COLD FLOWER (Will Bloom Again)

COLD FLOWER (Will Bloom Again)
bibir yang tersenyum mata yang menangis


Dengan dress hitam aku berjalan menuju kantor penerbit itu dengan langkah pasti,aku tak peduli dengan beberapa orang yang melihatku,mungkin bagi mereka aku lebih mirip malaikat pencabut nyawa dengan baju ini.


Ruangan pemimpin kantor penerbit ini berada di lantai lima dan mengetuk pintu bertuliskan ruang direktur.


Suara lembut yang tetap terdengar maskulin menyuruhku untuk masuk,aku melangkahkan kaki ke dalam ruangan itu dan menatap sosok yang sedang duduk tersenyum namun sorot matanya nampak sendu.


"Halo,selamat datang penulis Hana "


Sambutnya sambil mengisyaratkan aku untuk duduk di hadapannya


Aku tak menjawab,atau tersenyum jelas sekali matanya tidak membuat hatiku nyaman ketika dia menatapku


"Terimakasih sudah bersedia datang"


Ucapnya lagi seakan menunggu responku


Mataku berlarian melihat setiap sudut ruangan,ruangan klasik yang cenderung gelap.


"Anda termasuk orang yang sulit untuk di temui,atau bahkan membalas pesan dari pihak kami"


Nadanya mulai terdengar tajam


Aku tersenyum sinis padanya


"Dunia ini terlalu menakutkan,aku hanya ingin menghindar"


menatap matanya tak kalah tajam


"Menghindar? dari ?"


mengangkat sebelah alisnya sambil memainkan pena di tangannya.


Aku menatap pena yang sedang ia mainkan dan menghela nafas


"Banyak sekali orang munafik,bibir mereka tersenyum tapi tidak dengan mata mereka "


Ujarku menatap tajam padanya


Dia berhenti memainkan penanya dan meletakannya di atas meja dengan sedikit kasar hingga terdengar seperti sedang menggebrak meja.


" Kontrak yang kami tawarkan kurang nilainya ?"


Tanyanya menyatukan jemarinya di atas meja dengan wajah serius


Aku terkekeh geli mendengar dan melihat ekspresinya


"Tuan ... aku takan mungkin datang kesini kalau tidak sepakat dengan nilai yang di tawarkan"


Dia menatapku lagi tajam,ekspresinya tak lagi di buatnya manis.


"Baiklah ... langsung saja.Kapan terbitnya?"


Tanyaku menyilangkan tangan di dada


Masih dengan gaya bahasa formalnya


"Tidak mau"


Putusku tanpa berpikir lebih panjang


"Dengar,walau novel ini baru terbit di aplikasi kami banyak pembaca meminta bertemu dengan penulisnya.Tolong hargai mereka,anda tidak mungkin ada di titik ini kalau mereka tidak ada"


Mulai menceramahiku


"Dengar,mereka mungkin hanya akan kecewa saat mengetahui siapa penulisnya.Biarkan saja mereka menebak - nebak"


Ujarku mulai kesal.


Dia menghembuskan nafas kasar dan memijat keningnya beberapa kali.


"Demi keberlangsungan penerbitan novel anda,kami mohon kerja samanya.Lagi pula ini tidak akan seharian,hanya dua jam duduk di meja dan menandatangani buku yang mereka beli dan tersenyum menyapa"


sebenarnya aku tak menyangka dia sepasif itu berbicara bila melihat raut wajahnya yang dingin.


"Akan ku pikirkan lagi"


Ucapku beranjak dari hadapannya


"Tunggu"


Ucapnya menghentikanku yang sudah memegang handle pintu ruangannya


"Beri keputusan besok,kami harus..."


Aku meletakan telunjuk di depan bibirku dan menatapnya yang tak melanjutkan kata - katanya


"Kamu berisik ! aku tahu ... secepatnya akan aku kabari,sampai jumpa Tuan Rama Adhitama"


Ucapku tajam sambil membaca nama yang tercetak besar di papan acrylic yang bertengger di atas mejanya.


Sementara dia hanya menghela nafas kesal dan membiarkanku berlalu dari hapadannya .


Rasanya ingin mengumpatnya lagi,kalau aku tahu hanya itu yang ia ingin bicarakan rasanya tidak usah menyuruhku menampakan batang hidungku ke hadapannya.


Dan ...


Aku benci tatapannya,bibirnya tersenyum namun matanya sendu dan sedih.mengingatkanku pada sosok orang - orang munafik.


Mereka bersembunyi di balik senyum mereka dan mengatakan mereka bahagia dan baik - baik saja,setelah orang lain percaya maka mereka akan membuat orang lain merasakan kesedihan yang sama.


Atau menularkan kesedihan mereka ....


Aku benci tatapan itu, sangat benci...


mengingatkanku pada sosok diriku dulu yang menyembunyikannya dari semua orang dan melukai diriku sendiri,padahal sebenarnya aku hanya perlu membenci penyebab kesedihan itu tanpa membuat orang lain bertanya atau merasakan aura kesedihanku seperti Raditya.