COLD FLOWER (Will Bloom Again)

COLD FLOWER (Will Bloom Again)
KALAH SEBELUM BERTARUNG (RADITYA)


Aku menyentuh ujung bibirku yang mengeluarkan darah di depan cermin,ku kepal tanganku geram.


Aku benar - benar tak berdaya saat wanita itu tersudut di tangan pria itu,bukan karena aku tak bisa melawannya tapi saat ini aku bukan siapa - siapa yang bisa ikut campur masalah pribadinya.


Aku menatap pantulan diriku di cermin dengan kesal lalu menunduk frustasi,aku baru akan memulai mengenalnya lebih dalam kenapa harus ada hal seperti ini?


Bertemu pertama kali dengannya beberapa hari yang lalu,menyadarkanku bahwa masih ada wanita kuat yang mampu mempesonaku.


Dengan segala masalalunya dulu,hatiku bergetar ikut merasakan kepedihannya.


Tapi...


getaran itu bukanlah perasaan kasihan...


Aku menyukainya,menyukai setiap gerak geriknya yang membuatku ingin mendekap tubuh mungilnya dan melindunginya dari dinginnya dunia yang pernah dia rasakan.


Ku pejamkan mataku yang terus menerawang jauh,mengkhawatirkan keadaannya sekarang.


Ku acak kasar rambutku,bahkan aku tak berhak menanyakan keadaannya saat ini!


ini membuatku gila!


****


Malam itu ku habiskan hanya untuk mengkhawatirkannya,dan menatap nomornya di layar smartphoneku yang beberapa kali berniat untukku panggil namun ku urungkan niatku.


Saat matahari belum menampakan dirinya aku bahkan sudah bersiap meluncur menuju kantor,aku hanya ingin melihatnya dan mendengar ceritanya.


Setibanya di kantor,aku hanya duduk dengan resah menunggu kedatangannya sampai seseorang mengetuk pintuku.


"Masuk"


perintahku seraya membenarkan posisi dudukku berusaha terlihat rileks


"Selamat pagi Pak"


Sapanya sambil mengangguk sopan


Aku tak suka panggilan itu!


Dengan dress warna soft itu dia nampak elegan dan sangat cantik,rambut panjang terurainya seakan melambai mengikuti gerakannya.Tanpa menjawab aku mengisyaratkannya untuk duduk dengan telunjukku.


Dia duduk sambil menatapku lekat,jantungku berdebar saat mata coklatnya menyusuri wajahku,seakan memeriksa setiap garis wajahku dan tatapannya berhenti di sudut bibirku yang sedikit lebam


"Saya minta maaf Pak"


Dia menundukan kepala penuh penyesalan.


Aku tak ingin dia memanggilku dengan sebutan itu lagi!!!!


Sangking kesalnya aku menggebrak meja keras,dia terlihat terperanjat.


"Kan kemarin sudah sepakat kalau gak ada panggilan Pak lagi! Lupa ya kamu!"


Dia menghela nafas,entah tak suka atau tidak dengan ucapanku itu.


"Ceritakan dari awal"


Ucapku sambil memangku daguku dengan tangan,menyondongkan tubuhku ke arahnya seakan ada magnet yang menarikku.


Dia menatapku penuh keraguan,mungkin dia tak ingin menceritakannya padaku.Tapi aku tetap ingin tahu...


semuanya tentangnya.


"Sebenarnya aku sih gak mau mencampuri urusan pribadi kamu,tapi karena kemarin aku sudah terseret ke sana... sepertinya aku berhak tahu"


Ujarku sambil menjulurkan lidah ke ujung bibirku yang agak lebam,seakan menjadikannya alasan untuk mendengar semua ceritanya.


"Pria yang kemarin itu Calon suamiku dulu"


Dia mulai membuka suaranya nampak hati - hati


Bagai disengat listrik mendengar pengakuannya,aku mengusap usap bibirku berusaha menutupi kegusaranku.


"Calon suami?!"


Perasaan cemburu menyelimutiku,namun aku menahannya agar tak terlihat sebisa mungkin.


"Waktu di Seoul setahun yang lalu,dia calon suamiku ... sampai ada suatu hal yang membuatku harus memilih untuk meninggalkan dia,demi kebaikannya.Maka dari itu aku kembali ke sini"


Dia melanjutkan ceritanya


Sungguh semua jalan pikirannya membuatku semakin jatuh cinta,bagaimana seorang wanita bisa berkorban hingga mengabaikan perasaannya sendiri.


"Aku tidak tahu bahwa dia mencari informasi tentangku disini,aku pikir semua sudah berakhir ... tapi ternyata dia mendatangiku kesini"


Ada rasa haru dimatanya,yang membuatku mengepalkan tangan menahan perasaan cemburu yang sudah berapi - api di hatiku.


"Lalu setelah aku pergi apa yang terjadi?"


Aku bertanya mengalihkannya,aku hanya mengkhawatirkannya semalaman sama sekali tak ingin tahu tentang pria itu!


"Dia marah karena aku memutuskan meninggalkannya dulu,tapi dia juga merindukanku sama seperti aku merindukannya"


Dia segera menutup mulutnya.


