COLD FLOWER (Will Bloom Again)

COLD FLOWER (Will Bloom Again)
MENGOBATI LUKA


Aku meminta untuk pulang ke rumah sewaanku saat Min jun berusaha menahanku lebih lama berdiam di ruangannya.


Dengan cemberut,dia akhirnya mengijinkanku untuk pulang dengan syarat Ha neul terus menemaniku.


Ha neul mengikutiku menaiki anak tangga yang beberapa bulan lalu menjadi temanku kala subuh dan malam.


Aku memasuki rumah sewa itu dengan perasaan sedih,betapa aku hidup dengan keras sebelum bertemu Min jun.


Rumah itu sedikit lembab dengan perabot seadanya dan masih berserakan setelah kekacauan yang di buat Robin.


Ha neul ikut merapihkan perabot yang berserakan tanpa bertanya apapun.


Aku masuk ke kamar kecilku,terdiam mengamati lemari pakaianku yang kecil.


Ku buka lemari itu dan menemukan foto USG pertama dan terakhir kali anakku,aku mengusapnya dan memeluknya erat.


Air mataku jatuh,betapa aku masih merasa bersalah tak bisa menjaganya lebih lama.


Aku terduduk di depan lemari,menangis dalam kebisuan ruangan sempit itu.


Hanya ini satu - satu kenanganku bersama anak itu,aku tak ingin menghapusnya sedikit pun dari kenanganku walaupun selalu terasa menyakitkan setiap ku mengenangnya.


Mengenang bagaimana aku hampir menangis bahagia karena kehadirannya dalam rahimku.


Ha neul mengetuk pintu,aku menghapus air mataku dan membuka pintu kamar.


"Nona anda baik - baik saja?"


Ha neul nampak khawatir melihat mataku yang sembab


"Tak apa,aku akan segera membawa barang - barangku"


Ucapku segera meraih koper dan memasukan baju - bajuku tak lupa hartaku yang paling berharga,hasil USG itu...


Ha neul membawa koperku ke mobil walaupun aku menolaknya.


Dia segera memasukannya ke dalam bagasi mobil dan segera berada di belakang kemudi.


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang membelah keramaian kota itu di sore hari.


Aku melihat segala yang ada di kanan kiriku ternyata kota ini punya sejuta cafe yang selalu ramai dengan pengunjung.


Pikiranku menerawang jauh menuju kenanganku bersama Robin,saat kami bergurau di sebuah cafe seakan memamerkan kemesraan kepada semua pasang mata yang ada disana.


Dan tak ku sangka itu hanyalah kepalsuan belaka....


Air mataku kembali mengalir tak bisa terbendung,dari spion tengah Ha neul kembali memandangiku dengan cemas.


Ku usir kembali rasa sedih tak berujung itu,tak ingin membuat Ha neul menatapku khawatir lagi.


Sesampainya di rumah Min Jun,aku segera bergegas mandi lalu menyiapkan air hangat di bath tub untuk Min Jun sesuai dengan permintaannya tadi pagi.


Aku ingin melaksanakan perintah-perintahnya walau kami sudah memutuskan untuk berkencan mengenal pribadi satu sama lain,karena aku masih bekerja untuknya.


Setelah air di bath tub siap,aku kembali ke kamarku dan duduk di sofa yang menghadap ke jendela.


Aku mengenakan piyama milikku,hari sudah mulai petang dan nampaknya Min Jun sudah pulang.


Beberapa saat kemudian,pintu kamar diketuk.


Aku beranjak membuka pintu,dan Min jun dengan baju piyamanya sudah ada di depan pintu dengan wajah khawatir menatapku.


"Kau belum makan?"


Aku menggelengkan kepala


"Ayo makan bersama"


Dia menarik tanganku menuju meja makan.


Aku duduk berhadapan dengan Min Jun di meja besar itu,dan sudah tersaji berbagai macam makanan lezat.


Entah mengapa aku sungguh tak ingin makan,aku hanya memainkan makanan di piringku.


Min jun meletakan sendoknya,lalu menatapku lagi.


"Apa yang masih mengganggumu?"


Dia mulai kesal dengan sikapku yang lebih banyak diam


Aku menggelengkan kepalaku,dan mulai makan dengan enggan karena tahu dia akan marah kalau aku tak memakan makananku.


