COLD FLOWER (Will Bloom Again)

COLD FLOWER (Will Bloom Again)
KONTRAK KERJA


Pagi itu aku terduduk di tempat tidur besar itu menatap lenganku yang tertutup kemeja panjang berwarna putih.


Entah baju siapa ini... aku menciumi aroma yang menempel di lengan kemeja itu,aroma mint yang kuat sungguh sangat menyegarkan,mungkin ini baju seseorang yang bekerja disini.


Seseorang mengetuk pintu kamar,aku beranjak pelan dari tempat tidur itu dan membuka pintu kamar,nampaknya kondisiku membaik tak ada lagi selang infusan ketika aku membuka mata,entah kapan di lepasnya dan aku tak merasakan sakit yang luar biasa lagi di lenganku.


Dua orang gadis dengan seragam pelayan rapi terlihat lebih muda dariku menunduk hormat,aku membuka agak lebar pintu itu dan melepas handlenya.


"Maaf kami mengganggu Nona ..."


"Nona?!hahahaha apa aku tak salah dengar?"


aku tak pernah diperlakukan dengan hormat seperti ini sebelumnya,agak membuatku tak nyaman.


"Tak apa,aku sudah bangun dari tadi..."


mereka tersenyum ramah


"Kami diperintahkan Tuan muda untuk mengantar baju ganti nona,setelah nona bersiap Tuan muda menunggunya di ruang kerja,kami akan mengantar nona nanti"


salah satu dari mereka menyodorkan setumpuk baju kepadaku.


Aku menatap tumpukan baju itu,semuanya berwarna pastel,aku meraihnya dan memindahkannya di tanganku.


" Terimakasih,aku akan bersiap-siap"


dua gadis itu menatapku


" Kami akan menunggu di kamar nona ,kalau - kalau anda membutuhkan bantuan"


"what?! mau apa mereka ? menungguku mandi?!"


aku terkekeh pelan, dan mereka saling berpandangan bingung.


"Kalian tunggu saja diluar,15 menit lagi aku siap."


aku bersiap menutup pintu kamar,bagiku sangat canggung ada orang yang menungguku mandi.


"Baik nona"


mereka mundur selangkah dan memberi hormat lagi.


"Apa-apaan ini?!"


Aku menatap tumpukan baju di lenganku dan ku simpan di atas tempat tidur dan berlalu ke kamar mandi.


Setelah mandi,aku merasakan luka jahitan dilenganku perih mungkin karena terkena air.


Aku memandang luka yang masih tertutup plester itu sambil meringis,plesternya terlihat basah tapi aku tak yakin bahwa aku harus melepasnya sekarang,jadi aku membiarkannya.


Aku menuju tumpukan baju itu ,warna biru muda lah yang menjadi pilihanku.


Ku bolak balik dress dengan lengan pendek itu memiliki desain elegan dan nampak mahal.


Setelah selesai memakainya,aku menyisir rambutku yang basah tanpa mengeringkannya,karena aku tak menemui head dryer di dekat kaca.


Aku segera keluar dari kamar,dan di sambut kembali dua gadis itu,mereka lagi - lagi menunduk hormat.


" Tuan muda sudah menunggu Nona "


salah satu dari mereka menunjukkan arah jalan dengan gaya sopan


"Bisakah kalian tidak memanggilku 'Nona'? aku tidak nyaman dengan sebutan itu,cukup panggil aku Hana "


Mereka menunduk hormat lagi,apa tidak lelah?


"Maaf Nona ,Tuan Muda memerintahkan kami untuk memanggil anda Nona"


"Apa? untuk apa? toh aku kan jadi pelayan dia juga akhirnya "


Ku lempar senyum datarku


Tapi kali ini aku sudah tak ingin membantah,tentulah mereka pasti akan menuruti keinginan bossnya ,bukan keinginanku.Salah - salah malah mereka terkena masalah karena tidak menuruti perintahnya.


Aku mengikuti kedua gadis itu menyusuri rumah yang sangat besar ini,nuansa serba putih dan abu - abu memenuhi setiap sudutnya menambahkan kesan elegan.


Kami berhenti di sebuah pintu putih dan salah satu dari gadis itu mengetuknya


"Tuan muda , Nona Hana sudah disini"


kemudian mereka berdua mundur di belakangku


" Masuk"


Aku membuka pintu itu, Dia sedang terduduk di kursi di balik meja besar nampak seperti sedang memikirkan sesuatu dengan tangan dipelipisnya,lengkap dengan setumpuk berkas di pinggiran meja.


"Selamat pagi Tuan"


Aku berusaha tenang saat dia melemparkan pandangannya ke arahku,dengan kemeja panjang putihnya dia nampak bercahaya.


"Duduk"


dia menunjuk kursi di depan mejanya dengan tatapan dingin.


Aku duduk tepat di hadapannya yang masih membolak balik berkas di tangannya,kemudian menutupnya menyimpannya di atas meja dan kembali menatapku.


Bulu matanya yang panjang dan alisnya yang tebal seakan menjadi pelengkap mata sendunya.


"Aku tahu aku tampan,tapi tak usah seperti itu ekspresimu! lihat air liur mu!"


aku terkesiap mendengar ucapannya dan reflek menyeka mulutku yang tak basah,dia terkekeh pelan menutupi matanya,itu ekspresi senang kan? bukan ekspresi malu - malu?


"sial! dia menggodaku!!!"


Aku mengembalikan ekspresi datarku,yang sesaat lupa ku simpan dimana saat menatap wajahnya.


