COLD FLOWER (Will Bloom Again)

COLD FLOWER (Will Bloom Again)
TEMAN


Tiga bulan berlalu...


Tak ada tanda - tanda Min Jun mencariku atau memohon kata maaf secara langsung,aku memang memutus semua jaringan komunikasi berkaitan dengannya.


Meski beberapa kali perusahaanku mengadakan meeting dengan Y Group aku selalu beralasan tak ingin menjadi transletor atau apapun itu.


Raditya nampak membaca setiap perubahan dan penolakanku,tapi dia nampak tak ingin menggangguku dengan perasaanku.


Belum...


Temui aku setelah jam kantor ada yang ingin aku bicarakan.


Hana membaca pesan dari Raditya saat sedang berada di kantin perusahaannya,dia mengedarkan pandangannya dan mendapati Raditya yang sedang duduk sendiri memandanginya dari jauh.


OK


Aku menjawab singkat pesan Raditya tanpa bertanya,ini pertama kalinya setelah sekian lama Raditya memintaku untuk menemuinya di luar jam kerja.


Aku sesungguhnya penasaran dengan apa yang akan dia katakan,tapi biarlah aku dengar nanti.


"Kayanya si boss emang naksir berat sama mbak deh,liatin tuh dari tadi ngeliatin terus mbak"


Rayya tersenyum sambil melihatku dan Raditya bergantian,Fany dan Randy ikut mengamati dan ikut tersenyum tak jelas ke arahku.


"Perasaan kalian aja "


Ucapku sambil mengunyah makananku tak ingin memperpanjang


"Gak mungkin banget cuma perasaan kita bertiga,orang tiap meeting sama kita si boss natapnya beda banget loh"


Tambah Fany tak kalah semangat,aku memang sadar akan hal itu tapi aku tak berniat memperlihatkan aku tahu.


"Gosip terus..."


Ucapku sambil menyudahi makanku dan beranjak meninggal trio kwek - kwek itu.


"Ye... ngambek !"


Ujar Randy sebelum aku berlalu.


***


Saat malam menjelang,suasana kantor sudah sepi dan hanya satu lampu di dekat kubikalku yang menyala terang.


Ponselku berbunyi membuatku mengalihkan pandangan dari layar komputer,aku meraih ponselku dan membuka kuncinya


Aku di ruanganku


Raditya ingin bertemu di ruangannya? Hatiku bertanya - tanya dengan ajakannya itu.


Aku matikan komputerku dan segera memasukan ponselku ke tas dan membawanya,karena jam lembur berakhir aku bisa langsung pulang setelah berbicara dengan Raditya.


Aku mengetuk pintu ruangannya sebelum masuk,dan mendengar jawabannya aku membuka pintu itu dan melihatnyabsedang duduk di kursinya sambil menahan pipinya dengan satu tangan.


Aku berdiri di hadapannya dia tersenyum ramah padaku


"Duduk saja ,kan udah bukan jam kantor.Masih saja canggung begitu"


Protesnya melihatku masih berdiri,aku pun duduk di hadapannya.


"Ada apa dit ?"


tanyaku padanya setelah duduk


"Kemarin aku baru pulang dari Seoul"


Ucapnya dengan wajah serius,aku tak kalah tegang saat mendengar hal itu.


"Terus?"


Ucapku dengan nada acuh


"Aku bertemu dengan Min Jun"


Raditya menghela nafas mengucap namanya


"Aku pulang dulu"


Aku langsung bangkit berdiri mendengar nama itu.


"Dia bilang ingin bertemu denganmu"


Aku menghentikan langkahku dan berbalik ke arah Raditya


"Cobalah ... dan aku akan menghilang dari dia atau kamu!"


Ucapku sambil menyilangkan tanganku


"Hana,berhenti menyiksa dirimu sendiri!"


"Menyiksa diri? bukan ... aku sedang membenci pengkhianat itu"


Aku terkekeh di hadapan Raditya.