Dia kembali makan dengan lahap,meski tatapannya tak lepas dariku.


Setelah makan,dia menarik tanganku yang hendak kembali ke kamar.


"Ayo bicara"


Dia menarikku menuju kamarnya


Dia menutup pintu kamarnya setelah kami masuk,dan kembali menarik lenganku menuju sofa.


Kini kami duduk berhadapan,dia menatapku dengan rasa khawatir di matanya.


"Apa yang mengganggumu? katakan padaku"


Dia mulai mengusik hatiku dengan tatapan lembutnya.


"Maafkan saya Tuan..."


Aku menunduk dalam


"Katakan..."


masih menatapku lekat


"Saya merasa telah menjadi seorang wanita yang buruk.Saya telah menikah dengan orang yang salah,dan tak bisa menjaga anak saya dengan baik."


air mataku jatuh merasakan setiap penyesalan yang bahkan tak dapat ku perbaiki lagi.


Dia membiarkanku merasakan perasaanku tanpa bertanya,ada nafas berat yang terdengar seakan merasakan segala beban hatiku dan dia seakan sudah tahu segalanya.


"Saya dibesarkan di panti,betapa saya tak pernah merasa orang tua saya salah telah membuang saya,setidaknya saya bisa melihat cahaya dunia ini."


aku terisak mengeluarkan segala kesedihanku.


"Tapi anak itu bahkan tak pernah melihat setitik cahaya dunia ini..."


aku menangis merasakan kepedihan hatiku


Dia merengkuh tubuhku dan mendekapnya dengan hangat,tangannya mengusap punggungku lembut dan sesekali menepuknya pelan seakan menenangkanku.


Aku malah semakin menangis,lagi - lagi seakan meluapkan kesedihanku selama ini.


"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri,semua ini bukan keinginanmu..."


masih memelukku yang terisak dengan erat.


"Aku tahu kau masih terluka,kau hanya menyembunyikannya dengan kesibukanmu.Dan saat dia datang kembali lukamu seakan terbuka lagi... tapi..."


Dia melepaskan pelukannya,masih memegangi kedua lenganku.


Dengan lembut dia menghapus air mata dari pipiku,aku mulai menguasai tangisku.


"Aku ada disini,aku tak akan meninggalkanmu..."


Janji yang selalu ku dengar dari Robin terlontar dari bibirnya,namun terdengar indah di telingaku.


"Terimakasih Tuan telah menghiburku..."


ucapku sambil menghapus air mataku dengan tanganku sendiri


Dia masih memegang lenganku dan menatapku lekat


"Saya akan mencoba membuka hati saya pelan - pelan "


jujurku.


Dia menghela nafas,nampak sedikit kecewa mendengar ucapanku yang seakan menggambarkan jelas perasaanku terhadapnya saat ini.


Dia melepaskanku dan kembali membawa kotak obat ke hadapanku.


"Ayo ganti plestermu"


Dia meraih lenganku dengan lembut.


Tak lagi terasa perih saat dia mengobati lenganku dengan telaten,dan dia beralih ke leherku mengganti plesternya.


Setelah selesai,tangannya merengkuh tengkukku dan mengecup leherku tepat di plester yang baru saja di tempelkan.


Aku agak terkejut dengan perlakuannya,dan langsung menutupi bagian yang tadi dia kecup.


"Kecupan itu akan membuat lukamu cepat sembuh"


ucapnya dengan wajah memerah.


Dia menyelipkan rambutku yg terurai ketelingaku,masih menatapku


"Apa kau yakin bisa menahan pesonaku?"


Tanyanya penuh rasa percaya diri


Aku terkekeh melihatnya yang begitu percaya diri,seperti anak kecil yang sedang memamerkan sesuatu kepada teman - temannya.


Dia melihatku yang terkekeh geli dengan heran.


"Saya tahu Tuan anda memang sangat tampan,apalagi kalau dilihat dari dekat..."


Aku segera menutup mulutku dengan tangan karena telah memujinya.


Dia tersenyum puas mendengar pujianku,dan mendekatkan wajahnya.


Jarak wajahnya sangat dekat denganku,aku sampai menahan nafas melihatnya sedekat itu.


