
Ha Neul masih mengikutiku sampai di depan pintu kamarku,sebelum masuk aku menatapnya yang masih ada di belakangku
"Ha neul,bisa kah kau membantuku?"
aku menatapnya penuh permintaan
"Aku butuh dokumen yang kusimpan di rumahku,bisa kah kau mengambilkannya untukku?"
Ha neul membungkuk hormat
"Baik Nona akan saya ambilkan"
aku memberi tahu pasword pintuku pada ha neul.
Ha neul bergegas menyelesaikan tugas terakhir dariku,aku menatapnya sedih
"Maafkan aku Ha Neul,mungkin kau akan terkena masalah karena ini"
Aku membatin sambil masuk ke dalam kamar,aku segera mengambil visa dan paspor serta dompetku tanpa mengambil sehelai pakaianku.
Aku segera memesan tiket pesawat lewat smartphoneku dengan waktu yang terdekat,lalu aku meraih secarik kertas di atas meja dan mulai menulis pesan untuk Min Jun.
Ini semua ku lakukan demi dirimu yang luarbiasa,aku yang seperti ini bahkan hanya akan merugikanmu.Jadi maafkanlah aku dan lupakan semua seakan semua hanya mimpi buruk di malam hari.
Aku menyimpan pesan itu di atas meja dengan smartphone yang pernah ia berikan.
Dan segera bergegas pergi,dengan alasan ingin berjalan - jalan di sekeliling aku melewati penjaga gerbang dengan mudah.
Nampaknya sekretaris Kim tak menyampaikan bahwa aku sudah bertemu dengan Nona Han.
Aku melihat kembali ke arah belakang,entah mengapa aku sangat menyukai tempat ini.
Tempat asing yang akhirnya mempertemukanku dengan Min Jun.
Setelah menempuh jarak berjam - jam akhirnya aku disambut udara tropis di tanah air,aku melihat jam di smartphone ku waktunya masih menunjukan waktu di Seoul.
Disana sudah malam sekali,sementara disini masih ramai dengan orang - orang yang hilir mudik.
Aku akan seperti biasa,mengobati luka - lukaku dengan cara bekerja seperti orang gila lagi.
****
Setahun kemudian...
Aku selalu sibuk di pagi hari,menyiapkan segala sendiri dan berangkat ke kantor pagi - pagi buta untuk menghindari macet di ibu kota.
Aku kini bekerja di salah satu perusahaan,menjadi staff administrasi.
Sesampainya di kantor aku selalu merasakan keceriaan,teman - teman satu timku adalah orang - orang yang penuh energi positif.
Aku melangkah menuju kubikalku dengan langkah riang menyapa setiap orang yang bertemu denganku.
Cara teman - temanku memperlakukanku membuat aku berubah menjadi orang yang ceria,namun luka itu sampai saat ini masih menganga di hatiku.
Aku mengalihkannya dengan bekerja lembur hampir setiap hari.
"Pagi semua..."
sapaku pada teman - teman yang sudah duduk manis di kubikal masing - masing.
Beda dari biasanya,mereka menampakan wajah tegang.Aku menaruh tasku di meja masih berdiri memperhatikan setiap wajah tegang itu satu persatu.
"Ada apa sih? kok tegang gitu?"
tanyaku penasaran
Raya mengangkat kepalanya menatapku sambil menaruh telunjuknya di depan bibir
"Mbak... Si Boss lagi marah besar karena dia ada merger sama perusahaan asing,dan sekretarisnya sama dia gak bisa bahasa korea sementara dia keukeuh pengen orang lama yang persentasi"
Jelas Raya dengan nada berbisik
"Emang perusahaan apa ?"
Aku menilisik.
Mendengar nama Korea pun pikiranku sudah melayang pada sosok pria yang masih ada di hatiku.
"Y Company mbak ... bidangnya sama kaya kita "
Aku bernafas lega mendengar nama perusahaan yang bukan milik Min Jun,bukan kah akan absurd bila aku harus bertemu dengannya kembali?
Walau ketika aku tidur aku selalu membayangkan wajahnya dan merindukannya,aku memang tak ingin bertemu dengannya lagi.
