COLD FLOWER (Will Bloom Again)

COLD FLOWER (Will Bloom Again)
RAYUAN


"Dimana ponselku?"


Tanyaku pada Min Jun yang keluar dari kamar mandi


Min Jun mengacak ringan rambutnya yang basah,lalu mendekat ke arah laci di sebelah tempat tidur.


Aku akan meraih ponsel itu saat Min Jun menariknya ke udara membuatku menatapnya kesal.


"Berikan padaku,setidaknya aku harus ijin tidak masuk kerja hari ini"


Aku menyodorkan tanganku


Min Jun duduk di sampingku,masih mengangkat ponsel tinggi - tinggi di atas kepalanya.


"Benarkah hanya minta ijin?"


Tanya Min Jun memincingkan matanya padaku


"Apa yang kau pikirkan?Sudah seharusnya begitukan? Dia tetap Bossku,dan kita sedang menyiapkan presentasi untuk Y Company!"


Bukan waktunya untuk cemburu Tuan muda...


"Benarkah? tapi mengapa semalam dia nampak tak suka melihatku,dan seakan mengancamku dengan kata - katanya?"


Aku kembali mengingat kejadian semalam,dan mulai merasa aneh dengan sikap Raditya.


"Beri tahu aku apa yang dia katakan sebenarnya !"


Aku menatap Min Jun ragu


Min Jun menyimpan ponselku di ujung meja jauh dari jangkauanku,dan dia menarik daguku lalu menatapku dalam.


"Katakan dengan jujur"


Ucapnya penuh penekanan,membuatku sedikit takut.


Min Jun sepertinya merasakan aura tidak menyenangkan dari Raditya kemarin,tapi apa harus aku memberitahukan perkataan Raditya pada Min Jun.


"Di ...Dia bilang senang bertemu denganmu"


Ucapku terbata tak berani menatap Min Jun


Min Jun masih memegangi daguku menatapku tak percaya.


"Bohong!"


Nyaliku menciut melihat kemarahan dimatanya.


"Kau tak pandai berbohong,jangan membohongiku"


Ucap Min Jun menyelipkan rambutku di telinga dengan nada mengancamnya,aku menggigit bibirku kelu.


Sebuah ciuman membuatku terperanjat dan beringsut mundur.


"Ku mohon jangan marah,bagaimanapun aku masih pegawainya"


ujarku memilin jemari sambil tertunduk


"Katakan"


Masih menatapku lekat - lekat


"Dia bilang untuk menjagaku,kalau tidak..."


Raguku sampaikan kata terakhir Raditya padanya.


"Kalau tidak apa?"


tanya Min Jun mulai tak sabar


"Dia akan merebutku"


Aku memejamkan mata pasrah.


Sebenarnya aku tak tahu pasti apa maksud kata - kata Raditya,tapi yang jelas itu ancaman untuk Min Jun.


"Keluar dari perusahaan itu"


Perintah Min Jun dengan nada tak sukanya


"Ku mohon... Aku masih ingin bekerja disana"


Aku hampir menangis saat memohon pada Min Jun membayangkan aku harus diam di rumah seharian dan bergantung sepenuhnya pada Min Jun.


"Kau tak akan kekurangan apapun walaupun kau tak bekerja"


Rahang Min Jun terlihat mengeras menahan rasa kesalnya.


"Setidaknya sampai kita menikah,aku masih ingin bekerja disana.Lagipula aku tidak tahu apa arti ucapan Raditya itu,dan aku baru bekerja dengannya langsung beberapa hari ini"


Aku mencoba merayu Min jun,meraih tangannya yang sedang mencengkram selimut.


"Artinya dia menyukaimu dan bisa merebutmu dariku kapanpun dia mau"


Tegas Min Jun menyimpulkan perkataan Raditya


"Kalaupun dia menyukaiku,aku hanya menyukaimu."


Ucapku menatap matanya tulus


"Baiklah,aku akan mempercayaimu... dengan satu syarat"


Min Jun mulai melunak,dan tangannya mengusap bibirku yang masih basah karena ciumannya


"Jangan gigit bibirmu di hadapannya!"


Syaratnya membuatku terkekeh geli


"Kenapa? Apa yang lucu?! Aku serius!"


Min Jun melotot ke arahku yang masih terkekeh geli.


"Kenapa syaratnya itu?"


Aku masih menahan tawaku saat bertanya padanya


"Kau tak menyadarinya ? Saat kau menggigit bibirmu,kau membuat setiap pria ingin menciummu!"


Aku mengatup bibirku rapat saat Min Jun mengatakan hal itu.


"Dan setiap kau menggigit bibirmu,aku berusaha mengendalikan pikiranku untuk tidak menerkammu!"


Wajah Min Jun bersemu merah,lalu dia memalingkan wajahnya dariku.


Aku tersenyum melihatnya yang nampak malu mengakui hal itu,ku dekatkan diriku ke arahnya lalu memeluknya dengan gemas.


"Kau menantangku?"


Aku sengaja tak menjawabnya,masih tersenyum sambil memeluknya.


"Ku mohon jangan menantangku"


Min Jun nampak memelas di sela nafasnya yang memburu


Dia menyatukan telapak tangannya dengan telapak tanganku,membuatku berdebar dan merasa panas di wajahku.


Aku memalingkan wajahku tak berani menatap Min Jun lagi.


Min Jun menciumi leherku naik menuju pipiku,dia berhenti lalu menatapku yang masih mengalihkan pandanganku mencoba mengatur nafasku.


"Jangan coba pergi lagi dariku,jangan pernah berpikir untuk dekat dengan pria lain selain aku"


Ancamannya kini terasa seperti permohonan yang berhembus di telingaku.