"Hentikan memperlihatkan betapa kamu mencintai dia !"


Aku menunduk frustasi dan tersenyum getir menghadapi wanita yang ingin ku dekati ini memiliki pria lain di hatinya.


"Maaf,dia cemburu saat kamu berusaha melindungiku kemarin malam.Dia menyangka kamu adalah...."


"Pacar kamu"


Aku menebaknya.


Dia mengatup bibirnya rapat,tebakanku benar!


Aku tersenyum sinis,ternyata pria itu punya feeling yang kuat.


Aku memang berniat untuk menjadikan wanitanya sebagai pacarku,bukan sebagai milikku.


Dia mengigit bibirnya,nampak kegusaran dari ekspresinya.Ekspresi yang akan membuat semua orang menyukainya tanpa dia sadar.


"Maaf"


ucapnya pelan


Aku terkekeh melihat wajah gusarnya,menikmati ekspresinya yang imut itu.


"Instingnya bagus juga"


Dia menatapku bingung saat aku melontarkan kalimat itu,namun tak mengucapkan apapun


"Jadi kamu kembali padanya ?"


Rasa penasaranku mengalahkan rasa khawatirku kalau dia merasa terusik.


Aku ingin tahu!


Dia diam beberapa saat dan matanya berlarian seakan memikirkan sesuatu.


Dia menganggukan kepala,lalu kembali menunduk.


Jawabannya menyakiti perasaanku bagaikan hujaman pisau menusuk jantungku.


"Aku akan mencoba kembali hubungan ini,karena dia tak ingin aku melihat status kami yang berbeda lagi."


Ucapnya masih menunduk.


"Hentikan...kumohon hentikan!hatiku sudah panas terbakar saat ini**!"


"Permintaan maaf di terima."


Ucapku agar dia tak lagi menceritakan kisah cintanya padaku.


"Tadinya ku pikir dia akan datang kesini,tapi nampaknya dia masih bersembunyi di balik kamu.Dan ku pikir kejadian semalam...kamu dan dia sama - sama gak bersalah.Kalau aku jadi dia aku bakal melakukan hal yang sama,dan kalau aku di posisi kamu akupun akan bingung sama situasinya"


Ucapku mencoba memahaminya,menekan dalam - dalam egoku yang ingin merebutnya dari pria yang bahkan tak menampakan batang hidungnya untuk meminta maaf padaku.


"Yang salah itu aku kok,aku yang gak tahu apa - apa secara refleks ingin melindungi kamu"


Aku menunduk mengakui diriku yang bukan siapa-siapa


Aku melihat ekspresinya yang mencari arti ucapanku,aku berdehem beberapa kali menyadari ucapanku akan membuat dia tahu isi hatiku yang ingin melindunginya.


"Ya pria manapun bakal refleks begitukan kalau teman perempuannya di posisi kemarin?"


aku memaknai perkataanku sendiri,dia menganggukan kepala merasa tahu arah ucapanku


"Apapun itu alasannya,kita benar - benar minta maaf sudah membuat kamu terseret ke masalah pribadi kita "


Ucapnya tulus


Aku hanya memejamkan mata sambil menganggukan kepala.


"Kita ya ?! ini benar - benar seperti tertembak sebelum maju ke medan perang!"


"Kalau saatnya tepat,dia akan minta maaf juga atas semuanya.Saat ini dia sedang sibuk,mohon memakluminya"


Aku menggeram dalam hati,si brengsek itu membuat wanitanya memohon untuk kesalahannya padaku karena alasan sibuk!


Aku menghela nafas panjang berusaha mengontrol emosiku dan menyangga daguku lagi menatap wajahnya yang mampu meredam segala gejolak emosi di hatiku.


"Kita mulai kerja lagi ya !"


Lebih baik mulai bekerja dari pada Hana terus menceritakannya padaku.


Dia menganggukan kepala dan mulai membenahi berkas di meja dekat sofa.


Hari itu dia terlihat bersemangat,tapi tidak denganku.


Aku hanya menatapnya sesekali dari mejaku sambil berpura - pura bekerja,aku masih merasa sedih mengetahui Hana ternyata akan segera termiliki pria lain,dan Hana mencintainya.


Apa aku harus menyerah sebelum bertarung?


Tapi,Hana belum menikah dengannya kan? bukankah tak apa kalau aku mencoba merebut hatinya selama dia belum menjadi istri orang???


Nampaknya aku harus sedikit berjuang lebih keras agar dia melihatku,untuk memiliki sesuatu yang kita inginkan tentu harus melalui kerja keras bukan?


Baiklah,ini hanya awal ...


Selama dia belum menikah,akan ku coba untuk membuatnya melihatku sebagai pria yang bisa membuatnya bahagia.


Apapun hasilnya,yang terpenting aku sudah berjuang mendapatkan hatinya.


Dia menyelipkan rambutnya yang menutupi pipinya membuatku darahku berdesir.


"Ya Tuhan!!! ku mohon biarkan dia menjadi milikku!"


Walaupun hari ini aku merasa kalah sebelum bertarung,tapi aku harus yakin untuk memenangkan hatinya.