"Kau sedang menyiksa dirimu,Hana!Aku benar - benar tidak tahan melihat ini! Kau seperti mayat hidup sekarang!"


Raditya mengepalkan tangannya


"Lalu aku harus bagaimana sekarang ? mencintai orang lain lagi? di khianati lagi? itu adalah hal bodoh... percintaanku tak seberuntung itu,lupakan saja"


aku tertawa sinis


"Setidaknya dengarkan dulu penjelasannya,terlepas kau akan memaafkan atau tidak "


Ucap Raditya sebelum aku berlalu dari kantornya


Bertemu lagi?


Rasanya aku belum sanggup melihat wajahnya,terlalu sakit apa yang aku rasakan padanya saat ini.


Setelah dia membuaiku dengan cinta yang nampak nyata hingga aku mulai melupakan anakku,dia malah melakukan hal menjijikan di depan mataku!


Dia mungkin tak pernah mencintaiku,tapi hanya terobsesi denganku.


Perasaan itu akan segera pergi saat aku menyerahkan segalanya,perasaan yang di bangun karena nafsu semata.


Saat nafsu itu terurai yang ada hanya kata perpisahan lagi ...


Aku tahu tidak semua pria seperti Robin atau Min Jun,Raditya adalah salah satu contohnya.


Meski tahu dia memiliki perasaan,dia sangat berhati - hati mendekati sejak awal.Di tambah dengan keadaan saat ini dia memberikan aku ruang dan waktu agar aku mengobati hatiku tanpa berniat mencari kesempatan.


Bahkan saat Min Jun bertemu dengannya,dia sangat fear memberi tahukannya padaku.Baginya yang terpenting adalah bagaimana perasaanku bisa sembuh dan memaafkan,tanpa memikirkan perasaannya.


Tatapan lembutnya dari jauh setiap saat sudah meneriaki isi perasaannya terhadapku hingga semua karyawan mengetahuinya,tapi aku hanya membalas dengan mengacuhkannya.


Aku tak ingin menjadi pria sebaik Raditya sebagai pelampiasanku karena semua kemarahanku,dia tidak pantas diperlakukan seperti itu.


Mungkin sedikit klasik,tapi Raditya berhak mendapat wanita yang lebih baik dari aku dalam segala hal.


Status,pendidikan,pekerjaan dan bahkan fisik...


Seperti biasanya,Raditya mengirimi aku makanan dan vitamin lewat aplikasi ojek online.


Dia memilih mengirimkannya ke kosanku dengan ojek online,tak berniat mengusikku.


**Makan yang benar,minum vitamin dan tidurlah yang nyenyak...


Aku takan memaksamu menemuinya,aku yakin kau bisa melupakannya


Raditya**


Perhatiannya yang tidak memaksa,jujur kadang membuat aku terharu hingga merasa bersalah karena tak bisa membalasnya.


Mungkin tanpa sengaja aku melukainya dengan sikapku akhir - akhir ini,yang dia dapat sejak dulu hanya penolakan dariku.


Kalau hanya berteman nampaknya hatiku masih bisa menerima kehadiran Raditya,mungkin karena berteman aku tak mengharapkan apapun.


Dan aku takan kecewa lagi...


Ya lebih baik berteman saja kan


Aku meraih ponsel dan mengetik pesan untuk Raditya


Terimakasih makanan dan vitaminnya,maaf kalau aku baru berterimakasih sekarang.Ayo kita berteman !


tak lama ponselku berbunyi tanda sebuah pesan masuk


Meski kau lebih dari teman bagiku,tapi baiklah aku terima ajakanmu! itu lebih baik di banding tak di anggap apa -apa..


Aku tersenyum getir melihat pesan Raditya


Maaf...


Hanya itu yang ku kirim padanya


Tak usah minta maaf,aku senang malam ini ... terimakasih


Hana


Aku menghela nafas,setidak Raditya ada di pihakku dan aku takan merasakan kekecewaan yang mengerikan itu lagi.


Teman...


Rasanya sudah cukup,aku tak ingin lebih serakah lagi ...