tiga kali lipat harga kos ku saat ini.


"Duduk disana saja ya "


Dia menunjuk sebuah sofa panjang dengan meja putih di depannya,aku menaruh kotak itu di atas meja dan mulai berbenah.


Pak Raditya ikut duduk di sebelahku,beberapa saat dia diam membiarkanku membereskan area kerja baruku.


"Mata kamu kenapa?"


Dia melihat wajahku yang nampak kusut karena kurang tidur


"Oh... saya baca bahannya Pak semalam,biar saya agak paham"


aku mengusap kedua mataku dengan jari - jariku,sejujurnya mataku agak terasa kesat ketika berkedip.


"Walaupun ini presentasi penting,kamu juga harus sehat..."


Dia menghela nafas sambil menyandarkan tubuh ke sofa


Aku melihat kantung matanya yang menggantung,rupanya dia juga tidak tidur ...


"Pak Radit juga harus jaga kesehatan dan pola tidur"


ucapku seraya membuka laptop


"Saya gak bisa tidur karena mikirin sesuatu yang gak ada jawabannya"


"Gak ada jawabannya Pak?"


telisikku ragu


Dia mengangkat badannya ke posisi tegak,memandang laptopku.


"Kamu buat presentasi versi kamu?"


Aku terkejut dan menutupi layar laptop dengan tanganku.


Aku memang mencoba membuat presentasi versiku sendiri kemarin malam,tapi tidak untuk ku tunjukan pada Pak Raditya ... Bagaimana kalau dia berpikir aku ini so pintar ?


Dia menyingkirkan tanganku dan meraih laptop kepangkuannya,aku hanya meremas jari-jariku sambil sesekali berusaha membaca ekspresinya.


"Ini bagus loh... saya gak nyangka kamu bisa buat bahan sebagus ini"


Pujinya tiba-tiba membuat aku semakin terkejut mendengarnya


"Maaf Pak Radit,saya gak bermaksud mengubah apapun.cuma saat saya baca versi punya Pak Radit,ada sedikit hal yang mengganggu saya."


tuturku sambil menunduk dalam - dalam.


"Bagus kok,saya senang bisa dapat partner yang bisa punya ide sendiri"


Ucapnya masih menggeser - geser kursor laptopku.


"Kita pakai yang ini saja,saya suka yang ini lebih menarik grafiknya"


Dia tersenyum puas ke arahku


"Tapi Pak..."


Aku ragu dengan keputusannya


"Gak apa - apa kalau kesalahan dikit - dikit kita masih punya waktu buat perbaiki semuanya biar tambah perfect"


ucapnya sambil mengacungkan jempolnya


Ya ... kalau Pak Raditya bilang seperti itu,aku sudah tak ingin membantah.Ternyata dia orang yang menghargai kerja keras orang lain.


"Hana ... "


Dia memanggilku sambil menyimpan laptopku ke posisi semula.


"Ya Pak ...?"


Jawabku dengan posisi duduk sigap.


"Boleh saya minta sesuatu ?"


Dia menatapku dalam


Ada perasaan aneh menerima tatapan dari atasan seperti saat ini


"Sesuatu apa ya Pak?"


tanyaku ragu


"Kalau kita lagi berdua,jangan panggil saya Pak ya ..."


aku mengerutkan dahi dengan permintaannya


"Jadi saya harus panggil apa Pak?"


tanyaku bingung


"Panggil Radit aja.... Saya kan belum tua,kita hanya beda tiga tahun... saya kemarin lihat - lihat data diri kamu"


aku semakin bingung dengan ucapannya tapi yang pasti dia sudah tahu statusku


"Maaf Pak Radit,panggilan Pak bagi saya adalah tanda saya sangat menghargai anda sebagai pimpinan perusahaan ini"


Tolakku halus


Dia memasang wajah tak suka yang membuatnya terlihat imut,seperti anak kecil yang tidak di turuti kemauannya.


"Saya cuma ingin selama bekerja didekat saya kamu gak canggung,dan saya akan merasa lebih nyaman karena merasa kita partner"


kilahnya lagi tak memberi celah untuk penolakan


"Saya akan mencoba"


Daripada menghabiskan waktu untuk debat tak penting ini,lebih baik waktu yang berharga ini dipakai untuk revisi bahan presentasi bukan????


Dia tersenyum menang dan beranjak menuju mejanya.


Akupun mulai bekerja dengan laptopku,sepanjang hari itu aku dan dia sama - sama fokus pada bahan presentasi agar lebih sempurna seperti keinginannya.


Waktu pun bergulir tanpa terasa ...


Bahkan untuk makan siang,kami makan di depan laptop masing - masing tanpa berbincang.


Aku meregangkan otot - ototku yang mulai kaku,dan terdiam sejenak menatap kotak makan yang sudah ku lahap isinya.


Pikiranku selalu melayang kepada orang yang dulu selalu menantikanku mengantar kotak makan siangnya


Entah apa kabarnya sekarang...


Mungkin sudah lama ada orang lain yang mengantarkan kotak makan siangnya menggantikan aku.


Aku melemparkan pandangan sedihku,tanpa sengaja aku malah bertatapan dengan Pak Raditya yang seakan sedari tadi memperhatikanku.


"Hana?Kamu kenapa?"


Dia beranjak dari kursinya dan menghampiriku.


Aku tak menyadari selama aku tenggelam dalam pikiranku tentang Min Jun aku menangis tanpa suara,ku usap cepat air mata yang sudah membasahi pipiku.


Pak Raditya sudah ada di sampingku sambil terus menatapku.


"Kamu kenapa tiba - tiba nangis?"


tuturnya lembut menenangkan hati yang mendengar suaranya


aku tersenyum setengah gelagapan menyembunyikan ekspresiku


"Gak nangis kok Pak,mata saya perih mungkin kering karena liat laptop terus dan kena AC"


Alasan yang tepat meluncur dari mulutku,tapi ekspresi Pak Raditya seakan tak percaya


"Yakin???"


Aku menganggukan kepala cepat mengusir rasa tak percaya Pak Raditya jauh - jauh.


"Ya syukurlah... saya kira kamu nangis karena gak nyaman"


Dia menghela nafas lega


"Gak kok Pak ..."


Senyumku mengembang agar dia tak berpikiran lebih jauh lagi.


"Habisnya kamu dari tadi masih panggil saya Pak,canggung banget dengarnya"


Protesnya


"Maaf Ra..dit..."


raguku sebut namanya agar dia tak memulai kembali perdebatan mengenai nama panggilan ini,dia sedikit tersipu malu dan tersenyum senang mendengar namanya ku sebut.


Namun dia tak berkata apapun dan kembali duduk ke kursinya,meraih sebuah map file yang kini menutupi wajahnya dari pandanganku.Agak aneh melihat tingkah seorang Boss yang tersipu saat seorang pegawai biasa di kantornya memanggil namanya.


"Ini boss kenapa sih sebenernya?sesenang itu ya dipanggil nama!"


Aku memutuskan tak memikirkan lagi tentang ekspresinya dan mulai fokus kembali ke layar laptopku.


Sisa hari itu,kamu habiskan hanya di ruangannya tanpa keluar sama sekali.


****


Halo readers,


saya Nuti Park menulis novel ini , ini karya pertama saya jadi semoga kalian suka,saya sangat menghargai dengan segala masukan kalian, dan mencoba memberikan yang terbaik. Vote dan like kalian adalah dukungan besar untuk saya menulis novel.


terimakasih ... 💕