Min Jun mengangkat tubuhnya dan kembali duduk,aku memiringkan tidurku ke arahnya yang kini membelakangiku.


"Aku tak pernah berpikir aku secantik itu untuk mendekati pria lain"


Aku terkekeh mengucapkan hal itu.


Aku tak pernah merasa aku cukup cantik hingga seseorang begitu ingin memilikiku,pengkhianatan Robin seakan membuatku berpikir aku bukan wanita secantik itu.


Namun,saat Min Jun mengatakan hal itu dia membuat kepercayaan diriku muncul.


Min Jun selalu memperlakukanku seakan aku wanita satu - satunya yang tersisa di dunia ini,dan itu membuatku merasa sangat di cintainya.


Min Jun sudah mengganti pakaian dengan baju santainya saat aku mencoba beranjak dari tempat tidur,dia menghampiriku dan memegangiku.


"Aku sudah sehat"


Tolakku saat dia akan menggendongku,namun dia tak menggubrisku.


Dia menggendongku sampai depan pintu kamar mandi dan menurunkanku,aku masuk ke kamar mandi dan melepas pakaianku.


Min Jun mengetuk pintu kamar mandi,membuatku langsung menyambar kimono handuk berwarna putih dan memakainya.


Aku membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengintip di baliknya,menatap Min Jun yang sedang memegangi handle pintu kamar mandi.


"Jangan dulu mandi,aku akan membantu mencuci rambutmu"


ucap Min Jun sambil mengusap leger belakangnya


Dengan ragu,ku buka pintu kamar mandi membiarkan Min Jun masuk.


Min Jun meraih sebuah handuk dan menyimpannya di lantai kamar mandi tepat di sisi bath tub,lalu menunjuknya.


"Duduk disini"


Aku mengikuti perintahnya


Min Jun masuk ke dalam bath tub yang kering itu duduk di sisi lainnya,mulai menyiapkan shampo dan handuk kecil di sebelahnya.


Dia menarik lembut rambutku,membuatku meletakan kepalaku di tepi bath tub.


Min Jun mulai membasahi rambutku dan mulai membersihkan rambutku dengan shampo,sentuhannya membuatku nyaman.


Dia dengan telaten membersihkan tiap inci kulit kepala dan rambutku,dan sesekali menatapku dengan senyumannya.


Setelah selesai dia menutupi rambutku dengan handuk kecil dan beranjak dari kamar mandi,membiarkanku membersihkan diri.


Aku keluar dari kamar mandi masih menggunakan kimono itu dengan rambut basah,Min Jun sudah bersiap dengan head dryer di tangannya dan menyuruhku duduk di sebelahnya dengan isyarat.


Aku menurutinya,dan dia mulai mengeringkan rambutku dengan head dryer sambil sesekali menyibak rambutku agar semuanya kering.


"Ini De javu"


Tuturku di sela-sela aktifitasnya yang masih mengeringkan rambutku


"Waktu itu kau yang mengeringkan rambutku"


kenang Min Jun.


Kami tersenyum mengenang kenangan kami,sama sama tersipu malu mengingat semua hal yang membuat kami saling jatuh cinta.


Setelah mematikan head dryer,Min jun menyibak rambutku ke depan membuatnya melihat leherku.


Dia memelukku dari belakang dan menciumi leherku,aku sedikit meronta merasakan sensai geli.


"Hentikan ..."


Ucapku berusaha menjauh dari ciumannya


Nafas Min Jun yang menyapu lekuk leherku membuatku merinding geli.


"Kenapa? Aku suka wangi tubuhmu "


Masih menciumiku mesra,lalu pandangan kami bertemu membuat aura romantis di sekeliling kami.


"Aku sudah tak sabar untuk memilikimu seutuhnya"


jujur Min Jun dengan mata sayunya,aku tersipu malu mendengarnya.


"Setelah presentasi tempatku bekerja dengan Y Company,Ayo kita menikah"


Ucapanku membuat Min Jun tersenyum bahagia.


"Ayo kita menikah,kita harus cepat menikah sebelum aku tak bisa menguasai diriku sendiri"


Min Jun tertawa bahagia menciumi bahuku yang masih terbalut kimono,dia mengeratkan pelukannya lagi.


"Berjanjilah untuk menjadi istri yang menyambutku ketika aku pulang dari bekerja,jangan membantah lagi!kau harus benar - benar hanya untukku,waktu untuk tak lagi boleh kau bagi untuk pekerjaan"


Cintanya nampak haus dengan kehadiranku,aku mengangguk menyetujui permintaannya.


"Kau tahu,seberat apapun masalah yang ku hadapi nanti aku akan tersenyum bahagia saat bertemu denganmu.Kau adalah pengisi daya hidupku.Jadi jangan pernah berpikir bahwa kau tidak melakukan apapun untukku"


Posisi kami sudah saling berhadapan sekarang.


"Aku hanya membutuhkanmu"


Aku tersenyum mendengar ucapan Min Jun,lalu mengecup bibirnya sekejap.


"Aku mengerti... mari sudahi rayuanmu itu"


Ujarku tersenyum lembut,dia terkekeh seakan baru menyadari bahwa dia sedang bersikap merayuku sedari tadi.


Tidak ada yang bisa membuatku merasakan kehangatan sekaligus kebahagiaan selain senyum Min Jun,dia selalu bersinar di mataku .


Seperti ada lingkaran cahaya di kepalanya,dia selalu membuatku takjub dengan sosoknya.


Dia yang terkadang membuatku takut dengan kecemburuannya sekaligus juga membuatku merasa terlindungi.


Dia Min Jun,milikku...


****