Mungkin setelah kepergianku,dia sudah bersanding dengan Nona Han...
"Heh...lu kenapa bengong hana?!"
"Gue bisa bahasa Korea ..."
Ucapanku yang sontak membuat mereka berbinar senang
"Seriusan lu?!"
Randy sangking senangnya sampai berdiri dari kursinya
"Iya ,sebelum disini gue pernah kerja di Seoul cuma bentar sih tapi gue masih bisa kok..."
Jelasku
Aku memang tak pernah cerita apapun tentang masa laluku apapun itu,karena menurutku aku akan hanya menjadi peredup keceriaan mereka kalau menceritakannya.
"Lu tahu gak? kata si boss kalau ada yang bisa persentasi pake bahasa korea,satu tim nya bakal naik gaji dua kali lipat!!!! Please Hana ...kali ini lu mau ya bantuin kita semua?!"
Fanny berapi - api memohon kepadaku.
Aku menatap Fany,Randy dan Raya yang menatapku penuh harap.Mereka semua memang butuh uang belakangan ini,Fany single mom dengan satu anak,Randy baru saja menikah dan belum punya rumah dan Raya yang masih jomblo dia menjadi tulang punggung keluarga.
" Ok deh!"
mereka girang bukan kepalang
Fany segera mengangkat gagang telepon dan tak lama dia menyuruhku untuk ke ruangan Boss
Aku melangkah masuk ke ruangannya dengan langkah pelan,Bossku memang jarang terlihat di perusahaan dia lebih suka pekerjaannya dilakukan di rumah aku yang hampir setahun disini belum pernah melihatnya,aku hanya melaporkan semua hasil pekerjaan lewat Mbak Nia,sekretarisnya.
Dia mengisyaratkan dengan tangannya menyuruhku duduk di hadapannya,umurnya mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dariku balutan jas warna hitam dengan dasi abu - abu melekat di tubuhnya yang tinggi dan kekar.
Bola mata cokelatnya sedang memperhatikanku dalam - dalam,dia melipat tangan di dadanya sambil bersandar di kursinya.
"Hana ?"
Dia memanggil namaku dengan suara maskulinnya
"Ya pak.."
Aku menjawab setengah takut melihat aura yang memancar darinya.
Aku melirik sedikit ke arah papan nama di meja dekat dari tempatku duduk
Raditya Setiadji
CEO
"Kamu yakin bisa membantu saya presentasi? seminggu lagi CEO dari Y Company akan datang ke sini"
Ada guratan keraguan darinya
"Saya belum pernah melakukan presentasi sebelumnya pak,tapi saya fasih berbicara bahasa korea"
paparku jujur,dia menganggukan kepala
"Saya akan bantu kamu,selama seminggu ini kamu harus ada diruangan saya agar saya dan kamu fokus untuk presentasi.Masalah bahasa saya akan percayakan kepada kamu"
Aku mengatupkan bibirku
Selama seminggu aku dan si boss harus ada diruangan bersama ? bukannya akan sangat canggung untukku yang biasa duduk di balik kubikalku?
Tapi pikiranku melayang pada teman - temanku yang tadi menatapku penuh harap
"Baik pak... "
Hanya seminggu kan? semoga semua berjalan dengan baik dan aku bisa kembali ke kubikal ceriaku bersama teman - teman.
Pak Raditya menyodorkan beberapa berkas ke arahku .
" Ini adalah bahan presentasinya,kamu bisa baca - baca dulu biar agak paham "
Dia tersenyum ke arahku,senyumannya membuatku yang ada di hadapannya agak terpesona.
Aku tak memungkiri,dia tampan,gagah dan nampak beretika.Sewaktu masuk ke ruangannya aku malah ketakutan karena menyangka dia akan mengeluarkan aura bad moodnya tapi ternyata ketakutanku tak beralasan.
Selipan harapan terus ada di hatiku,semoga semua berjalan dengan baik.
****
Halo readers,
saya Nuti Park menulis novel ini , ini karya pertama saya jadi semoga kalian suka,saya sangat menghargai dengan segala masukan kalian, dan mencoba memberikan yang terbaik. Vote dan like kalian adalah dukungan besar untuk saya menulis novel.
terimakasih ... 💕