Dia sengaja menatapku kembali lekat,seakan mengerahkan segala pesonanya ke arahku.


Aku menelan salivaku,tanpaku sadari dia menangkap segala ekspresiku dan dia tersenyum lagi penuh kemenangan.


Wajahku sudah terasa panas,tapi dia tak menjauh sejengkalpun dari hadapanku.


Tanpa ku sadari,aku mengigit bibirku untuk membendung ke gugupanku.


Dia membulatkan mata,wajahnya kembali terlihat polos.


"Sudah ku bilang jangan gigit bibirmu"


Dia terlihat tertekan,dengan nafasnya yang memberat


Aku ingin tahu sampai mana dia tak tahan melihatku dengan ekspresi ini,jadi aku seakan tak mendengar ucapannya dan terus mengigit bibirku.


"Kau menantangku sekarang?"


Dia nampak mengepalkan tangannya kuat,aku tak bergeming dengan ekspresi datarku,ku gigit kembali bibir bawahku.


"Baiklah kau yang memintanya kali ini,jangan menyesalinya !"


Dia mengecupku dengan lembut sedetik kemudian,membuatku tersentak dan menghentikan gigitan di bibirku sendiri.


Jadi ini batasnya ....


Aku tak ingin mempermainkan gairahnya lagi kali ini,aku melemparkan pandanganku tak menatapnya.


Karena nyatanya kini,jantungku yang berdentam tak karuan.


Dia menarik daguku dengan jarinya yang lembut,pandangan kami kembali bertemu.


Aku bahkan tak berani mengucapkan sepatah katapun pada pria yang sedang dikuasai gairahnya sendiri ini.


"Kau sedang mengujiku ya ?!"


Kembali mendekatkan wajahnya


Rupanya kebisuan menjadi lampu hijau baginya,dia tersenyum lagi.


"Kita lihat apa kau bisa menahan perasaanmu lagi setelah ini..."


Dia menciumku dengan lembut,aku tak menolaknya kali ini


Tanganku menyentuh dadanya yang bidang dengan balutan piyama biru itu,dan mulai memejamkan mataku.


Merasakan setiap pergerakannya yang membuatku merasakan kehangatan di hatiku yang selama ini membeku.


Tanpa ku sadari bahkan sekarang aku membalas setiap ciumannya yang dalam itu,dia membelai rambutku seraya terus menghujani bibirku dengan ciumannya membuatku seakan melayang.


Tiba - tiba dia menghentikannya,dan menatapku yang masih setengah terpejam dengan nafas memburu.


"Tidurlah...."


Dia menjauh dariku dan menatap ke arah lain


Ada rasa sedikit kecewa di hatiku,aku seakan tak cukup merasakan ciuman hangat itu.


"Pergilah sebelum aku menerkammu"


Dia memperingatiku


Aku langsung beranjak saat dia mengatakan hal itu, dan segera menarik handle pintu.


"Jangan panggil aku Tuan lagi"


ucapnya sebelum aku berlalu


Aku berbalik menatapnya,masih memegangi pintu bersiap untuk pergi.


"Kau bisa memanggil namaku"


pintanya canggung tanpa menatapku


Aku tersenyum melihatnya tersipu malu karena permintaannya sendiri


"Baiklah ... Min jun shi... "


Kataku seraya meninggalkannya dan menutup pintu kamarnya dan berlari masuk ke kamarku.


Aku bersandar di balik pintu kamar dengan wajah merah padam,ku atur nafasku sambil memegangi dadaku yang bergetar hebat.


Perasaan ini...


Apa aku tak apa merasakannya lagi? terasa hangat,dan menyenangkan.


Wajahnya yang tampan dan tingkah malu - malunya membuatku ingin berlama - lama menatapnya.


Bahkan malam itu aku di buat tak bisa tidur teringat ciuman hangat itu.


Aku tak lagi bisa menahan perasaanku yang berlarian ke arahnya....


Halo readers,


saya Nuti Park menulis novel ini , ini karya pertama saya jadi semoga kalian suka,saya sangat menghargai dengan segala masukan kalian, dan mencoba memberikan yang terbaik. Vote dan like kalian adalah dukungan besar untuk saya menulis novel.


terimakasih ... 💕