"Maaf Tuan"


Dia mencondongkan tubuhnya,dan menatapku dalam.Aku memundurkan tubuhku saat dia terus menatapku selama beberapa menit.


"Kau tidak mengeringkan rambutmu?"


"Tidak ada head dryer di kamar,Tuan"


Dia mengatup bibirnya beberapa detik dan kembali mencondongkan tubuhnya ke arahku,lalu menggeser sebuah map cokelat ke hadapanku di atas meja,aku menatapnya yang sedang menyangga dagu dengan tangannya.


Ku buka pelan map itu


"Baca dengan benar,ini kontrak pekerjaanmu yang baru aku harap kau langsung menyetujuinya"


dia menyodorkan sebuah pena hitam di samping map yang sudah terbuka itu.


Aku mulai membaca isi kontraknya,dan mulai kaget dengan isinya.


Dia adalah peraturan dalam pekerjaanku.


Tidak ada kata membantah,jangka waktu perkerjaan pun ditentukan olehnya.


Dia ingin dilayani olehku,dari membuka mata dipagi hari sampai malam hari seusai dia pulang bekerja,akupun harus menghafal daftar apa yang dia sukai dan tidak dia sukai lengkap dengan alerginya.


Dan selama bekerja aku hanya boleh pergi keluar rumah atas ijinnya,bersiap selama 24 jam bila dia memanggilku sekalipun tengah malam.


"Kontrak kerja macam apa ini?"


Dia tak bergeming


Aku membalik kembali lembar kontrak kerja semaunya itu,dan kaget dengan jumlah yang ia tawarkan.


otakku berputar menghitung gaji dalam nilai rupiah.


"42 juta rupiah dalam sebulan ?!"


Ini jumlah dua kali lipat dari gaji tenaga kerja asing untuk industri! Harga yang fantastis untuk pekerjaan mengurus satu orang.


Lagi pula dia tak mungkin macam - macam padaku,dia bisa mendapatkan wanita tercantik sekalipun dengan tampang dan uangnya.


Tapi tetap saja rasanya kontrak kerja ini mengganjal hati,kenapa harus repot seperti ini? Dia bisa saja menikahkan ? istrinya bisa mengurus semuanya ,ditambah para pelayannya.


" Maaf tuan... ini nampak seperti pekerjaan seorang istri yang mengurus...."


belum selesai aku berbicara dia memotong ucapanku


" Jadi kau ingin menjadi istriku sekarang?!"


Dia menyeringai


"Bukan Tuan,anda salah paham.Saya tidak pantas bahkan hanya untuk membayangkannya saja"


aku sangat gugup saat dia mengatakan kata 'istri'.Tapi ku telan rasa gugup itu dengan menggantikannya dengan ekspresi dinginku.


Dia menatapku lagi,menambah berantakan hentaman jantungku di dada


"Jangan banyak bicara,kalau kau ingin berterimakasih dengan benar silahkan tanda tangan,aku bahkan memberikan upah lebih!"


aku meraih pena itu,dan menanda tangani kontrak kerja yang kurang masuk akal itu tanpa berpikir lagi


"Semoga tak ada hal aneh yang dia perintahkan nanti"


Aku menatap wajahnya yang tersenyum puas melihat aku telah menandatangani kontrak itu,ku tutup dan geser map itu ke arahnya,dia hanya menatap map itu sekejap.


Dia beranjak dari kursinya ,dan mengambil sesuatu di dalam laci mejanya lalu menarik kursi kecil mendekatiku serta memegang lenganku,aku terperanjat tak dapat menjaga jarak lagi


"Ini harus diganti"


dia menunjuk plester ku yang lembab


"saya akan menggantinya sendiri Tuan"


aku meraih tangannya yang masih memegang lenganku dengan ragu,tapi dia menolak melepaskannya dengan melirikku dengan tatapan mengancam


"Diam!"


"Tapi tuan ...."


"Apa kau lupa isi kontrak yang barusan kau setujui?! Aku adalah aturanmu!"


Aku melepaskan tanganku yang meraih tangannya


Wajahnya begitu dekat denganku,dia nampak serius membersihkan luka jahitan itu.


"Aww..."


aku terkejut dengan rasa menyengat yang menyerang lenganku,ku gigit bibir bawahku menahan perih saat dia mengoleskan antiseptik di lukaku


Dia nampak kaget dan memandangi wajahku khawatir,pandangan kami bertemu


"Hentikan kebiasaan menggigit bibirmu itu!"


wajahnya merah padam dan segera menutup lukaku dengan plester lalu berdiri sedetik kemudian.


"Baik Tuan"


Aku sadar,perintahnya tak bisa ku tolak apapun itu bahkan tentang mengatur ekspresi wajahku tanpa berhak bertanya alasannya.


"Aku akan bersiap-siap ke kantor,tunggu di kamarku,bantu aku menyiapkan semuanya"


Dia masih membelakangiku,aku menunduk hormat berlalu dari hadapannya.


Hari ini adalah hari pertama yang akan ku lalui sebagai asisten pribadi baru dari


CEO Yoon Min Jun


yang penuh kejutan ....


Halo readers,


saya Nuti Park menulis novel ini , ini karya pertama saya jadi semoga kalian suka,saya sangat menghargai dengan segala masukan kalian, dan mencoba memberikan yang terbaik. Vote dan like kalian adalah dukungan besar untuk saya menulis novel.


terimakasih ... 💕