
Rama adalah teman pertamaku saat aku pindah ke indonesia,dia adalah direktur penerbit yang boleh di bilang sukses.
Tapi beberapa hari yang lalu dia menghubungiku dan berkata ingin berkonsultasi denganku karena bertemu seorang "wanita gila" yang adalah salah satu penulis novel di web miliknya yang memiliki ratusan juta pembaca.
Dari ceritanya,Rama nampak sangat berapi - api menebak bahwa penulis itu adalah wanita lembut yang romantis.Namun,ekspektasinya hancur saat pertama bertemu wanita itu yang bahkan tak menunjukan hormat sama sekali padanya.
Ditambah dengan keinginannya untuk membuat penulis itu hadir di acara launching bukunya,membuatnya stress dan tidak bisa tidur dan terus - terusan mengirimi pesan permohonan agar penulis itu mau menghadiri launching bukunya.
Setelah membaca beberapa bab novel itu,aku menebak dia hanya menulis dengan tangannya.
Meski palsu semua orang menyukai jenis novel seperti ini,manis dan mendebarkan.
Tapi bagiku buku ini membosankan dan terlalu tidak nyata di kehidupan sehari - hari.
Keputusanku untuk datang ke kantor Rama,selain untuk berbincang dengan Rama sebenarnya aku penasaran dengan sosok penulis yang di ceritakan Rama.
****
"Frustasi banget Ryeon! dia bahkan cuma baca chat dariku! Bahkan aku udah janjiin pembaca bakal launching bukunya seminggu lagi."
Keluh Rama sambil memijat dahinya di hadapanku.
Seseorang membuka pintu ruangan itu dengan kasar membuat Rama berdiri dengan wajah kaget.
"Kau mau mati?!"
Ucap seorang wanita dengan dress hitam sambil menerobos masuk
Dress hitam itu membuatnya nampak seperti malaikat pencabut nyawa,dandannya yang tak biasa adalah bentuk pertahanan dirinya yang lemah secara psikologis.
Aku menatapnya sedikit kaget melihat parasnya yang cantik tapi masih duduk di tempatku dan hanya memutar tubuhku ke arahnya.
Dia menggebrak meja dengan keras,membuat Rama mengerjapkan mata kaget sejujurnya aku pun sedikit terperanjat.
"Aku tidak mau hadir di acara launching buku!!"
urat lehernya terlihat jelas dari kulit putihnya
Rama berjalan memutari mejanya,dan berdiri di hadapan wanita itu nampak gusar dan panik dengan ucapannya.
"Penulis Hana ... maaf tapi kenapa datang dengan cara seperti ini?"
tanyanya masih bingung
Hana
Aku mengingat nama itu.
Dia memutar tubuhnya setelah meraih sebuah gunting yang tergeletak di meja Rama,membuatku sedikit waspada.
"Kamu masih nanya ? aku sangat sangat tidak suka di hubungi terus menerus seperti itu!!!! apa aku punya hutang ke kamu?!!! "
menggenggam erat gunting di tangannya hingga tangannya memerah.
"Oh ok ... ok ... maaf tapi aku butuh keputusan hari ini"
Suara Rama agak bergetar,namun aku tak dapat melihat Rama karena tubuh wanita itu membelakangiku
"Jangan memprovokasiku atau kamu bakal menyesal !!!!"
Mengacungkan ujung gunting ke arah Rama
Aku meraih gunting dari tangannya dengan lembut namun bertenaga karena genggamannya ternyata lumayan kuat , wangi parfumnya langsung tercium olehku.Dia beralih menatapku seakan baru menyadari sosokku yang sedari tadi memperhatikan semuanya
Kami saling bertatapan lekat,aku memberi dia sinyal tidak suka agar dia menghentikan semuanya.Dan melempar gunting ke belakang tubuhku menjauhkannya dari wanita yang bisa saja menusuk aku atau Rama dengan gunting itu.
"Siapa kamu?!"
Tanyanya dengan tatapan dingin
Aku menatapnya lagi
Hentikan!
Aku membentaknya di dalam hati
Sangat impulsif
"Nampaknya kita harus banyak berbincang"
Ucapku tenang
mendengar suaraku membuatnya meremas kartu nama itu.
Aku berlalu dari hadapannya
Datanglah...Kau hanya sebuah kapal yang kehilangan arah dan bertemu mercusuar,ikutilah cahaya itu Nona ...
"Rama ... nampaknya kamu harus membereskan sesuatu dulu,aku pulang"
ucapku tersenyum ke arah Rama yang masih kebingungan dan takut.
Aku meliriknya sepintas sebelum membuka pintu dan berlalu
Aku memasuki toilet dan mencuci wajahku dengan air.
Wanita itu sungguh menarik perhatian,bukan hanya karena wajahnya yang cantik tapi karena kepribadiannya yang bagaikan petasan yang meledak - ledak.
****
Aku menatap sosok wanita itu dari belakang,dia berjalan dengan cepat keluar dari kantor itu,hingga dia tak sengaja menabrak tubuh seorang anak kecil yang sedang berlarian hingga jatuh tersungkur.
Anak itu terduduk dan mulai menangis,memanggil ibunya
Wanita itu tak bergeming hanya menatap kosong ke arah anak itu
Tangisan anak perempuan itu semakin menjadi
"Berhenti menangis "
Ucapnya bergetar hebat
Aku memperhatikannya penuh minat
Anak itu terus menangis memanggil ibunya,dan wanita itu masih tak bergeming.
Dan ...
dia memang petasan yang entah kapan bisa meledak dan entah pada siapa.
"Berhenti menangis !!!!!"
Dia membentak anak itu bertepatan dengan ibunya yang datang dan merangkul anaknya.
"Apa kamu gila???!!! membentak anak orang lain ?"
cecar ibu anak itu dengan amarah di matanya
Dia tak menjawabnya,mengepalkan tangannya erat - erat seakan ada yang mengganggu pikirannya.
"Wanita gila !!!"
Ibu anak itu merangkul anaknya dan berlalu dari hadapan wanita itu yang terpaku disana,aku berjalan mendekat melihatnya dari arah samping.
Matanya berkaca - kaca menahan buliran air mata yang hampir menetes
Lalu dia berjalan gontai menuju keluar gedung dengan tatapan kosong itu,aku terus mengikutinya dari jauh.
Dia berguman dan menghentikan langkahnya,lalu mulai terkekeh geli tanpa mempedulikan semua orang yang menatapnya aneh.
Tawanya semakin kencang setelah dia berguman pelan lagi,membuat orang - orang menjauhinya.
Bipolar?
Aku memiringkan kepala menyaksikan hal itu,rasa iba merebak di hatiku.
Ku mohon ... datanglah padaku ... ceritakan apa yang ada di dalam hati dan pikiranmu...
****